
Maria segera mengahiri percakapannya Dan berdiri serta berjalan mengelilingi ruangan tanpa tujuan.
Ini benar - benar pemandangan baru bagiku melihat Maria menjadi bingung. Biasanya dia cukup tenang dalam setiap situasi.
"Apa ibu sering begitu?"
"Kalau urusan Tania seperti itu pak "Roselyn balas berbisik " dari Pagi tadi Tania tidak bisa di hubungi " Roselyn melanjutkan ucapannya dengan nada yang sama.
Aku segera meraih Tangan Maria." Apakah kamu percaya Anthony ayah yang baik? "
Maria berhenti Dan menatapku hawatir" Aku mulai tidak mengerti "
Aku menarik Tangan Maria Dan melangkah menuju parkiran mobil. Tanpa berfikir aku melakukan mobil ku menuju rumah Anthony.
" Maaf, pak Anthonio tidak ada Di rumah " jawab security.
" Saya mau bertemu anak saya " Maria tak Bisa menahan maksud kedatangannya.
"Maaf, tanpa ijin dari Pak Antonio kami tidak bisa membiarkan kalian masuk"
"Apakah semua keluarga pergi??" aku mencoba konfirmasi akan keadaan Di dalam rumah.
"Maaf pak, tapi saya tidak bisa menjawab"
Kejadian ini bukan yang pertama, bahwa mereka tidak membiarkan kami masuk. Namun kali ini perbedaannya adalah Mbak Mandapun tidak bisa di hubungi seperti biasanya.
Aku dan Maria terpaksa meninggalkan rumah Anthony tanpa hasil berarti. Maria hanya membeku Dan menutup matanya Rapat - Rapat. Mungkin dia hanya mencoba menahan tangis yang tak pernah ingin dia tunjukkan.
"Harusnya tindakan Anthony pelanggaran hak anak bukan?"
Maria hanya terdiam.
"Apakah orang tua Anthony tidak menyukaimu?"
Kali ini Maria membuka matanya yang perlahan mengembun.
"Permasalahannya mereka terlalu bermain drama" Maria mendengus kesal "Dan aku tidak"
Aku mengangguk menunggu Maria menjelaskan kekhawatirannya.
"Orang tuanya sempat ingin membatalkan pernikahan kami, Namun sayang aku sudah hamil saat itu"
Kami hanya sama - sama menatap lurus Jalanan tanpa tujuan yang pasti.
"Renata tidak bisa mempunyai anak?" Tiba - tiba Maria mencetuskan kalimat yang tak aku duga.
"Aku tidak mengetahui itu, kalau Elena dia hanya terlalu lama menolak mempunyai anak. Maka perkiraan bahwa dia akan sulit memiliki anak Pada masa sekarang adalah wajar"
" Sebelum menikah, Anthony memintaku untuk check kesehatan secara menyeluruh. Dia sangat pemilih dalam segala hal.. Hmmmm" Maria nampak berfikir "Anthony pasti melakukan hal yang sama"
"Karena itu tiba - tiba dia menginginkan Tania? Karena dia tidak mungkin memiliki anak dari Renata?"
"Masih dugaan kasar, kita ke tempat Aryo. Mungkin Kita Bisa melihat sisi legal. Siapa tahu kita ada solusi dalm process legal Aku ibunya aku berhak mengetahui keberadaan putri ku"
Aku memutar Arah mobilku menuju kantor hukum mas Aryo.
"Maaf Pak Aryo masih Di luar, mungkin satu jam lagi baru datang" Jelas sekertaris Aryo. "Apakah bersedia menunggu"
Maria langsung mengangguk mantap.
"Apakah kita sudah siap mengajukan hak asuh anak lagi?" Tanya Maria padaku.
Aku menggeleng, "Keuanganmu belum seutuhnya stabil, beberapa situasi Bisa membuat asetmu akan Di sita Apabila ada keterlambatan pembayaran hutang modal kita" Jelasku dengan jelas.
"Bagaimana dengan perusahaan yang kamu Tangani?"
"Semua masih dalam process, secara kalkulasi perusahaan memang untung. Tapi tidak cukup besar untuk menopang Globalindo" Aku menjelaskan lagi tentang situasi yang tidak bisa kami paksa.
"Tunggu sampai peluncuran produk baru Bio chemical, aku yakin akan sukses" Tanganku menggenggam erat sepasang Tangan Maria yang mulai dingin " Bertahanlah, aku pasti Di sisimu"
"Huh... Aku sudah mati berdiri klo aku selalu memasukkan keraguanmu padaku kehatiku" Aku melepaskan Tanganku Dan mulai melipatnya Di depan dadaku.
"Kamu sampai sekarang masih sering meragukan cintaku meski setelah semuanya ckckck" Aku berdecih
" benar!!" Maria tak ragu menyetujui tuduhanku "Lihat itu" Jemarinya menunjuk Pada pantulan bayangan kami Di cermin Dinding yang sengaja Di pasang untuk memberi kesan lega pada ruang meeting ini.
" Kita benar - benar tidak serasi" Lanjut Maria.
"Aku pikir seorang Maria tidak peduli dengan pemikiran orang lain" sindirku
"Aku tidak sependapat" kali ini aku menggeser kursiku lebih dekat Dan tanpa ragu mengalungkan lenganku Di pundaknya.
"Bukankah Adam Dan hawa juga sangat berbeda? Buktinya anak mereka memiliki bentuk fisik yang berlawanan"
"Kamu sering membaca buku fiksi?"
"Dalam semua sejarah ceritanya begitu, jadi pasti benar. Jadi kalau kamu merasa kita berlawanan berarti kita sangat berjodoh"
"Aku tidak tahu kalau kamu punya selera berfilsafat"
Aku menarik lenganku lebih kencang "Hanya sedikit ide" Aku menjajarkan kedua lengan kami. "Kita bermain hitam Di atas putih"
Maria mengerutkan dahinya..
"Karena kulitmu lebih gelap, berarti kamu yang di atas malam ini.. Auch!!"
Maria menggigit lenganku. "Dalam situasi seperti ini kamu masih memikirkan hal seperti itu"
"Kalau nggak mau tinggal bilang, jangan menggigit.. Ini KdRt namanya"
Maria menggigitku sekali lagi.
"Sakit Mar.. Ssst.." aku segera melepaskan Tanganku Dan mulai menggosok bekas gigitannya.
"Kalian berantem?" Mas Aryo sudah ada Di antara kami.
"Hanya hal kecil, tapi aku ingin konsultasi tentang hal besar. Tania"
"Ada masalah" Mas Aryo mengambil posisi duduk Di pangkal meja.
"Anthony membawanta ke Italy" Suara Maria mulai bergetar "hanya dugaan, bisa jadi dia tidak akan kembali ke sini"
"Dia tidak memberitahumu?" Tanya mas Aryo
"Sebenarnya mereka bilang ke Venice lusa" Aku bantu menjelaskan dari sisiku "tapi karena dari Pagi mbak Manda tidak bisa di hubungi. Aku jadi menyangka bahwa mereka sudah berangkat"
"Kami sudah ke rumah Anthony, tapi tidak boleh masuk"
"Aku minta team ku mengecek bandara" Mas Aryo dengan sigap menelpon staffnya untuk mengecek bandara.
30 menit kemudian..
Mas Aryo menggeleng "Tidak ada aktivitas mereka Di bandara"
"Tunggu..." Aku baru teringat sesuatu "Kalian masih ingat kalau keluarga kami kaya kan?"
"Coba mas check parkiran private jet keluargaku. Mungkin mereka menggunakan salah satunya bukan"
"Hah... Benar.. Aku kadang sulit memperkirakan kekayaan keluargamu" mas Aryo segera meminta mengikuti pintaku.
"Sungguh aneh ayahmu membantu Pak Handoyo dengan nilai kekayaan seperti itu" Keluh mas Aryo ketika menutup telponnya.
"Aku anaknya saja tidak percaya" Aku menimpalinya "Uang itu tidak ada 5% dari kekayaannya"
"Tapi kekuasaan bukankah sangat menggiurkan?" pendapat Maria langsung Bisa membungkam aku dan Mas Aryo