Savior System

Savior System
Bab 159: Empat Gadis Satu Anjing?


Tepat ketika Agler asik memandang anak-anak bermain di taman, suara mekanis khas Sistem muncul di benaknya.


[Ding! Misi Sepuluh Ribu Dunia Telah Terdeteksi!]


[Misi: Selamatkan 5 gadis dan 1 anjing dari dunia yang kacau dan bawa mereka ke dunia nyata.]


[Hadiah: 2 Tiket Lotere, 200 Savior Coin.]


[Hukuman: Tidak ada.]


[Apakah Anda menerima misi?]


Agler tidak terburu-buru menjawab pertanyaan Sistem, saat ini ia sedang mengingat kembali kenangan kehidupan sebelumnya yang terkait dengan misi kali ini.


"Empat gadis dan satu anjing? Dunia kacau?" Agler merenung berusaha mengingat kembali mengenai dunia yang dimaksud oleh Sistem.


Beberapa saat kemudian ia berpikir mengenai hal ini, tetapi Agler tidak dapat mengingat tentang dunia misi kali ini.


"Empat gadis siapa itu? Anjing yang mana? Aku lupa dengan dunia yang akan kunjungi kali ini." Agler menyerah untuk mengingat lagi dunia misi.


Meski Agler memiliki kecerdasan yang melebihi rata-rata dari orang biasa, tetapi ingatan kehidupan sebelumnya tidak bisa dikembalikan keseluruhannya, hanya beberapa ingatan yang berkesan yang akan diingat oleh Agler dengan sendirinya.


"Sebaiknya aku ke sana daripada memikirkan hal yang tak pasti."


"Terima misi!" kata Agler dengan yakin.


[Ding! Mulai memindahkan ...]


Sebuah lampu putih yang bersinar terang membungkus seluruh orang, lalu sosok Agler menghilang bersamaan dengan cahaya putih yang sirna.


....


Di sebuah perumahan dekat suatu sekolahan.


Cahaya putih terang muncul di salah satu rumah, sinar cahaya putih terus mengembang dan akhirnya mengecil lalu menghilang, sinar putih ini menyisakan sesosok pemuda yang tampan dengan pakaian olahraga serba hitam dengan jaket hitam untuk olahraga.


"Kenapa sunyi sekali?"


Setelah sampai di dunia misi saat ini, Agler melihat bahwa perumahan tempat ia mendarat begitu sunyi.


Berjalan ke pinggir atap rumah berlantai tiga, membungkuk dan melihat jalan.


Agler melihat banyak makhluk yang diam tak bergerak di jalan, dengan tubuh mirip manusia yang penuh luka dan daging yang terkelupas, sosok ini mengingatkan Agler dengan makhluk yang ada di banyak film horor.


Makhluk itu adalah zombie!


"Aku di dunia zombie? Dunia Resident? Atau High School of the Dead?" Agler menebak-nebak dunia apa yang ia datangi sekarang.


Makhluk yang ada di jalan ini adalah zombie atau mayat hidup, namun Agler tidak tahu pasti apakah zombie ini masih memiliki kesadaran manusia atau tidak.


Dari segi tampilan, zombie di dunia tampaknya tidak begitu berbahaya, cara jalan dan gerakan zombie begitu lambat, dapat diidentifikasikan bahwa zombie ini lemah.


Melihat langit yang akan cerah, sepertinya waktu sekarang sedang menuju pagi.


Agler melompat ke bawah begitu saja, dan mendarat tanpa ada luka.


Mendengar suara benturan dari Agler yang mendarat di aspal jalan, para zombie menoleh ke arah Agler dan berjalan mendekatinya.


Benar dengan dugaannya, zombie ini memang lemah, berjalan saja begitu lama dan tertatih-tatih.


Wajah dari zombie ini begitu menyeramkan dengan daging yang melambai serta darah yang mengalir keluar, visual masing-masing dari mereka begitu menakutkan.


Sekian lama Agler perhatikan, monster-monster zombie ini sebagian besar memakai sebuah seragam sekolah, juga Agler mengenali seragam ini.


"Bukankah ini ... seragam sekolah Jepang?" Agler bergumam pada diri sendiri sembari menunggu zombie yang mendekatinya.


Seragam putih dengan kerah hijau dan ada juga yang biru gelap, rok pendek dan celana bahan, dan juga tali dasi merah yang melilit di bawah kerah seragam.


"Mungkinkah dunia ini adalah dunia zombie yang penuh dengan tokoh wanita yang montok dan seksi itu?"


Pikiran Agler menebak ke arah dunia pada anime High School of the Dead, di film itu terdapat tokoh wanita yang begitu seksi tak seperti seorang wanita yang masih bersekolah, terlebih ada guru yang Agler sukai di film itu, bobanya begitu besar sehingga Agler ingin mencicipinya.


Begitu memikirkan hal ini, Agler tak bisa menahan air liurnya yang tanpa sadar keluar, membayangkan wanita-wanita itu membuat ia terpesona.


Kraahh!


Sebuah suara mengganggu khayalan Agler, mendengar suara teriakan zombie Agler langsung pulih.


Sebuah tangan yang mengkerut dan jelek muncul di depan wajah Agler, dengan cepat Agler bereaksi dan memukul tangan itu dengan santai.


Bum!


Zombie yang menyerah Agler langsung meledak menjadi daging cincang, hanya menyisakan dua kaki yang masih berdiri di jalan.


"Mengganggu imajinasiku saja!" Agler berkata sedikit kesal karena imajinasinya diberhentikan karena zombie tersebut.


Agler tidak perlu lelah untuk mengurusi zombie ini, ia hanya perlu berjalan ke depan dan membiarkan zombie-zombie ini mati dengan cara membeku.


"Bisakah aku membuat zombie ini menjadi bayanganku?" Sebuah ide muncul tiba-tiba di dalam benak Agler.


Ia memiliki ide untuk menjadikan para zombie ini pasukan bayangannya, akan tetapi ada sebuah pertanyaan yang menahannya untuk tidak melakukan itu.


"Virus zombie bukankah termasuk dalam kategori penyakit? Seharusnya aku bisa menyembuhkan mereka dengan api biru hitam milikku." Agler berpikir hal tersebut di dalam kepalanya.


Salah satu kemampuannya yang kuat terdapat efek penyembuhan yang begitu luar biasa, bahkan dapat menyembuhkan penyakit, karena penyakit itu banyak yang berasal dari virus, semestinya itu dapat disembuhkan dengan kemampuannya, yaitu api Phoenix biru hitam penyembuhan.


[Ding! Dunia ini ada yang memegangnya Tuan Rumah, apabila Anda melakukan itu untuk semua orang yang ada di dunia ini, pengendali dunia ini akan datang untuk melawan Tuan Rumah.]


Ketika memikirkan persoalan tersebut, suara Sistem muncul dan memperingatkannya untuk tidak melakukan hal yang dipikirkannya.


Akan tetapi, Agler menjadi penasaran dengan seseorang yang memegang dunia ini.


"Jika aku melawannya, apakah aku akan menang?"


[Ding! Kemungkinan besar akan kalah, diharapkan Tuan Rumah untuk tidak melakukan hal itu.]


"Aku belum cukup kuat untuk mengalahkannya?" tanya Agler dengan heran.


Padahal dirinya sendiri sudah kuat untuk menghancurkan dunia ini dengan kekuatannya, akan tetapi Sistem berkata bahwa Agler akan kalah melawan sosok tersebut.


[Belum, Tuan Rumah. Anda belum bisa mengalahkan sosok itu dengan kekuatan Anda sekarang.]


"Jadi, aku bisa mengalahkannya di masa depan?"


[Benar, Anda mungkin bisa kembali ke dunia ini untuk melawan sosok pemegang dunia ini.]


[Jika Anda dapat mengalahkannya, suatu hadiah akan Anda peroleh.]


"Sungguh?"


Mendengar perkataan Sistem membuat Agler berbinar dan bersemangat, ia tak sabar untuk mengalahkan sosok ini.


[Benar.]


Agler mengangguk mengerti, ia berambisi untuk mengalahkan sang pemegang dunia ini.


Untuk saat ini, Agler hanya perlu manjadi kuat supaya bisa mengalahkan seseorang yang kuat tersebut.


Menyisihkan pemikiran itu, Agler kini fokus pada zombie-zombie ini, ia memikirkan untuk membuat zombie menjadi pasukannya atau tidak.


"Aku akan mengambil alih dunia ini nanti, lebih baik aku biarkan saja mereka seperti ini, tunggu sampai kembali untuk menyembuhkan kalian menjadi manusia lagi."


Mengingat sosoknya yang adalah sang penyelamat, tidak etis untuk membiarkan manusia yang menjadi zombie tanpa sengaja ini menjadi pasukan bayangannya.


Jikalau mereka menjadi pasukan bayangan, jiwa mereka tidak kembali ke alam baka, dan akan tertahan dalam bentuk bayangannya.


"Aku akan membatalkan niatku untuk membuat mereka menjadi pasukan bayanganku, sebaiknya aku kembali fokus pada Misi."


Lalu, kenapa Agler menjadikan manusia dunia lain di dunia Gate menjadi pasukan bayangannya, karena Agler melihat keserakahan dan kejahatan pada mereka-mereka ini, jadi Agler tidak menahan untuk menjadikan mereka pasukan bayangannya.


"Tampaknya aku harus pergi ke sekolah itu." Agler berhenti di depan para patung zombie yang membeku dan memandang gedung sekolah yang berada di kejauhan.


Kemudian Agler berjalan menuju gedung sekolah, meninggalkan zombie yang membeku di jalan.


Di sisi lain, di dalam ruang kelas yang ada di sekolahan.


Terdapat empat gadis yang masih tertidur pulas, penampilan empat gadis ini sangat cantik dengan rambutnya yang memiliki warna unik.


Seorang gadis berambut merah muda yang sedang tidur dalam keadaan duduk bersandar di suatu barang bersama gadis berambut krem tiba-tiba terbangun dari tidurnya.


Sepasang pupil mata merah jambu terlihat jelas ketika gadis itu membuka matanya, lalu di depannya terdapat seorang gadis yang juga sudah bangun dari tidurnya.


Gadis berambut ungu tua itulah yang terbangun, ia tidur di atas sofa merah ditemani olah gadis yang lain berambut cokelat panjang.


Terlihat gadis berambut ungu tua ini sakit, sebab kain kasa menahan luka di tangan kanannya.


"Sutt~" Gadis berambut ungu tua yang terbangun itu memberi isyarat kepada gadis berambut merah muda untuk diam jangan bersuara, karena dua gadis yang lain masih tidur.


Alih-alih diam, gadis berambut merah muda itu bangkit dan mendekati gadis berambut ungu tua sembari berkata dengan keras, "Kurumi-chan! Kurumi-chan!"


Memeluk gadis berambut ungu tua, dan kemudian gadis rambut merah muda itu menangis di pelukan gadis berambut ungu tua yang bernama Kurumi.


"Cup, Cup, jangan menangis." Kurumi menenangkan gadis berambut merah muda yang menangis.


Akibat suara tangisan yang kuat, kedua gadis berambut cokelat panjang dan krem pendek itu bangun dari tidur, lalu menatap sosok Kurumi yang sedang menenangkan gadis rambut merah muda.


Kelihatannya ada sesuatu yang terjadi pada gadis yang bernama Kurumi yang membuat ketiga gadis yang lain khawatir dengannya.