Savior System

Savior System
Bab 93 : Membunuh Sakazuki


"Apinya hampir mirip dengan api Phoenix milikku, hanya sedikit berbeda dalam warna saja, apakah dia juga pemakan buah iblis tipe Zoan?" gumam Marco setelah melihat serangan naga api Agler.


'Dilihat dari kerusakan yang ditimbulkannya, lebih destruktif dibandingkan dengan api biru punyaku ini, dan tingkat kontrolnya sangat bagus, juga kekuatan fisiknya terlalu kuat, bahkan dia jelas-jelas terkena serangan Akainu, tetapi tubuhnya tidak terluka sedikitpun.'


'Aku harus belajar dengannya, agar kekuatanku meningkat!' pikir Marco di dalam benaknya, dia mengira bahwa Agler pemakan buah iblis tipe Zoan.


Tapi dia tidak tahu pasti dengan perkiraannya apakah itu benar atau salah, yang terpenting dia ingin belajar banyak dengan Agler.


Saat ini, wajah Akainu memerah karena marah dan dia menggigit giginya bergemertak setelah mendengarkan perkataan Agler.


Di sisi berlawanan, ada Agler yang sedang menatapnya dengan tatapan yang main-main.


Perbedaan ukuran di antara mereka berdua, sangat jauh, Agler yang tingginya hanya 188 cm terlihat seperti anak kecil dibandingkan dengan ukuran tubuh Akainu yang setinggi 3 meter.


Tangan Agler bergerak, dia mengulurkan lengan kanannya dan mengarahkan telapak tangannya ke arah Akainu.


Para angkatan laut dan bajak laut mengamati apa yang dilakukan oleh Agler.


Bola petir kecil berwarna ungu muncul, dan itu semakin membesar hingga berdiameter 30 meter.


Suara petir memenuhi seluruh Marineford, kilatan sambaran petir kecil terkadang menghantam permukaan yang ada di sekitarnya.


"Pemakan dua buah iblis?!"


"Sebelumnya api dan sekarang petir??"


"Aku tidak percaya apa yang aku lihat sekarang!"


Para angkatan laut dan semua kru bajak laut tercengang, terlebih Ace, Luffy dan temannya.


"Apa dia pemakan dua buah iblis?" tanya Luffy kepada teman-temannya.


"Aku tidak tahu, dan juga belum pernah mendengar orang yang bisa memakan dua buah iblis," jawab Ace yang masih melihat Agler.


"Benar kata Ace, setiap orang hanya bisa memakan satu buah iblis, jika lebih dia akan mati," tambah Marco yang matanya terus menatap Agler.


Bam!


Shirohige jatuh dan mendarat tepat di depan mereka bertiga, tubuhnya yang terluka dan ada satu lubang di bagian dadanya berdiri tegak menghadap anak-anaknya.


"Ayah!" para kru bajak laut terutama Ace dan Marco memanggil Shirohige dengan sebutan 'Ayah'.


"Kalian semua mundur!" perintah Shirohige kepada kru bajak lautnya.


Semua anggota bajak laut mematuhi perintah Shirohige, dan tidak mungkin mereka membangkang.


Mereka semua mundur sejauh mungkin, hanya meninggalkan Luffy, Ace dan Marco saja bersama Shirohige di depannya.


'Anak itu terlalu kuat tubuhnya memancarkan kekuatan yang sangat besar, aku harap dia bisa jadi anakku,' gumam Shirohige dalam hatinya sambil memandangi Agler.


Saat ini, suasana menjadi menegangkan, Akainu melihat bola ungu di depannya yang mengandung kekuatan petir yang sangat besar, keringat mulai menetes dari dahinya.


Dia dapat merasakan betapa mengerikannya bola petir ini, sesuai dengan kepribadiannya yang brutal dan tak kenal apa itu mundur, dia siap menahan serangan ini.


"Apa kau siap untuk merasakan serangan ini, Akainu?" suara Agler terdengar sampai ke telinga Akainu.


Tanpa menunggu Akainu membalasnya, dia langsung melepaskan bola petir ini.


Ssszzzttt....


Bola petir itu meluncur cepat, menghancurkan lantai beton yang dilewatinya, menuju Akainu yang menjadi target serangannya.


"Sial!" Akainu mengutuk Agler dengan kesal.


Bola petir dalam sekejap sudah dekat darinya.


"Dai Funka!"


Dia dengan cepat mengeluarkan tinju magma besarnya lagi, dan menghantam bola petir dengan keras.


Boom....!


Tinju magma besar menahannya, tetapi hanya bisa menahan selama 3 detik, dan tinju magma hancur tercabik-cabik oleh sifat destruktif petir.


Magma yang mempunyai suhu paling panas sekitar 1,200° Celsius, sedangkan Petir bisa hampir mencapai 30,000° Celsius, lebih kuat petir dibanding Magma, wajar bila magma kalah.


Bola petir itu menabrak Akainu dan meledak dengan dahsyat.


Duarr.....


Efek ledakan berbentuk bulat mengelilingi Akainu yang ada di dalamnya, ledakan itu terus membesar dan menghancurkan segala sesuatu yang ada di dalam jangkauannya.


Luffy dan yang lainnya mengangkat tangannya menahan angin yang diakibatkan oleh ledakan besar itu.


"Ayah, akankah Akainu mati?" tanya Ace kepada Shirohige.


Memandang ledakan besar yang ada di depannya, mengabaikan angin besar yang menerpanya, dan Shirohige pun menjawab, "Dia belum mati, daya tahannya luar biasa, dia tidak akan mati semudah itu."


Mata Ace terbelalak, dia tidak menyangka penilaian Ayah akan kekuatan Akainu begitu bagus.


Dia kembali memperhatikan ledakan besar itu yang sekarang semakin mengecil.


Terlihat Akainu berlutut satu kaki, lengan kanannya telah hilang, dan tubuhnya terdapat noda hitam akibat petir yang sangat besar.


Mulai sekarang, Akainu tidak mempunyai lengan kanan dalam bentuk manusia normalnya yang tidak mengaktifkan kekuatan buah iblisnya.


Wajahnya menyeringai kesakitan, dan masih memandang Agler dengan tatapan yang menakutkan.


Agler memandangnya sambil tersenyum menghina, dia puas dengan hasil karyanya ini.


Mereka saling menatap satu sama lain selama beberapa detik, Akainu perlahan berdiri dan mengisi tangannya yang hilang dengan magmanya.


Detik berikutnya...


Bam!


Tiba-tiba, Agler muncul dan membanting kepala Akainu ke tanah dengan sangat keras, membuat retakan semakin membesar dan meluas.


Shirohige dan yang lain terkejut, mereka tidak bisa melihat Agler bergerak, mereka hanya bisa melihat bahwa Agler menghilang di tempatnya dan muncul di depan Akainu dalam sekejap.


"Sangat cepat, aku tidak bisa melihatnya sama sekali!" ucap Luffy yang terkejut.


"Kecepatannya terlalu cepat, aku hampir tidak bisa menangkap pergerakannya." Shirohige juga menyetujui ucapan Luffy.


Ace, Luffy, Marco dan Jinbe mulai mengagumi kekuatan Agler, Ayah pun yang begitu kuat hampir tidak bisa melihat kecepatannya.


Saat ini, Agler mengangkat kepala Akainu dan membenturkannya ke lantai dan terus mengulanginya beberapa kali, lubang menjadi lebih dalam akibat hantaman keras itu.


Bum! Bum! BUM...!


"Ugh!" Akainu memuntahkan darah, dan membasahi telapak tangan kanan Agler.


Melihat tangannya dilumuri oleh darah, Agler merasa jijik, dan melemparkan Akainu keluar dari lubang dalam ini.


Setelah itu, dia menghilangkan darah di tangannya dengan sihir air.


Keluar dari lubang dan berdiri memandangi Akainu yang mulai sekarat.


Akainu tidak sempat mengaktifkan bentuk magmanya, karena Agler terlalu cepat, mengalahkan kecepatan reaksinya.


"Uhuk!" Akainu sekali lagi batuk darah, mulutnya telah mengeluarkan banyak darah sejak awal kepalanya dibenturkan.


Tubuhnya terasa sangat menyakitkan, dia mencoba bangkit dari posisi terbaring tengkurap, akan tetapi dia tidak bisa melakukannya.


Agler berjalan perlahan menuju Akainu, lalu dia menginjak kepala Akainu dengan kaki kanannya.


"Apa kamu tahu rasanya menjadi lemah?"


"Seperti ini lah rasanya, kau terlalu tidak masuk akal dan selalu bertindak tanpa ampun, orang sepertimu harus dibasmi, jika tidak, terlalu banyak orang yang tidak bersalah yang kamu bantai dan menggunakan alasan keadilan untuk melakukannya," kata Agler yang menunduk melihat wajah Akainu yang kesal bercampur kesakitan.


"Maaf Akainu, sepertinya kamu tidak bisa merasakan rasanya menjadi Laksamana Armada, karena aku akan membunuhmu sekarang."


Mendengar perkataan Agler, Akainu menjadi sangat marah, dan dia mulai menyalakan bentuk lavanya untuk menyerang Agler.


Namun, Agler menghiraukan panas magmanya seolah magmanya itu dingin.


Dia langsung memutuskan untuk melarikan diri dari sini.


"Percuma saja, kau tidak akan bisa membunuhku, dan kau tidak akan bisa kabur," ujar Agler sambil mengaktifkan kekuatan sihir airnya untuk mengurung Akainu dalam bentuk magmanya.


"Sekarang dia masih memiliki kekuatan air?!" Mata Marco yang sipit menjadi melotot hampir keluar.


Mereka tidak tahu bahwa Agler tidak memakan buah yang lain, selain buah beku, mereka mengira bahwa semua kekuatan Agler berasal dari buah iblis.


Bola air yang sangat besar dengan kapasitas air yang lebih banyak dari magma Akainu, membungkus Akainu dan membuatnya tidak bisa pergi.


Akainu yang melihat ini, langsung tertawa seperti orang gila, "Apa kamu bodoh? magma milikku bisa menguapkan bola air ini hingga tiada."


"Oh... lalu bagaimana dengan air tanpa batas?" balas Agler tersenyum mengejek.


Tangannya terus mengalirkan air tanpa habis, dan terus menambah massa air lebih banyak.


Bentuk magma Akainu terus terkuras, semakin lama semakin mengecil dan akhirnya padam.


Tubuhnya kembali ke bentuk manusianya, matanya menatap kosong ke arah Agler, dia tidak percaya bahwa pemuda ini bisa mengalahkannya dengan telak.


Dia tidak bisa melakukan apapun, tubuhnya tenggelam dalam bola air yang sangat besar ini, karena kelemahan buah iblis dia sekarang tidak bisa berenang sama sekali, lagipula percuma saja jika dia bisa berenang.


Perlahan berjalan mendekati bola air ciptaannya, ekspresi wajahnya tampak mengejek Akainu yang ada di dalam air.


"Magma milikmu sepertinya lebih lemah dari yang aku duga," cibir Agler sambil menatap Akainu yang mulai kehabisan nafas.


Akainu tidak bisa mendengar perkataan Agler, tubuhnya telah kekurangan banyak oksigen.


"Baiklah, aku akan membunuhmu sekarang," ucap Agler sambil mengeluarkan pedang Draga Volar.


Berhenti di depan bola air, dia berkata, "Selamat tinggal, Sakazuki..."


Kemudian tangannya mulai diayunkan dan menebas bola air besar bersama Akainu yang ada di dalamnya.