
Dion mendobrak kaca jendela mobilku pagi - pagi, ketika aku baru memarkir mobilku.
Tanpa segan aku segera menurunkan kaca jendelaku.
"Ada masalah?"
"Aku butuh tempat suaka" Dion menunjukkan hamparan kopernya Di area parkir kosong yang tak jauh dariku.
"Kamu Di usir?"
"Bisa kah aku bilang ini dengan investasi perasaan? Dan aku sedang mengambil resiko" Dion mengatupkan kedua telapak tangannya dengan senyum meringis penuh harap.
"ckckck.... Aku harus menunda Rapat hari ini gara - gara kamu"
"Mengulang Rapat itu mudah, berbuat baik kesempatannya tidak datang dua kali"
Dion mulai pintar memainkan kata.
"Masukkan semua!!" Aku tak punya pilihan itu tidak membantunya. Setidaknya dia berguna banyak untukku selain Persahabatan kami.
Dion juga pernah melakukan hal yang sama, Pada masa aku yang sama sekali tidak berguna saat itu.
Aku melajukan mobilku tanpa bertanya ke mana Dion mau pergi.. Beberapa saat kami diam beradu dalam pikirkan kami masing - masing.
"Kamu tinggal Di apartmentku saja" Bersamaan dengan...
"Kita ke mana?" Tanya Dion.
"Kamu tidak menyewakannya..?"
"Aku tidak berbakat jadi tuan tanah".
Kami sama - sama tertawa ringan. Rentetan Lagu aku putar seiring kami mengenang masa - masa lalu..
"Sepertinya kita terlalu muda untuk menikah" Gerutu Dion. "Kamu berkata padaku akan menikah menjelang usia empat puluhan"
"Rencana Dan takdir jarang berjalan bersamaan" timpalku sebelum memutar kemudi ku ke arah kanan ruas Jalan.
"Pilihanmu juga cukup mengejutkan" Dion mengatupkan bibirnya sambil menatapku tajam. Berharap aku mengantakan sesuatu tentang itu.
"Yeah.. Aku selalu penuh kejutan. Bahkan aku sendiri tidak menyangka sebagai pewaris tunggal aku sempat hampir jadi gelandangan"
" setidaknya aku sedikit beruntung, Aku memilikimu saat aku tidak punya tempat tinggal"
Crrrrrrt... Tenang aku berhenti mendadak Di area parkir apartmentku.
"Kamu Dan Elena???"
Dion meletakkan telapak tangannya menyilang Di antara leher Dan kepala.
"End????" tegasku hampir tak percaya.
Dion hanya meringis sendu "
"Rumahmu?" Tanyaku sekali lagi.
"Aku menjualnya" Dion mendengus sambil mengembalikan posisi duduknya.
Well... Aku melajukan kembali mobilku hingga ke area parkir dekat pintu masuk yang kebetulan kosong.
"Elena tidak pelit masalah uang Dan gaji u tidak sedikit"
"Tapi biaya kuliah Laura tidak murah untukku"
Dion benar, untuk orang seperti Dion membayar biaya pendidikan Di Stan Ford University adalah barang mewah.
"Kamu juga harus bertanggung jawab soal itu" Dion menarik ku Pada tanggung jawab keluarganya saat kami menurunkan barang - barangnya.
"Apa hubungannya Laura kuliah Di Stan Ford denganku?"
"Dia parah hati karenamu" Jawab Dion yang melenggang ke arah pintu masuk.
"Seharusnya kamu berterima kasih padaku, karenaku potensi adik maningkat tajam" Sanggahku saat kami tiba Di depan pintu lift.
"Well... Aku akan mengiyakan, karena hanya kamu tempat suakaku saat ini"
*******
"Apa aku tidak salah?" Dion me nyapu pandangan sekilas Pada apartemen yang baru Di pijakinya.
"Tidak.... Ini memang apartment pertamaku setelah keluar dari kos itu"
"Bukan.... Bukan itu.." Dion menjatuhkan btas ranselnya ke sofa begitu saja Dan berkeliling sesaat.
"Kamu tidur Di kamar yang satunya" Protesku ketika Dion membuka pintu kamar yang biasa aku gunakan dengan Maria.
"Ini seperti miniature Kamarmu" gumamnya tanpa meperdulikan ucapanku. "Kalian sudah berpacaran cukup lama?" Dion mengarahkan pandangannya padaku dengan senyum jahilnya.
"Lama atau sebentar, yang penting hasilnya" Aku mendorong koper besar Dion ke arah kamat yang aku maksud. Dan dengan segera aku menarik tubuh Dion dari ambang pintu kamar utama.
"Kamarmu yang ini" Aku mendorong ya memasuki kamar yang jelas berukuran lebih kecil.
"Kenapa tidak yang itu, bukankah lebih luas?"
"Banyak harta karun Di dalam sana" jawabku sekenanya.
Dion hanya terkekeh Dan mulai memgecek kamar yang akan Di tempatinya.
"Kamu punya uang buat makan?" tanyaku, bukan bermaksud menghina. Hanya sedikit pengalaman sebagai salah satu korban pengusiran.
"Aku masih bekerja, aku bisa kasbon kantor" Jawab Dion yang beralih menuju dapur.
"Stok makananmu jarang yang sehat" Dion me nyapu pandangan pada isi lemari es serta isi laci dapur.
"Kalau numpang nggak usah komentar" sergahku yang mulai membantunya menarik koper yang lain.
"Setelah rumahku laku aku akan segera pindah" Dion memutar tubuhnya menghadapku "Mungkin Elena akan mencariku kepadamu, nanti"
" Kamu kabur???" Kenyataan sepertinya berbeda dari perkiraan ku.
Dion melempar satu kaleng soft drink dingin ke arahku. Dan dengan santai dia mendarat kan tubuhnya Pada salah satu kursi makan.
"Bisa di bilang iya, tapi Bisa di kategorikan terusir" Dion membuka kaleng itu denga kasar. Suara desiran soda mengisi ruang dengar ruangan Di saat aku masih tertegun heran.
"Kenapa hidupmu jadi Abu - Abu?"
Dion meneguk minumnya Dan mencebik beberapa saat "Dia masih berharap punya keturunan lagi" nafasnya mendengus dengan cukup keras. " mengingat yang terjadi sebelumnya hal itu sangat memusingkan"
Aku bergabung dengan Dion Dan mulai meneguk minuman Di Tanganku. "Elena menjalani perawatan dengan dokter Di lab kita. Dia cukup rajin"
"Tapi dia memintaku memohon pada bu Maria agar tidak melanjutkan kasus ke meja hijau" Dion langsung terus terang "Lebih dari Pada itu, aku merasa aku ini hanya seperti alat Di matanya" Dion menatapku dengan wajah kecewanya.
"Alat untuk menghasilkan keturunan, alat untuk mengakses dirimu Dan sekarang alat untuk meminta belas kasihan" Dion mengacak bagian depan rambutnya yang memang tidak rapi.
"Aku jelek ya Har..."
"Huh.... Kalau jelek Elena pasti nggak mau sama kamu, Daya tahan tubuhmu juga bagus terutama urusan ranjang. Karena Elena cukup pemilih urusan itu"
"Bagaimana kamu tahu banyak soal itu? Kamu tidak tidur dengan tantemu kan"
Aku memukul sisi Terdekat kepala Dion. " sadar... Aku dan Elena bukan satu rumpun denganmu. Berdiskusi masalah seperti itu bukan hal yang aneh"
Dion mengusap ringan bekas pukulan kecilku.
"Terutama Elena yang tumbuh dengan hingar bingar dunia showbiz bersama ibunya" Aku mengingatkan Dion siapa istrinya untuk ke sekian kali.
" Apa aku terlalu gelap mata?" Keluh ya sebelum meneguk sekali lagi minuman soda Di Tangan kanannya.
Tidak munafik, rata - rata lelaki akan terperangkap Pada cantik dan sexy, Termasuk aku. Namun beruntungnya aku Telah Di tangkap Maria Pada saat yang tepat.
" Kesalahan itu wajar, pilihanmu untuk memperbaikinya atau memulai hal yang baru Dan meninggalkan kesalahan itu"
"Yeah... Aku mulai mengerti untuk menikah dengan yang se level... Sebenarnya adalah saran yang baik"
"Atau kamu Bisa menaikkan levelmu untuk mendapatkan yang lebih baik" Sambungku.
"Jadi... Apakah kamu akan tetap memilih Elena?"