Sugar Mamy

Sugar Mamy
Pernyataan


"Apakah kamu mencintaiku?" aku mengambil jeda Sejenak "Atau aku hanya katalisator untuk Bisnismu?"


Wajah Maria seketika membeku "hah...!!" senyumannya pudar perlahan "Maksudmu?" langkahnyapun segera mundur meski pinggangnya masih dalam Pelukanku. Sepasang alisnya berkerut dengan tatapan yang cukup tajam. "Bukankah kita menikah dengan cara Special?"


Maria mengingatkanku akan kondisi awal pernikahan kami yang jauh dari kata cinta. Tidak lain Dan tidak salah, pernikahan kami adalah perjanjian bussines yang bersifat simbiosis mutualisme.


"Apakah kamu tidak salah, tentang siapa yang harusnya tidak puas dengan hasilnya" Maria menghabiskan lemon squash Di tangannya hanya sekali teguk "Dari perjanjian itu, bukankah hanya aku yang masih belum Bisa mendapatkan tujuan ku?"


Maria segera meletakkan gelasnya tanpa berkedip ketika waiter melewati kami. Sesaat kami hanya memandang satu sama lain. Maria tidak salah tapi aku juga tidak salah meragukan cintanya bukan.


" Kamu Bisa mulai memghitung lagi, dan jangan lupa sertakan bunganya" Maria melepaskan lenganku perlahan "Aku akan pastikan semua lunas saat Tania sudah dalam genggamanku"


"A..."


Maria dengan cepat melangkah menjauh, membela keramaian yang sepertinya masih panjang. Memory ku memutar akan semua yang terjadi antara aku dan Maria. Bukankah wajar bila meragukan cintanya, tapi apakah Sebuah cinta itu penting? Ketika hidupmu dalam kondisi susah bernafas?


Aku berlari menuju lobby, berharap menemukan Maria apapun sikapnya padaku saat ini. Cinta atau tidak, aku berhutang budi padanya. Dan seharusnya aku tidak perlu rewel andai kan aku Di manfaatkan. Bukankah normal sepasang suami istri Saling menguntungkan.


"Mariaaa!!!" Aku memekik menyesal diriku yang terpengaruh sesaat oleh Anthony.


"Maaf Mas.." Seorang lelaki tegap berseragam security menepukki "Ini lagi shooting atau bikin konten YouTube? Apakah sudah dapat ijin dari pihak gedung"


"Ha...?" Aku membenarkan posturku "Maksudnya? "


" nah itu tadi teriak Maria? Apa mas berperan sebagai ferguso? Kameramennya mana?"


Aku mendengus...


"Ada surat ijinnya?"


Aku mengeluarkan tiga lembar yang ratusan dari dompet ku "Saya pulang.."


Satpam itu hanya menatapku aneh dengan lembaran uang yang masih Di genggam Di dadanya. Aku hanya melambai sambil setengah berlari menuju parkiran untuk segera menemukan Maria.


"Hah... Ayahku sudah bermusuhan dengan Maria sejak lama?" tebakan pertama "Berarti menikahiku Bisa menjadi ajang balas dendam" Aku memutar otakku "Tapi dia sama sekali tidak menghancurkanku bahkan Sebaiknya" sangkalku


"Atau bermusuhan setelah aku bersama Maria?" tebakanku yang kedua " Dia Bisa membuangku Dan mengganti ku dengan yang lebih baik, agar Bisa mendapatkan Tania" jawabku "Tapi dia tidak melakukannya, sejauh ini kami tetap bersama"


"Atau Maria bermaksud mendompleng perusahaannya dengan perusahaan ayahku, tapi hasilnya ternyata Sebaiknya?" Hal itu sangat wajar bagi para pelaku Bisnis "Dan dia tetap bersamaku meski hasilnya memburuk"


Aku membanting dahiku ke kemudi. Bukankah saat ini, bukan saatnya lagi aku menanyakan cinta atau tidak? Kalau kembali Pada masa awal kami bersama bukankah Maria selalu mengingatkan untuk tidak pernah menggunakan perasaan?.


Ya... Akulah yang memaksanya untuk ahirnya menerima tawaran cintaku.


Hujan gerimis mengguyur Kota, secera bertahap berubah menjadi lebat Dan deras.


"Apakah ibu Maria sudah datang?" Tanyaku Pada scurrity komplek ketika membuka kaca mobil untuk pemeriksaan "sekitar lima belas menitan" jawab security ramah "Berantem?" godanya "Soalnya wajahnya tadi agak sembab"


"hmm... Biasalah.. Wanita" Aku memamerkan gigi rapiku. "Lagi PMS"


"O...." responnya. Seluruh dunia tahu wanita PMS adalah makhluk yang paling menyesakkan bagi kaum laki - laki.


Aku menancap gasku dengan segera, berharap masih Bisa melihat istriku sebelum dia memilih terbenam dalam mimpi.


"Maria.." aku sengaja meninggikan suaraku memanggil namanya. Ah... Jangan - jangan dia pikir aku lagi marah "Mar..." Aku mulai menurunkan nadaku ketika menginjak area kamar, tapi Maria tidak ada Di sana. Aku segera memeriksa cctv rumah kami. Satu - satunya jejak adalah clutch yang terdampar Di sofa ruangan Yodha.


Aku hampir saja melompat ketika suara Maria tiba - tiba muncul di belakangku.


"Siapa lagi..." Aku langsung meraih pergelangan tangannya. Tanpa berfikir aku menariknya mengikutiku yang bingung mau apa.


"Di luar hujan, aku tidak mau keluar rumah" jelasnya ketika langkahku hampir menuju lapangan basket.


"Banyak kontrak yang harus kamu baca besok, lebih baik kamu istirahat" Lanjutnya ketika aku memutar balik langkahku tanpa arah.


Aku menghentikan langkahku ketika kami Di ruang tengah lantai dua.


"Ingat, aku akan mengabulkan dana investasi untuk akusisi Bio Chemical kalau kontrak besok mayoritas menguntungkan. Jadi jangan sampai kamu melakukan kesalahan"


Hah.... Ya... Aku mmenikahi Maria bukan wanita Pada umumnya. Aku memutar badanku Dan memilih untuk menghadapi wanita yang seharusnya tidak pernah aku pertanyakan perasaannya? Bukan karena aku yakin dia mencintaiku. Tapi karena aku yakin akulah yang mencintainya. Dan selama aku menguntungkan untuk Maria, maka...


Aku segera memanggutnya, berusaha mendapatkan jawaban yang selalu susah di utarakannya dalam kata - kata. Untuk Sejenak sepasang bibir Maria hanya meresponku dengan kaku. Namun beberapa detiknya ahirnya Maria membalasku.


"Seharusnya aku tidak perlu meragukanmu kan?" desisku yang tak sanggup memohon maaf.


"Itu hakmu Har? Aku hanya sanggup memberikan yang terbaik. Meski artinya aku harus pergi"


Dasar Maria bodoh... Mana ada lelaki yang mau mendengar kalimat seperti itu Pada moment seperti ini. Aku kembali menautkan bibirku.


"Bisakah kamu menirukan ucapanku?"


Maria hanya mengernyitkan alisnya.


"Just say, I love you"


"I love you?


" not with question tone "Ralatku Pada mesin pencetak keuntungan, Maria.


" I... Love.. You... Seperti itu? "


" tanpa kata Seperti Itu"


" I know... I... Love.. You"


" satu kali lagi, just I love you"


"I.... Love.. You"


Aku tertawa geli, begitu sulitnya membuat Maria mengantakan kalimat yang mudah itu.


"Terkadang aku hanya membutuhkan kata untuk memastikan"


"Meski semua sudah nampak jelas?"


"Jelas bagimu, bukan berarti pasti untukku" Aku menyingkirkan beberapa anak rambut Di pipi Maria "Cinta ini bukan hanya kamu Mar, tapi ada aku. Pahamilah sisiku"


"Aku tidak pernah tahu bahwa kamu penggemar drama series, ucapanmu berbelit Dan membingungkan" Maria menghela nafas cepat. Kali ini dia memanggutku, meski tidak mahir tapi cukup menyenangkan. "Mungkin aku perlu sedikit dessert" Maria melempar senyum penuh arti sebelum melangkah menjauh.


OK... Dessert?... Aah... I love this dessert.