
"Jangan banyak berfikir yang aneh, kamu sekarang bagian dari keluarga kami, we are own the party"
We..? Pesta ini lebih cenderung milik Elena. 95% tamu undangan adalah teman Elena, 10 % teman mereka berdua Dan hanya 5% tamu yang benar - benar milik Dion. Dion hanya bisa membiarkan semua terserah Elena ketika senyum bahagia wanita yang menyandera hatinya itu selalu sanggup membuatnya memaklumi semua Pada ahirnya.
"Berapa lama lagi pesta ini berlangsung"
"Till drop!" Elena menjawab singkat "ini adalah hal yang layak Di rayakan secara fenomenal".
"Sungguhkah kamu berfikir senada denganku?"
"Soal apa?"
"Pernikahan sekali seumur hidup"
Elena tertawa lepas. "Aku tahu itu tidak Nyata? buatku ini yang kedua" Elena mengitari tubuh Dion dengan gerakan waltz. "Dan Bisa saja akan Ada yang ketiga, bukankah takdir tidak ada yang tahu?"
"Huh..!" Dion meraih pinggang ramping mempelainya mengikuti irama tubuh Elena. "Aku merasa Di ancam Di pesta pernikahanku sendiri".
"Kamu terlalu banyak berfikir. Lebih bijak kalau kamu hanya merasakan atmosphere yang ada"
Dion menyapukan pandangannya kesekeliling. Semua senyum menghiasi wajah para tamu undangan, sepasang manik mereka Saling memandang akrab Pada pasangan dansa masing - masing. Termasuk Anthony Dan Renata. Namun sayang Dion tak mendapati Harry Dan Maria di sejauh ruang pandangnya.
"Apakah adikmu membawa pasangannya hari ini?" Sudah lama Elena tak menyebut tentang saudara semata wayangnya itu.
Dion menggeleng "Dia masih belum punya pacar, menghapus cinta pertama memang tidak pernah mudah"
"Aku jadi penasaran, cinta pertamanya sehebat apa?"
" Itu bukan hal yang penting, meski dia tidak special Di mata kita. Untuk Laura, dia pasti special"
Seperti perasaanku padamu...
****
Dion masih terkapar Di atas tempat tidur, kakinya serasa kaku hingga ke ujung Paha. Di sisi lain Elena sudah bangun Dan duduk menikmati udara segar yang menghembus dari arah luar jendela.
" Kamu sudah bangun?" Dion bertanya lirih dengan wajah yang setengahnya masih terpendam bantal.
"Sepertinya kamu harus lebih banyak olah raga" keluh Elena tanpa memalingkan wajahnya Pada pria yang sudah resmi jadi suaminya.
"Kerjaan lagi banyak ahir - ahir ini, terutama perusahaan tempatku sedang bekerja sedang berinovasi"
Elena mengubah posisinya, kali ini sepasang maniknya melirik ke arah suaminya "Proyek Maria atau Harry?"
"Ya jelas bu. Maria, sebagian besar strategy Bisnis dia yang pegang, tapi tetap kami para staff harus melaksanakan banyak hal" Dion mengangkat tubuhnya yang masih terasa pegal "Sebenarnya, mereka lumayan baik. Mengurangi pekerjaanku sebelum acara pernikahan. Hanya saja..." Dion menarik nafas panjang "Pesta yang kamu bikin Sungguh Di luar nalar"
"Hei.... Kamu tahu aku suka pesta!, lagi pula aku tidak meminta sepeserpun biaynya darimu"
"Ya.. Ya.. Y... Kamu pemilik segalanya, tapi stamina ku untuk berpesta tidak sehebat dirimu. Harusnya kamu berdiskusi dulu denganku"
Dion mengerjapkan maniknya. "Ah.. Iya" desisnya dengan suguhan sosok Elena yang terbalut camisole berwarna nude transparant.
"I serve.."
Di mana lelaki yang akan menolak tawaran Elena saat ini. Logika Dan nafsu Dion bekerja berlawanan. Meski tubuhnya terasa cukup payah. Tapi dia melangkah juga Pada rayuan bidadarinya.
*******
" Aku sudah baca semuanya, dan aku putus kan ambil option ke tiga" Harry cukup serius membaca lembar - demi lembar isi amplop Di tangannya.
" Pastikan kamu siap untuk scenario terburuk setelahnya"
"Aku tahu Mas, tapi urusan mami harus Di selesaikan segera setidaknya meredam"
" pasti kamu banyak peminatnya" mas. Aryo tertawa kecil.
"Tapi tidak ada yang berminat, ketika Papi membuangku tanpa sepeserpun hartanya, So I am not interested" Mungkin inj lucu buat mas. Aryo, ketika mendapati ketampanan, latar belakang Dan kedudujan serta harta yang aku miliki menjadi Bahan pelelangan Mami. " Biasanya yang beracun itu berbentuk indah" Aku menyengir sesaat. Meski pernyataanku benar adanya.
Bersuamikan aku pasti membuat banyak wanita menaruh iri Pada Maria, berfikir Pada kebahagiaan tanpa ujung. Padahal Pada kenyataannya, aku seperti racun dalam kehidupan Maria. Secara finance Dan mental dia sudah terhantam berkali - kali. Lebih lagi, Keinginan utamanya merekrutku sebagai suami, belum terlaksana hingga saat ini.
"Aku kembali ke ruangan Maria, kami keluar rumah sakit hari ini"
"Kamu yakin nggak memberitahuku keluargamu?"
"Sementara keputusannya begitu, lagipula mereka pasti akan sibuk dengan urusan Elena" Aku beranjak dari duduk ku dan mengulurkan Tanganku pads mas. Aryo "Terimakasih atas bantuannya"
"Any time Har"
Saat aku berbalik aku baru teringat akan hal lain yang ingin sekali aku tanyakan.
"Oh iya mas... apa perlu kita kabarin keluarga Maria?"
Wajah mas. Aryo sesaat menegang. "Kamu tanyakan saja hak itu kepada Maria sendiri"
"Tapi Maria pasti bilang tidak"
Mas. Aryo hanya menjawab dengan bahasa tubuhnya, bahwa aku sudah tahu jawabannya.
"Aku... Sebenarnya penasaran"
"Har... Setiap orang berhak menutup luka mereka, hormati keputusan istrimu. Dengan atau tanpa keluarganya, hidup kalian baik - baik saja. Jangan cari masalah"
Jawaban mas Aryo bukan solusi untuk rasa penasaranku "Kita selesaikan yang mendesak lebih dulu" Mas. Aryo menepuk pundakku sesaat.
"Aku mengerti, tapi..."
Mas. Aryo segera menggeleng "Kamu tahu alasan kenapa pertemanan kami cukup panjang?" Aku hanya membeku "Kami Saling percaya, karena itu kamu Bisa mempercayaiku seperti Maria"