Savior System

Savior System
Bab 124 : Touring PT 02


Setelah menunggu hampir satu jam lebih, akhirnya tiga wanita ini beranjak dari tempat ayunan.


Namun, ketika mereka bertiga berjalan keluar dari area ayunan, dan mereka melihat Agler yang berdiri menunggu mereka.


Mereka berdiam diri mematung, dengan ekspresi wajahnya yang terlihat terkejut.


Agler yang melihat ini pun ikut terkejut, kenapa tiga wanita ini tiba-tiba bertingkah aneh.


'Emm ... anu, permisi~" Wanita yang paling depan pertama yang tersadar lalu berjalan dan berkata dengan malu-malu kepada Agler.


"Ya." Agler meminggirkan tubuhnya agar mereka bertiga bisa berjalan keluar.


Setelah mereka bertiga melewati Agler, dan berjalan menjauh secara perlahan sambil mencuri pandangan kepada Agler, mereka bertiga bergosip membicarakan Agler.


"Asli! Aku baru pertama kali ngeliat cowok ganteng kaya cowok itu!" Salah satu wanita membuka percakapan dan mulai bergosip tentang Agler.


"Sutt! Jangan ngomong kencang-kencang, nanti doi tau." Temannya menegur wanita itu sambil memberi isyarat menaruh jari telunjuknya pada bibirnya.


Mereka bertiga asyik bergosip di belakang Agler, semua percakapan mereka bertiga terdengar oleh Agler. Mereka sia-sia menurunkan suaranya sampai berbisik-bisik, pada dasarnya mereka akan tetap terdengar di telinga Agler.


Mendengar mereka bertiga, Agler hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. Ia sudah bosan melihat adegan seperti ini, tiap kali keluar rumah.


Kacamata hitam manusia super yang Agler pakai dapat menurunkan ketampanannya, demikian Agler lebih jelek dari sebelumnya, namun itu tidak sesuai dengan kenyataan.


Ketampanan Agler memang berkurang, tapi berkurang dua puluh persen saja, mungkin kurang dari itu. Meski begitu Agler tetaplah tampan penuh pesona.


'Ketampanan tidak selalu membawa kebaikan,' batin Agler mengeluh atas ketampanannya.


Duduk di atas ayunan, Agler mencoba menikmati angin sejuk yang dibawa dari arah timur.


Membuka kacamata hitamnya, Agler memejamkan mata menikmati kedamaian tempat ini.


'Kamu lihat itu? Manusia ini memiliki ketampanan tanpa celah. Aku yakin dia pasti memiliki wanita yang banyak.'


'Iya, aku juga berpikir seperti itu.'


Suara aneh dan konyol terdengar oleh telinga Agler.


Tiba-tiba Agler membuka matanya dan segera menoleh ke segala arah mencari sumber suara itu.


"Suara apa itu?!" Agler menoleh ke kiri dan ke kanan, namun tidak melihat orang yang berbicara dengan suara yang mirip dengan sebelumnya.


'Hei, manusia ini terlihat aneh. Kenapa dia mendadak seperti itu?'


'Iya, aneh. Terlihat seperti mencari seseorang.'


Suara itu terdengar lagi, kebetulan Agler menangkap asal dari dua suara ini.


Perlahan Agler menundukkan kepalanya dan seketika melihat dua ikan mas yang menyembulkan kepalanya ke atas untuk melihat dirinya.


'Apakah manusia ini melihat kita?'


'Sepertinya begitu. Dia dari tadi menatap kita.'


Dua ikan mas berwarna oren dan putih corak hitam sedang membuka dan menutup mulutnya seolah mereka sedang berbicara satu sama lain.


Ternyata manipulasi hewan membuat Agler mengerti percakapan mereka berdua.


'Bisakah dia mendengar pembicaraan kita?'


'Dia bisa mendengar apa yang kita katakan sepertinya.'


Obrolan dua ikan mas ini selalu membicarakan dia, bahkan hewan dan binatang pun ikut membicarakan ketampanannya, ada-ada saja.


'Halo, kalian berdua!' Agler mencoba berkata menggunakan telepatinya kepada dua ikan mas ini sambil tersenyum menatap mereka.


'Apakah manusia ini berbicara dengan kita?'


'Sepertinya begitu, kawan.'


Agler tidak tahu ingin tertawa atau sedih melihat mereka dua ikan ini. Dua sosok mereka sangat aneh jika sedang berbicara.


'Kalian, apakah kalian ingin roti untuk makan?' tanya Agler kepada dua ikan ini.


'Memang kau punya roti?' tanya kembali ikan berwarna oren.


'Punya, tapi tunggu sebentar, aku ingin membelinya di sini.' Agler beranjak dari ayunan itu dan mulai berjalan mencari warung kecil yang berjualan roti.


Sepanjang Agler berjalan, orang-orang akan melihat dirinya, bahkan tidak sedikit orang yang tidak fokus pada aktivitasnya setelah melihat wajah Agler.


Ia lupa mengenakan kacamata kembali, jadi Agler memakai kacamata, tapi orang-orang di sini sudah mengetahui ketampanannya.


Tidak lama berjalan, Agler menemukan warung dekat parkiran mobil dan motor, dia membeli dua roti yang cukup besar.


Pulang dari membeli roti, banyak sekali orang yang mengambil foto dirinya secara terang-terangan atau pun bersembunyi, terlebih banyak wanita yang memotretnya diam-diam. Agler sedikit risih dan tidak nyaman karena perbuatan mereka.


Banyak orang yang menunggu ingin mendapatkan kesenangan ketika duduk di ayunan, jadi setelah Agler pergi membeli roti, tempat ayunannya telah diisi oleh orang lain.


Daripada menunggu giliran, Agler berjalan menyusuri telaga ini, mencari tempat yang tepat untuk memberi makan ikan.


'Kalian berdua, di mana kalian? Segera ke sini aku ingin memberi kalian roti.' Agler menggunakan telepatinya untuk memanggil dua ikan mas yang sempat berbicara dengannya.


'Kita berdua ke sana, tunggu.' Salah satu ikan mas tadi menjawab panggilan Agler. Mereka berdua berenang menghampiri Agler.


Tak menunggu lama hingga beberapa menit, dua ikan mas ini muncul di depan Agler, dan menimbulkan kepalanya ke atas menghadap Agler.


Membuka bungkus roti, Agler perlahan mencubit roti, menyobeknya dan melemparkan kepada mereka.


'Apakah kalian sudah lama hidup di sini?' tanya Agler membuka pembicaraan.


'Kita berdua tinggal di sini bersamaan. Kurang lebih sepuluh tahun,' jawab Ikan mas berwarna oren setelah memakan roti yang Agler lempar dari waktu ke waktu.


'Benar, kami berdua ada di sini di waktu bersamaan, bahkan di hari dan jam yang sama.' Ikan mas putih hitam juga menambahkan.


Agler mengangguk mendengar jawaban mereka berdua, umur mereka lumayan tua atau sudah cukup dewasa bagi seekor ikan mas.


Umur ikan mas hanya sampai lima belas hingga dua puluh tahun saja. Jadi mereka cukup tua dan dewasa.


'Kalian berdua, apakah betah di sini?' Agler bertanya lagi atas rasa penasarannya, apakah seekor ikan mas merasakan apa itu kebosanan dan rasa nyaman.


'Sebenarnya aku juga bosan di awal-awal, tapi di sini banyak sekali jenis kita, jadi aku tidak merasakan bosan apalagi kesepian.'


Ikan mas berwarna oren selalu menjawab pertama pertanyaan yang dilontarkan oleh Agler, menjawab sambil memakan remah roti yang dilemparkan Agler.


'Aku juga setuju. Aku tidak merasa begitu bosan,' tegas Ikan mas berwarna putih dan hitam. 'Namun, akhir-akhir ini kita semua mendapatkan kabar bahwa ada sesuatu yang berbahaya, dan itu membuat kita khawatir.'


Agler memicingkan matanya dan mengubah ekspresinya menjadi serius. 'Kabar apa itu?'


'Entahlah, aku tidak begitu mengerti. Terpenting ada sesuatu sosok yang berbahaya, tapi tidak tahu di mana asal dan keberadaannya,' balas Ikan mas berwarna putih dan hitam.


'Benar, kami mendapatkan kabar itu, tapi yang lain tidak tahu apa sesungguhnya dari sesuatu yang berbahaya itu,' ucap Ikan mas berwarna oren. 'Selagi ada manusia di sini, aku merasa kita akan baik-baik saja. Apalagi di kalangan manusia terdapat sosok kuat yang selalu melindungi mereka semua.'


'Benar, aku tidak begitu khawatir, ikan di sini juga sama.'


Mendengar kata-kata mereka, Agler hanya bisa tersenyum kecil. Ternyata hewan dan binatang pun bergantung kepadanya.


'Baiklah kawan, terima kasih atas informasinya.' Agler tersenyum kepada mereka berdua.


'Sama-sama!' Kedua Ikan mas ini menjawab hampir bersamaan.


'Oh ya, aku baru pertama kali mengobrol dengan manusia sepertimu,' ujar Ikan mas oren kedua matanya menatap sosok Agler, terlihat manusiawi.


'Benar, aku juga sama, seumur hidup aku baru pertama kali berbicara dengan manusia.' Ikan mas berwarna putih dan hitam menambahkan.


'Umumnya manusia tidak akan pernah mendengar suara kita, lalu kenapa kamu bisa?' Ikan mas Oren berkata dengan sedikit bingung. Otak kecil mereka tidak sampai memikirkan ini.


'Iya, aneh.'


Agler menutupi wajahnya sambil menggelengkan kepalanya, dia tidak tahan untuk tidak tertawa kecil.


Melihat roti di tangannya sudah habis, Agler berniat untuk pergi.


Kemudian Agler dengan cepat menyesuaikan ekspresi wajahnya, dan kembali memandang mereka berdua.


'Sebenarnya aku adalah orang yang kamu bicarakan tadi.' Agler terdiam sejenak lalu bangkit dan berdiri, 'Terima kasih sudah mengobrol denganku, sungguh kalian berdua sangatlah lucu. Aku harap kita dapat bertemu lagi di sini .... Selamat tinggal, kalian berdua!'


Agler mengambil sampahnya sebelum berbalik, dan meninggalkan mereka berdua tanpa melihat ke belakang.


'Manusia ini aneh, tiba-tiba pergi begitu saja.'


'Tapi, apakah kamu mengerti apa yang dimaksud olehnya?' tanya Ikan mas berwarna oren kepada temannya.


Ikan mas berwarna putih dan hitam merenung sejenak, dan berkata, 'Dia bilang kita berdua membicarakan sesuatu tentangnya."


'Menurutku dia berkata merujuk pada seseorang yang ada di kaum manusia. Kita sempat membicarakannya, bukan?'


Setelah mendengar ucapan temannya, Ikan mas oren juga ikut merenung sesaat, sebelum akhirnya berbicara dengan nada yang berbeda, 'Apakah dia seseorang itu?'


'Orang apa?' tanya temannya belum mengerti.


'Sosok yang melindungi manusia!'


Kedua ikan mas ini berubah wajahnya, dan segera membalikkan tubuhnya, kembali berenang ke dalam telaga.