Sugar Mamy

Sugar Mamy
Nilai Cinta


"Ah... Aku angkat terlebih dahulu.." Anthony segera menyambar benda pilih itu Dan meninggalkan ruangan.


"Sejak kapan dia menyembunyikan percakapan dengan Elena dariku" Gumam Renata Mengantar punggung Anthony yang segera menghilang Di balik pintu.


****


"Apakah kamu sudah membereskan keterkaitanku dengan urusan kalian?" Elena bertanya tanpa sabar.


"Kenapa kamu tergesa - gesa, belum ada tanda Maria membawanya ke ranah hukum" Anthony mengusap wajahnya yang tak basah.


"Memukul mundur Maria? Kenapa harus Berahir kriminal Dan lebih buruk kalian menggunakan zat addictif, kalau tahu kalian amatir aku menolak dari awal"


"Kamu juga menginginkannya Na.." Anthony tidak mau Di salah kan sendiri. "Kita semua setuju, tidak mungkin cuci Tangan begitu saja"


"Tapi kalian bilang ini pasti tanpa resiko? Tidak akan Ada yang tahu! Dan tidak akan ke ranah hukum!!" Suara Elena meninggi.


"Aku tak mengira kalau Nando bersedia bersaksi, aku juga tak mengira kalau Maria Bisa dengan tenang menghadapi. Wanita itu sepertinya jauh dari kata depresi" Jawab Anthony yang lebih mirip keluhan.


"Melissa sudah berangkat pagi ini, dan aku akan segera pergi maximal Minggu depan. Kamu masih ada peluang dengan Luna" Anthony memberi solusi yang masuk akal.


"Kamu mau aku jadi simpanan lelaki tua itu"


"Setidaknya kamu punya kekuasaan yang kamu inginkan, dari pada hanya mengejar kepuasan superiormu"


"Kamu tidak takut aku mengirimkan liburan singkatmu Di Queensland"


Anthony terdiam Sejenak Dan memandang Renata umyang nampak sedang berdiskusi dengan pelayan dari jendela kaca rumah.


"Maria punya lebih banyak data tentang hubungan ku dengan wanita yang kamu maksud, aku harus memilih meredam bom yang lebih besar" lanjut Anthony yang dengan santai mulai menutup telponnya Di antara teriakan Elena Di seberang sana.


"Daddy...!!" Tania menghambur ketika memasuki halaman belakang rumahnya.


Anthony segera menangkap gadis kecil itu Dan mengangkatnya tinggi - tinggi.


"How are you little girl?"


"I am happy...." Jawabnya dengan tawa bahagianya.


"Kamu akan segera pindah ke rumah Maria Manda, saya titip anak saya agar di jaga dengan baik"


Manda hanya mengangguk


"Saya yang akan Mengantarnya sendiri nanti"


Anthony mengembalikan Tania Pada Manda. "You have to be good girl, as Always and will be forever, Right?" Ucapnya ketika melepas Pelukan Tania. "Daddy must back to work"


******


Langit pekat melintang Di atas Kota. Temaram cahaya bintang terkikis dengan lampu yang warna warni penghias Jalan.


Ting... Dentingan gelas terdengar dari sisi lorong kiri Penthouse Di mana Dion sedang menikmatinya.


" Menyimpan kesal, bukankah hanya membuang waktu?" Suara Elena menggema menarik leher Dion untuk menangkap bayangan wanita cantik itu.


" Banyak hal yang lebih berguna yang bisa kita lakukan" lanjutnya sambil mengangkat dua gelas wine yang di apit jemari kirinya Dan Sebuah botol Di sisi lain.


Tanpa mengurangi senyumnya. Elena menepuk sisinya yang kosong, berharap Dion segera bersambut dengan ajakannya.


Tarikan nafas Dion kali ini menjadi pelan Dan sangat dalam. Kaki jenjang berlapis kulit sehalus porcelen itu melambai manja Di antara juntaian sutra yang tak tebal.


Senyum Elena yang terbungkai garis wajah tegas bernaung sinar mata sayu light grey mengundang desiran dada.


Namun, kali ini roda akal Dion seakan bergerak ke arah yang berbeda.


"Kenapa kita tidak sudahi saja, usaha yang menyiksa ini" Ucapnya lirih.


Elena masih tenggelam dalam senyum Dan harapan yang biasanya tidak pernah salah. Dengan tenang dia menuangkan minuman beraroma manis berwarna romantics yang cukup memiliki nilai fantastis itu ke dalam gelas - gelas kristal dari tangannya.


"Bukankah ini tidak buruk?" Elena mengarahkan satu gelas yang lain ke arah Dion.


Nafas Dion menghembus dengan kasar sebelum langkah berikutnya mulai membuatnya meraih tawaran Elena.


"Sebenarnya aku sudah merasa lebih hanya dengan dirimu" Lanjutnya ketika dia mulai memposisikan tubuhnya selaras dengan tempat Elena berada.


Elena hanya mengangkat Alisnya seiring dengan putar an gelas kristal Di jemari lentiknya. " Tapi kelebihanmu Di hasil kan dari Kekuranganku" Seutas tawa sinis muncul tanpa duga.


"Apakah salah mengharap jadi sempurna Yon?" Lanjut Elena sebelum dia meneguk minumannya.


"Tidak ada Keinginan yang salah, tapi sempurna adalah sesuatu yang tidak mungkin Dan tugas kita menerimanya"


"Bagaimana dengan normal?" Elena mencoba menawar ucapan Dion yang tersirat tak sejalan dengan Keinginan ya.


"Semuanya boleh, tapi bukan berarti kita mendapatkannya" Dion mencoba menyingkirkan anak rambut yang ter gerai lembut Di leher Elena.


"Jadi....??" Elena menahan nafas Sejenak usai dia mengulum wine Dan menelan ya.


"No kids, I am fine. No status I am fine... Aku cuma butuh kamu. Itu cukup" Dion mencoba menyampaikan isi hati yang selalu sulit di mengerti Elena.


"Kalau aku tidak cantik atau sexy apa kamu masih sanggup mengantakan itu?"


Dion tersenyum singkat, " Aku tidak membohongimu kalau aku mengagumi Kecantikanmu. Tapi... Bukankah yang penting adalah hal yang selanjutnya terjalin"


Kedua insan itu Saling memandang Sejenak, mereka sibuk dengan isi otaknya masing - masing tentang pernikahan yang mulai memiliki arah yang berbeda.


"Kita sudahi saja mencari kesempurnaan, dan terus merajut apa yang ada Dan akan datang. Lebih sederhana" Dion mendentingkan gelasnya Pada gelas Elena.


"Tapi aku terlanjur terlibat, bisa kah kamu memohon Pada Maria untuk melupakan kasusnya?"


Dion tak mampu menahan tawa sedihnya "Kamu masih ingin memanfaatkanku dengan cara seperti ini? Apakah dari awal aku cuma alat saja? Yang tidak kamu pertimbangkan perasaannya"


Dion meneguk habis sisa wine Di gelasnya.


"Bahkan ketika cintaku ini tidak bercela, kamu masih tidak ingin menyisakan harga diri untukku"


Butiran bening mulai terbentuk lamban Di sudut mata Dion. Tanpa ragu kakinya mulai tegak Dan mengambil langkah menuju kembali ke tempatnya berdiri semula. Kembali memandangi sinar bintang yang temaram se temaram cintanya yang tak pernah di anggap serius.


"