
"Dalam dunia business menjilat atau semacamnya adalah lumrah mungkin harus, selama sebatas Norma yang ada. Kita tidak perlu menyukai sesuatu untuk memuji tapi kita memuji sesuatu yang berpotensi menguntungkan kita. Dan jangan pernah menjatuhkan lawan dengan ucapanmu karena itu berarti kamu lebih rendah darinya " pelajaran singkat Maria saat itu sering terngiang Di telingaku, dan aku mulai perlahan mengerti maksudnya ahir - ahir ini.
******
Selamat Malam...
Sapaan mami Dan Papi terkesan terlalu formal Di depan Maria. Secara psikologi mereka cukup menghargai Maria. Namun, saat ini Maria tampak tidak cukup mendukung untuk tujuan business Papi. Berdasarkan itulah aku rasa Kenapa Papi sedikit beraura negative malam ini.
Padahal Maria cukup menawan dengan gaun malamnya, yang berwarna biru pekat dengan sedikit detailed. Alberto benar, meski maria tidak memiliki Kecantikan yang glamour tapi dia punya Aura yang cukup menarik, yang aku lebih suka menyebutnya intimidation.
"Maaf baru Bisa mengundang kalian" mami mengawali pembicaraan dengan kaku.
"it's OK Mi..."
Sebenarnya mami pasti cukup pernah bertemu Maria beberapa kali, Namun tampaknya tidak pernah ada kedekatan. Sedang Papi selaku rekan bisnis harusnya lebih mudah untuk segera berbaur dengan Maria. Sedangkan Maria memilih untuk membisu untuk memberiku ruang lebih.
"Ini ada sedikit souvenir buat mami, karya Alberto designer langganan Maria"
Mata Mami otomatis menyala terang seperti Berlian. "Di design khusus untuk mami?"
"Benar, kami meminta khusus agar gaunnya Di sesuaikan dengan kepribadian mami" Ahirnya Maria angkat bicara.
"Oh.... Terimakasih sekali..." Mami langsung menyambar box gaun dari Tangan ku dengan cepat "Apakah sudah ada kabar untuk calon cucu mami?"
Mamiku yang cantik ini memang kadang tidak bisa menahan apa yang ada Di dalam kepalanya. Kini aku sadar kebiasaan ngomong tanpa Di pikir dulu ini dari siapa.
"Ehem...!" Papi segera memotong obrolan kami " persilahkan masuk dulu mam.."
Papi benar, harusnya kami segera masuk ke dalam rumah. Angin Di luar juga mulai terasa kencang. Aku menarik pergelangan Maria untuk segera memasuki area rumah, tanpa menunggu mami mempersilahkan.
Semuanya masih sama, seperti saat aku meninggalkan. Bahkan warna kordenpun masih sama.
"Tumben mami nggak otak - atik interior" Aku mencoba membuka obrolan santai.
"Iya.. Mami sibuk banget, nanti kalau Maria senggang bantu Mami buat pilih - pilih interior"
"Baik Mi.." Maria menjawab cukup singkat.
" sambil menunggu cheff mempersiapkan hidangan, bagaimana kalau kita memulai pertemuan keluarga ini dengan wine?" Papi mulai mengeluarkan wine yang rupanya sudah Di persiapkan.
"Maaf... Saya tidak minum wine"
"Maria Alcohol free, healthy life" dukung ku.
"Oh... Ya?" mami Dan Papi serentak menanggapi pernyataanku.
"Usia pasti makin bertambah, stamina juga cukup penting untuk mendukung pekerjaan Dan kehidupan sehari - hari"
"Ah... Tapi sesekali saja.. Mar!"
Maria menangkupkan kedua telapak tangannya Dan sedikit menundukkan kepala, seraya berkata "Maaf... Tidak"
Lihatlah Pi... Berapa sopannya menantumu yang ini. Tentu tidak sepadan dengan Melissa.
"Pantas saja, kamu hampir tidak terlihat berubah dari sejak lama" Papi mulai memgomentari fisik Maria di mata Papi.
Kalau di pikir - pikir, aku seperti telah menikahi teman papiku sendiri.
"Terimakasih atas pujiannya" Maria hanya menjawab seperlunya.
"Kamu juga mulai mengikuti gaya hidup Maria?" Tanya mami penasaran.
"Kurang lebih begitu... Pekerjaan Dan keluarga sudah cukup menyita waktu, jadi aku sudah lama tidak main ke club atau bar"
"Good Job... Maria!" puji Papi automatic "kamu Bisa mengubah anak Badung ini jadi lebih baik"
"Padahal Papinya sampai mengusirnya saja, dia masih saja bergaul dengan berandal" Mami ikut menimpali.
"Mungkin kamu Bisa berbagi tips bagaimana mengatasinya?" Tanya Papi dengan nada Berat.
Apakah Papi sudah mencium soal asal pernikahan kami? Semoga tidak, gaya Papi yang cukup mengintimidasi selalu membuatku me naruh curiga.
"Itu adalah Pribadi Harry sendiri.... Saya hanya memberikan kesempatan Dan reward sesuai kemampuannya tidak lebih"
Mami Dan Papi memicingkan matanya Sejenak Dan mengarahkannyq padaku, seolah ada yang salah dengan ucapan Maria, Di mana kesalahan itu ada padaku.
"Common... I am not always that bad" Aku langsung membela diri.
"Jadi kalian minum apa?"
"Air mineral saja" Maria mengajukan pilihannya tanpa ragu.
"Aku juga sama" nampaknya aku mulai jadi follower sejati Maria.
"Nampaknya Perkembangan perusahaanmu cukup baik" Papi sudah tidak segan untuk mulai membicarakan soal pekerjaan. "Profit kalian meningkat hingga 45%, cukup fantastis" Papi mulai manggut - manggut sambil mengamati gelas wine yang mulai Di goyangkan berputar searah jarum jam.
" Kalau boleh tahu... Kamu lebih fokus Pada divisi apa Har..? " Kali ini Papi menodongku untuk mengetahui apa aku benar bekerja atau tidak, aku hafal expresi wajah itu. Papi memang tidak bisa percaya hanya sekedar dari berita Dan rumor, dia juga butuh memastikan Pada yang bersangkitan seperti saat ini.
"Aku hanya mengawali Di divisi marketing terlebih dahulu, basic negotiation dengan client paling dasar membuatku mulai Bisa menguasai segala bidang Bisnis perusahaan secara perlahan"
Maria melirikku dengan senyum manis, satu pertanda bahwa jawabanku tidak buruk.
"Aku pastikan aku tidak akan mempermalukan nama besar Papi" aku mengahiri ucapanku dengan senyuman, berharap Papi puas dengan jawabanku Dan segera memulai makan malam. Terus terang aku mulai sedikit merasa gerah.
Tapi.. Sepertinya Papi belum mendapatkan tujuannya , sekilas lirikan Papi ke arah mami membuat wanita paru baya yang masih nampak cantik itu segera mendekati Maria yang hanya mengamati percakapanku sedari tadi.
"Ah... Maria, Sebenarnya aku sangat menunggu - nunggu kedatangan kamu untuk membantuku memberi pendapat tentang interior rumah. Apakah kamu keberatan Apabila berkeliling sebentar?" Mami berbicara sambil menarik pangkal lengan Maria, dan itu nampak tidak sopan.
" Maria baru pertama datang ke sini, Kenapa mami langsung merepotkannya... Seharusnya kita lebih baik Saling mengenal terlebih dahulu.. Urusan interior itu mudah, kita Bisa mendiskusikan Di kunjungan berikutnya"
Aku tidak akan membiarkan mami membawa Maria jauh dariku saat ini. Tidak untuk di hadapan Papi.
"Ehem...." Papi berdehem untuk melerai aku dan Mami..
"No.. Pi... Maria stay here or we go"
Entah kekuatan dari mana kata - kata itu keluar dari mulutku. Tapi aku sudah bosan bersikap sopan Pada Papi.
Lagi pula hubungan kami sudah tidak baik bukan? Dan sepertinya Papi tidak tulus ingin memperbaiki.