Sugar Mamy

Sugar Mamy
Kenyataan


Bertindak tanpa berfikir lebih jauh atau perhitungan yang tidak matang.


Kata - kata tajam itu yang sering keluar ketika aku sedikit terburu - Bury dalam keputusan. Aku membayangkan Maria akan mengantakan lagi kali ini setelah sekian lama kata - kata itu pensiun.


"Mar? Seberapa besar cintamu padaku?"


"Pertanyaan tidak jelas apa itu?" Maria sibuk mengiris beberapa Bumbu masak yang di siapkannya untuk makan malam kami.


"Setidak jelas keyakinanku Pada cintamu"


"Bahasan konyol itu mulai lagi mengisi otakmu" Maria menghentikan aktivitasnya "Katakan padaku apa kesalahan yang sudah kamu perbuat?"


Kemampuan Maria membaca Pikiranku masih tajam seperti biasanya.


"Maaf cancel dulu, nadamu cukup menyeramkan. Apalagi dengan pisau ditanganmu Dan juga lapar Di perutmu"


Maria menarik nafas panjang dan melanjutkan kegiatannya dengan sesekali menatapku yang masih belum mengalihkan pandanganku padanya.


Bagaimanapun, Maria adalah option yang paling memungkinkan saat ini untukku mengungguli Elena.


"Apakah hal yang sangat kamu ingin kan dalam waktu dekat?" aku hanya sanggup mengeluarkan pertanyaan konyol lainnya.


"Kamu tahu aku tidak pernah menginginkan apapun kecuali apa yang kamu sudah tahu"


Berurusan dengan wanita seperti Maria Sungguh sangat sulit. Semua yang dia inginkan tidak bisa di beli dengan uang, Maria juga bukan tipe romantics. Aku tidak Bisa merayunya dengan makan malam romantics atau sekedar hadiah.


"Denganku tidak perlu basa - basi"


Tapi Maria adalah satu - satunya teman diskusi atau solusi untuk segala urusanku.


"Cuma masalah yang tidak begitu penting, Namun cukup mendesak"


" Kapan deadlinenya?"


"Segera jawabku otomatis"


"Jaminannya?"


"Kamu Bisa mengajukannya, sesukamu" Senyumku melebar.


"Seberapa yakin bahwa aku tidak rugi?"


"hmmm ini agak berbeda..."


"Apakah Bisa menunggu sampai launching fashion Alberto?"


"berarti senin?"


"Kalau menguntungkan, aku tidak akan menunda. Seperti yang kamu tahu, saat ini secara finance aku juga tidak dalam posisi yang bagus. Aku sedang bertaruh banyak Pada proyek - proyek barumu"


"Siap!! aku pasti bekerja sepenuh hati" Tunggu aku baru sadar bagaimana Maria tahu aku butuh uang? "Kok tahu ini masalah uang"


Maria memasang senyum seram yang sudah akrab "hanya tebakan yang sepertinya selalu benar" Maria hanya menjawab tak memuaskan.


Whatever!!


"anyway thank you..!!! Mau extra bonus? Full service from me" Aku menjajakan jasaku Pada Maria.


"ckck...kita lihat nanti, tapi aku lebih suka beri aku presentasi keuntungan yang aku dapat. I prefer that"


" Kalau begitu aku yang minta jatah" Aku mencolek pipi Maria yang sedang bergerak statics karena kunyahannya.


"Asal laporannya beres that's not problem"


"Laporan besok pagi, jatah malam ini dong"


"Kalau ternyata laporannya nggak sesuai, aku yang rugi" Maria meneguk ice lemon tea Di Tangan kanannya.


"Kalau laporannya bagus, aku dapat triple"


"Kamu benar - benar tidak mau rugi"


"I learn from the best" Aku melepaskan sendok Dan mengulurkan tanganku "Deal??"


Usai mendengus "Deal" Maria menyambut tanganku.


Nasib... Jatah suami juga tergadai Dalam diskusi bussines.


Pagelaran launching koleksi Alberto berlangsung cukup merah. Tentu kalangan relasi Alberto adalah bagian yang mendominasi para tamu malam itu. Yang sulit dihindari bahwa ada Anthony di antaranya.


Wajah maskulinnya yang menyolok me belah jelas pemandangan para penonton. Sama sepertiku Anthony menggunakan rancangan Alberto.


"Apa kabar, lama tidak bertemu" Sapa Anthony yang memang sengaja menghampiri kami.


Sisi kanan jemarinya bertaut erat dengan jemari Renata yang nampak mania dengan balutan gaun warna baby pink. Wajahnya yang nampak ceria, membuatku merasa lega bahwa sepertinya mereka baik - baik saja.


"Baik... Kami Sebenarnya ingin sering bertemu. Hanya saja selalu ada penghalang yang bernama Alasan Di rumahmu" Aku langsung menyindir secara jelas. Kenyataannya, Anthony selalu membuat alasan aneh setiap kami mau menemui Tania.


Anthony tersenyum simpul "Aku dengar kalian sudah memiliki putra"


"Iya.." Kali ini Maria menjawab dengan cepat, rupanya dia kurang berkenan dengan sikapku yang kurang Bisa menahan diri "Kami menunggu kalian menyusul, agar pertemuan berikutnya suasana akan lebih ramai"


"Kami akan berusaha" Timpal Renata ringan.


Aku segera melempar pandangan pada sepupuku yang pernah merengek dikantorku itu. Renata hanya membalas tatapan ku dengan dengusan. Pertanda bahwa masalahnya masih belum banyak berubah. Renata bersikap manis hanyalah Sebuah pencitraan semata.


Apa enaknya jadi terkenal kalau pada ahirnya dia hanya menyiksa dirinya sendiri. Dasar Renata, kapan dia Bisa hidup Di dunia Nyata.


Ah.. Aku lupa, bukan hanya Anthony.. Elenapun turut hadir malam itu dengan suami barunya yang tak lain adalah sahabat ku sendiri, Dion. Meski wajah Dion cukup ramah malam itu, tapi aku yakin hidup dengan ambisi Elena saat ini pasti tidak lah ramah untuknya.


Aku memilih mengabaikan Elena Dan segera mengambil tempat duduk yang disediakan Alberto untuk kami. Namun... Dasar Alberto! Dia pasti sengaja meletakkan Anthony tepat Di seberang kami. Membiarkan sepasang manik Anthony bergerak bebas mengamati ku dan Maria di balik laju para model yang melintas. Dan itulah kenyataannya.


"Seriously Mar... Anthony was in love with you"


"Itu bukan urusanku" timpal Maria yang seakan tidak ingin ambil pusing Pada subjek yang sering aku ungkit.


"But its anoyyed me"


" Jangan Di perhatikan fokus lah Pada hal yang berguna" Maria menasihatiku seakan aku bukan manusia saja, bagaimana mungkin aku bisa santai ketika sepasang mata terus mengawasiku istri ku ke sana Dan kemari. Yup, aku pasti cemburu.


"Seharusnya dia memudahkanmu menjenguk Tania, kalau dia ingin sering melihatmu. Aku lebih tidak masalah, paling nggak aku bisa melihatmu bahagia dari Pada seperti ini"


"Kalau begitu mana mungkin aku merasa sesak, pengecut akan selalu jadi pengecut"


Hah.. Ahirnya Maria berani memaki ayah dari anaknya. Setelah sekian lama dia selalu menghindari untuk berkata buruk tentang mantan suaminya itu.


"Yeah.. He is just looser" Aku bertepuk Tangan kecil Dan mulai memindahkan fokus ku Pada koleksi Alberto yang tersaji berderet dengan para model.


Maria menarik nafas dalam - dalam Dan memejamkan matanya sejenak, rupanya dia baru sadar atas ucapan yang baru saja keluar.


"Sesekali memaki musuh itu menyenangkan Mar" bisikku bangga tanpa alasan yang pas.



Anthony memang tidak muda, Namun pembawaannya yang Anggun Dan tampang rupawan itu selalu berhasil membuatku merasa insecure Di sisi Maria. Meskipun Maria selalu memastikan bahwa tidak akan pernah ada kemungkinan dia Dan Anthony memiliki hubungan lebih dari yang tersisa.


"Bisakah kamu menyingkirkan sepasang matamu itu dari istri ku?" tanpa basa - basi aku langsung menodongnya saat pagelan Busana baru saja usai.


"Jangan terlalu besar kepala, Maria tidak lebih dari ibunya Tania" Anthony berusaha tenang seperti biasa.


"Aku tidak bodoh! Kita sama - sama lelaki Dan kita pasti tidak menyukai untuk membagi milik kita meski hanya sekedar pandangan tidak pantasmu itu"


"Jangan bercanda, aku memiliki Renata yang lebih wanita dari Pada Maria secara segalanya" kilahnya yang berlanjut meneguk fine wine Di genggamannya.


"Tapi naluri kejantananmu yang jelas di tolak Maria, yang kamu bilang cukup kurang dibanding Renata. Sepertinya masih belum Bisa menerima kenyataan" Aku sudah bosan dengan gaya Anthony yang terkesan munafik. "Ikhlaskan dia untukku dan kalau memang kamu menganggap Maria adalah ibu dari anakmu, seharusnya kamu permudah hidupnya"


"Aku tidak mempersulit siapa pun" Jawan Anthony cepat usai dia menelan kasar fine wine Di rongga mulutnya.


"Tapi, sebagai CEO Tower High kamu punya kemampuan mempermudah situasinya bukan? Bukankah kebahagiaan seorang ibu akan bertaut dengan kebahagiaan anaknya?"


"Itu bukan urusanku, tanyakan sendiri Pada Maria Kenapa dia dalam masalah"


Aku berdecih Sejenak "She is mine as Woman. But she is still the mother of your daughter" Aku menepuk pundak Anthony yang sedikit lebih tinggi dariku. Dan bermaksud meninggalkannya.


Namun tiba - tiba jemari kekar Anthony segera menggenggamnya pergelangan Tanganku.


"Jadi rupanya kamu menikahi Maria tanpa mengenalnya" Wajah Anthony segera hadir di samping ku menatapku penuh selidik "Kamu tidak pernah mengetahui Kenapa ayahmu melakukan semua itu padanya?"


Aku menyambut dengan dingin Dan penasaran akan pertanyaan Anthony. Meski dalam hati aku ingin berkata..


"Jangan terlalu sombong, bahwa semua ini adalah karenamu" Anthony menggeleng cepat "Huh.. Ternyata kamu memang masih ingusan"


Jadi ada sebab lain Maria bermusuhan dengan Papi? Dan Sungguh kah itu bukan karena aku?