Sugar Mamy

Sugar Mamy
Ancaman


Selamat Pagi.."


Hah... Maria...??? Bukan jadwal dia untuk meninjau kantorku hari ini.


"Ah ada tamu rupanya.... Halo Mel..! Lama tak bertemu" lanjutnya dengan santai.


"Apa kabar tante..." Melissa menekankan kata tante terlalu tajam.


"Seperti kamu lihat, aku baik" Jawab Maria sederhana tapi membuatku jadi Deg - degan. Kira - kira apa yang akan terjadi.


Maria dengan santai mengambil beberapa map tentang in dari rak buku Di sampingku. Dan selanjutnya, dia mengambil duduk Di salah satu sofa.


"Silahkan Di lanjutkan" Maria mulai membuka map itu satu per satu, serta mai mengeluarkan laptop dari dalam tasnya.


"Jadi tante akan Di sini?"


" ehem..." Jawab Maria tanpa melihat ke arah kami.


Ah.. Dion mana sih, seharusnya aku menggandengnya erat tadi, agar tidak tertinggal Di pintu masuk.


"OK.... Sekalian kalau begitu" Melissa mendengus kesal " Kenapa kamu tidak mau menikahiku? malah milih janda gatel Dan jelek kayak dia"


Aku terdiam Sejenak, berharap Maria Bisa membantuku mendapatkan sedikit inspirasi. Tapi nampaknya dia hanya diam dan tetap melakukan pekerjaannya.


"Yang pertama itu adalah hak ku dan yang kedua aku yang gatel sama Maria bukan sebaliknya" Jawabku kesal, tapi kesalku ini kepada Maria yang nampak santai dengan Melissa yang bagai kan grant Di depanku.


"Mana mungkin!!!! Tante dukunnya Di mana sih? Bisa punya suami tampan dua periode gini?"


Maria mulai menghentikan jemarinya yang sedang mengetik, dagunya terangkat sedikit dengan senyum merekah seperti biasa.


"Mungkin kamu Bisa menanyakan itu kepada kakakmu" Maria mengangguk angguk Sejenak Dan kemudian kembali ke activitasnya semula.


" Huh.... Dia memang sangat bodoh untuk jatuh cinta padamu"


Maria sedikit melihat ke arahku Dan mengangkat alisnya..


Apa??? Aku coba menebak maksud kodenya yang sulit aku mengerti.. Ah wanita. Tunggu... Aku tahu..


" Dan aku juga sama bodohnya dengan kakakmu" ah... Tebakanku benar, Maria Kini melipat kedua tangannya Dan memandangku dengan senyum yang indah "Karena itu aku memilih melewatkanmu Dan berguru Pada Maria yang sudah cukup berpengalaman" kedua alis Maria mengerut, tanda dia tidak menyukai kelanjutan jawabanku.


"Yang benar saja!!" Pekik Melissa


Ah... Sudahlah, aku mengambil keputusan sendiri. Untuk menimpali kalimat Melissa yang ini.


"Kamu lihat sendiri Mel... Aku ahirnya Bisa duduk Di kursi Direktur perusahaan, meski aku memasuki perusahaan ini hanya sebagai marketing" itu tidak salah, meski Sebenarnya ini bagian dari upahku jadi Sugar Baby, tapi aku kompeten "Berhasil menaikkan profit perusahaan 45% Dan tidak menjadi alat pertukaran Bisnis, I am happy with Maria because I can proove my self" Aku menarik nafas dalam - dalam " Sedangkan bersamamu aku hanya Berahir menjadi badut meski statusku adalah pewaris tunggal"


"Ha... Ha..." Emosi Melissa mulai meluap "Kamu pikir Maria akan selalu Bisa memberimu kesempatan Dan pekerjaan?" Suaranya juga mulai menunggi "Aku akan membuat semua itu tidak berbekas, hingga kamu berlutut memohon untuk menikahiku Har...!!"


Aku tertawa kering. Karena ini benar - benar lucu, aku sama sekali tidak pernah mengenal Melissa, Namun aku terjebak dalam kondisi ini " Kenapa kamu Sungguh ingin menikah denganku Mel.. Kita sama sekali tidak pernah begitu mengenal, bahkan tidak bertegur sapa?" Aku coba untuk mendapatkan jawaban dari slumber yang akurat.


"Karena kamu selalu mengabaikanku Dan tidak pernah melihatku, hanya kamu yang tidak pernah tertarik denganku bahkan dengan segala yang aku miliki, kekayaan, kekuasaan, kepopuleran Dan Kecantikan"


Benar, Melissa punya semua itu bahkan dia pernah masuk kategory wanita tercantik voting website ternama Di Internet.


"aku punya semuanya, tapi Kenapa hanya di matamu aku seperti tidak memiliki apa - apa"


Hah... Ternyata cuma soal itu, dan dia mau mengorbankan hidupku. Hanya karena dia butuh pengakuan bahwa dia sempurna? Hah... Dunia ini lucu sekali.


"Kalau begitu... Kita hidup Di dunia yang berbeda Mel..!" Aku menggumam lirih seakan mengeluh Pada diriku sendiri. "Kamu perlu banyak belajar apa yang namanya hidup, dan salah salah satunya tentu tentang bahwa dunia ini bukan hanya tentang dirimu"


Dasar Dion pengecut!!! Bukannya membantuku Di sini, tapi malah memguping.


"Selamat pagi.. Ini laporan penjualan bulan ini" Dion datang dengan wajah polosnya.


" Telat.... Udah lewat!!" keluhku geram.


"Berikan ke saya aja Yon..." suara Maria menggema.


"Ah iya bu.." Dion pun berbalik arah menuju ke Maria yang dengan hangman menyambut laporan penjualan Di Tangan Dion.


"Dion yang memintaku datang Har.... Hargailah usahanya" Lanjut Maria..


"Maaf kan bu.. Sudah merepotkan ibu pagi - pagi"


Hanya di depan Maria Dion sopan, tidak Di depanku.


"Kenapa kamu nggak ngomong yon?"


"Nah kesempatannya jelas nggak ada Har" jawab Dion yang memang benar adanya.


"Melissa sudah seperti petir kalau datang langsung main samber, sulit kan?"


"Yang penting dia sudah pergi, sekarang yang harus kita pikir adalah kata - katanya"


Maria menengahi pembicaraanku Dan Dion.


"Maksudnya?"


"Dia tidak akan melepaskanmu begitu saja kan? Bukankah tadi dia mengancammu"


Mariaemgingatkanku atas percakapanku dengan Melissa beberapa menit lalu.


"Terimakasih Dion untuk bantuannya, saya juga Mohon bantuanmu kedepannya saya harap kamu tidak keberatan"


"Oh tentu bu.. Saya pasti membantu. Tapi saya pamit dulu ya bu.." Dion pun segera beranjak meninggalkan kami tanpa melihat lagi ke arahku.


"Ternyata memilikimu cukup rumit ya..?" Maria berceloteh.


" Maka dari itu.. Maksimalkan saja kepemilikanku kepadaku, untuk membayar semua konsekuensi yang aku sebabkan"


Maria hanya tersenyum mendekatiku Dan mendaratkan ciumannya padaku.


"Mungkin ada benarnya" ucap Maria ketika aku masih tertegun usai ciuman yang di berikannya, Pasalnya ini pertama kali Maria memulai "aku balik dulu ke kantor ku" Lanjutnya dengan langkah yang mulai berjarak dariku.


Oh... Sorry Mar, tidak semudah itu kamu pergi setelah menggodaku.


Aku segera mendahului langkahnya Dan mengunci ruanganku.


"Aku rasa aku belum puas sarapan pagi ini"


Sepasang mata Maria membola ke arahku.


"Ini Di kantor Har.."


"Ini kantorku Dan juga perusahaan mu.. So.. Who dare! And I don't care"