Sugar Mamy

Sugar Mamy
Anggota Keluarga Baru


Prak...!! Maria menamparku ketika sadar


Aku hanya sanggup menahan nafas tak berkutik. Aku memang salah, aku tak berhak membela diri.


Air matanya menetes membasahi pipinya yang menegang.


"Kamu keterlaluan" Ucapnya lirih "Ini udah kedua kali Har!??"


"So...so... Sorry"


"Selamat malam bu.. " Seorang perawat datang "Bayinya berjenis kelamin laki - laki, beratnya 3.5 kilogram dengan panjang 50cm" Perawat itu memandangi wajah kami yang kurang bersahabat "kaki tangannya lengkap dan sehat" Ucapnya melanjutkan prosedural.


Sejenak ruangan hening, hingga tangis Maria segera pecah dan meminta perawat untuk memberikan anak kami ke dalam gendongannya.


"Kalau ada apa - apa silahkan pencet tombol ini, saya permisi dahulu"


Aku mengangguk mengiyakan.


" Jangan ngambek lagi Mar... Anak kita sehat dan tampan bukan? "


Aku mengintip jagoan kecilku yang mulai melahap aslinya dengan rakus.


Aku terkekeh sejenak," bukan hanya fisiknya saja yang mirip, antusiasnya juga mirip" Celetukku yang segera mendapat cubitan dari Maria.


"Dasar mesum, bisa - biasanya.." Maria tak melanjutkan ucapannya sepasang bibirnya sudah terbenam dengan miliku.


"Thank you... sudah melahirkan anakku Sweet heart" Aku memutar bola mataku mencoba mengingat kalender kehamilan Maria.


"Lebih cepat lima hari, gara - gara..."


Aku kembali mengecup sepasang bibir Maria yang masih menegang.


"Sssssttt ada si kecil ngomongnya yang baik - baik" Sebuah senyum lebar aku hadirkan, meski aku tahu ini tidak cukup menebus kesalahan ku. Tapi semoga ini bisa menahan amarah Maria.


"Hanenda padmana Janitra... gimana? "


"Kamu tahu dari mana nama seperti itu? kita belum berdiskusi ?"


"Dari istriku dong.." aku mencolek dagu Maria yang masih belum juga relax.


"Hanenda itu kalau nggak salah artinya pantang menyerah, kayak aku" Aku menyajikan senyuman manis mengiringi penjelasanku "Padmana artinya perasaan yang yang berkembang, kayak cinta kita" Maria mengerutkan dahinya "Janitra nama belakang kamu, karena keduanya aku lakukan buat kamu"


Maria terkesan sesaat, sebelum tawanya berderai.


"Tapi terlalu cheesy, ada pilihan yang lain?


" Ya.. Ya.. Tunggu.. " Aku menata nafas Sejenak" Yodha Parahita Janitra "


" Maknanya?


"Aku tuh.. cuma dari Google aja nih, kalau salah - salah jangan di ketawain"


" Do that ever happen?"


Aku menggeleng, Maria memang tidak pernah menertawakan aku.


"Yodha artinya pejuang, Parahita artinya perhatian pada kesejahteraan dan Janitra selain dari namamu yang artinya berderajat tinggi"


"OK.. Aku hargai usahamu, aku lebih suka yang kedua"


"Lihat Mar... Dia tersenyum kayaknya dia suka namanya, iiih.. Mirip aku ya.." Aku memberanikan mengelus wajahnya "Lihat bibirnya udah copy paste aja nih.semoga matanya juga kayak aku aja ya?. Kalau kayak kamu, terlalu mengintimidasi. Kasihan.. susah dapet cewek ntar"


" Namanya udah bagus... Kenapa ada urusan cewek nya? jodoh udah pasti datang, aku nggak mau dia menghabiskan hari - harinya ngurusin romance picisan"


Uhf... Sorry boy!! seem like you are not have much time for having fun.


" Eh... Kita belum ketemu mempelai kan? " Maria baru ingat bahwa kami sebelumnya sedang berada di acara pernikahan Elena.


"Ah yeah!!" aku membalas malas. Soal pernikahan neraka itu." Nanti juga ketemu Dion abis cuti bulan madunya "


" nggak berminat ketemu Elena? "


Aku menggeleng cepat," Ketemu kamu aja.."


Aku mengecup Maria sekali lagi. Agar obrolan tentang masalah keluargaku tersingkir sementara. Lebih bagus menghindar sementara sampai aku tahu tentang solusinya." Mereka nggak usah di kasih tahu dulu ya? Anak Kita Yodha juga pingin healing, abis sesak di dalam sana. "


" Tok.. Tok" Suara ketukan pintu mrmotong percakapan kami.


"Congratulations..!!" Sapa mas. Aryo dan mbak. Bunga istrinya. Mereka menghambur ke arah Yodha seketika.


"Lucunya..." puji mereka serentak. "Termasuk bapaknya juga lucu. Masak masih pake bathrobe?" celetuk mas. Aryo.


Tawa riuh memenuhi ruangan.


"Habis bagaimana lagi, tapi mas. Aryo bawa baju ganti buat aku kan?"


"Ups...!!" Mas. Aryo menepuk jidatnya, sesaat suasana ruangan jadi henning "Bawa dong"


Aku bernafas lega seketika di ikuti tawa mereka yang kembali meledak. Tanpa menunggu lagi, aku segera membongkar isi koper yang di bawa mas Aryo. Dan segera mengambil pakaian untuk bertukar dengan bathrobe di badanku.


"Itu berkas Papi kamu, yang kamu minta tadi"


"Ah... Kita bahs usai ganti baju dulu"


"Aryo...???" suara Maria terdengar cukup bingung di ruangan sana..


Aku juga tidak mengira mas. Aryo begitu cepat mengumpulkan datanya.


****


- Kejadian di pesta sebelum menemui Maria - - -


"Mas... Aku udah nggak tahan lagi"


"Kamu Kenapa?" mas. Aryo merespon penuh simpaty pada suaraku yang pasti terdengar payah.


"Its not about my dad, it was my mom"


"Maksudnya??"


"Dialah yang sangat tidak menyukai Maria. Mungkin hanya karena tidak keren. Barusan dia berusaha mencarikan jodoh lagi untukku"


"Lantas...? "


"Bantu aku bebaskan Papi... Karena tujuan awal mereka menjodohkanku dengan Melissa adalah untuk mencegah Papi masuk penjara. But now he was there.. So, seharusnya sudah nggak butuh lagi pernikahan itu"


"Ah.. I see.."


" Aku tahu Papi tidak se serakah itu, setidaknya Papi tidak pernah butuh keren atau gengsi. Kami sesungguhnya sudah lebih dari cukup. Bahkan seharusnya Papi menyetujui pernikahanku dengan Maria, mengingat Maria berpotensi sebagai partner strategisnya " aku tak sanggup menahan deritaku sendiri. Dan sepertinya mas Aryo layak di percaya seperti Maria mempercayainya.


" OK... Aku akan siapkan berkasnya beserta solusi yang aku tawarkan. Kebebasan memilih ada di tangan kamu"


"Thank you Mas, I really appreciate your help"


*******


"Mirip banget sama kamu nih" Celetuk mbak Bunga ketika aku sudah keluar dari rest room.


"Takdir lagi baik sama aku, nanti kami bikin lagi yang mirip Maria"


"Baru aja keluar udah bikin rencana yang baru lagi, kita urus dulu yang ada" sela Maria.


******


Pesta pernikahan Elena dan Dion, berjalan sesuai Keinginan Elena, tapi banyak kecewaan yang mulai tumbuh perlahan Di hati Dion.


Sudah bukan rahasia kalau Elena adalah bagian dari keluarga jet set. Bahkan mereka juga mulai mengetahui bahwa Elena juga merupakan tante Harry, sahabat sekaligus atasannya.


Gossippun segera muncul, bahwa Persahabatan dia dengan Harry Sebenarnya adalah kamuflase belaka untuk mendapatkan tangkapan Emas, seorang sugar mamy yang cukup kaya seperti Elena.


"Semoga Harry tidak mulai berfikir serupa" keluhnya dibalik senyumannya malam itu.


"Kenapa?"


Dion hanya melempar senyum datar pada mempelainya.


"Kita sudah menikah, apa kamu tegang?"


"Kind of" Dion hanya menjawab singkat.


"Apakah kamu mulai mendengar keributan bisikan orang - orang"


"Sulit untuk mengabaikannya" Dion tak mampu menyembunyikan alasan kegundahannya.


Elena menarik tangannya menuju tengah keramaian, dengan Anggun dia meminta agar music mulai berubah.


"Kamu Bisa berdansa?"


"Not the best.." jawab Dion ragu.


"ikuti aku.."


Music pun segera berubah menjadi nada Waltz of the flower. Elena mulai menggerakkan badannya dengan cukup lihai.


"Semua suara itu sudah mulai pergi" Elena terus menariknya mengikuti music yang mengalun.


Secara perlahan begitupun dengan para undangan yang juga mulai bergabung.


"Apakah kamu sudah bertemu Harry?"


"Tadi dia di sambut ibunya ketika datang, nanti juga ketemu"


Tapi sosok ibu Harry juga mulai bergabung Di area dansa, begitu juga keluarga Jefford dan Kildman yang lain. Dion mulai lebih resah dari sebelumnya. Mungkin kah dia pergi karena mempercayai gossip yang menyebar hari ini.


"Jangan banyak berfikir yang aneh, kamu sekarang bagian dari keluarga kami, we are own the party"