
[Ding! Waktu tersisa 1 menit lagi!]
[Harap Tuan Rumah bersiap untuk pergi ke dunia nyata!]
"Waktuku sudah sangat sedikit, jadi aku harus cepat pergi." Agler berkata pada para hadirin dan beberapa kameraman dari beberapa awak media televisi dari berbagai negara.
"Informasi yang telah aku berikan pada Itami adalah sebuah kebenaran."
"Aku memohon untuk petinggi negara ini untuk menjaga Itami, karena dia sahabatku."
Permintaan Agler langsung diterima oleh Kaisar Jepang dengan tanda anggukkan kepala dan senyum ramah di wajahnya.
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang." Agler tersenyum pada mereka semua.
"Hati-hati di jalan, Agler!" Itami tiba-tiba memanggil Agler.
Mendengar perkataan Itami, Agler hanya bisa tersenyum. Pemuda otaku akut ini memang konyol tingkahnya, tapi Agler tetap menghargainya.
"Selamat tinggal!"
Agler melambaikan tangannya dan turun dari panggung.
Ia berjalan keluar dari ruangan pertemuan ini diikuti oleh para petinggi berbagai negara dan juga awak media, petugas keamanan dan beberapa tentara Jepang mengamankan orang-orang di sini sehingga para petinggi masih bisa mengobrol dekat dengan Agler sampai ke luar ruangan.
Sesampainya di luar ruangan, Agler menatap langit yang cerah dan biru.
Tetapi, di sini banyak sekali orang-orang yang ingin melihat Agler, untungnya semua orang-orang ini ditahan oleh para petugas keamanan dan para tentara Jepang.
Banyak orang yang menyebut nama Agler dengan teriakan yang kencang juga histeris, kebanyakan dari mereka adalah wanita.
Wanita dari berbagai negara, bukan hanya Jepang saja. Amerika, China, negara-negara Eropa wanita dari negara itu banyak yang berkunjung ke tempat ini hanya untuk melihat Agler.
"Waktuku sudah hampir habis, jadi aku ucapkan selamat tinggal sekali lagi."
Agler berkata dengan ramah sambil melihat para petinggi yang ada di depannya.
Lalu dia berbalik memandang orang-orang yang telah menyempatkan waktu untuk datang ke sini, walau hanya ingin melihat wajahnya.
Melambaikan kedua tangannya ke arah para penggemarnya dan menunjukkan senyum menawan kepada mereka.
"Terima kasih sudah menjaga." Agler berkata pada tentara ini dan polisi.
"Ini untuk kalian."
Sebuah balok emas secara tiba-tiba muncul dari tangan Agler, lalu balok-balok emas itu beterbangan kepada para anggota tentara dan polisi, mendarat tepat di telapak tangan mereka.
"Sampai jumpa."
Tiga pasang sayap terbuka di belakang punggung Agler, lalu sayap yang indah itu mengepak anggun di udara.
Sosok Agler terbang ke atas langit dengan cepat disaksikan oleh banyak orang.
"Ma-malaikat?"
"Idolaku bukan manusia?!"
"Aku tidak bermimpi, kan?"
"Malaikat sungguhan?! Aku kira dia itu malaikat di hatiku saja bukan di dunia nyata!"
"Tidak!! Jangan pergi!'
Banyak wanita yang berteriak enggan saat Agler pergi meninggalkan dunia ini.
"Sepertinya kita telah bertemu seorang malaikat bersayap enam."
Para petinggi hanya saling memandang dan tersenyum, mereka masih mempertahankan ekspresi tenang mereka sebagai seorang yang dihormati.
Di permukaan wajahnya tenang, tapi berbeda dengan hatinya, mereka tercengang dengan apa yang ditunjukkan oleh Agler.
"Agler seorang malaikat? Pantas saja dia tidak begitu tertarik dengan komik yang selalu aku tunjukkan, ternya dia bukan seorang manusia." Itami Youji terpana dan seketika tubuhnya lemah setelah melihat Agler terbang dengan tiga pasang sayap.
Melihat berlian di telapak tangannya, kilauan tekad muncul di matanya.
....
Sebuah cahaya yang bersinar terang muncul di atas langit Aquater, cahaya itu membentuk sesosok manusia.
"Cukup menyenangkan mengambil para pasukan dunia lain menjadi pasukan bayanganku." Agler tersenyum senang mengingat dia telah mendapatkan panen Pasukan Bayangan yang cukup banyak di dunia Gate.
Pasukan bayangannya cukup banyak, tapi Agler belum mendapatkan Shadow yang spesial atau istimewa, seperti punya SJW.
"Aku akan menyimpan lotere ini untuk sekarang, tunggu sedikit lebih banyak, baru aku akan memutar lotere."
Hadiah Misi Sepuluh Ribu Dunia telah memberikannya tiga tiket lotere, di mana jumlah tiket itu cukup banyak, bagi Agler itu belum cukup untuk memutar lotere. Ia ingin memutar dengan banyak sekaligus.
"Masih siang, lebih baik aku pergi ke rumah atau jalan-jalan."
Langit masih cerah karena sinar matahari tidak berhenti menembak cahayanya ke sebagian daerah Aquater.
"Mumpung ada Tsunade, lebih aku bertemu dengan mereka di rumah."
Agler terbang menukik dengan cepat mengarah ke rumahnya yang ada di Jakarta Selatan.
"Aku pulang!" seru Ager sambil mendorong pintu rumah.
Ram dan Rem mengangguk membenarkan pernyataan Alyona, Tsunade pun sama.
"Ini masih siang bagaimana kalau kita menonton film horor?" Alyona tiba-tiba memberi saran pada Agler dan wanitanya yang lain.
"Ram, mau nonton!"
"Rem juga!"
"Aku ikut kalian."
Tsunade tidak begitu tahu apa itu film horor, di dunia Naruto tidak ada namanya perfilman atau pun video dengan media televisi.
Di sana masih tradisional, serba tradisional.
Kecuali masuk ke era Borutod, itu sudah berbeda lagi.
"Aku juga bagaimana kalian saja." Agler tidak punya pilihan lain selain mengikuti maunya mereka.
Semuanya setuju dengan ajakan Alyona, jadi sesuai dengan perkataannya mereka semua pergi ke ruang keluarga dan mencari film horor di Mekflix.
"Pengabdi Raja Setan ini serem tau. Kalian mau?" Alyona mengendalikan remote control televisi di tangannya dan menekan film Pengabdi Raja Setan.
Mereka semua sudah lancar berbahasa Indonesia, itu sudah menjadi kegunaan Istana Dewi. Bahasa yang dipakai Agler akan dikirimkan ke semua wanitanya agar semua mengerti apa yang Agler katakan, ini bisa dikatakan juga sebagai keuntungan.
Sebab, apabila Agler menggunakan bahasa yang lain, semua wanitanya akan segera mengerti dengan apa bahasa yang Agler katakan dalam perkataannya.
Otomatis terpasang dan dipelajari oleh wanitanya tanpa perlu usaha untuk belajar.
Film horor itu telah dimulai, namun Agler tidak merasakan takut sedikitpun, dia lebih takut dengan psikopat daripada hantu yang ada di film.
Sepanjang film diputar, reaksi Agler hanya diam tanpa berekspresi, sedangkan wanitanya cukup terlihat ketakutan dengan jeritannya yang nyaring.
Baymax dan Pina pun ikut menonton film bersama mereka sampai film horor ini selesai.
"Ingin menonton lagi?"
Agler memandang wanitanya yang sedang memeluk dia saling bertumpukan, dua boba itu menyentuh Agler dengan jelas, ingin rasanya Agler pegang dan memainkannya.
"Tidak, sebentar lagi anak-anak pulang," jawab Rem yang sedang memeluk kepala Agler hingga kepalanya ditutupi oleh dua balon besarnya.
"Benar, kita harus menyiapkan makan siang."
Ram langsung berdiri melepaskan pelukan pada Agler, segera dia menarik Rem ke dapur untuk memasak.
"Alyona! Bantu kami!"
Suara Rem terdengar dari dapur, ia memanggil Alyona untuk membantu mereka berdua masak.
"Iya, sebentar!" Alyona menyahut dengan suara yang jelas.
"Sayang, aku ke dapur dulu, ya. Muach!"
Alyona mencium pipi Agler dengan perasaan yang gemas.
"Ayo, Tsunade. Kita belajar memasak bersama si kembar." Alyona memegang tangan Tsunade dan menariknya.
"Sebentar," potong Tsunade.
Sebelum Alyona ingin bertanya, Tsunade tiba-tiba mencium bibir Agler beberapa detik, lalu mengangguk pada Alyona.
"Ayo!"
Setelah melihat ini Alyona menggelengkan kepalanya, lalu mereka berdua pergi bersama.
"Semuanya benar-benar berani." Agler bersandar santai di sofa yang empuk.
Pina yang ada di ujung sofa bagian kanan melompat-lompat dan duduk di atas paha Agler.
"Sudah lama kamu tidak pergi ke ruang binatang psikis, Pina. Tidakkah kamu rindu teman-teman yang ada di sana?" tanya Agler seraya mengusap bulu lembut Pina.
Mendengar pertanyaan Agler, Pina menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak rindu teman-teman di sana.
"Kenapa?"
'Teman-teman di sana berbadan besar, Pina tidak menyukainya.'
Suara Pina terdengar oleh telinga Agler, setelah mendengar ini, Rai cuma bisa tersenyum.
Ia tidak bisa memaksakan keinginan untuk memasukkan Pina ke dalam Ruang Binatang Psikis. Biarkan saja Pina memilih.
"Kau tidak ikut mereka memasak? Biasanya kamu senang sekali saat melihat mereka memasak." Agler tahu kegiatan yang disukai oleh Pina.
Biasanya Pina suka melihat wanitanya memasak bersama untuk anak-anak makan, entah itu memasak untuk makan siang, malam, dan pagi.
'Iya, aku akan pergi. Dadah!' Pina menggosokkan kepalanya ke pipi Agler sebelum dia terbang menuju ruang dapur.
"Halo, Baymax!" sapa Agler pada Baymax yang duduk diam di sampingnya.
"Halo, Tuan."
Suara robotik terdengar oleh Agler, dan beberapa pertanyaan yang tidak penting dilemparkan kepada Baymax. Tujuan Agler seperti ini adalah untuk mengisi waktu luang.