Sugar Mamy

Sugar Mamy
Batal


Renata memasuki ruang kerjaku tanpa permisi.


"Ini tempat kerjaku Re...." Tegurku ketika dia berdiri tegak dengan gaun merah Di hadapanku.


"I know! Dan aku memberikan keputusanku soal pekerjaan"


"Oh wow... Sebentar aku akan meminta Dion menyiapkan dokumennya"


Renata menggeleng "Aku tidak ingin bercerai dengan Antonio" Senyum manja Renata mengembang sempurna. "Aku tidak memerlukan pembuktian apa - apa lagi dari Anthony Dan kami akan segera bulan madu kedua"


"A... Ah... OK!!" Aku tak sengaja mematahkan pencil Di Tangan kanan ku."Ranjangmu mulai hangat rupanya"


"Dan akan segera Panas" sudut bibir Renata terangkat maksimal membingkai gigi rapinya.


"So, we don't have agreement?" Aku masih berharap sekali lagi.


"Nope, dan kami akan ke Venice lusa"


Well, aku bisa mengambil sisi positivenya.


"Aku akn me jemput Tania sore ini, supaya kalian lebih leluasa"


"nope" sekali lagi Renata mengecewakan aku "Dia akan ikut bersama kami, kami akan mengunjungi Italy juga. Dan Tania perlu bertemu dengan neneknya bukan?"


"Ah... Ya..." Aku tidak pernah berfikir soal itu. Anthony juga punya orang tua.


"OK.. Aku hanya mengatakan itu" Renata mengangkat kakinya yang ringan Dan riang. Meninggalkanku tanpa kata permisi Dan halo.


Tunggu.... Dia pasti tidak datang sendiri. Aku mencoba mengejar Renata yang ternyata cukup cepat menghilang. Namun


Sebuah mobil mewah hitam mengkilat yang sudah akrab terparkir Di area drop off kantorku. Dan seperti yang kuduga, Renata Dan Anthony tak ragu berciuman Di salah satu sisinya.


"Ehem...!" Aku sengaja menganggu roman yang tidak aku harapkan.


"Apa kamu menghianatiku Re.."


Renata segera menoleh padaku, wajahnya sedikit terkejut. Dia pasti tidak menyangka bahwa aku mengikutinya.


"Bu.. Bukan begitu.." Renata sedikit terbata.


Anthony menegakkan punggungnya Dan menghampiriku setelah mendarat kan kecupan Di pipi Renata.


"Istri memihak suami itu adalah wajar, aku tahu aku lalai" Anthony menarik nafas panjang dan mendaratkan sepasang jemarinya Pada kedua pundakku."Tapi tidak pernah ada kata terlambat bukan?"


"Apakah ini tulus?" Aku hanya mendesis kecewa.


Harapanku mendapatkan 15% saham Tower High rupanya harus terkubur sementara.


"Aku sudah memiliki 7% saham Tower High bisiknya pelan" Sebuah senyum sinis tersungging Pada wajah Anthony. "Aku masih mampu terang tinggi tanpa Maria"


Anthony melepaskan genggamannya " lebih baik kamu bersenang - senang dengan bekas istriku, Maria. Dan perusahaan yang sekarat ini. Jangan menggangguku bersenang - senang dengan apa yang kamu tinggalkan. Keluargamu dan perusahaan Papimu".


Aku memalingkan wajahku Dan mendengus kasar. Aku masih tak habis pikir situasi akan begini. Kenyataannya aku Telah memutuskan hubungan dengan Tower High, tapi hatiku rasanya cukup sakit mendengar Tower High perlahan berpindah Tangan ke Anthony.


***


"Maria di Kantor?" tanyaku Pada roselyn. Usai pasangan penghianat itu meninggalkanku.


"Ada pak, sedang meeting dengan vendor. Mungkin jam tiga sore sudah usai."


Aku melirik jam Tanganku "Oke thank you".


***


"Bapak Ke sini?" Roselyn terkejut melihatku yang datang tiba - tiba.


"Nggak usah peduli kan saya, saya akan menunggu ibu Di ruangannya nanti..


" Iya pak "roselyn melanjutkan langkahnya memasuki ruangan meeting. Dia membisikkan keberadaanku Pada Maria sebelum membagikan berkas Pada peserta meeting hari itu.


Maria... Hingga sejauh ini kamu masih saja membuatku bertanya, tentang dirimu. Aku masih sulit menerka Kenapa Anthony memiliki cinta Dan benci yang menyatu padamu.


" Ada masalah? " aku segera MENYAPA Maria yang baru keluar dari ruang meeting.


"Pembatalan kontrak lagi" Maria menggeleng dan langsung berlalu menuju ruangannya.


Dia sama sekali tidak menanyakan Kenapa aku Di sini.


"Permisi pak" Roselyn membuatku menggeser posisiku yang masih menatap punggung Maria.


"Tunggu... Kontrak siapa yang di batalkan?"


"Ini soal perkebunan Kopi" jawab roselyn cepat.


"Roselyn?" panggil Maria yang di respon roselyn dengan segera


"Permisi pak"


Tanpa sadar akupun otomatis mengikuti keduanya ke arah ruangan Maria.


Maria Dan roselyn menatapku sesaat ketika aku ternyata ikut masuk.


"Silahkan duduk Di sofa dulu" Suara Maria yang tegas Dan merdu Di lontarkan otomatis padaku.


*****


"Kita kena boikot lagi?" Aku menyela diskusi keduanya yang ketika tidak begitu tegang.


"Bukan, tapi pembajakan" Maria mengarahkan Jari telunjuknya di antara kedua alisnya Dan menekannya beberapa saat.


"Maksudnya??"


"Lahan kopi yang kami sewa.." Maria memberikan jeda sesaat "Memberikan hasil panennya Pada pihak lain Dan menggantinya dengan uang"


"Berarti.. Tidak rugi?"


"Rugi besar" Tegas Maria. Dia menghampiriku ke sofa Dan menyerahkan beberapa map perjanjian Bisnis.


" Semua perusahaan ini sudah positif bahkan membayar lunas semua kopi itu"


"Kita tinggal mengembalikan uang mereka"


"huh... Pikiranmu terlalu pendek untuk me nilai masalah Dan valuenya"


Maria menghempaskan pinggangnya Di sandaran sofa yang seiring Roselyn segera menyajikan teh untuk kami berdua.


"Terimakasih Roselyn" Aku dan Maria serempak mengantakannya.


"Perhatikan baik - baik jenis Bisnis apa yang di miliki para client kita ini" Maria memintaku mengamati baik - baik


Aku hanya diam Dan melihat deretan nama yang tercantum Di tiap map yang tercecer.


"Mereka memiliki Bisnis musiman tepatnya. Dan kerugian kita Bisa lebih tinggi dari yang kita perkirakan. Kita Bisa di tuntut juga, karena kemungkinan mereka sudah mengeluarkan promosi tapi malah kita gagal menghadirkan produknya. Nama baik Di pertaruhkan"


"Pelakunya?" Aku penasaran apa nama itu aku kenal


"Nggak penting!!" Maria menjawab cepat. "Jenis kopi arabica bukan jenis yang bisa di tanam di mana saja. Apalagi setelah global warming yang terus meningkat, lingkungan tumbuhnya jadi lebih mengecil. Mencari penggantinya tidaklah mudah"


Ah benar juga, itulah resiko Bisnis perkebunan. Kita tidak hanya di a cam oleh populasi manusia yang memakan lahan tapi juga Alam yang bertambah buruk dari Pada baik.


"Jadi....???"


"Aku tidak pusing kalau aku bisa menjawab pertanyaanmu"


Aku hanya mengatupkan sepasang bibirku, tanpa Bisa memikirkan solusi.


"Anyway ada apa kamu menemuiku?" Maria mulai meneguk teh hangat Di tangannya.


"Anthony Dan Renata akan bulan madu kedua"


Maria tidak bereaksi atau sedikit peduli


"Tania akan ke Italy"


Auh... Uhuk.. Maria terbatuk sebentar. "Anthony belum meminta ijinku"desis Maria." Dan kamu kehilangan kesempatan mendapatkan saham tambahan? "


Aku mengangguk," Apakah kita Akan kehilangan Tania? "


" Maksudmu? "


" Dia tidak bermaksud meninggalkan Tania Di rumah neneknya bukan? "


Prank.. Cangkir Di Tangan Maria jatuh tak sengaja.


"Wanita tua itu juga suka mencari masalah" Gumamnya seraya membuang muka.


Maria beranjak mengaduk handbagnya.


"Hallo.." sapanya ketika Sebuah benda pipih canggih telah menempel Di salah satu Telinganya.


"Tania can stay with me.."


"Big No... Kamu bukan ibu yang bagus" Sahut peria Di seberang sana dengan suara Beratnya.


"Kamu sengaja melakukannya, agar aku tidak mengejarmu?"


"Coba jawab sendiri, bukankah kamu cukup pintar"