
Ahirnya sang ayah datang dengan kondisi selamat. Namun kebahagiaan Maria akan kabar gembira itu tidak tersambut dengan baik.Tamparan dan pukulan menghujam tubuh Maria saat itu
Ayahnya sudah percaya bahwa dia adalah pelacur. Apalagi, usai penandatanganan di kantor legal ayah Jonathan. Maria lebih sering pulang malam, karena dia harus bekerja dan belajar untuk proyek Green Village yang di tanganninya. Sesekali dia juga di antar oleh mobil Jonathan atau mobil staff Jonathan.
Beritapun semakin bergulir tentang profesi Maria yang tidak menjadi perempuan baik.
"Kenapa Ayah tidak percaya?"
"Ayahmu mungkin orang kampung yang tidak berpendidikan, tapi ayah tidak bodoh"
"Ayah bodoh.... Kalau ayah pintar aku tidak perlu bekerja untuk menutup biaya rumah sakit dan biaya rumah selama ayah tidak ada"
Plak!!! Sekali lagi Tamparan mendarat di wajah Maria.
"Keluar kamu, pergi dari rumah ini. Aku nggak punya anak rendahan seperti kamu"
Maria yang juga penuh emosi, hanya sanggup menurut dan berjalan keluar meninggalkan rumah itu hanya dengan berbekal pakaian yang menempel dan tas kerjanya.
****
"Maria..?" hari itu Ario terkejut melihat Maria yang duduk sendiri di taman Kota hingga dini hari. "Ngapain di sini?" tanyanya.
"Aku mau nyari kosan, tapi belum dapat"
"Nah.. Kamu kan punya rumah Mar..? Ini jam dua malam lho"
Maria memijit pelipisnya "Itu rumah orang tuaku Yo.. Aku masih gembel" Maria hanya meringis.
"Ye...sok puitis" ledek Ario, namun Maria hanya diam, biasanya Maria selalu menimpali dengan mengejeknya balik.
"Eh Mar... Ini serius?" Tanyanya lagi meyakinkan "Kenapa?"
"Masalah yang kemaren jadi tambah gedhe"
"Mau aku kasih tahu Jonathan, agar di jelaskan?"
Maria menggeleng "Nggak ada gunanya, lagi pula sudah cukup Jonathan sakit hati karena aku jual. Anggap aja ini karma, hitung - hitung menghapus dosa"
"Waduuh..." Ario hanya ikut termenung menemani Maria untuk sesaat. "Tinggal di rumahku dulu aja yuk, ibuku pasti seneng sama kamu"
"Tengah malam begini? Nanti malah jadi omongan tetangga, kamu kena getahnya lagi"
"Nggak bakal..."
"Kamu pede banget.. Nggak Ah"
"Aku bilang aja rumahmu kebakaran"
"Hush!! nanti klo beneran?" potong Maria.
"Kebakaran amarah dan fitnah"
Tawapun berderai di antara mereka.
******
Sejarah tidak bisa di hindari, sejauh apapun kita pergi.
"Saya memutuskan keluar dari rumah, karena keluarga dan lingkungan sekitar mengira saya bukan wanita baik - baik. Mengingat jam kerja yang tentu tidak terbatas ketika di awal membangun PT Pegasus Globalindo. Selalu ada harga yang harus di bayar, tapi saya puas akan hasilnya " kutipan wawancara Maria dengan. Salah satu majalah Bisnis terkemuka.
*****
" Kamu sangat terus terang "Aku kagum dan mengkritik langsung kutipan itu." Apakah kamu tidak takut soal image atau reputasi?"
Maria hanya tersenyum tipis.
" Kita hidup bukan untuk di terima semua orang, kita hanya perlu melakukan yang terbaik. Mereka yang tidak bisa menerima kita, berarti memang bukan untuk kita. Atau masa berlaku mereka dalam hidup kita sudah usai. And so far it's work for me"
Maria sungguh mesin,
"Kamu masih berhubungan dengan keluargamu?"
"Yang jelas, aku masih mengirim uang bulanan, dan belum pernah mereka menolak. Aku rasa hubungan itu sudah jelas, meski kami tidak berkomunikasi" Maria masih tersenyum seperti tadi. "Kamu yakin mau bertemu dengan keluargaku dengan kondisi kita?"
Aku menggeleng otomatis.
Besi yang terbaik, tidak akan bisa berguna tanpa tempaan. Dan sepertinya Maria telah melewati itu. kini aku pastikan akulah pemiliknya.
*****
"Bagaimana?" Renata menagih janjiku.
"Aku lihat kamu baik - baik saja dengan Anthony" Aku coba memastikan kondisi kami terahir bertemu.
"Tentu saja semua harus terlihat baik - baik saja" Renata menjawab dengan nada menggerutu " Seperti yang kamu tahu, Fungsi pernikahanku adalah untuk keharmonisan semuanya"
"Tidak ada pilihan, tapi aku juga menginginkan Anthony untukku. Aku pikir hal itu tidak sulit, tapi kenyataannya bukan hal yang mudah"
Aku memandangi Renata yang nampak merajuk. Cantik, kaya, bersuamikan CEO sukses Dan tampan, ternyata tidak menjamin kebahagiaan.
" Kamu tidak ingin berganti suami saja?"
Renata otomatis membulatkan maniknya "Mana mungkin? Apalagi dengan kondisi om Raja yang masih dipenjara. Pernikahan kami adalah jaminan penting bahwa Anthony mengurus perusahaan"
"Bagaimana kalau usai Papi bebas?"
"Aku meminta kamu untuk memberiku solusi, bukan malah membuat kami terpisah"
"Kamu mencintai Anthony?"
Renata hanya diam sejenak "Apa itu terlihat jelas?"
"Aku hanya memastikan"
"Intinya, aku ingin tahu bagaimana Maria Bisa bersamanya dalam waktu yang cukup lama? Jangan berputar - putar memberi saran yang tidak tidak ingin aku dengar"
Aku menarik nafas panjang, "pertama, mereka punya anak"
"Bagaimana dia Bisa mendapatkannya?" Renata memotong ucapanku dengan pertanyaan.
"Kamu sudah dewasa, Caranya sudah jelas bagaimana" Aku berbohong.
"Jadi bagaimana Bisa membuatnya melakukan cara itu, Maria sudah berhasil kan?"
Aku menutup setengah mukaku mencoba menahan emosi. Renata Sungguh tidak pernah memikirkan orang lain. Mana mungkin aku menanyakan bagaimana istriku bercinta dengan mantan suaminya?.
" Re.. Kamu sadar nggak pertanyaanmu ini cukup sensitive "
" Tentu "Renata menjawab cepat dengan wajah tak bersalahnya." Karena itu aku bertanya padamu bukan pada Maria "
" Apakah ada satu mantan kekasihmu yang menanyakan bagaimana kamu menarik mantan kekasihmu yang lain ke atas ranjangmu? "
Renata menggeleng" Tapi kamu bukan aku, dan hubungan yang lain tidak memiliki versi keuntungan seperti pernikahanku. Jadi, cukup jawab pertanyaanku "Renata menanti dengan sangat penasaran.
Pikiran nakal mulai mengangguku sedikit" Bagaimana kalau kamu saja yang membuatnya tidak bisa menahan? "
" Membuatnya tertarik saja sulit "
" Kalau begitu mungkin kah dia punya orientasi yang berbeda? "
" Tapi dengan Maria? "Candaanku terpatahkan.
Huh.... Renata cukup gigih. Sayangnya dia tidak memanfaatkan sifat itu Di Jalan yang benar." OK...!! "Ahirnya aku mengalah.
Aku coba mengingat sekali lagi wanita bernama Rose." Anthony punya tipe tertentu, kulit golden nan Halus, rambut ikal dan penuh. Kamu punya kaki panjang, itu juga dia suka "
" Maria tidak seperti itu, rambutnya lurus kan? "
" CK... Mau dengar tidak?"
"Oh.. Mau - mau" Renata kembali memasang kedua telinganya baik - baik.
"Kalau begitu jangan di potong kalimat ku"
Renata mengangguk mantap.. Aku memejamkan mata sekali lagi. "Memiliki style sedikit sporty dan...." Aku menggantung ucapanku, agak sedikit berat mengantakan ini "Agak sedikit bermain kasar" Aku tersenyum kecut. Ajakan bercinta seperti itulah yang di tolak mentah - mentah oleh Maria sepanjang pernikahannya.
Renata menutup mulutnya Sejenak "Jadi aku harus bergaya sedikit exotic dan sporty dan Berani serta mungkinkah aku juga harus garang?" Renata membayangkan untuk mengubah dirinya secara berlawanan.
"Itu nggak worth it.... You are beautiful as you are" ungkapku yang sudah tak tahan dengan drama pernikahan Renata "Bercerailah setelah Papi bebas, pilih lah lelaki yang mencintai kamu. Yang menikahimu tanpa Imbalan"
"Tapi... Aku mulai menyukai Anthony, bukankah secara fisik Dan perilaku dia cukup baik padaku?"
"Itu karena dia punya semua yang dia butuh darimu" Aku mendengus, "Bagaimana kalau kita coba pecat dia jadi CEO di Tower High? Dan kita lihat apakah dia masih mau bersamamu?"
"huh.. Jangan sok kuasa, kamu saja masih bawahan Maria"
"Caranya, biar aku yang pikir. Kita cuma butuh suara dari pemegang saham. Jadi pastikan keputusanmu dulu, baru aku bantu mencari dukungannya"
"Apakah kamu Bisa?"
"Tidak ada salahnya mencoba, aku juga ingin kamu memiliki kehidupan kamu sendiri"
Renata menatapku cukup tajam "Tapi aku nanti jadi janda?"
"Itu bukan virus mematikan dan menular, kamu tidak akan mati karenanya" ledekku." lagi pula Anthony juga curang, secara transaksi kalian harusnya menikah secara Sebenarnya bukan hanya di cangkang. Bukankah itu sudah jelas jelas tidak perlu di pertahankan?"
Mungkin aku jahat memberi saran Renata untuk bercerai. Tapi jauh selain tentang keuntunganku, yang aku nasihatkan tidak salah. Meski mungkin tidak ada cinta, paling tidak Saling memenuhi kewajiban, bukan hanya mengambil Hak saja.
Renata hanya terdiam dan mulai menggunakan otaknya untuk berfikir.