
*****
"Ini nomor private Jet yang baru lepas landas dengan tujuan Prancis" Mas Ario menyodorkan tabletnya ke arah kami.
"Itu milik Elena" jawabku pasti. Tanpa berfikir aku langsung mencoba menghubunginya.
"Kamu tidak ke French ?" tanyaku tanpa basa - basi
"Aku sekarang punya pekerjaan Di sini. Mana mungkin aku pergi ke Paris. Kayak nggak ada negara lain saja" Elena menjawab dengan nada ketus
"Tapi private jet kamu pergi ke paris hari ini"
"Anthony membelinya seminggu yang lalu" jawab Elena ringan "Mungkin dia ingin menyelesaikan dokumennya"
Aku menutup telpon segera.
"Pasti ada langkah hukum yang bisa kita tempuh Kan?" aku langsung ke pokok tujuanku menemui mas Aryo.
"Tentu, kita Bisa mencabut hak perwalian anak karena dia telah menghalangimu menemui Tania , dan Anthony tetap harus membayar nafkahnya. Hanya saja...." Mas Aryo memandang kami secara bergantian.
"Bagaimana kalian Bisa sering bersama tapi kalian tidak pernah menyadarinya?" lanjut mas Aryo penasaran.
Asal dia tahu, baik aku dan Maria, kami juga penasaran.
Kami tertangkap memasuki hotel yang sama dan saat itu Maria berjalan di depanku dengan busana santai. Itu yang pertama.
Yang kedua, saat aku mengunjungi pantai Padang - Padang Bali dan melakukan selfi. Ternyata Maria sedang duduk di belakangku dengan memegang papan surfing.
Bahkan kami tertangkap layar sedang duduk di bar bersebelahan.
Tapi Sungguh, baik aku atau Maria. Sama sekali tidak menyadari hal itu.
"Mungkin kami berjodoh" kelakarku
"Yang lebih mengagetkan kalian memiliki foto ini" mas Aryo menyodorkan foto Maria yang sedang berdiri di Sebuah balkon Sebuah kamar Dan Aku sedang berbaring dengan hanya mengenakan Celana surf Dan membaca novel "fifty shades of grey".
Yang sangat disayangkan, Maria lupa siapa yang mengambil foto itu. Bahkan aku lupa Lokasinya.
"Ini salah satu private House yang di bangun di tebing. Waktu itu pemiliknya adalah Bu Hanny " Jelas Maria " Aku lupa siapa photographernya, yang jelas dia professional kalau di lihat dari kualitasnya"
"Kenapa dia memotret kita?" Sepertinya photographer itu kurang kerjaan
"Komposisinya bagus" Jawab Maria singkat "Hal seperti itu biasa"
"Dalam foto ini kalian nampak seperti sedang berlibur bersama, dan cukup intim" jelas mas Aryo dengan sepasang matanya yang masih terus mengamati foto itu.
"Apakah kamu ingat kamu berlibur dengan siapa? Kamu tidak mungkin sendiri bukan?"
Aku tertegun Sejenak mencoba mengingat masa muda yang sudah cukup samar dalam ingatanku.
"Tapi.. Kamu ternyata tidak berubah banyak ya Mar?"
"Jawab pertanyaanku Har?"
Aku kembali fokus Pada pokok permasalahan "Aku nggak ingat" Aku menjawab putus asa "Hanya karena aku membaca novel itu bukan berarti aku liburan dengan perempuan. Bisa jadi aku berniat ke Bar untuk mencari teman kencan, bukan?"
"Lagi pula apa yang sedang kamu lakukan Di balkon kamarku waktu itu"
"Kalau Aku jelas, pasti aku sedang memeriksa pekerjaanku" Maria mengemati sekali lagi foto itu "Itu berarti rumah ini baru saja selesai Di kerjaan, lihat parkit balkonnya belum 100% terpasang"
Maria Dan Mas Aryo mendengus kesal.
"Selama mistery ini belum terpecahkan, kenyataan Maria srlingkuh dalam persidangan akan tetap ada. Itu akan menghalangimu mendapatkan Tania"
Maria menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
"Kamu benar - benar tidak ingat siapa photographernya?" aku sekali lagi coba.
Maria berfikir Sejenak, "akan butuh waktu menemukan datanya"
"Sementara itu cobalah untuk terus menghubungi Tania Dan mencoba mendatangi rumah Anthony. Kumpul kan bukti penolakan yang mereka lakukan atas kedatanganmu" Mas Aryo mulai menyusui rencana untuk kami.
"Jadi kita masih punya kesempatan untuk mendapatkan hak asuh anak kembali?" Maria mulai bersemangat.
**''
"hmmm..... Kamu tidak mengenal Bu Hanny?" Maria menanyakannya ketika kami Batu memasuki mobil.
Aku menggeleng tanpa berfikir " Apakah aku benar - benar wanita tua pertama dalam hidupmu?"
"Tentu tidak" jawabku sebelum membelah Jalanan Kota. "Ada nenek dan Mami" jawabku selanjutnya dengan senyum simpul.
"Yang jelas bu Hanny pasti punya anak atau keponakan yang aku kenal, hingga aku Berahir Di sana" Aku melanjutkan ucapanku.
"Luna?" Tiba - tiba Maria mengingat nama wanita yang benar - benar aku tidak harapkan.
"Kamu kalau cemburu jangan menahun" Gerutuku, mana mungkin hal ini berkaitan dengan Luna. Hubungan kami sudah berakhir....
Tunggu... Aku masih sangat muda bukan?
"Kamu serius soal nama Luna?" aku mencoba meyakinkan.
"Aku belum bercanda sekalipun hari ini Har"
"CK... Iya iya.. Kamu ingat nggak kamu umur berapa saat itu, supaya aku bisa mencocokkan kondisinya"
"Beraapa sering kamu berlibur dengan wanita yang namanya tidak kamu ingat sekarang?"
"Jangan mulai deh Mar... Kenyataan aku tampan Dan kaya, tidak bisa disalahkan kalau aku mengambil kesempatan yang ada" Aku membela masa laluku. "Hanya saja aku tidak yakin saat itu aku sudah bersama luna"
"Bu Hanny baru menikah saat itu, dan belum mempunyai anak. Tapi beliau punya keponakan yang sedang kuliah Di England"
"Agak sedikit Cocok sih! Kalau pun luna, kemungkinan dia menjadi saksi untuk menjadi saksi kita tidak mungkin gratis" analisaku.
"Aku tidak keberatan membayar"
Kami terdiam Sejenak, Pikiranku sekarang menerka apa yang di ingin kan luna. Wanita itu punya segalanya, dan jumlahnya berlipat - lipat.
"Kita Bisa mencoba" Maria coba meyakinkanku.
"Sebenarnya aku tidak yakin, tapi andai saja iya....." Aku menggantung kalimat ku sesaat Dan melirik Maria yang sepertinya juga tidak nyaman dengan kemungkinan yang ada. "perasaanku nggak enak Mar"
Maria mengangguk "Aku akan menanggungnya sebagai seorang ibu"
"Aku juga ayahnya meski tidak secara langsung" sambutku sambil menggenggam jemari Maria yang tidak lagi hangat.
******
Maria menurunkan tumpukan file ke meja ku siang ini.
"Bu hanny tidak tinggal sendiri Di rumah itu. Total ada lima lantai" Maria mengaduk beberapa file "Ini nama Dan desain yang kami setujui, coba kamu cek apakah ada nama yang setidaknya familiar"
"Apakah kamu sudah tidur Mar?" sepasang Manik Maria nampak terbingkai hitam.
"Aku masih belum Bisa menghubungi Tania. Tidak satu pun dari mereka mengangkat telpon atau pesanku" jawaban Maria sudah menggambarkan keadaannya. Pantas saja semalam aku tidak Bisa memeluknya.
Maria meraih telpon Di ruanganku "Dion! Apakah sudah ada jawaban dari Pak. Anton untuk stock kopi Arabica yang masih tersisa?" tone wajah Maria makin pucat usai mendengar jawaban Dion dari seberang.
"Bagaimana?"
"Ada tapi grade C" Maria menghela nafas panjang.
"Mar.. Masih ada aku dan Yodha"
"Apakah Tania tidak penting bagimu?"
"Bukan begitu, sisa kan tenagamu untuk kami yang disisimu juga. Aku tidak ingin..."
"Sudahlah Har... Perhatikan semua yang ada dalam file itu Dan beri aku jawaban segera" Maria menunjukkan map yang dia maksud.
"Aku akan meeting dengan bagian purchasing, kamu Bisa memotong meetingku kapan saja ketika kamu sudah menemukan atau tidak menemukan orang yang kamu kenal"
Aku hanya mengangguk Dan membiarkan Maria pergi tanpa menyapa.