
"Itadakimasu!"
Agler mulai memakan nasi gorengnya yang dia pesan dari Gopud.
"Wailah enak banget anj-!"
Rasa nasi goreng terbilang sangat lezat, sebanding dengan Mi goreng, Rendang, Sate, Pizza, Burger, Seblak, Tulang setan, Bakso Aci, Mie ayam, kebab, Bakso beranak dll.
Setelah makan malam, Agler tiba-tiba diserang oleh rasa rindu yang tak tertahankan.
Dia memutuskan untuk membuka smartphonenya, lalu membuka aplikasi chat dan menekan tombol video call di kontak Adena.
"Halo Manisku!" Agler melambaikan tangannya di kamera dengan senyuman paling tampannya.
Melihat senyuman indah Agler, Adena menjadi tersipu bagaikan kepiting rebus terlalu lama. "Halo thayang~"
"Aku kangen kamu," ucap Agler to the point.
"Me too my Prince!" balas Adena dengan pipinya memerah malu.
"Aku mau pap itu!" kata Agler tiba-tiba.
"Pap apa?" tanya Adena bingung.
"Pap wajah kamu."
"Oh itu, gamau lebih?" goda Adena pada Agler sambil memperlihatkan wajahnya yang menawan.
"Emmm... gamau!" Agler menolak, dia tidak ingin melihat itu, dia ingin menghindari pemandangan itu.
"Bener ya?" kata Adena dengan tatapan yang main-main.
"Iya sayang... jangan goda aku, aku mau pap kamu buat di wallpaper, biar kaya orang-orang, sama buat foto di game legenda seluler sama."
"Nanti ya, abis ini, oke?"
"Oke, kamu lagi apa?" tanya Agler berusaha mencari topik.
"Aku lagi rindu seseorang tapi sekarang udah engga..." balas Adena dengan senyum manisnya.
Setelah 1 jam lebih mereka video call-an akhirnya mereka memasuki sesi penutup.
"Iya sayang kamu jemput aku di rumah, aku juga pengen ketemu mereka."
"Oke, besok pagi aku ke rumah kamu sayang."
"Aku tunggu ya."
"Yauda kamu tidur sana, udah malem."
"Iya,Agler sayang."
"Selamat malam, My cutie."
"Aaaa Selamat malam juga MyPrince."
Video call yang penuh dengan obrolan bucin yang luar biasa telah berakhir.
Agler mengajak Adena untuk bertemu dengan Anak anak kecil itu besok pagi, dan Adena setuju untuk ikut. Menyuruh Agler untuk menjemput dirinya di rumah.
"Gua kayanya harus menyewa mentor untuk memenuhi syarat hak asuh anak anak itu, jadi biaya dan tempat tinggal gua yang menjamin."
"Oke besok gua omongin sama Adena aja," pikir Agler.
Pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat dan kotoran karena latihan tadi, lalu berbaring di kasur dan Dia mulai memejamkan matanya.
.....
Di pagi hari setelah bersiap-siap Agler langsung meninggalkan rumah dengan mobilnya dan pergi menuju rumah Adena.
Berhenti di depan rumah Adena dan terdapat ibu Adena yang muncul dari gerbang.
Mengambil Tas Yolex lalu keluar dari mobil, perlahan menghampiri Ibu Adena dan mencium tangannya.
"Eh nak Agler. Sebentar ya Adena lagi siap-siap, kamu masuk aja dulu ke rumah," ucap Ibu Adena sambil tersenyum.
"Iya bu," jawab Agler.
Ibu Adena berbalik dan masuk ke dalam rumah, Agler pun mengikuti dari belakang.
Setelah memasuki rumah Adena, Agler melihat Bapak Adena yang sedang meminum kopi sambil menonton berita di ruang keluarga.
Merasa ada yang datang kerumahnya, Bapak Adena menoleh kebelakang dan melihat Agler yang masuk ke dalam rumah.
Bapak Adena berkata, "Agler, ngopi bareng Bapak sini sambil kamu nunggu Adena selesai ."
"Bu, tolong bikinin kopi buat Agler."
"Iya pak," sahut Ibu Adena.
"Kamu duduk dulu sama bapak ya Agler, sekalian nunggu Adena selesai Dandan," ucap Ibu Adena kepada Agler
"Eh iya bu," jawab Agler terasa canggung.
"Yauda Ibu mau buatkan kopi dulu untuk kamu." Setelah itu Ibu Adena pergi ke dapur.
"Sini Agler," panggil Bapak Adena.
"Iya pak."
Agler berjalan menuju bapak Adena.
"Sini duduk," suruh Bapak Adena.
Agler lalu duduk di sofa yang kosong.
"Ada urusan apa lagi Agler?" tanya Bapak Adena sambil menyeruput kopinya.
"Ini pak, Saya sama Adena mau bertemu lagi dengan anak-anak pengamen di jalan," jawab Agler.
"Kenapa kalian ingin bertemu anak-anak itu lagi?" Bapak Adena penasaran.
"Anak-anak pengamen itu masih kecil pak, sekitar umur 9 tahun tapi dia sudah mencari uang dengan cara mengamen."
"Lalu kemana orang tuanya?"
"Sudah ga ada pak, dan saudaranya tidak mau mengurusnya sama sekali."
"Saudara macam apa itu!" Bapak Adena marah setelah mendengar cerita Agler.
"Kenapa sih pak teriak-teriak," potong Ibu Adena dan berjalan menghampiri mereka sambil membawa secangkir kopi.
"Ini bu, Masa ada anak umur 9 tahun yang yatim piatu tapi ga ada yang ngurus sama sekali, saudaranya aja gamau!" balas Bapak Adena yang masih emosi.
Ibu Adena duduk di samping suaminya dan meletakkan kopi pada Agler, lalu menenangkan amarah suaminya, "Udah-udah pak tenang jangan emosi."
"Iya bu," jawab Bapak Adena yang sudah mulai reda amarahnya.
"Lanjutkan Agler." Bapak Adena kembali menyeruput kopinya.
"Jadi, kita berdua ingin merawat mereka pak," ucap Agler sambil menyeruput kopi yang dibuat oleh Ibu Adena.
"Tapi kamu berdua ga bisa memenuhi syarat hak asuh Agler, mendingan kamu cari orang tua yang ingin mengadopsi anak, tetapi kamu yang mendanai mereka dan kamu harus sering bertemu mereka."
"Kalau tidak, kamu cari mentor dari panti asuhan dan meminta dia untuk mewakili hak asuh," tambah Bapak Adena lalu menyeruput kopinya.
Mendengar saran Bapak Agler, dirinya mulai merenung memikirkan bagaimana ia bisa merawat anak-anak itu.
"Oke, pak saya udah putuskan untuk merawat mereka."
"Kamu mau lewat jalur ilegal?" tanya Bapak Adena sambil menyeruput kopi.
"Sementara Ilegal dulu pak, saya akan mengajukan surat permohonan hak asuh saat umur kita berdua memenuhi persyaratan, kan kami ingin merawat mereka jadi sama aja pak, ya walaupun di mata hukum ilegal tetapi ada yang merawat mereka sepenuhnya," jawab Agler.
"Kamu mau mengirimkan mereka ke panti asuhan?"
"Iya pak, tapi kami sering ke sana untuk membantu merawat mereka, biar ga jauh saya berencana akan memindahkan panti asuhan ke dekat rumah saya."
"Rumah kamu? dekat daerah sini kan?" tanya Bapak Adena.
"Saya udah pindah ke Jakarta Selatan pak," jawab Agler.
"Jadi kamu ga di sini lagi?"
"Engga pak."
"Kamu pindah ke daerah mana?" Bapak Adena ingin tahu rumah Agler yang sekarang.
"Permata hijau pak."
"Bukannya di sana mahal-mahal ya rumahnya." Bapak Adena menyeruput kopinya lagi.
"Iya pak lumayan." Agler pun ikut menyeruput kopinya.
"Bapak setuju kalo emang kamu mempunyai uang untuk memindahkan panti asuhan di dekat rumah kamu. Nanti Bapak dan Ibu akan sering ke sana untuk mampir dan melihat anak-anak itu."
"Iya pak, mampir aja ke rumah kalo bapak mau."
"Nanti Bapak kabari kalo ingin ke sana," ucap Bapak Adena.
"Iya pak." Agler merasa hangat mengobrol dengan orang tua Adena, Ia merasa sedang mengobrol dengan orang tua aslinya. Tiba-tiba ia merasa rindu dengan keluarga di kehidupan sebelumnya.
"Itu apa yang kamu bawa Agler," tanya Bapak Adena yang melihat 3 kantung tas yang di pegang Agler.
"Ouh ini pak Hadiah buat bapak dan ibu." Lalu Agler menyerahkan satu kantung tas yang berisikan Date just 31 kepada Ibu Adena dan Day date 40 kepada Bapak Adena.
Ibu Adena melihat tulisan Yolex di depan kantung tas dan dia langsung tahu isinya.
"Ini jam tangan yolex bukan Agler?" tanya Ibu Adena.
"Iya bu, itu jam tangan Yolex," jawab Agler.
Ibu Adena segera mengambil kotak yang ada di dalam kantung tas itu. Membuka secara perlahan dan ia langsung melihat jam tangan berwarna emas yang sangat cantik dan elegan.
Ibu Adena segera membuka hpnya dan mencari jam tangan Yolex di gugel.
Setelah beberapa saat, akhirnya menemukan jam tangan ini di gugel, scrolling dan melihat bahan yang digunakan jam tangan adalah emas kuning 18 karat dan juga terdapat 24 berlian, lalu melihat harganya yang melebihi 600 juta rupiah. Ibu Adena segera berteriak.
"Aaaaaaa!!!"
Adena yang baru saja keluar dari kamar tiba-tiba mendengar teriakan ibunya, segera Adena turun ke bawah menuju ibunya.
"Ibu kenapa bu?!" tanya Adena sambil bergegas turun ke tempat ibunya berada.
Dan Alakhirnya ia melihat di ruang keluarga, ibunya sedang di peluk oleh bapaknya.
"Ibu kenapa, Pak?!" tanya Adena panik.
"Gapapa kok nak, Ibu cuma kaget ngeliat harga hadiah yang di kasih Agler," jawab Bapak Adena.
"Hadiah dari Agler?"
"Iya sayang, Itu hadiah dari aku buat bapak sama ibu," sela Agler.
"Ouh iya, ini juga buat kamu." Agler menyerahkan kantung tas yang ada di tangannya.
Adena mengambil kantung tas dari Agler dan melihat bahwa ini hadiah jam tangan Yolex.
"Sayang, ini terlalu mahal buat aku sama keluarga, mending uangnya kamu tabung buat keperluan kamu," ucap Adena.
"Engga mahal kok, kalo itu bisa bikin kamu bahagia," jawab Agler.
"Sayang, makasih banyak." Adena memeluk Agler dengan erat.
"Makasih banyak Agler sudah ngasih jam tangan ini, Bapak bakal pake buat pamer ke tetangga hehehe," ucap Bapak Adena.
"Hush! Bapak ga boleh gitu!" Ibu Adena mengingatkan.
"Iyaa engga bu, bapak palingan pamer sama temen bapak."
"Tapi jangan sampai ngejelekin keluarga orang Pak, ga baik."
"Makasih ya Agler udah ngasih ini ke Ibu. Sini, ibu mau peluk kamu."
Agler menghampiri Ibu Adena, lalu dirinya di peluk oleh Ibu Adena di ikuti oleh bapak Adena. Pelukan yang begitu hangat kembali ia rasakan setelah satu tahun lamanya.
"Yasudah kalian segera pergi menemui anak-anak itu, sudah setengah jam lebih semenjak Agler datang loh," kata Bapak Adena.
"Eh iya pak, kita pamit pergi dulu ya," ucap Agler.
"Iya, hati-hati di jalan."
Agler dan Adena salim kepada ibu dan bapak lalu keluar dari rumah dan memasuki mobil.
Menginjak pedal gas dan melesat cepat menuju tempat bertemunya anak-anak itu.
.....
Berhenti di depan rumah yang terlihat bobrok dan kumuh, terlihat 10 anak yang sedang menunggu seseorang.
"Ini tempatnya sayang?" tanya Adena setelah melihat tempat kumuh seperti ini.
"Iya sayang."
"Ayo kita samperin mereka," ajak Agler.
"Yuk."
Mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan menghampiri mereka.
"Maaf buat kalian nunggu lama," ucap Agler.
"Gapapa bang," jawab Farid.
"Yauda abang mau ajak kalian ke rumah baru," kata Agler kepada mereka.
"Rumah baru?" Mereka bingung apa yang dimaksud Agler.
"Iya, rumah baru. Kalian sekarang tinggal di rumah baru, lebih tepatnya rumah Abang," jawab Agler.
"Bawa barang yang menurut kalian penting. Baju dan lain-lain nanti kita beli yang baru."
Agler akan membawa mereka ke mall untuk membeli baju dan perlengkapan sehari-hari.
"Oke bang!" jawab mereka serempak.
Memasuki rumah itu lagi dan mengambil barang-barang penting yang dimiliki mereka.
Melihat mereka yang sibuk mengambil barang, Agler berkata kepada Jarvis melalui Aerpod, "Jarvis, segera pesankan dua mobil Gokar."
{Sudah dipesan tuan dan sebentar lagi dua mobil gokar datang kesini tuan}
"Oke, terima kasih Jarvis."