
"Apakah bantuanku Sungguh akan berguna?" Willy menghunuskan pedang anggarnya. Dan mengelap dengan perlahan.
" Tentu saja, ahirnya aku butuh untuk memukul mundur Anthony untuk beberapa langkah" Maria melakukan hal yang sama.
"Jadi kamu hanya ingin mendapatkan apa yang kamu inginkan?"
"Hmmmm...."
"Bagaimana dengan keponakanku, apakah kamu akan terus memepertahankannya?"
"Entahlah, sejauh ini aku masih belum yakin kami Bisa bertahan selamanga. Tapi dia mulai terlihat cukup handal dalam bidangnya"
" Kamu masih saja aneh, meski telah melahirkan anaknya. Kamu masih ragu untuk merangkul ayahnya. Kamu benar - benar membuat para lelaki merasa insecure" Willy menggeleng Dan tertawa.
"Bukankah hati manusia adalah hal yang paling lemah Di dunia? Aku tidak ingin berharap pada satupun dari mereka"
"Dan kamu masih berharap membangun keluarga yang sempurna?"
Maria mengangguk, "Aku percaya hukum alam Dan negara, seperti simbiosis mutualisme Dan hukum negara"
Willy tertawa sekali lagi. "Mar.. Mar... Kamu menjadikanku selalu ragu untuk menikah"
"Apa hubungannya denganku?"
"Karena segala teorimu selalu terkesan masuk akal. Menikah berarti aku bersedia membagi separoh hartaku dengan orang lain yang mungkin tidak menghargaiku"
Maria tertawa kecil "Pilihlah seseorang yang pandai menghasilkan uang atau setidaknya memberimu kedamaian dalam banyak aspek, hingga kamu akan ikhlas bila harus berbagi suatu saat nanti"
"Apakah kamu Bisa mencarikan jodoh untukku?"
Maria menatap kawan lamanya itu dengan cukup tajam. "Kamu mapan Dan tampan, meski tidak muda bukankah tidak sulit memikat wanita"
"Aku tidak jeli mencari kriteria yang kamu sebutkan tadi"
"Bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Kalau kamu menang, aku akan menjamin untuk calon yang Cocok untukmu. Tapi kalau kalah, kamu harus bersedia untuk menandatangani surat kuasa atas kepemilikan sahammu padaku"
"Apakah itu tidak terlalu timpang?" Willy kembali membuka helm yang baru dikenakannya. Sebenarnya dia cukup patah hati karena Maria tidak pernah menyadari perasaannya.
Dulu dia kehilangan kesempatan dengan Maria karena sahabatnya. Dan Kini dia rupanya harus rela untuk mengalah dengan keponakannya.
"Harga Sebuah kedamaian tidak pernah sederhana. Lagi pula, aku hanya meminjam kuasamu selama Rapat saham saja. Aku tidak akan melakukan hal bodoh lainnya"
Willy hanya melepaskan nafas panjang "Aku peringatkan bahwa aku tidak akan sengaja mengalah"
"Pastikan itu, karena aku akan mengetahuinya ketika kamu melakukannya"
Keduanyapun memasang helm mereka bersamaan. Tanpa ragu kaki mereka melangkah Dan mulai memainkan pertandingan.
Ada embun yang untuk kesekian kalinya Di manik coklat Willy. Bahwa kenyataan dia harus mengikhlaskan Maria untuk kesekian kalinya.
*****
"Maria..." Maria tersenyum seadanya ketika willy baru pindah ke bangku kosong paling depan Di kelas barunya.
"Willy..."
Maria hanya mengangguk. Tanpa menatapnya lagi. Jemarinya sibuk menulis rumus fisika Pada beberapa kertas berukuran 4x6 centi meter.
"Apa itu?"
"Rumus fisika, kita ada ulangan Pada jam pelajaran terahir"
"Kamu mau mencontek?"
"Aku membuat contekan untuk pelangganku" Maria menghentikan penanya Sejenak "Ah... Apa kamu juga membutuhkannya?" wajahnya seketika berseri Dan menunjukkan beberapa lembar yang telah Di selesaikannya.
Willy hanya terpaku tak tahu harus menjawab apa.
"Apakah kamu berencana mengadu?" Maria menodongkan pertanyaan itu tanpa rasa khawatir.
"Lupakan saja niatmu itu, ini sudah rahasia umum. Aku tidak Bisa di salahkan, aku hanya menyediakan Fasilitas Dan aku tidak menyuruh mereka mencontek. Lagi pula aku tidak pernah mencontek" Maria kembali sibuk melanjutkan kegiatannya Pada empat lembar yang tersisa.
"Oh ya... Bagaimana Bisa?"
"Kalau kamu menulis sebanyak ini kamu akan hafal"
"Ah.. Iya.. Kamu benar" Willy memperhatikan sekali lagi, teman sebangkunya.
"Kamu tidak takut ketahuan guru?"
"Karena itu aku duduk Di bangku paling depan"
Willy melebarkan matanya.
"Persembunyian terbaik adalah Di tempat paling berbahaya" Senyum Maria masih sangat manis saat itu. "Mata mereka hanya akan tertuju Di bangku paling belakang, bukan bangku paling depan, apalagi Di depan meja guru"
Willy hanya mengangguk memahami theory Maria.
"Oh iya, aku dengar kamu anggota club basket bukan?"
"Aku bisa mengerjakan tugasmu kalau kamu sedang dalam Persiapan pertandingan" Maria merapikan kertas - kertas catatannya Dan memasukkan Pada satu sisi tasnya."Jangan khawatir, aku akan mengerjakan Berdasarkan tingkat kepandaianmu. Kamu kenal Johan bukan? Nilai rapport untuk pelajaran matematikanya hanya 60, maka aku akan mengerjakan tugasnya hanya untuk me dapat nilai 50 sampai 70 saja.
" Rupanya kamu cukup pintar, Kenapa kamu tidak bergabung dengan club siswa unggulan ?" Tanya willy penasaran.
"Semua anak pintar itu, tidak butuh jasaku. Aku tidak Bisa membayar uang sekolah kalau berada Di sana" Maria mengeluarkan Sebuah kartu nama dari saku kemejanya " Aku juga menerima membership, aku bisa memberikan bonus surat cinta untuk wanita yang kamu sukai, tapi sebulan hanya sekali"
Obrolan merekapun pun terhenti oleh kehadiranku guru biologic yang sudah mulai memasuki ruang kelas.
******
Beberapa rasa cinta dihadirkan bukan untuk di miliki, tapi juga untuk memberikan pelajaran.
Dengan mengenal Maria, willy belajar bahwa memberikan solusi Pada masalah orang lain adalah kunci Sebuah kehidupan.
Dengan mencintai diapun belajar tentang arti ketulusan.
*****
"Tubuh besar Kalian itu bukan hanya pajangan kan?" Tiba - Tiba Maria menghentikan willy dan Johan Di gerbang sekolah.
"Kamu butuh kuli?" Johan balik bertanya.
Maria menggeleng, "Aku butuh bodyguard"
Willy Dan Johan tertawa serempak. "Biasanya celebrity atau paling nggak cewek popular lah.. Nah kamu buat apa?" Celetuk Johan saat itu.
"Aku butuh uang.. Yang jelas kalian mau tidak?"
"Aku bisa meminjamkan uangku" Willy berusaha memberi solusi.
"Aku tidak mau mengembalikan uangmu. Aku tidak punya dana untuk itu"
"Aku nggak masalah" Johan memangkas jarak "Asal kamu jadi pacarku"
Ha... Maria Dan willy terkejut serempak.
"Aku bertaruh dengan nurul, kalau aku berpacaran denganmu dia akan memberiku uang jajan selama sebulan penuh" Entah Johan berbohong atau Sungguhan. Willy tak Bisa menebak, tapi dia berharap Maria menolak saat itu, karena dia berniat menyatakan cinta Pada acara pansy bulan depan.
"Huh... Aku rugi dong, kalau kamu satu - satunya yang mendapatkan hasilnya"
"Aku cuma butuh menang, uangnya buatmu"
"Semuanya???"
"Deal...."
"OK...!" Maria menyanggupi dengan ringan.
"Tapi setidaknya kita Bisa pacaran selama tiga bulan agar tidak terlalu ketahuan kalau kita kerja sama"
"Hmmm.... Apa kamu berencana menipuku?"
"Aku akan membayarmu setengahnya untuk dua bulan berikutnya"
"OK....jangan ingkar ya.."
Johan mengangguk Dan tersenyum puas. Tapi Willy hanya menunduk kecewa. Tampang juteknya Sungguh membantu aksi Maria yang ternyata menodong hampir semua siswa yang lewat Di gang samping gedung sekolah.
"Uangnya buat apa sih Mar?" Gerutu Willy yang tidak nyaman melihat Johan yang terus bersikap manis Pada Maria.
"buat bayar sekolah Aryo"
"Aryo siapa?"
"Temenku... Anak ektrakurikuler theater, bapaknya gagal panen. Jadi dia nggak Bisa bayar uang sekolah selama enam bulan" Jawab Maria santai.
"Jadi...??" Willy mendengus kesal. "Udah dapat berapa?"
" tujuh ratus dua puluh ribu.. Dikit lagi" Maria mengintip isi kantong kresek Di tangannya "Besok hari terahir atau dia di keluar kan"
"Aku sumbang sisanya, kita pulang aja. Kulit kamu udah item kepanasan"
"Aku bukan anak garam, lagi pula secara biologist warna kulit tidak akan berubah secara permanent hanya dengan berjemur. Nanti juga baik lagi"
"Aku juga sumbang juga, biar cepet. Sore ini ada pertandingan basket kan? Kamu nggak mau telat jualan kan?"
"Benar!!" Maria menepuk jidatnya "Tapi kalian ikhlas kan? Aku nggak hutang kan?"
Willy Dan Johan menggeleng segera.
"Ah... Aku kasih contekan gratis bulan ini.. Aku nggak akan balas budi lebih dari itu OK?" Maria memasukkan kantong kreseknya setelah meraih uang yang berasal dari saku Johan Dan willy. Sebelum ahirnya dia berlari menjauh.
"Yakin kamu mau pacaran sama dia..?" Tanya willy yang masih berharap sahabatnya itu membatalkan niatnya.
"Sangat yakin, Di mana lagi dapat cewek kayak gitu.. Matrenya natural"
******