Sugar Mamy

Sugar Mamy
Putusan


Sidang putusan Papi digelar hari ini.


" Jam berapa tepatnya?" sepasang butter bread Di sajikannya Di meja bar dapur kami.


" Jam sembilan pagi ini" jawabku malas.


"Mix Berry juice atau coffee?"


" Kamu minum apa?"


"Mix Berry"


"Aku ikut"


"Mau aku temani ke pengadilan?" tawaran Maria tidak buruk.


Selain aku tidak ada anggota Keluarga yang akan hadir. Padahal semuanya hingga saat ini menikmati uang yang di hasil kan dari Tower High.


Hanya karena khawatir harga saham yang turun, Apabila hasilnya tidak sesuai perkiraan. Mereka memilih untuk mengabaikan Papi.


"Tak kusangka darahpun tidak sekental kelihatannya"


Maria tersenyum tipis mendengar gumamanku.


"Jangan Di pukul rata, tidak semua seperti itu"


avocado toast Dan poach egg tersaji dengan dengan arugula mixed apple salad.


"Kita tidak akan mendidik keturunan kita dengan cara itu"


Aku tertawa kecil.


"Ada yang lucu?" Maria yang baru usai menelan saladnya menatapku penuh heran.


"Kita mengawali dengan perhitungan angka" Aku meneguk mix Berry juice "Harga, value serta keuntungan. Namun Pada ahirnya kita sepakati untuk tidak membuat keluarga yang kita bangun dengan menilai semua itu"


"Itulah alasannya kenapa aku tidak mau Di lamar. Dan aku tidak segan membayar, karena aku ingin menikah dengan yang sepaham"


"Bukankah itu sedikit pemaksaan?"


"Mungkin tidak semua, tapi lelaki punya egois untuk menjadi lebih superior dari Pada wanita. Kenyataannya wanita juga memiliki keunggulan yang harus Di terima, mungkin lebih bijak atau lebih pintar Dan sebagainya"


Kalau wanitanya kamu jelas iya, hanya saja Maria sepertinya kehilangan hormone wanita yang di sebut manja.


"Saat mereka menyadarinya, maka sering wanita di sebut pesaing. Di paksa tidak berkarya atau malah Di paksa berbagi suami karena Di nilai tidak sempurna" Senyum Maria tampak kaku.


"Apakah kamu menghawatirkan itu dari..."


"Dari aku melihat pernikahan, mungkin sekitar usia 13 tahun Dan kasus yang sama sering terulang Di tempat berbeda" Maria memotong ucapanku dengan tegas.


"Para siswa sekolah gratis yang aku dirikan, Sebagian adalah korban dari hal seperti itu ckcck. Setelah memaksa perempuan berhenti bekerja dengan dalih harus berbakti, kemudian ketika tidak berdaya mereka menawarkan poligami Dan Berahir bercerai karena tidak sanggup "


Maria meneguk mix Berry juice ya Dan menelannya dengan cepat.


" Lebih ironisnya mereka para lelaki itu melupakan begitu saja istri Dan anaknya, tanpa nafkah "


" Kamu takut mengalami hal yang sama? "


" Tidak denganmu, karena aku membayar Dan kita memiliki perjanjian"


"Lebih karena aku dikhianati secara keseluruhan. Hatinya, proffesional kerja, dan yang utama Persahabatan kami yang ternyata tidak ada harganya Di matanya"


Aku hanya mengangguk sambil memasukkan potongan poach egg ke mulutku. Maria terluka cukup banyak.


"Mungkin... Semua berasal dari uang, value Dan keuntungan. Tapi kita punya kuasa untuk membentuk keluarga ini lebih Bisa melihat nilai dasar manusia tanpa ada pamrih"


Maria melanjutkan makannya tanpa menatapku lagi. Perkataannya cukup menyentuhku, Pada ahirnya kekayaan keluargaku Sebenarnya hanya belenggu. Tidak ada kebebasan untuk memilih Jalan hidup, baik pekerjaan atau pernikahan. Padahal banyak orang berusaha menjadi kaya untuk meraih kebebasan.


"Kita Bisa berangkat tiga puluh menit lagi?"


Maria mengangguk dengan seulas senyum manisnya.


Aku berharap Papi akan sedikit Bisa membuka hatinya untuk Maria, setelah melihatnya ikut hadir ke persidangan hari ini.


*****


Aku dan Maria mengambil duduk Di barisan paling ahir, bukan ingin bersembunyi. Tapi lebih tepatnya sedikit mengontrol percikan emosi dari diriku sendiri.


Sidang Papi tidak popular seperti awal. Selain wartawan, tidak ada satu pun wajah yang aku kenal, tidak ada keluarga atau setidaknya teman.


Kejayaan diraih bersama, tapi kemalangan Di tanggung sendiri. Andai Papi faham, bahwa sifat kerasnya sama sekali tidak berhasil menyelamatkannya atau setidaknya mendapat sedikit simpaty.


Baru kali ini aku melihat Papi nampak tidak berdaya. Sedangkan Di mataku Papi selalu nampak superior Dan penuh kuasa. Memiliki perusahaan sebesar itu Dan yang yang tak akan habis beberapa generasi. Aku bisa memahaminya.


Tapi pemilihan pendamping Papi cukup buruk. Kepala ku terasa penting mengingat soal Mami. Bahkan saat suaminya seperti ini dia juga tidak muncul.


Maria mengengam jemariku, dan memintaku tersenyum Pada Papi.


"Meski belum damai, tersenyumlah ketika kalian bertatapan"


"Tapi nanti dia buruk sangka padaku, dia pikir aku meremehkannya"


"yang penting kamu tidak bermaksud demikian" Maria mencoba meyakinkanku.


OK... Tapi ini bukan tanda damai.


Aku menyunggingkan senyum ke arah Papi. Meski setengah hati, Namun tanpa aku duga Papi mulai menitikkan air mata. Dengan lamban dia mengusap sudut matanya yang berembun.


Aku mengalihkan pandangku Pada Maria yang masih menggenggam erat tenganku. Raut wajahnya masih datar seperti biasa, menatap lurus ke arah Jalannya persidangan yang berjalan dengan lancar Dan cukup rapi.


Para wartawan pun tidak banyak berkomentar ketika persidangan usai. Hanya obrolan ringan yang terdengar sesekali. Sungguh sangat berbeda dari persidangan awal dahulu.


"Kita temui ayahmu dulu sebelum dia kembali ke penjara" tawar Maria.


"Tidak.... Papi tidak akan sejinak seperti tadi bila berhadapan langsung denganku. Aku ingin imagennya tetap baik hingga benar - benar keluar"


Maria mengangguk paham " Mau langsung pulang?"


Aku terdiam Sejenak "Belum ada kabar dari Tania?"


Maria mendengus kasar "Selain social media Renata, aku tidak Bisa tahu apa - apa"


Kami sama sama memandang gedung pengadilan.


"Aku Sungguh malas ke sini lagi" gerutu kami bersamaan.


*****