Sugar Mamy

Sugar Mamy
Dinner kedua


Mungkin banyak penasaran seberapa kaya keluargaku. Lebih dari sekedar memenuhi undangan Mami yang mengatasnamakan tentang ucapan terimakasih atas usahaku membebaskan Papi.


Sepertinya Mami lebih terkesan pamer pada Maria dan tentu saja, mencoba mengingatkanku akan Fasilitas apa yang aku terima ketika kembali ke rumah.


"Kalian pasti sudah akrab dengan rumah Mami"


Mami menyambut kami dengan senyum malaikatnya "Terutama kamu Maria" Dan hati iblis mami mulai muncul kemudian.


Mami mengambil cushion ketika dia mempersilahkan kami duduk "Motif ini kita pesan langsung dari Warwick Australia dan aku harus menunggu hingga satu bulan"


"Tentu saja saya ingat, saya harus bernegoisiasi dengan manager Asia yang enggan mengirimnya langsung kepada saya. Namun harus membelinya dari cabang America"


"Ingatanmu sangat tajam" Pujian mami terdengar kurang ikhlas "Dan aku harus menunggu lagi untuk bulu - bulu angsa premium ini"


Mami meletakkan cushion itu di pipinya "Tapi aku sangat puas, hingga semua bantal Di rumah kami menggunakan kualitas bulu angsa yang sama. Pure, tanpa campuran"


Segurat senyum indah kembali merekah "Aku yakin kamu tidak memiliki barang yang sama Di rumahmu Har?"


"Aku tidak tidur Di sofa, lagi pula sebagai orang dewasa aku lebih cepat tidur karena hal lain" jawabku singkat dengan pandangan yang segera menuju ke arah Maria.


Mami memandang jam dinding Sejenak, "Mami rasa makanan masih agak sedikit lama, bagaimana kalau kita ke ruang piano, Mami rindu kamu memainkan lagu untuk mami"


Ah.. Itu lebih baik, dari pada mami menyebutkan lebih banyak lagi hal - hal yang membuat telingaku sakit.


"OK.. dengan senang hati Mi"


"Ups!! Tunggu.. Apakah sepatumu product local? Ssst.. Kau tahu Mar... Ruang piano kami beralasakan karpet Persia asli dan bersertifikat, aku tidak ingin sol yang tidak sempurna menggoresnya. Mengingat semua karpet di rumah ini hanya di produksi satu tanpa ada duanya, pasti kamu tidak lupa juga"


"Aku yakin, dengan kualitas dan harga yang sangat mahal itu. Mereka pasti tidak akan mudah rusak hanya karena sentuhan local product" sanggahku " Lagipula Maria sedang menggunakan sepatu dari Valentino, seharusnya mami sudah mengenalinya sejak tadi bukan? "


Maria mengisyaratkanku untuk tutup Mulut dan tidak meladeni Mami lebih jauh.


"Biarkan dia memuntahkan semua yang ada di kepalanya, aku tidak merasa di rendah kan. Lagi pula ini membuatku tidak menyesal membayarmu lebih untuk tinggal di gubukku" pesan text Maria sebelum berjalan mengikuti mami mendahuluiku.


"Harry pernah mengikuti kelas music Di Polandia, hanya untuk mendalami Etude karya Chopin. Sebenarnya dia cukup berbakat, tapi bagaimanapun lahir sebagai pewaris tunggal terkadang harus mengubur bakat seninya"


Huh.. Mami paling pinter cari alasan, Sebenarnya dia yang menginginkannya karena dia ingin mengunggulkanku di depan duta besar Inggris saat itu.


Pada ahirnya aku hanya memainkannya untuk teman - teman Mami saja. Sungguh sia - sia.


"Tidak heran kalau permainannya cukup bagus" sambut Maria tenang.


"Lebih bagus lagi Apabila di mainkan dengan piano kualitas tinggi"


Aku menyela "Hanya di pesan special untukku, dengan bahan kayu yang berusia hampir 100 tahun, benar kan Mi..?"


Tapi sesungguhnya, piano itu hanya untuk mami menyombong kepada para musisi yang di undang ke rumah kami ketika ada acara special saja.


Aku bahkan tidak mendapatkan tempat memainkannya, kecuali ketika Mami ingin memamerkanku.


" Kamu Bisa bermain piano Mar? "


" Tidak"


"Sebagai bagian dari kalangan menengahi ke atas, paling tidak kamu Bisa memahami music dengan baik"


"Saya bermain Biola Dan Gitar, saya tidak berbakat duduk terlalu lama kecuali ketika memghitung atau membaca"


Alasan yang Bagus Mar, "Tapi aku tidak menyukai Maria bermain musik, mengingat itu akan membuat jemarinya menjadi kasar, kami sudah menikah, kelembutan tangannya sangat penting untuk aktivitas kami"


"Ehem..." Maria jelas tidak menyukai topikku "Anda masih memajang lukisan ini?"


Mami tersenyum beku, rupanya persiapannya tidak cukup matang. Lukisan kupu - kupu yang berhamburan di antara pohon Sakura dengan gaya contemporary berukuran 200cmx 80cm berdiri tegak menjadi center point di tengah ruang musik. Sayangnya itu karya Maria.


Mami memilih diam tak menjawab Dan langsung beralih ke piano yang di pamerkannya. Apakah ini Bisa aku kategorikan melawan kesombongan dengan karya?


"Mami membelinya kembali, saat kami berkunjung ke California"


"Bisakah kita Mulai?" Mami tidak ingin aku meneruskan ceritaku.


Aku menghela nafas lega, ahirnya telingaku akan terisi hal indah, meski aku harus memainkannya sendiri.


Sesuai permintaan Mami, aku memainkan Etude karya Cophin. Sebenarnya ini bukan music yang menyenangkan. Karya ini dibuat berdasarkan tragedi polandia. Apakah mami bermaksud bahwa pernikahanku dan Maria adalah tragedy?


Secara keseluruhan Maria Sungguh cukup memiliki kualifikasi dalam keluarga kami. Dia memiliki kemampuan Dan selera seni yang bagus, kemampuan mencetak Bisnis Dan uang yang cukup mumpuni serta leadership yang baik.


Hanya latar belakang Dan Fisik saja yang tidak sesuai selera Mami. Dan Dua - duanya, adalah takdir yang tidak bisa di pilih.


Sayup - Sayup Mami sesekali mengoceh seiring dengan wine yang perlahan Di tuangkan oleh pelayan rumah kami ke gelas Di tangannya.


Sedangkan expresi Maria yang mulai menyantap beberapa pilihan Cold meat Dan cheese tidak dapat di baca jelas tapi Bisa aku pastikan. Mulut mami tidak sedang bicara manis.


Aku berdiri dari duduk ku dan mulai mengulurkan Tanganku ke Maria.


"Bagaimana kalau kita berdansa, aku rasa kita punya waktu untuk itu" ajakku yang tidak mungkin Di hentikan Mami.


Siapa yang akan menghidangkan cold meat sebagai appetiser? Kalau bukan Mamiku. Daging Bisa membuat kita kenyang hingga 180menit. Dia memang sengaja membuat aku dan Maria mendengarkan celotehnya.


"Mami Bisa memainkan satu lagu Bethoven untuk kami? Anggap saja sebagai hadiah pernikahan yang tertunda"


Mami hanya sanggup tersenyum, aku yakin dia tidak mungkin menolak untuk melakukannya.


Karena dia pasti menduga aku akan mengejeknya yang pelupa sama seperti biasanya ketika kami sekeluarga bermain musik bergantian. Harga diri adalah segalanya buat Mami.


"Tentu, kepiawaian Harry adalah warisan dari genku. Hal itu sulit di hindari" Mami tertawa kaku.


Apa kamu cukup lapar?" bisikku ketika Maria mulai berada Di Pelukanku.


"Aku tidak masalah dengan lapar atau Mamimu, hanya saja aku tidak ingin melewatkan waktu untuk menidurkan Yodha"


Aku melirik jam Dinding, Maria selalu menidurkan Yodha jam 9 malam tepat Dan saat ini sudah hampir jam delapan. Sebenarnya ada Yulia yang kami meminta untuk menginap malam ini agar Maria Bisa beristirahat. Tapi...


"Meski aku sibuk aku tidak ingin posisiku sebagai ibu tergantikan" Maria mulai menyadari kemungkinanku untuk melewatkannya.


Mami memang mengulur waktu terlalu lama. Sepertinya dia tidak begitu ikhlas Maria ikut menggunakan sendok perak kami.


"Kamu punya Jalan keluar?"


Aku menarik nafas panjang "Mohon kerja samanya" Aku mengisyaratkan agar Maria menyambut ajakanku dengan baik.


Sudah waktunya, aku menunjukkan kemesraanku dengan Maria. Meski maria tidak begitu menyetujui untuk berciuman Di tengah dansa kami. Tapi feromonku tidak pernah gagal mematik hasrat Maria. Bagaimanapun Maria madih normal.


Permainan Mami, terasa kehilangan harmonynya ketika kami menganggap dunia ini hanya milik berdua. Tanpa sengaja dia melewatkan beberapa not.


"Tinggi Badanmu sedikit kurang untuk mengimbangi Harry" Begitulah komen Mami "Pasti kamu sering sakit leher, Mami akan merekomendasikan therapist Di tempat Spa favorite Mami Dan Luna"


"Tenang saja Mi, aku lebih sering melakukannya dengan posisi horizontal. Itu sangat nyaman Dan juga Bisa membakar kalori dengan baik dengan beberapa tambahan"


Senyum ku cukup lebar meski Sebenarnya senyum ini untuk menutupi ujung jemari kakiku yang mulai Di injak Maria. "Benar kan Mar?"


Maria hanya tersenyum Dan diam, dan tanpa ragu aku kembali memanggutnya.


"Ah.... Ya ya ya" respon Mami yang seolah menerima tapi jelas buatku bahwa ini adalah Sebaiknya. "Bagaimana kalau kita langsung ke ruang fine dining saja, Mami rasa Cheff Kevin sudah menyelesaikan hidangan kita"


"It works kan?" Pamerku Pada Maria. Aku tahu Mami pasti tidak akan tahan.