Sugar Mamy

Sugar Mamy
Konflik keluarga


Mami?? Pasti itu dia, siapa lagi yang mengendarai mini cooper dengan warna Fushia seperti itu kalau bukan mami. Meski warna mobil itu cukup nampak fun dan ceria, tapi aku yakin tidak dengan pengendaranya.


And.. Here we go!


Maria Dan Mami saling menatap tajam satu sama lain, tanpa sepatah katapun. Sementara tangis Yodha sudah masih menggema dari area belakang bersama Yulia.


Apakah itu karena Mami? Pasti mami menuntut hal yang aneh dari Maria. Senyum Maria yang biasanya terpahat rapi, tidak terpahat sempurna saat ini.


"Kok Mami datang nggak bilang - bilang?"


"Kamu itu anak nggak bisa di untung Har! Bagaimana mungkin mami harus ijin kalau mau datang ke rumah anaknya"


"Mami ini yang kayak orang nggak punya etika ajs. Usiaku lebih dari 18 tahun, aku punya hak atas diriku. Aku bisa menuntut Mami lho"


"Oh my God!! Anakku yang manis sudah kamu ubah jadi mesin kayak kamu Mar?"


Maria tak menjawab, sepasang maniknya yang gelap pekat hanya bergerak pelan.


"Mami ke sini mau butuh apa? Ini jam kerja lho?" Aku memicingkan mataku "Jangan bilang kalau Mami mau mengambil Yodha?" aku menebak random.


"Dia cucuku.... Mami berhak, kamu lahiran juga nggak kasih tahu Mami"


Kali ini Maria memanggil namaku dengan lembut dan memintaku untuk mengambil duduk.


Aku dengan malas menghempaskan badanku Pada sofa satu seater di antara mereka. Usai tangis Yodha yang sudah nampaknya terhenti.


"Susah - susah Mami gedein kamu, malah kami jadi boneka Maria"


Aku mengacuhkan pertanyaan Mami " Sekali lagi nih Mi.. Aku tanya sama Mami. Maksud Mami apa datang ke sini hari, terutama pemberitahuan dulu. Nggak usah muter - muter atau nanya balik"


"ckck kamu memang nggak punya sopan santun, selain Mami ini adalah ibumu Mami ini juga tamu. Tamu itu adalah raja"


Aku memutar manikku, bertempur dengan Mami memang sungguh membuang waktu " Dan tuan rumah adalah kaisarnya, yang berhak menentukan tamu itu tetap tinggal atau pergi, apalagi pintunya terlihat jelas dari sini"


"Kamu mengusir Mami?"


"Yah... Kalau Mami cuman buang emosi di sini, lebih baik Mami njenguk Papi atau mengunjungi Elena. Saudara mami yang princess itu pasti Cocok dengan Mami"


Aku mengulurkan Tanganku menuju pintu utama rumah kami.


"Awas ya kamu Maria! Kamu sudah membuat anak saya jadi monster, semoga karma ini datang segera pada..."


Tenang Mi.. Potongku segera "Maria pasti aman, soalnya Maria nggak butuh perlindungan politik kayak Papi" Aku beranikan membukakan pintu rumah untuk Mami "Dan aku akan mencegah ibu dari anakku membuang anaknya hanya demi pertukaran bodoh itu"


Mami memandangku dengan sewot, wajahnya yang cantik nampak kemerahan karena menahan amarah. Namun ahirnya langkahnyapun cukup lancar meninggalkan area rumah kami.


"Ah kita kecolongan nih!" Keluhku Namun tidak di gubris Maria.


Maria hanya memilih diam dan meninggalkanku sendiri. Langkahnya tidak terdengar ramah seperti biasa.


"Aku sering lupa kalau kamu anak tunggal" Ahirnya dia bicara ketika kami sama - sama berdiri Di teras belakang sambil memandang Putra kami yang sedang tidur Di gendongan Yulia.


"Dan jangan lupa, aku juga anak yang terlantar bukan"


"Kamu marah Dan benci dengan keluargamu?"


Aku menarik nafas dalam - dalam "Itu sulit dihindari, tapi juga kadang aku merasa bersalah karena rasa benci itu"


"Itu tandanya kamu juga masih mencintai mereka" Seyum Maria kembali indah. "Di tidur in Di kamar aja Mbak. Dan mbak Yulia istirahat aja Di kamar Yodha"


Yulia mengangguk dan segera melakukan perintah Maria dengan wajah yang sedikit bersalah.


"Sampai sejauh ini, kamu pasti mulai faham juga perasaanku. Jadi.. Sebaiknya jangan mencari tahu dari orang lain soal keluargaku"


"Ah.. Mas. Ario pasti bilang soal ini ke kamu"


"Dia tidak salah, dia menyarankan agar aku mengantakannya dengan versiku. Sebelum kamu mendapatkan versi yang lain. Aku awalnya merasa itu tidak perlu, tapi..."


"Yah... Kamu mulai membuatku khawatir" Maria menghela nafasnya "Tapi setelah itu terserah kamu menilaiku"


Aku mengamati Sejenak Maria. Belum pernah aku melihatnya khawatir seperti saat ini.


"Setelah launching Merk Alberto, aku akan jelaskan. Bersabar lah" sekali lagi Maria meninggalkanku sendiri.


Tak lama kemudian terdengar suara pisau yang sedang bekerja Dan Di ikuti peralatan masak lainnya. Akupun memilih memasuki ruang kerja untuk mempersiapkan Beverapa hal untuk kuberikan Pada Adi, ketika dy datang.


******


"Mariaaa...." Panggilan khas Alberto Pada Maria selalu sanggup membuatku terkekeh. Penampilanya yang macho dengan wajah yang garang, Namun selalu flamboyan.


Dan seperti biasa Maria selalu menyambutnya dengan Tangan terbuka Dan senyum gembira.


"Kamu makin cantik aja.." pujinya Pada Maria yang masih lebih berisi dari Pada kondisi normal.


"Aku tidak akan memberi bonus" sahut Maria yang mulai mengajak Alberto untuk ke ruang tengah.


"Aku mau Chamomile tea atau Cappuccino ya Handsome?" Ucapnya ketika melihatku.


"Adanya air kobokan... Mau? Special lho?"


"Hih.. Ga ADA sopan - sopannya"


"Kalian ini sudah mulai kerja bersama, masih saja kayak kucing Dan tikus"


Alberto hanya membuang muka Dan segera mengambil duduk Di sofa tengah ruangan kami.


"Aku tadi bikin Mix Ice tea Di Fridge, kamu tinggal ambil aja. Dan gabung bersama kami, nggak sibuk kan?" Aku menggeleng mengiyakan.


"Kamu harus tampil cantik Di peluncuran koleksi Ready To Wear miliku nanti"


"Yang penting nyaman Di pandang aja, klo cantik terlalu beban Berat buat aku"


"iiih.... Kapan kamu Pede sih Mar? Wanita itu pasti punya cara Kecantikannya sendiri - sendiri.Kalau nggak, nggak mungkin nih brondong nempel sama kamu sampai sekarang" Alberto langsung menyerangku ketika aku muncul.


"Padahal aku Sungguh miris melihat berita tentang perusahaanmu. Meski aku cuma punya 0.3% saja saham Di perusahaanmu"


"Terimakasih sudah mendukung"


"Kita kan teman"


Alberto memang teman yang baik seperti kata Maria.. Mungkin dia membenciku karena kasih sayang pertemanannya Pada Maria.


"Jadi ingat ya Handsome, jangan bikin Maria sakit hati atau...."


"Kamu itu masih buruk sangka saja sama aku, selain projek kerja kita yang memang perusahaannya adalah milik Maria. Aku juga punya personal order ke kamu, dan bakal regular kalau Cocok" Aku mendengus "Aku baik kan?"


"benar sih... Tapi ini bukan karena aku sudah manggil kamu handsome kan?"


"Itu kan karena kamu sudah aku kasih projek kan? Mana tuh temenmu Antonio yang superior itu?? Nggak ada pedulinya sama pengembangan karir kamu"


"Jangan ngadu domba deh... Iiih.."


"Mana pesenanku, mau aku cek dulu"


"Kamu pesan apa Har..? Tumben Di check, biasanya kamu terima jadi aja baju dari Alberto untukmu?" Maria mulai mencium kerja sama kami yang lain.


"Personal use kok ini.... Just private thing" Alberto coba menjelaskan dengan nada yang sangat hati - hati.


"Kalian punya rahasia bersama tanpa aku"


"Jangan salah faham, kamu pasti aku kasih tahu. Kalau memang udah Cocok" Aku coba menengahi pernyataan Alberto yang aku tidak harapkan.


"Apakah kalian punya hubungan lain selain partner kerja?"