Sugar Mamy

Sugar Mamy
Tawaran


"Hah... Aku ini mantan Celebrity ternama, masak harus jadi cuma manager butik"


"Mell..." bu Retno coba mereda sifat manja Melissa yang kadang tak tahu tempat.


"Apa kamu mau masuk penjara?" tanggap pak Adiwilaga dengan kasar.


Melissa kembali mengunci mulutnya.


"Kamu Nando.... Siapkan dirimu untuk maju sebagai walikota dengan jalur independent untuk pemilihan tahun depan" Pak Adiwilaga memijat keningnya. "Aku saja yang mengurus Maria"


"Kamu juga bu... Siapkan persyaratan yang Maria inginkan Dan jangan lupa minta maaf" Ahirnya suara pak Adiwilaga mulai kembali normal "Oh iya bantu anak kesayanganmu itu berkemas, aku nggak mau lihat wajahnya lagi besok"


Pak Adiwilaga meninggalkan ruangan Di ikuti Nando yang segera membahas soal program kampanye ayahnya yang masih berjalan.


******


Baru kali ini aku tidak tahu kemana perginya Maria, harusnya dia di kantor. Tapi sayangnya aku tidak menemukannya Di sana. Begitupun dengan ponselnya yang tak kunjung Di angkat.


" Ibu kemana?" Roselyn baru saja memasuki area receptionist ketika aku hendak keluar.


Ah Kenapa aku nggak berfikir telphone Roselyn tadi.


"Ibu ke tempat olah raga?" Jawab Roselyn tenang.


"Yoga? Di studio biasanya? Sendiri?"


Roselyn menggeleng "Ibu lagi main anggar"


"Anggar???" Aku tidak pernah mendengar sekalipun Maria bermain Anggar. Bahkan aku tidak pernah tahu dia memiliki peralatan Anggar.


"Hah... OK!!" Aku memberi jeda sedikit "Bisa share alamatnya?"


"Hmm... Mendesak ya pak?" Roselyn sepertinya enggan membaginya.


"Kenapa?"


"" Biasanya ibu tidak suka Di ganggu "


Biasanya?? Setelah sekian lama kami bersama, aku masih belum mengetahui kebiasaan Maria yang satu ini.


" Aku suaminya, ini darurat "


Roselyn ahirnya mau berbagi alamat gedung olahraga tempat istriku itu bermain Anggar.


Benarkah kamu anak petani Mar, kamu seperti Sungguh dilahirkan dari kalangan kami. Siapa yang akan menyangka kalau kamu berasal dari kampung.


" Maaf ruangan Anggar sedang di reservasi secara exclusive"


"Saya Di undang secara exclusive oleh bu Maria."jawabku otomatis.


Exclusive tanpaku? Huh


Receptionist itu menatapku ragu.


" Saya suaminya, kamu Bisa cek Di Internet kalau tidak percaya "


Aku terpaksa menunggu kedua receptionist itu mengakses gadgetnya untuk memastikan kata - kata ku.


" Ah maaf pak" Senyum ramah mereka pun langsung me ngembang ketika menemukan ke jujuranku. "sebelah sini"


Salah satu receptionist itu mulai mengantarku ke lorong yang menuju ke arah studio Anggar.


Tanpa ragu dia mulai membuka pintu.


Suara derit langkah nan lincah mulai terdengar seiring dengan suara getaran pedang tipis. Maria tidak sendiri tapi sedang bersama seseorang. Dan jelas orang itu adalah laki - laki. Terlihat dari perawatan besar yang sedang bersemayam dalam kostum putih.


Meski rasanya ingin segera turun ke bawah Dan protes Pada Maria di bawah sana. Namun aku memilih menahan diri Dan mengamatinya dari atas sini.


Langkah Maria tidak amatir, dan dia berhasil unggul beberapa poin. Meski lengannya tidak begitu nampak kuat.


Prok Prok.. Aku bertepuk Tangan ringan ketika pertandingan Berahir Dan yeah... Maria pemenangnya.


Kedua insan itu menengadah menatapku yang mulai menuruni tangga Dan segera menghampiri mereka.


Maria Seketika membuka helm nya Dan begitu pula lelaki yang sedang bersamanya.


"Om will?" meski agak terkejut aku berusaha tenang. "Lama tak bertemu om"


Om willy menghampiriku Dan segera menjabat Tanganku setelah mengalihkan pedangnya ke Tangan kiri.


"Permainan Anggar kamu bagus Mar?" pujiku yang bernada protes.


"harusnya kamu melihatnya sepuluh tahun yang lalu pasti kamu akan lebih terkesan" om will menanggapiku dengan ringan Dan tak menangkap rasa jengkelku.


Maria yang faham akan rasa tidak suka ku hanya tersenyum tipis Dan berlalu menuju bangku istirahat yang berada Di tepi. Di ikuti om will Dan juga aku.


"Kami selalu terbaik soal strategy, aku masih saja selalu kalah" Om will meraih botol mineral milik ya Dan mulai meneguk isinya.


"Hanya terbiasa saja, aku sudah tidak sering berlatih"


"benar dia lebih sering yoga, setahuku" Sebenarnya aku ingin menyindir.


"Oh ya?" om will berlagak seakan tak pernah tahu atau memang tidak tahu "itu bagus untukmu Mar, aku dengar itu juga bagus untuk me latih meredam emosi"


Maria kembali tersenyum sambil mengelap pedangnya.


"Hanya kalian berdua?" tanyaku yang memilih mengambil duduk lebih dulu.


"Ah iya... Kami tidak punya banyak kenalan yang menyukai Anggar"


"Tapi nggak harus booking secara exclusive, itu pemborosan" gerutuku yang mulai meraih air mineral kemasan.


" Jangan khawatir aku yang traktir" jawab Om will dengan enteng seperti biasa.


Maria melepas nafas panjang sejenak sebelum mengambil duduk Di sebelah ku.


"Ada yang sangat penting?" Tanyanya yang mulai mengikutiku meneguk air mineral.


"Aku tidak Bisa menghubungimu? Itu lebih penting" emosi ku sedikit meletup sesaat.


"Ah... Yeah wajar Mar, dia pasti khawatir usai kejadian sebelumnya. Aku juga tidak menyangka" Om will mulai bergabung duduk bersama kami.


"Lain kali ajari dia bermain Anggar, kita Bisa bermain berempat ketika Jonathan datang"


Hah... Jonathan rupanya. Lelaki itu tak pernah usai menghantui pernikahanku.


"Aku tak yakin Bisa mengajari hari dengan baik, mungkin Mas willy Bisa lebih baik. Mengingat kalian ini paman Dan keponakan"


"Benar juga, tapi aku tidak ingin terlalu menganggunya saat ini.Dia nampak lebih baik bersamamu"


Aku mengangguk "Benar, belajar dengan istri sendiri pasti lebih nyaman"


"Betul... Apalagi Maria sangat bagus dengan strategy. Aku masih selalu kalah, meski tubuhnya tidak begitu kokoh" Aku tidak menyukai seorang pria lain mengomentari tubuh istriku.


Om will menarik nafas panjang dan memandangi kami secara bergantian "sepertinya Kamu berhasil membuat keponakanku cemburu, aku belum pernah melihatnya"


"Mas willy hanya melebihkan. Harry mungkin hanya jengkel karena harus tertunda untuk berdiskusi urusan pekerjaan"


"Enggak... Om will benar" tegasku tanpa ragu. "Aku cemburu karena aku tidak pernah tahu kamu bermain Anggar meski itu dengan pamanku"


Om will tertawa terkekeh "Aku pikir kamu hanya cemburu dengan Jonathan. Tapi juga denganku"


"Om will sih nggak nikah - nikah"


"Lho... Kok malah nyalahin aku. Kami cuma membahas pekerjaan Har! Aku berniat menjual sahamku secara private placement"


"Lho Kenapa om?" Aku terkejut dua kali hari ini.


"Kamu tahu sendiri om tidak pernah tertarik dengan politik Di Tower High" om Johan kembali meneguk air mineralnya "Bisnis retail lebih Cocok sepertinya untukku, aku jadi Bisa lebih tenang andai kan nanti ketemu jodoh. Dari Pada kayak kamu kan?"


"Hah... Ha.. Ha.." Aku tertawa seadanya. Ternyata kekayaan juga Bisa menghalangi jodoh orang.


"Pikirkan lagi tawaran ku Mar, aku juga tidak sedang tergesa - gesa. Aku lebih suka kalau kamu orangnya" om will menutup obrolannya sebelum ahirnya meninggalkan kami berdua.


"Dia menawarkan sahamnya padamu?"


Maria hanya mengangguk.


"15 persen?"


Sekali lagi Maria mengangguk. " Bukan gratis" Ucapnya masih dengan ekspresi yang dingin.