
"Ah... Maria??" Widya terkejut dengan kehadiran pasien istimewanya hari itu Di ruang tunggunya "Kita tidak ada janji bukan?"
"Benar.... Apakah kamu ada waktu, aku tetap akan bayar"
Widya tersenyum ringan "Bisakah kamu menunggu satu jam lagi"
"Aku tidak masalah" Maria mengambil duduk Di satu sisi kursi tunggu Dan mulai mengeluarkan tablet dari tasnya.
Dan membiarkan widya melakukan pekerjaannya seperti biasa.
*****
"Bukankah orang akan tahu tentang hubungan kita, kalau kamu menemuiku seperti ini?" Tanya Widya ketika Maria mulai memasuki ruangannya.
"Aku sedang punya rencana untuk membentuk hubungan yang lebih erat Di antara kita" Maria menyapu sekitar ruangan.
"Kamu sedang mencari sesuatu?"
"Bukankah kamu tidak punya pacar?"
Widya mulai heran dengan pertanyaan pasien specialnya itu.
"Hmmm.." Maria berfikir Sejenak "hanya kalau kamu berkenan. He was a good guy, teman SMA ku dan sudah cukup matang"
"Tunggu... Kamu akan menjodohkanku?"
"Hanya mengatur sedikit pertemuan saja" Maria menarik nafasnya dalam dalam dengan senyuman yang cukup ramah. " mungkin kamu Bisa ikut dalam liburan ku yang sekaligus liburanku ke new Zealand"
"Kamu akan menikah lagi..."
"dengan orang yang sama" Maria memotong cepat. "Kami hanya memperbarui janji pernikahan kami, kau tahu.... Mungkin aku mulai siap untuk sedikit hal yang emosional"
Widya tersenyum lebar, tentu saja dia bahagia karena es yang membeku dalam diri Maria mulai mencair secara perlahan.
"Aku sangat senang mendengarnya"
"But by the way... Jadi bagaimana? Kamu mau mengenal dekat teman ku #
" Apakah aku terkesan murah an, hingga langsung kamu tawarkan liburan bersama dengan pria asing? "
" Dia tidak asing bagiku, dia bagian dari keluarga suamiku hanya saja... "
Widya memiringkan kepalanya menunggu kelanjutan ucapan Maria.
"Dia tidak suka politics dalam keluarganya Dan kebetulan dia hanya anak terahir. Posisinya tidak sesulit Harry"
"Ah.... I see"
'*******
Maria menghunuskan pedangnya Pada dada Wlly. "Apakah kamu selalu percaya padaku?" Ucapnya.
"tepatnya aku terbiasa percaya padamu" Willy menyingkirkan pedang itu dengan perlahan." Kamu berhasil memecat Anthony, dan akan segera mendapatkan Tania kembali"
"Benar..!" Maria membenarkan ucapan Willy."Terimakasih atas bantuanmu Will"
"No problem Mar... Kamu selalu Bisa datang padaku kapan saja"
"Apakah kamu hanya selalu ada untukku?" Tanya Maria ketika kedua pedang mereka Saling menghadang.
"Apa Maksudmu?" Willy mulai melonggarkan tekanan Pada pedangnya. Begitupun Maria yang perlahan mundur teratur ke posisi semula.
Maria kemudian memutar tubuhnya Dan mengarahkan pedang ke arah leher willy yang masih terkejut dengan pertanyaan Maria.
"hhu... Ini bukan gerakan anggar, ini tidak adil"
"Hidup harus berinovasi, Johan memberitahuku Di hari pernikahannya soal perasaanmu padaku"
"Well.... Yeah" Willy bergerak searah gerakan Maria Dan Berahir Pada posisi berlawanan "Itu hakku... Aku tidak memintamu membalasku. Tapi karena kamu sudah tahu, apakah aku boleh tahu alasannya Kenapa tidak pernah aku yang kau pilih...?"
"Karena prinsip hidupmu hanya bertahan, dan berusaha lari dari hal yang kamu tidak sukai. Hidupku tidak Cocok denganmu"
Willy tertawa kering untuk beberapa saat "Kamu memilih pasangan dari hal - hal seperti itu?"
"Tentu saja! Asal kamu ingat, aku tidak punya asal usul yang cukup untuk terus bertahan dengan gelombang masalah Bisnis yang sudah aku pilih"
"Karena kamu menjalani hubungan dengan Johan?"
"Hmmm..... Dan aku tidak akan miskin lagi hanya untuk di injak. Aku harus terus membuktikan bahwa aku selalu memiliki kemampuan. Bukan hanya karena pertukaran waktu itu..." Maria menurunkan pedangnya.
"Aku akan melanjutkan pernikahanku dengan Harry dengan melibatkan emosi. Dan aku ingin kamu juga memulai hal baru"
Willy sekali lagi tertawa "Apakah ini caramu membalas kebaikanku?"
" Ada wanita yang akan kenalkan padamu, Dia lebih Cocok. Bukankah kamu memintaku menjodohkanmu"
Willy mendarat kan jemarinya Pada pinggangnya Sejenak tertunduk mengatur perasaan yang tak menentu.
"tiga babak pertandingan, kamu harus setuju kalau aku menang"
"Berurusan denganmu selalu harus berusaha"
Maria mengangkat kedua bahunya Dan untuk kesekian kalinya dia mengarahkan kembali pedang anggar ke sahabat lamanya itu.
Meski agak sedikit ragu Willy ahirnya menerima tantangan Maria. Perempuan tidak salah, dia sudah menikah dengan orang lain Dan tidak ada kemungkinan dia Bisa membalas cinta willy karena kehidupannya yang tidak sederhana andai saja cinta itu ada Di antara mereka.
Selama pertandingan willy mulai menyadari bahwa apa yang diucapkan Maria adalah benar. Meski cinta ada, kehidupan Maria adalah hal yang selalu dia benci meski dia mencintai wanita itu. Karena alasan itulah dia selalu ragu mengutarakan perasaannya meski mereka cukup sering bersama Di masa lalu.
Prok... Prok.. Prok..
Suara tepuk Tangan terdengar nyaring dari Tangan Harry.
"Entahlah... Yang jelas hubungan kamu bekerja dengan baik sejauh ini"
Kedua insan itu menengadah menatapku yang mulai menuruni tangga Dan segera menghampiri mereka.
Maria Seketika membuka helm nya Dan begitu pula lelaki yang sedang bersamanya.
"Kamu sangat sibuk ahir - ahir ini, Perkembangan yang luar biasa Har" Willy langsung menyambut dengan Tanya ketika Harry menatapnya dengan sedikit heran.
Tanpa segan willy menghampiri Harry Dan segera menjabat Tangannya setelah mengalihkan pedangnya ke Tangan kiri.
"Permainan Anggar kamu bagus Mar?" raut cemburu Harry sulit untuk di sembunyikan.
**
"harusnya kamu melihatnya sepuluh tahun yang lalu pasti kamu akan lebih terkesan" om will menanggapiku dengan ringan Dan tak menangkap rasa jengkelku.
Maria yang faham akan rasa tidak suka ku hanya tersenyum tipis Dan berlalu menuju bangku istirahat yang berada Di tepi. Di ikuti om will Dan juga aku.
"Kami selalu terbaik soal strategy, aku masih saja selalu kalah" Om will meraih botol mineral milik ya Dan mulai meneguk isinya.
"Hanya terbiasa saja, aku sudah tidak sering berlatih"
"benar dia lebih sering yoga, setahuku" Sebenarnya aku ingin menyindir.
"Oh ya?" om will berlagak seakan tak pernah tahu atau memang tidak tahu "itu bagus untukmu Mar, aku dengar itu juga bagus untuk me latih meredam emosi"
Maria kembali tersenyum sambil mengelap pedangnya.
"Hanya kalian berdua?" tanyaku yang memilih mengambil duduk lebih dulu.
"Ah iya... Kami tidak punya banyak kenalan yang menyukai Anggar"
"Tapi nggak harus booking secara exclusive, itu pemborosan" gerutuku yang mulai meraih air mineral kemasan.
" Jangan khawatir aku yang traktir" jawab Om will dengan enteng seperti biasa.
Maria melepas nafas panjang sejenak sebelum mengambil duduk Di sebelah ku.
"Ada yang sangat penting?" Tanyanya yang mulai mengikutiku meneguk air mineral.
"Aku tidak Bisa menghubungimu? Itu lebih penting" emosi ku sedikit meletup sesaat.
"Ah... Yeah wajar Mar, dia pasti khawatir usai kejadian sebelumnya. Aku juga tidak menyangka" Om will mulai bergabung duduk bersama kami.
"Lain kali ajari dia bermain Anggar, kita Bisa bermain berempat ketika Jonathan datang"
Hah... Jonathan rupanya. Lelaki itu tak pernah usai menghantui pernikahanku.
"Aku tak yakin Bisa mengajari hari dengan baik, mungkin Mas willy Bisa lebih baik. Mengingat kalian ini paman Dan keponakan"
"Benar juga, tapi aku tidak ingin terlalu menganggunya saat ini.Dia nampak lebih baik bersamamu"
Aku mengangguk "Benar, belajar dengan istri sendiri pasti lebih nyaman"
"Betul... Apalagi Maria sangat bagus dengan strategy. Aku masih selalu kalah, meski tubuhnya tidak begitu kokoh" Aku tidak menyukai seorang pria lain mengomentari tubuh istriku.
Om will menarik nafas panjang dan memandangi kami secara bergantian "sepertinya Kamu berhasil membuat keponakanku cemburu, aku belum pernah melihatnya"
"Mas willy hanya melebihkan. Harry mungkin hanya jengkel karena harus tertunda untuk berdiskusi urusan pekerjaan"
"Enggak... Om will benar" tegasku tanpa ragu. "Aku cemburu karena aku tidak pernah tahu kamu bermain Anggar meski itu dengan pamanku"
Om will tertawa terkekeh "Aku pikir kamu hanya cemburu dengan Jonathan. Tapi juga denganku"
"Om will sih nggak nikah - nikah"
"Lho... Kok malah nyalahin aku. Kami cuma membahas pekerjaan Har! Aku berniat menjual sahamku secara private placement"
"Lho Kenapa om?" Aku terkejut dua kali hari ini.
"Kamu tahu sendiri om tidak pernah tertarik dengan politik Di Tower High" om Johan kembali meneguk air mineralnya "Bisnis retail lebih Cocok sepertinya untukku, aku jadi Bisa lebih tenang andai kan nanti ketemu jodoh. Dari Pada kayak kamu kan?"
"Hah... Ha.. Ha.." Aku tertawa seadanya. Ternyata kekayaan juga Bisa menghalangi jodoh orang.
"Pikirkan lagi tawaran ku Mar, aku juga tidak sedang tergesa - gesa. Aku lebih suka kalau kamu orangnya" om will menutup obrolannya sebelum ahirnya meninggalkan kami berdua.
"She is the good woman that I know" Maria mengirim pesan singkatnya Di iringi dengan Sebuah link profile bussines widya Di website ternama.
****'
"Aku Sebenarnya ingin melemparkan bucket bunga ku Pada Pamanmu" Maria mnyarankan pasangan lain padaku.
"Orang seperti Om will nggak akan terpengaruh dengan hanya menangkap bucket bunga. Mereka selalu pakai otak sepertimu huh" Aku berusaha memepertahankan calon penangkap bunga versiku " Dion Dan Roselyn lebih akan percaya mitos dan pasti akan berdampak bagus buat mereka"
Maria mengarahkan pandangannya Pada Om will Dan Dion secara bergantian.
"Sepertinya kamu benar"
Ahirnya Maria memgalah juga. Om will sudah sering menangkap bucket bunga dari pernikahan keluarga yang kami hadiri tapi tidak satupun membuat dia menikah lebih cepat. Dia terlalu selektif Dan menggunakan otaknya sangat maksimal. Tidak akan Ada satu mitospun yang akan berpengaruh padanya..
"Satu... Dua... Tiga"
Maria melempar ke arah yang tepat Dan tertangkap sempurna Di Tangan Dion Dan Roselyn.
I hope... Good story for them
See you.. ππΌπ