Sugar Mamy

Sugar Mamy
Promosi Terjebak pernikahan.



οΏΌ


Entah kenapa dia di anugrahi mata yang jarang berkedip.


"Kenapa kita harus satu mobil?" Tanyaku yang kurang nyamam duduk berhadapan dengannya dalam mobil limusin hitam pekat miliknya.


"Aku hanya memastikan kamu tidak membohongiku"


Aku membuang muka ke arah luar jendela. "Suruhlah Albert membeli gps dan sematkan di tubuhku, nhal seperti itu lebih akurat" Gumamku.


"Asal malam ini kamu tidak pulang telat, aku hanya libur sampai besok"


Aku menahan nafas sejenak, bukan urusanku dia libur atau tidak.


"Atau aku meminta bosmu untuk memecatmu, itu akan lebih mudah"


Aku mendengus,


"Ternyata kamu memang mirip dengan semua peranmu, Antagonist"


"Aku tidak pernah menjadi antagonists, hanya criminal dalam posisi protagonist. Ingat itu" jemari Toby telah mencengkeram kerahku sedikit kuat.


****


"Tumben di antar suami, dia tidak sibuk?" Nora menyambutku dengan gurau ketika kami berpapasan di basement parkir.


"Sedang libur..."


"Ehem... Bulan madu dong?" nora menyenggol bahuku ringan "Aku dengar dia akan segera melakukan tour untuk album terbaru dan filmnya yang akan segera launching"


Aku hanya tetsenyum simpul, nora bahkan lebih tahu jadwal suamiku dari padaku.


"jadi.... Gmn rasanya punya suami ganteng dan intimidating gitu... Ganas atau.." Nora masih mengangguku hingga di meja kerja.


"Ah.. Benar... Kita juga penasaran..." Tiba - tiba Jody yang berjarak dua meja dariku juga ikut bergabung.


Aku tidak mungkin jujur bagaimana pernikahan kami Sebenarnya.


"Kalian nisa membayangkan sendiri, bagaimana srharusnya... AUUURRRH..!" aku menirukan gaya harimau menerkam.


Serempak semua tertawa berderai, termasuk aku yv menertawakam diriku yamg mulai rajin berbohong. Padahal jelas aku bukan ahlinya.


****


6 bulan 14 hari sebelumnya....


Suka duka menjadi penyiar radio kadang kita kita mendapatkan jadwal siaran temgah malam. Enaknya kadang kamu tidak perlu repot dengan riasan, karena mereka hanya peduli pada suaramu saja.


Jam lima pagi tepatnya, aku baru saja usai membeli kopi hangat untuk aku nikmati di ruang siaran setelah jeda satu jam dari siaran sebelumnya.


Tentu saja pada jam segini gedung pasti sepi. Aku membeli dua cup kopi susu yanh salah satunya untuk Sony producerku saat itu.


Tanpa ada firasat apapun hari itu aku memasuki lift dengan tenang seperti biasa.


"... Andai saja siaran siang juga se sepi ini.." Aku bahkan mensyukuri ketika memasuki lift dan mendapati kondisi lift yang kosong. Yang tentu saja hampir tak pernah terjadi saat siang hari.


Tut.. Akuemencet angka tiga, di mana ruangan siaranku berada. Lift melaju dengan lancar. Tapi....


Ting...


Pintu lift terbuka, sebuah tubuh tinggi masuk dengan sangat tergesa - gesa dan menabrakku yang memang berdiri tepat di tengah pintu lift.


"Auch....!!!" Tentu saja salah satu kopi panas tumpah ke tubuhnya.


"Damn!!!" Tentu saja dia mengumpat.


"Maaaf.... Ucapku setengah terbata. Dan dengan segera aku melepas scrafku dan mulai melap kopi yang menjalar di sepanjang kemejanya..


"Ma.. Aaf.." Aku maaih sibbuk meminta maaf, tapi...


TING....


Pintu lift ternyata sudah terbuka lahi setelah sempat tertutup.. Dan kembali lagi ke lantai dasar...


Cekrek.... Cekrek... Cekrek...


Kilatan kamera begitu menyorot ke arah kami yang masih terperangkap di dalam lift.


Dia siapa? Tanyaku dalam hati seiring dengan reflek wajahku yang terangkat otomatis, Dan...


Wajah itu mendekat dengan cepat dan menciumku dengan penuh semamgat.. Sepasang tangan hangatnyapun segera mendarat pada pangkal rahangku yang memang kedinginan karena udara pagi.


Jantungku serasa berhenti saat itu...


"Apakah ini mimpi?" Aku masih membelalak lebar. Dan...


"Thank you for say Yes" suaranya begitu rendah tapi cukup lantang dan menggema...


"Ye... Yes..???" Aku bermaksud bertanya, apa.. Yang YES...


Tapi...


"Woaaaa...!!!" Sorakan serempak terdengar dari arah luar, seiring denga kilatan lampu yang terasa lebih terang.


Pikiranku masih belum jernih tapi tanganku telah tertarik keluar. Tunggu... Aku harus kembali ke lantai tiga bukan?


Tapi pria ini terlalu kuat, kerumunan di depan kamipun segera membelah memberi jalan kami menuju mobil van yang barj saja parkir.


"Terimakasih.. Thank you..." Lanjutnya ketika dia mulai menutup pintu mobil dengan aku yang masih menggenggam erat satu gelas kopi di salah satu tanganku yang masih bebas.


"A...!!"


"Tidak perlu berterimakasih, ini keberuntunganmu" Potong Toby pada suara yang keluar dari tenggorokanku.


"A..."


Toby segera melingkarkan sebuah cincin di jariku.


"Tanggal dan waktunya akan segera di putuskan"


Aku sudah tak bisa berkata lagi, entah kekuatan dari mana aku segera melempar segelas kopi yang tersisa ke adah wajahnya.


Toby berteriak denga suara besarnya itu...yang terdengar cukup menegangkan. Aku reflek menjerit karena takut.


"Aku harus siaran..." aku berteriak lantang juga ahirnya.


DONG.... Kenapa aku harus mementingkan pekerjaan? Harusnya aku marah dengan apa yang dia lakukan.


"Ah..." Toby kini menatapku lebih seksama.


Aku berusaha terlihat berani, tapi tidak menutupi rasa takut yang sedang akut dalam diriku. Karena pria yang di depanku adalah Toby


Seorang celebrity, berwajah antagonist meski tampan, denga tubuh yang terbentuk sempurna dan pastinya kekar. Sejuta karyanya adalah peran yang tidak ramah, gangster, perampok, dan semua jenis badboy dalam serial action manapun. Meski, semua peran itu ada dalam segi protagonist, tapi aura seram criminal tetcium sangat lekat.


Glek... Aku menelan salivaku kasar.


"Untungnya kamu tidak terlalu buruk" desisnya.


Uh... Entah mengapa aku jadi merasa lega. Tunggu...


"Pernikahan kita pasti menjadi promosi besar untuk perusahaanmu, bolos saja, menagerku akan mengurusnya"


Mataku melebar seketika. "Menikah????"


****** ikuti kanjutannya di karya yg baru.. Terima kasih **'πŸ™πŸΌπŸ˜Š