
"Aku dan Anthony sudah sangat dekat sebagai sahabat" Rose menjawab Tanya yang sepertinya cukup jelas Di wajahku.
"Kamu sepupu Tania kan?"
Aku mengangguk "Sekaligus Suami Maria"
"Oh iya benar" Tawa ramah berderai indah dari paras cantiknya "Bagaimana rasanya menikah dengan Maria? Apa dia masih sangat dingin? Apakah kalian juga berawal sebagai rekan Bisnis?" Rose menarik nafas perlahan "Maria cukup mengagumkan Di dunia Bisnis untuk ukuran hanya seorang anak petani"
Rose perlahan mencondongkan tubuhnya padaku "Namun... Bagaimana dia sebagai istri?"
Aku terkekeh sesaat, aku rasa justru Di sini Rose yang cukup cemburu dengan Maria. Karena Maria belum pernah membicarakan Rose kalau tidak aku desak. Tapi Rose sudah mulai mencari tahu tentang Maria di awal bertemu denganku.
" Aku rasa Mbak. Manda lebih memiliki kapasitas untuk menjawab pertanyaanmu" Aku mencoba sedikit diplomatis. "Kami ini masih pengantin baru, tentu jawabanku pasti dia yang terbaik, kalau tidak....." Aku meneguk minuman Di Tangan kanan ku "Aku tidak mungkin hingga menikahinya" lanjutku ketika semua minuman sudah aku telan.
Senyum Rose perlahan menghilang, wajahnya yang Anggun menegang sekilas Namun segera beralih ke arah mbak. Manda.
"Seperti biasa ibu. Maria memang boss yang baik" jawab Manda sedikit kaku.
Rose hanya tersengal cepat sebelum kemudian dia meninggalkan kami tanpa berpamitan. Langkahnya nampak sudah tidak bersemangat seperti awal ketika bergabung.
Mungkin Sebenarnya Rose yang lebih iri dengan Maria. Dia orang biasa yang cukup sukses Dan memiliki suami tampan, bukan hanya sekali tapi dua kali. Namun yang Rose tidak tahu bahwa kedua suaminya menikahinya bukan atas dasar cinta, termasuk aku.
"Kamu Di cari Rose" sambut ku Pada Maria yang baru saja menghampiri.
"Oh...!" jawabnya singkat Namun tidak melanjutkan. Dia masih sibuk mengurus Tania yang rupanya cukup jadi prioritasnya saat ini.
"Manda... Kamu tolong, pamit pulang sama Bapak.Anthony, aku rasa Tania lelah, lebih baik dia istirahat Di rumah ayahnya bukan Di Hotel"
"Baik bu..." mbak Manda langsung beranjak tanpa membantah.
" Kita beli rumah baru setelah ini" Maria mengejutkanku.
"Kamu hanya punya satu rumah Mar?"
Di luar dugaan Maria mengangguk, "seperti aku bilang aku tidak berbakat menjadi tukang tagih"
"Ah.... Benar!"
"Rumah ini untukmu"
Mataku terbelalak hampir tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.
"Aku akan mengirimkan beberapa pilihan ya ke emailmu... Termasuk virtual tournya."
Aku masih terpaku.
" Kita mengunjungi ya setelah mengantar Tania pulang"
"Hari ini? Secepat ini"
"Tidak cepat, aku sudah membayar uang muka Pada agency propertinya Dan kita Bisa melunasinya malam ini"
Ini bukan cepat tapi kilat.
Sebuah kawasan elite dengan pos penjagaan yang cukup ketat. Namun sepertinya kedatangan Maria sudah dinantikan. Tentu saja mencari pembeli Di rumah dengan lingkungan jet set seperti ini bukan hal yang mudah.
"Om Jonathan ?" aku mengernyitkan dahiku ketika mendapati sosok yang sedang duduk Di teras rumah itu. Dia masih cukup tampan Di usianya.... Oh iya dia baru 38 tahun. Tubuhnya juga masih atletis seperti aku mengenalnya beberapa tahun yang lalu.
"Hi..." senyum om Jonathan pasti sudah memghipnotis ratusan wanita. Termasuk Maria yang sedang tersenyum membalasnya.
" Apa kabar Har.... Lama kita tidak bertemu" lanjutnya dengan nada rancak nan merdu. Sungguh terdengar tidak asing lagi.
"Baik Om... Apa kabar om juga, lama nggak main basket bareng" Aku mengingat kan ya tentang perbedaan usia Dan hubungan yang Sebenarnya cukup baik.
"Wah... Kamu aja yang nggak mau gabung lagi, sudah asik main sama temen se usia kamu" jawab nya diplomatis.
"Boleh lihat kebun belakang?" Maria langsung meminta meninjau tempat favoritnya yaitu berkebun.
"Oh tentu...!" Om Jonathan memandu kamu melewati kebun samping rumah yang hanya berisi rerumputan Dan sedikit pohon calathea.
"Rumah ini sudah lengkap dengan furniturenya. Aku pakai seri Bianca dari koleksi home furniture, sama dengan projek kita terahir" jelas ya ketika kami sampai di teras belakang.
"Untuk bagian dapur langsung menghadapi ke garden... Seperti kamu lihat ada jendela besar yang bisa kamu gunakan untuk mengamati Tania bermain"
Sebenarnya rumah ini untuk siapa? Sejauh ini semuanya masih selera Maria. Aku merasa Di sini aku adalah agency propertinya bukan om Johan. Apalagi mereka nampak memiliki gesture Dan cara berbicara yang mirip.
"Kita masuk?"
Pintu belakang pun terbuka, furniture berwarna putih bersih dengan sentuhan aksen colonial.
"Ada tanaman bunga mawar Dolcetto favourite kamu Di kebun depan kamar utama, Aku yakin kamu menyukainya" Lanjut om Jonathan .
Sepertinya aku salah menentukan pilihanku Pada rumah ini.
"Aku melihat ada lapangan basket, bisa kita melihatnya?"
Aku mencoba memecah reuni dua sejoli yang mulai menyulut rasa cemburuku. Bagaimanapun mereka berdua pernah me madu kasih Dan nampaknya mereka masih mengagumi satu sama lain.
"Ada Di bagian atap"
Om Jonathan mengubah langkahnya menuju bagian atap rumah berlantai dua ini. Bagian atap cukup luas dengan lapangan basket mini dan satu sisi kosong.
"Kamu Bisa meletakkan beberapa tanaman buah dengan pot besar Di area ini" Jelas om Jonathan yang tentu sangat mengenal Maria dengan baik.. "Agar suamimu lebih nyaman berolah raga Di rumah"
"Tentu saja, aku akan nyaman berolah raga Di rumah, tapi karena lapangan ini cukup kecil mungkin aku tidak Bisa me ngajak Om untuk bergabung" Ucapku klise.
"Kamu cemburu??" Om Jonathan menangkap perasaanku cepat.
Namun ahirnya tawanya menghiasi susana Di antara kami.
"Kamu tidak jelaskan Mar?" om Jonathan menodong Maria untuk kejelasan antara mereka.
"Kamu tahu, aku tidak pintar untuk urusan itu" Maria hanya tersenyum sambil mulai mengarahkan wajahnya padaku. "It's over Har...."
Aku mengerutkan keningku, dengan muka bersemu merah secara perlahan. Entah karena udara Panas yang meningkat, atau rasa cemburu yang memuncak atau bahkan rasa malu yang mulai senyap senyap menyeruak?