
"Benar apa yang istriku katakan, air terjun lebih memesona ketimbang yang diberitakan. Suasana nyaman dan tenang bisa kita rasakan sambil mendengarkan suara air yang jatuh dengan skala yang besar, seolah-olah menciptakan musik yang dimainkan oleh alam, sangat menenangkan," sambung Tuan Carl yang tengah memegang biskuit cokelat.
Saat bicara, mata Kakek Carl melihat air terjun di kejauhan dengan pandangan yang puas.
Dalam hati mereka berdua berbunga-bunga dan sangat bahagia, siapa pun pasti bahagia jika tujuannya tercapai.
Atmosfer di sini sangat tentram dan damai, keduanya sangat menikmati suasana di sini.
Agler juga dengan jelas merasakan kenyamanan yang merasuki tubuhnya, air terjun ini sangat indah.
Setelah mereka makan siang, mereka mendekati air terjun lagi untuk melihat lebih jelas. Angin dingin yang dibawa air ketika jatuh menerpa mereka semua, ini membuat mereka makin terpesona.
Tuan Carl dan Nyonya Ellie ingin sekali berenang, tetapi kondisi air terjun saat ini tidak memungkinkan mereka untuk berenang karena air yang jatuh juga memiliki volume yang besar, takut akan terjadi sesuatu yang buruk, seperti tenggelam dan terseret arus air yang deras.
Dikarenakan Tuan Carl dan Nyonya Ellie bersikeras ingin berenang dan wajah mereka sudah sangat kecewa, Agler merasa kasihan dan akhirnya menuruti permintaan mereka berdua.
Agler bergerak dengan cepat dan membuat pemandu wisata mereka pingsan untuk beberapa saat. Melihat gerakan Agler yang tiba-tiba ini, Tuan Carl dan Nyonya Ellie terkejut dan hampir berteriak.
Setelah itu, Agler mengaktifkan golem tanahnya di radius 1 kilometer dari daerah Paradise Falls untuk mengawasi orang yang datang ke sini, kemudian ia mengendalikan air terjun ini agar tidak deras seperti normal, sungai yang ada di atas gunung itu Agler tahan dan diminimalisir volume airnya dengan cara membuat cabang aliran baru yang mengarah ke penampungan yang Agler buat untuk sementara waktu, nanti ia akan tutup aliran tersebut ketika pasangan tua ini selesai berenang.
Apabila Agler membekukan aliran sungai yang ada di atas gunung ini, hal itu akan menyebabkan air yang ada di pangkal sungai meluap dan kawasan pemukiman sekitar banjir, jika ia ingin membekukan sungai, ia harus membekukan semuanya sampai ke sumber air sungai.
Namun, hal itu tidak bisa Agler lakukan, banyak sesuatu hal yang buruk akan terjadi jika semua aliran sungai dibekukan, ia tak mau menimbulkan masalah di dalam dunia yang damai ini.
"Sangat nyaman, seperti di surga." Tuan Carl yang sudah dikuatkan tulang dan seluruh tubuhnya tengah bersantai di pinggir sungai yang jatuh dari atas gunung.
Tuan Carl berenang memakai baju dan celana pendek, sedangkan Nyonya Ellie memakai pakaian berenang bikini.
Meskipun sudah tua, ternyata tubuh Nyonya Ellie dan Tuan Carl masih bagus, terlebih Nyonya Carl, dia masih langsing.
Mungkin itu efek dari tidak pernah hamil sehingga perutnya tidak membesar atau melebar.
Bersandar di sebelah suaminya, Nyonya Ellie tersenyum manis dan ia merespons gumaman Tuan Carl, "Ini memang surga, namanya saja Air Terjun Surga, haha!"
Agler menatap mereka dengan ekspresi yang senang, mereka berdua sangat menikmati perjalanan ini.
Pasangan itu berenang cukup lama, mungkin hampir satu jam. Merasa puas bermain air di sini dan menikmati suasana alam yang kental, mereka membereskan barang-barangnya, mereka berniat untuk pulang sebelum sore makin gelap.
Pemandu yang pingsan telah Agler sadarkan, ia dengan cepat memasukkan perkataan bahwa Pemandu tidak sengaja tertidur saat makan siang berlangsung, Pemandu tersebut awalnya tidak yakin, tetapi karena banyak suara yang bilang bahwa ia tertidur, Pemandu ini akhirnya percaya walaupun sedikit skeptis.
Tuan Carl dan Nyonya Ellie menambah suara untuk Pemandu ini percaya, dan itu efektif.
"Ayo kita kembali! Matahari sudah makin menurun." Agler menatap mereka bertiga dan berjalan ke jalur yang ia lalui ketika datang ke sini.
Mereka berempat berjalan berbaris dengan dipimpin oleh Pemandu dan dijaga oleh Agler yang berada di barisan paling belakang.
Perahu yang mereka naiki masih ada di sungai, Pemandu sudah mengamankan perahu kano ini. Tidak perlu risau lagi tentang transportasi untuk bisa kembali ke Canaima Camp.
Beberapa jam berlalu, perahu panjang yang mereka berempat naiki akhirnya sampai di Canaima Camp, beruntungnya tidak terlalu malam, mereka sempat menikmati pemandangan matahari terbenam di perjalanan.
Di sana, mereka bertiga menginap di salah satu penginapan yang sudah Agler pesan untuk satu malam, keesokan harinya mereka berangkat untuk pulang kembali ke rumah Tuan Carl dan Nyonya Ellie.
Waktu yang dibutuhkan untuk sampai kembali ke rumah lebih lama ketimbang keberangkatan mereka ke Paradise Falls.
Mereka menyempatkan waktu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, bukan Agler, melainkan pasangan tua yang mesra satu ini.
Jujur saja, Agler merasa dirinya menjadi nyamuk atau orang lewat selama di perjalanan, mereka berdua selalu bermanja diri depan matanya.
Melihat keduanya yang kerap bermesraan ini, membuat Agler rindu dengan wanita-wanitanya di Aquater, sudah lama ia tidak bermain dengan mereka, bermain malam.
Di dalam pesawat, Agler merenung memikirkan wanita-wanitanya yang cantik dan seksi, terlebih goyangan mereka yang dahsyat dan sangat cakap.
Tuan Carl memperhatikan Agler yang sedari awal naik pesawat menjadi pendiam, bagai mulutnya diperban ketat. Melihat tidak ada yang lewat, Tuan Carl menepuk pundak Agler yang posisi Agler sedang duduk di kursi seberang.
"Kenapa diam saja, Agler? Apa ada hal yang kamu pikirkan? Ada yang perlu aku bantu? Bilang saja padaku." Tuan Carl menatap ramah Agler dan sorot matanya terlihat peduli.
Agler sedikit tersentak karena tepukan pundak dari Tuan Carl, ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Tuan Carl. Aku hanya rindu seseorang."
"Seseorang?" Alis mata Tuan Carl naik dan ia melirik Agler sambil tersenyum memiliki arti. "Apakah itu pacarmu yang kamu rindukan?"
"Emm, sepertinya iya." Senyuman Agler terlihat salah. Sebenarnya, ia bingung harus menjawab dengan kalimat apa.
Sebetulnya, ia merindukan banyak orang, yaitu wanita-wanitanya, bukan satu orang saja.
"Sabar, sebentar lagi kita mendarat. Kamu boleh meninggalkan kami berdua setelah kita sampai di rumah." Tuan Carl seperti mencoba meringankan rasa gelisah Agler. Ia menjanjikan sebuah izin untuk Agler boleh meninggalkan keduanya.
Agler menanggapi Tuan Carl dengan senyuman dan anggukan, menunjukkan bahwa dirinya paham.
Beberapa saat kemudian, pesawat yang ditumpangi mereka bertiga berhasil mendarat dengan mulus dan selamat di bandara.
Sebelum pergi langsung ke rumah, Agler mengajak mereka untuk makan di restoran di bandara pesawat. Setelah itu, mereka bertiga berangkat ke mall yang ada di kota. Agler berencana untuk membuat senang mereka berdua untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggalkan dunia yang damai ini.
Mereka berdua sangat bahagia karena membeli banyak pakaian dan barang mewah, Agler mengizinkan mereka untuk membeli apa pun yang mereka mau.
Sekeping berbelanja, mereka tidak ke mana-mana lagi, dan langsung pulang ke rumah menggunakan mobil sewa yang mewah.
Pada kesempatan ini, Agler benar-benar ingin memanjakan keduanya, ia memperlakukan mereka seperti ini sebagai ungkapan terima kasihnya karena mereka berdua sudah membuat masa kecilnya berwarna.
Film kartun keduanya menemaninya saat kecil walaupun di awal cerita sudah membuatnya sedih.
[Ding! Selamat Kepada Tuan Rumah Anda Telah Menyelesaikan Misi Sepuluh Ribu Dunia!]
[Hadiah Telah Diberikan!]
Suara mekanis Sistem terdengar di telinga Agler, misi ini telah resmi selesai.
[Apakah Anda ingin tinggal di sini atau pergi ke dunia nyata?]
[Ding! Hitungan mundur kembali ke dunia nyata dimulai!]
[02 Menit 59 detik]
[02 Menit 58 detik]
[...]
Agler menatap Tuan Carl dan Nyonya Ellie yang sedang duduk di tempat duduk kesukaan mereka, wajah Agler masih mempertahankan senyuman yang lembut ke arah keduanya.
Sudah waktunya ia menyatakan perpisahan kepada mereka berdua, ia diberi waktu 3 menit oleh Sistem sebelum pergi ke dunia nyata.
Mereka berdua memandang Agler kembali dan tersenyum, tampaknya mereka tahu bahwa Agler ingin pergi dari sini.
Saat berikutnya, tiba-tiba tangan kanan Agler terulur ke depan ke arah mereka. Melihat gerakan Agler, mereka berdua bingung dan menatapnya dengan pandangan yang penasaran.
Di bawah tatapan Tuan Carl dan Nyonya Ellie, puluhan emas batangan muncul di atas tangan Agler, dan itu melayang tidak menyentuh telapak tangan Agler, setiap batangan emas ini memiliki ukuran yang besar dan panjang.
Tidak sampai di situ, Agler mengulurkan tangan kirinya dan sebuah berlian berwarna merah yang memiliki ukuran sebesar bola pingpong dengan jumlah 7 buah berlian muncul dan terbang di atas telapak tangannya.
Tuan Carl dan Nyonya Ellie terkejut sampai keduanya membuka mulut sangat lebar dan mata mereka membelalak menatap ke arah Agler.
Puluhan batang emas dan 7 berlian merah itu diletakkan ke dalam sebuah kotak kayu yang secara tiba-tiba terbentuk, Agler menggunakan kekuatan manipulasi tanaman untuk membuat kotak kayu yang mirip dengan kotak harta karun di film bajak laut.
Setelah itu semua, Agler menerbangkan kotak kayu tersebut ke lahan yang kosong di dalam ruang keluarga ini.
"Tiga puluh tiga emas batangan dan tujuh buah berlian telah menjadi milik Tuan Carl dan Nyonya Ellie. Kalian berdua tidak perlu bingung tentang uang, nikmati masa tua kalian berdua dengan gembira tanpa ada masalah yang datang," Agler berkata dengan lembut dan senyuman yang paling tulus. "Ini, ambil batu ini, Tuan Carl. Batu ini adalah sesuatu yang akan menyelamatkan kalian berdua saat ada sebuah peristiwa yang darurat dan berbahaya."
Agler menyerahkan sebuah batu yang sebagiannya diselimuti es abadi. Batu itu adalah FrozenGolem atau Golem Es yang siap untuk melindungi Tuan Carl dan Nyonya Ellie.
"Batu apa ini?" Tuan Carl bertanya sambil melihat ke batu aneh yang dipegang.
"Batu penyelamat yang hanya digunakan untuk melindungi kalian, Tuan Carl hanya perlu melempar batu itu ke tanah, sesuatu akan muncul setelahnya dan itu akan melindungi kalian berdua," Agler menjelaskan secara singkat dan jelas.
"Batu penyelamat?" Tuan Carl terus melirik batu di tangannya dengan tatapan yang serius.
"Simpan baik-baik, Tuan Carl."
"Ya, aku akan menyimpannya dengan baik." Tuan Carl mengangkat kepalanya dan mengangguk, kemudian ia memasukkan batu itu di kantong celananya.
Melihat ini, Agler tersenyum, perlahan ia melangkah ke depan untuk lebih dekat ke Tuan Carl dan Nyonya Ellie.
Segera, Nyonya Ellie tiba-tiba memeluk Agler dan mengusap punggungnya dengan lembut. "Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah membantu banyak kita berdua, membantu kita pergi ke tempat yang selalu ingin kita lalui, aku tidak tahu harus bagaimana untuk membayar semua kebaikanmu. Aku dan Carl hanya bisa mengucapkan terima kasih."
"Tidak perlu membalas, memang sudah tugasku ke sini untuk membantu kalian berdua." Agler menggelengkan kepalanya dan membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Nyonya Ellie.
Kemudian Nyonya Ellie melepaskan pelukannya dan menatap Agler dengan mata yang penuh kerinduan.
"Terima kasih banyak, Nak. Aku senang sekali kamu telah datang dan menolong kami, aku sangka hidupku akan suram dan sendirian begitu istriku pergi karena sakit, ternyata tidak, kamu tiba-tiba menolong istriku dan kehidupanku," Tuan Carl berkata dengan ekspresi yang serius dan sedih. "Aku hanya memiliki ini, ambillah, lencana ini adalah hadiah terbaik yang aku berikan kepadamu."
Sebuah lencana dari tutup botol minuman soda anggur diberikan ke tangan Agler, ini adalah lencana legendaris yang Agler lihat di kartunnya.
Seharusnya, lencana ini diberikan kepada Bocah Pramuka, tetapi ia tak sengaja merebut lencana ini dari bocah itu.
Omong-omong, apakah anak kecil itu sudah lahir di tahun ini? Agler penasaran.
Namun, sayangnya waktunya sudah sedikit, hanya tinggal 10 detik.
"Terima kasih, Tuan Carl. Hadiah ini aku terima, aku menyukainya."
"Syukurlah, ambil saja."
"Baik!" Agler mengangguk lalu menyimpan lencana ini di kantong hoodienya.
"Kalau begitu ... aku pergi dahulu, Tuan Carl, Nyonya Ellie." Agler menatap mereka dengan mata yang melengkung dan senyuman yang tulus.
Berikutnya, sebuah cahaya ilahi tiba-tiba membungkus sekujur tubuhnya sehingga menyinari seluruh orang.
"Selamat tinggal!"
Di detik berikutnya, wujud Agler berubah menjadi titi cahaya yang bersinar terang dan terbang menembus atap rumah.
Mereka berdua tidak bereaksi selama 1 menit setelah Agler terbang dan menghilang.
Keduanya saling memandang dan berpelukan, dari wajah keduanya tampak sedih, mereka merasa enggan atas kepergian Agler.
"Anak yang baik." Tuan Carl memegang batu di tangannya dan melihat ke langit-langit rumah.
"Dia memang anak yang baik dan ajaib," Nyonya Carl menambahkan.
Setelah keduanya mengatakan itu, mereka duduk di atas kursinya masing-masing dan membuka sebuah buku petualangan keduanya ke Paradise Falls. Lembar demi lembar mereka lihat hingga akhirnya di sana terdapat gambar Agler dan mereka berdua berfoto bersama dengan latar belakang air terjun yang tinggi. Foto yang sangat menghangatkan hati.
Pada saat yang sama, Agler muncul di permukaan matahari dengan keadaan tanpa memakai busana, wajahnya masih terlihat senang dengan senyum yang berseri-seri, tetapi ... senyum itu berangsur menghilang dan digantikan dengan wajah yang sedih.
Agler juga merasa sedih meninggalkan kedua orang tua itu.
"Sistem, berapa tiket lotere yang aku punya?"
[Ding! Tiket lotere tersisa 7 buah.]
[Apakah Anda ingin memulai memutar lotere?]
"Hmm ...." Agler merenung sejenak, kemudian melanjutkan. "Nanti saja, aku ingin pergi ke rumah."
Usai berbicara itu, sosok Agler menghilang dan ia terbang menuju rumahnya di Aquater.