Sugar Mamy

Sugar Mamy
Kunjungan


Mencintai adalah membuatnya tumbuh dengan bahagia, tidak menekannya dengan emosi dan obsesi memiliki. Karena sesungguhnya yang kita miliki adalah yang kita butuhkan dan yang pada ahirnya menghasilkan keterikatan yang di sebut saling mencintai.


****'


Begitu lah cara Om Jonathan melanjutkan cintanya pada Maria. Hampir semua lahan perkebunan Maria berawal dari Om Jonathan dengan sistem sewa selama limapuluh tahun, dan potentially di perpanjang. Harganya sangat terjangkau. Begitupun dua kapal angkutan Maria juga berawal milik om Jonathan yang baru lunas tiga tahun yang lalu.


Bisa di bilang, Bisnis Maria adalah benih yang tumbuh dari tangan seorang Jonathan Hadi.


*****


Meski kehamilan Maria sudah lumayan berjalan, Maria tidak pernah menagih janjiku yang membuatnya ahirnya setuju untuk mengandung anakku. Maria masih sibuk dengan bagaimana menambah pundi pendapatan perusahaan.


Kerja sama antara aku dan om Jonathan, sudah mulai beroperasi sebanyak tiga outlet dari hasil profit restaurant kami, dan segera membuka dua cabang lagi tahun depan. Perlahan tapi pasti, gambaran profit sudah perlahan terbentuk ke dalam perusahaan Maria selaku salah satu suplier. Namun, tentu saja masih jauh dari solusi.


"Kamu tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?" Aku memulai obrolan pagi dengan Maria yang sudah sibuk dengan laptopnya.


"mmmm.... Bagaimana tidurmu semalam?" Tanya Maria tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop dan tentu tanpa ekspresi.


"Kamu nggak ikhlas!" Aku mendengus sejenak, susah kalau berurusan dengan orang yang tidak peka.


Maria mendongakkan wajahnya sesaat sambil mengelus perutnya.


"Bilang saja apa mau kamu dengan jelas, aku tidak sedang mood untuk bermain tebak - tebakan" Ucapan Maria terdengar seperti keluhan.


"Apakah kamu tidak ingat soal janjiku sebelum aku menghamilimu" Ahirnya aku mengantakan terus terang apa yang ada di hatiku, aku juga sedang malas membuang - buang waktu.


"Dari awal aku sudah meragukan keberanianmu, tenang saja aku tidak berharap banyak darimu" Maria kembali meluncurkan pandangannya ke arah laptop, tanpa senyum sama sekali.


"Aku berangkat duluan, kopinya pahit" Aku membuat alasan untuk keluar dari suasana yang tidak kondusif ciptaanku sendiri "Aku sarapan di kantor"


Maria memegang punggungnya sejenak. "Tunggu..." Maria berdiri dari duduk ya dan menyusul langkahku yang terhenti.


"Har... Kamu sudah aku anggap dewasa, kamu sudah akan memiliki anak. Bertanyalah ketika ingin bertanya, aku ini istri kamu kamu bebas bertanya apapun"


"Hmmm...." Aku menjawab sekenanya sambil melirik perut Maria yang mulai membola.


"Bagaimana kalau anak kita seperti kamu, suka main tebak - tebakan nggak jelas.... Kamu mau?"


Kali ini aku memandang wajah Maria yang nampak sedikit lelah.


"Urusan kamu dengan orang tuamu, aku serahkan padaku Dan aku tidak akan kecewa kalau saja hasilnya Di luar harapan" Maria membenarkan dasiku.


" Bekerjalah dengan tenang, kita Akan baik - baik saja"


Sebenarnya siapa yang harusnya di hibur? Aku merasa posisi kami terbalik. Akupun berahir mendaratkan kecupan di keningnya sesuai memeluknya sesaat. Dari awal keberanian Maria menjalani hidup adalah hal yang paling memikatku. Mungkin, karena aku yang selalu di manja Mami merasa memiliki tempat bersandar, meski saat ini sandaran itu sedang rapuh. Tapi aku sama sekali tidak melihat kerapuhan di sorot mata Maria hingga saat ini.


*****


Berita kehamilan Maria segera aku kabarkan sore ini ke rumah orang tuaku. Seperti rencana awal aku tidak membawa Maria bersamaku. Aku harus membuktikan bahwa aku bisa mandiri dan cukup dewasa. Kali ini aku harus bisa lebih menahan diri. Terkadang ada hal yang pantas ditukar dengan harga diri, seperti yang aku lakukan saat ini.


"Harry..." mami langsung menghambur kepadaku dan memelukku, saat aku memasuki halaman depan rumah. "Kamu sehat? Makin cakep anak Mami"


Mami cukup pandai untuk tetap berpura - pura tidak tahu apa yang terjadi padaku dan Maria. Dia selalu mengambil sisi untuk tidak mau bertanggung jawab atas semua resiko.


Mami mengerutkan keningnya "Dari mana kamu tahu kalau papi ada di rumah.?"


"Aku ini sedang bertanya Mi..!!"


"Iya... tapi kenapa pa's banget papimu lagi ada di rumah"


Mudah di tebak, kasus korupsi yang di lakukan Om Handoyo sudah mulai menyebutkan nama lain. Beberapa nama rekan Papi sudah mulai di sebut sebagai pihak yang membantu. Papi pasti nggak akan keluar karena malas dengan kemungkinan di kejar wartawan sewaktu - waktu.


"Sebelum ngobrol sama Papi makan dulu ya, biar suasananya nggak kayak kemaren. Mami udah masak, biar bibi nata meja makan dulu. Kamu tunggu di teras dulu, nanti masuknya dari pintu samping langsung ke meja makan"


"Kenapa nggak lewat depan aja sih Mi... jauh muternya." rumah orang tuaku cukup luas, pintu depan dan samping berjarak sekitar 25 meter.


"Masalahnya kamu sama Papi itu udah kayak anjing dan kucing" Mama menepuk punggungku "Nanti kamu cepet pulang lagi kayak kemaren, Bagaimanapun mami juga kangen kan?".


Aku hanya menurut saja, berdebat sama Mami hanya akan membuat pusing kepala dan Pada ahirnya dia pasti pemenangnya.


"Kalau Mami tahu kamu datang, pasti Mami masakin makanan kesukaan kamu"


"Hmm..." Aku menjawab singkat, aku tidak ingin membuang waktuku berceloteh dengan Mami.


*****


Hamparan makanan tersedia lengkap di meja makan, dari appetiser, main course dan dessert. Begitupun minuman, dari air putih, jus hingga ice coffee dan tea. Begitulsh kebiasaan makan di rumahku yang sudah lama aku tinggal kan. Meski kaya, Maria cukup sederhana. Di rumah makanan tidak selengkap ini.


"Kamu pasti kangen kan?" kelakar mami dengan bangga.


"Harry...???" Papi yang baru saja memasuki meja makan nampak kaget dengan kehadiranku.


"Hi.. Pi..!"


"Mami yang suruh hari melewati pintu samping, supaya tidak berantem dengan Papi" Mami langsung menengahi kami. "aku juga kangen lama - lama sama anak kita"


Papi hanya manggut - manggut, tanpa memandangku lagi. Sikapnya masih dingin, sepertinya status ku sebagai anak durhaka belum hilang dari batinnya.


"Harry sekarang sudah punya rumah, Di kawasan premium Pi.." Mami memulai obrolan renyah di meja makan " ada lapangan basket mini di atapnya, mungkin Papi Bisa main 1 on 1, sambil mengenang masa lalu" tawar mami yang sudah pasti Di tolak.


"Nggak usah repot - repot, rumahku lebih sempit dari rumah ini." tanggapku cepat.


"Orang normal itu pasti akan berpindah ke tempat lebih baik, bukan ke tempat lebih sempit dan kecil serta jadi hanya karyawan. Padahal dia bisa menjadi President komisaris di perusahaannya sendiri yang jauuuuh lebih bagus" Papi langsung menyindirku tanpa basa - basi.


Aku menutup mata sejenak meratapi ketidaksadarannya bahwa harta bukanlah alasanku dari awal. Rencanakupun berubah, aku langsung ke rencana C agar process negosiasi ini cepat Berahir.


"Ini pi... Di baca dulu" Aku menyodorkan amplop coklat tebal."Tolong cabut semua boikot atas perusahaan Maria dan juga hentikan untuk mencegah para kolega Papi untuk bekerja sama dengan perusahaan kami, kalau tidak...." Aku menggantung ucapanku seraya mengamati wajah Papi yang membeku mengamati lembar demi lembar kertas yang di raihnya dari dalam amplop." Papi pasti sudah tahu jawabannya ".


Papi hanya mengerutkan dahinya mendengar nada ancaman dari mulutku


" Aku beri waktu dua Minggu pi..."


Mami hanya bengong menatap kami berdua secara bergantian.