
"Hei bocah!"
Muncul suara seseorang yang tidak dikenal
tiba-tiba memanggil Agler.
Agler mengabaikan panggilan ini, dan terus berjalan.
"Bocah, apa kamu takut?"
"Dan kamu ingin keluar dari pulau ini?"
"Dasar bocah pecundang!"
Kaki Agler berhenti setelah mendengar perkataan orang ini, dia membalikkan badannya dan melihat orang yang berani mengucapkan kalimat itu.
Dia melihat orang yang berbicara, dan itu adalah seorang pria tua berjanggut hitam, dan di sampingnya terdapat beberapa orang yang sepertinya anak buahnya.
Agler langsung mengenali orang ini, dia adalah Marshall D Teach yang terkenal dengan sebutan Blackbeard atau Kurohige, dia sedang berdiri di atas reruntuhan bangunan markas angkatan laut.
"Kenapa kamu menatapku, bocah?"
"Kau ingin membunuhku?"
"Apa kau mampu?"
Dengan arogannya Blackbeard berkata, tampaknya dia tidak tahu alasan atau sebab kenapa sebagian besar tempat ini hancur, dan menganggap bahwa Agler dan Shirohige kalah dalam pertempuran ini.
Pandangan Agler masih fokus pada orang ini, dia sama sekali tidak memasukkan omongannya ke dalam hati.
"Hanya bisa menatap saja?"
"Terlihat sekali kau tidak berani melawanku."
"Dasar bocah lemah dan pecundang!"
"Dan kau, Shirohige!"
"Kau sama dengan bocah yang ada di sampingmu!"
"Dua orang lemah!"
Shirohige mengencangkan pegangannya pada senjata murakomogori-nya.
Dia sekarang sudah sangat marah mendengar hinaan Kurohige.
"Mulutmu bau, Pak Tua ...."
"Setiap kamu berbicara, mulutmu mengotori polusi udara di tempat ini, jadi aku terpaksa harus membersihkan...."
Membalas perkataan Kurohige, karena menurut Agler si tua ini semakin terlalu berisik.
"Apa maksudmu, Bocah si-..."
Suara itu terputus, dan dalam sekejap suasana menjadi hening.
Bunyi ombak laut terdengar, dan juga angin sepoi-sepoi berbunyi mengisi keheningan.
"Terpaksa harus membersihkan sumber polusi." suara yang datar dan dingin langsung memecahkan suasana yang hening.
Mereka semua melihat Agler yang muncul dalam kurang dari satu detik di tempat Kurohige berdiri bersama anggotanya, sedang memegang kepala Kurohige pada tangan kirinya.
Kurohige mati sebelum dia sempat bereaksi, dia dibunuh oleh Agler menggunakan pedang Bavdrago-nya.
Dia sengaja menggunakan pedang ini, sebab pedang ini menambah kerusakan pada makhluk yang berenergi gelap, termasuk dengan Kurohige pemegang buah iblis elemen gelap.
Buk!
Tubuh tanpa kepala itu terjatuh, dan darah mengalir deras dari leher yang terputus itu.
"Banyak omong kosong!"
Blarr!
Kepala Kurohige yang dipegang Agler terbakar oleh Api birunya, dalam beberapa detik kepala itu menjadi abu dan menghilang.
Semua orang tercengang, mulutnya terbuka lebar, mereka tidak mempercayai pemandangan yang ada di depan matanya.
"Sialan!"
Van Augur pertama yang bereaksi, dia langsung membidik Agler dengan senapannya.
Dor!
Pelatuk senapan ditekan olehnya, dan peluru melesat keluar dengan cepat dari laras senapan.
Swooshh...
Ting...
Peluru itu dengan kuat menabrak armor Gold Sagitarius, namun tidak bisa menembusnya dan terpental jatuh ke tanah.
Melihat ini, Van Aughur membeku sebentar dan segera memerintahkan temannya untuk menembak Agler.
"Ayo kita tembak dia!"
Komandan kru bajak laut Blackbeard yang lain langsung melepaskan tembakan.
Dor! Dor! Dor!
Sekali lagi armor Sagitarius menangkis semua peluru yang menuju tubuh Agler.
Tidak ada penyok sama sekali, bahkan satu helai goresan pun tidak ada pada armor emasnya.
"Aku tidak suka ditodong dengan senjata kalian yang kotor itu!"
Agler mengaktifkan kekuatan gravitasinya, dan membuat gravitasi di sekitarnya menjadi 20 kali lipat tekanannya.
Bum!
Tanah langsung hancur dan menjadi cekung dengan radius seluas 300 meter dari Agler, semua anggota kru bajak laut Blackbeard jatuh terbaring di tanah.
Shirohige dan Sengoku tercengang melihat kekuatan yang dikeluarkan oleh Agler kali ini.
"Kekuatan apa lagi ini, berapa banyak kemampuan yang dimiliki anak ini!" ucap Shirohige yang terkejut oleh kekuatan Agler.
"Glup!"
Setelah merobohkan anak buah Kurohige, Agler memasukan kembali pedangnya ke dalam ruang sistem, lalu berjalan menuju mayat Kurohige yang tergeletak di tanah.
Dia mengulurkan tangannya ingin membawa tubuh yang tak bernyawa ini, akan tetapi saat dia menyentuhnya, sistem berbunyi.
[Ding!]
[Tuan rumah bisa menyimpan mayat ini ke ruang sistem!]
[Mayat ini mengandung kekuatan gelap yang berguna untuk tuan rumah suatu hari nanti]
[Disarankan untuk menyimpannya!]
Agler mengangguk, dia memasukkan mayat Kurohige ke dalam ruang sistem.
Semua anggota kru bajak laut Blackbeard melotot marah penuh dendam.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Agler berpura-pura tidak tahu.
Wushhh...
Suara seperti angin yang berhembus kencang terdengar dari atas Agler, saat dia menengok ke atas, terlihat kepalan tangan raksasa yang ingin memukulnya.
Sembilan komandan kru bajak laut Blackbeard tersenyum melihat ini, walaupun mereka tidak bisa melihat ke atas, mereka masih bisa melihat bayangan besar yang ditampilkan di permukaan tanah.
BANG!
Pukulan itu berhenti di udara tampak seperti memukul sesuatu yang keras dan tak terlihat.
"???"
Sanjuan Wolf bingung dengan situasi ini, kenapa tinjunya berhenti di udara, dia juga merasakan sakit pada tangannya, seperti meninju benda yang keras.
Mind Barrier Agler keluarkan untuk menahan pukulan besar ini, Agler bisa mengendalikan banyak kekuatan secara bersamaan.
Poofff....
Suatu asap muncul di samping Agler, lalu nampak orang yang 100% mirip seperti Agler sedang berdiri setelah asap itu menghilang.
Itu adalah bayangan Agler yang dia ciptakan untuk melawan Sanjuan Wolf yang besar ini.
Klon Agler bergerak, dia menadahkan tangan kanannya kemudian perlahan chakra biru timbul dan membentuk bola yang semakin membesar.
Penampilan klon Agler telah berubah ke mode sage sempurna, dia menyerap energi alam dan membentuk rasengan besar.
Seiring rasengan menambah besar, klon Agler terbang ke atas, dan berhenti pada ketinggian yang setara dengan Sajuan Wolf ini.
"Chou Odama Rasengan!"
Rasengan besar berdiameter 150 meter meluncur menuju tubuh Sajuan Wolf.
Sajuan Wolf menyilangkan tangannya untuk menahan rasengan besar ini.
Klon Agler terus mendorong Chou Odama Rasengan dan menabrak tubuh Sajuan Wolf dengan keras.
"Aarghhh!"
Sajuan Wolf teriak kesakitan karena gesekan chakra yang cepat memutar dalam bola rasengan besar ini.
Tangannya memerah seperti berdarah, dan akhirnya dia terdorong jatuh ke tanah, dam masih tertimpa Rasengan yang terus menggerus tubuhnya.
"Maafkan aku!" mohon Sajuan Wolf meminta ampun, dia tidak kuat menahan chou odama Agler lagi.
Klon Agler memutar tangannya, dan sekejap mata rasengan besar menghilang.
Sajuan Wolf merasa lega bola besar itu tidak menimpa dirinya, dia duduk tersungkur di tanah sambil menstabilkan nafasnya.
"Terlalu banyak kemampuan yang dia punya, anak ini terlalu misterius," gumam Shirohige setelah melihat Adegan ini.
Kemudian tangan kanan klon Agler diarah ke atas langit, seketika Rasengan besar itu muncul kembali.
"Jangan serangan aku!" Sajuan Wolf kembali panik melihat bola besar ini.
Klon Agler tidak berniat memukulnya lagi, dia melepaskan Chou Odama Rasengan ke langit.
Rasengan biru itu terbang ke udara, menembus awan yang gelap, lalu meledak menghembuskan awan yang ada di sekelilingnya.
Booom...!
Awan menghilang dan matahari kembali menyinari Marineford.
Cuaca langit dalam kedipan mata berubah menjadi lebih baik.
Pooff!
Klon Agler menghilang menjadi asap, lalu Agler melepaskan kontrol gravitasinya kepada anak buah Blackbeard ini.
Kebetulan sinar matahari menyinari Agler, membuat keseluruhan tampilannya seperti orang yang tidak terkalahkan.
Armor emas-nya menambah kesan seperti seorang pejuang yang sangat kuat.
Bam!
Agler meluncur dari tempat itu, dan meninggalkan jejak lubang yang dalam di tanah.
Whooshhh...
Dia terbang meninggalkan pulau sambil membawa Shirohige dengan telekinesisnya, melesat menuju pulau tempat Great Red dan Ancalagon berada.
....
"Apa itu?!" ucap Crocodile setelah melihat kilatan yang terbang di atasnya.
"Tidak tahu, bos!" anak buahnya menjawab.
"Abaikan, ayo kita berjalan menuju Markas angkatan laut!" perintah Crocodile kepada kru bajak lautnya.
Mereka baru sampai setelah melaut ke pulau ini, dia hendak ikut dalam perang, tapi dia tidak tahu bahwa mereka sudah terlambat.
"Aneh, seingat ku langit sebelumnya mendung, kenapa sekarang menjadi cerah?"
gumam Crocodile sambil menatap langit yang biru.
Menggelengkan kepalanya, dia menganggap bahwa hal itu adalah perasaannya saja yang salah, dan dia melanjutkan perjalanannya menuju tujuannya.