Savior System

Savior System
Bab 26 : Semoga Sukses Anak-Anak


Agler berbincang dan mengobrol dengan orang-orang yang mengurus dan merawat anak-anak di panti asuhan ini.


Sedangkan Farid bersama temannya dibiarkan bermain dengan anak-anak panti asuhan, agar mereka saling mengenal.


Panti asuhan ini masih terletak di Jakarta Selatan, Agler sengaja memilih panti asuhan ini karena tempatnya tidak terlalu jauh untuk dipindahkan ke tempat yang baru di dekat rumahnya.


Dia berada di panti asuhan sampai jam 14:15 WIB, Agler dan 10 anak yang sudah lelah bermain, ingin berpamitan dengan Ibu Komariyah serta jajaran pengurus dan anak-anak di sini.


"Ini ada rezeki buat ibu, jadi tolong diterima." Agler mengepalkan 5 amplop yang berisi uang 2 juta rupiah di setiap amplop, dan memberikan kepada masing-masing perawat di sini.


"Pak ini terlalu banyak!"


Ibu Komariyah agak sedikit enggan untuk menerimanya karena Agler sudah terlalu banyak membantu mereka.


"Terima bu, ini ongkos untuk besok mengurus keperluan pemindahan panti asuhan," ucap Agler.


Kemudian dia memberikan nomor telepon kepada ibu Komariyah, dan berkata, "Ini nomor saya, kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya."


"Iya pak! Terima kasih banyak sudah membantu kami, semoga bapak serta keluarga dilancarkan rezekinya dan panjangkan umurnya," ucap Ibu Komariyah penuh rasa terima kasih.


"Aamiin, Kita pamit dulu ya bu," pamit Agler.


Bangkit dari bangku lalu bersalaman dengan para perawat di sini.


"Hati-Hati pak di jalan!"


"Iya bu."


Mereka semua termasuk Kotet keluar dari rumah panti Asuhan, dan masuk ke mobilnya masing-masing.


Dua mobil perlahan melaju meninggalkan Panti Asuhan.


•••••


Saat sampainya di rumah, Agler disuguhi mobil baru di depan gerbang rumahnya.


Ternyata Jarvis memesan dua mobil Toyota Alphard, telah sampai di Rumah Agler tepat ketika mereka sampai di rumah setelah pulang dari Panti Asuhan.


Dia menandatangani, dan pekerja yang mengirim berpamitan untuk pergi.


Melihat mobil pengantar mobil yang telah pergi, Agler membayar Kotet karena telah mengantarkan mereka semua ke Panti Asuhan.


Tidak lama mereka beristirahat duduk di sofa, Amanda tiba-tiba datang kembali ke Rumah Agler untuk menyerahkan surat rumah dan lain-lain, serta menjelaskan lagi lebih detail tentang rumah yang dibeli oleh Agler kali ini.


Walaupun sudah tahu informasi umum rumah yang dipesan dari Jarvis, Agler tetap mendengarkan penjelasan dari Amanda yang lebih detail dan lengkap tentang informasi rumah ini.


Agler membeli rumah di sampingnya seharga 105 M itu termasuk biaya yang lainnya.


"Terima kasih, Pak. Senang berbisnis dengan anda."


Amanda dan yang lain berpamitan dengan sopan kepada Agler, lalu pergi keluar dari rumah Agler.


Sebelum pergi, Amanda juga tidak lupa menggoda Agler sehalus mungkin, sebenarnya dia sudah menargetkan Agler untuk menjadi suami satu-satunya.


Tentu saja, Agler tidak bergeming oleh godaan Amanda, dia berprinsip teguh, dia mencintai dan menghargai Adena.


Agler selalu mengabaikan kata "Keperluan Malam" yang ditekankan Amanda saat dia ingin berpamitan.


Meskipun Amanda seksi, Adena lebih seksi dan menggoda, dia tidak akan tergoda oleh Amanda kecuali Adena.


Melihat Amanda dan Rekan kerjanya sudah pergi dari rumahnya, Agler segera mengajak anak-anak untuk melihat rumah baru dibelinya.


"Bang Agler, aku boleh ke sini ga kalo teman-teman dari panti asuhan udah tinggal di sini?" tanya Farid setelah melihat rumah baru ini.


"Boleh kok, kalian semua boleh ke sini, atau tinggal di sini bareng teman-teman baru kalian dari panti asuhan," jawab Agler dengan wajahnya selalu tersenyum saat berinteraksi dengan anak-anak.


"Yeay!" semua anak-anak bersorak gembira mendengar jawaban Agler.


"Yuk kita pulang, pesanan makanan buat makan malam udah datang," ajak Agler.


"Tau dong, Abang Agler kan sakti kaya Agus Dji Samsudin," jawab Agler.


Irfan tidak tahu siapa itu Agus Dji Samsudin dan ia bingung.


"Itu yang katanya sakti bisa nyembuhin orang kalo aku ga sengaja denger dari Metub pas bang Agler nonton Metub," kata Nayla.


Nayla sekarang sangat dekat dengan Agler semenjak tadi pagi sebelum berangkat ke Panti Asuhan hingga sekarang.


"Ayo kita kerumah," ajak Agler bersemangat.


"Ayoo!" seru mereka.


•••••


Satu hari berlalu begitu saja, Agler tidak mendapatkan satupun tugas sistem dari dua hari kemarin.


Kemarin, Agler membelikan mobil BMW X5 dengan harga 1,7 M untuk Adena dan Rolls-Royce Solid Phantom Gold 125 M untuk dirinya sendiri. Dan mengajak anak-anak bermain di temzon seharian.


Hari ini anak-anak dari panti asuhan datang ke rumah baru, Agler bersama Cuprut menjemput mereka dengan dua mobil Alphard-nya.


Sedangkan Adena menjaga anak-anak di rumah saat mereka berdua pergi.


Di rumah yang baru, Agler mengenalkan lingkungan dan fasilitas yang ada di sini secara terperinci kepada Ibu Komariyah serta perawat yang lain, anak-anak mendengarkan dan melihat-lihat selagi Agler menjelaskan.


"Bapak sama Ibu mulai sekarang tinggal di sini untuk merawat anak-anak di Panti Asuhan, kalau ada keperluan atau yang lain langsung hubungi saya atau langsung ke rumah saya yang ada di samping dari rumah ini," kata Agler.


"Iya pak, terima kasih atas semua bantuannya, kami dan anak-anak gatau mau bilang apa lagi selain berterima kasih. Kami dan anak-anak hanya bisa mendoakan bapak semoga semakin sukses dan bermanfaat bagi orang sekitar."


"Aamiin."


Ibu Komariyah dan para pengasuh mengatur kamar untuk anak-anak. 3 orang untuk satu kamar karena setiap kamar di rumah ini besar sekali, hampir 3 kali lipat dari tempat sebelumnya. Sebenarnya bisa untuk 5 sampai 6 anak karena anak-anak dari panti asuhan berumur dari 6 sampai 11 tahun.


Rencananya, Ibu Komariyah akan mengasuh anak-anak hingga lulus kuliah dan di bantu oleh Agler membiayainya.


Setelah mengatur kamar, Agler mengajak semua orang dari Panti Asuhan untuk berbelanja keperluan sehari-hari di Mall, dan memberi tabungan yang berisi 5 juta untuk masing-masing dari mereka.


Agler mentransferkan uang kepada Ibu Komariyah selaku Ketua yayasan dengan nominal 1 Miliar rupiah untuk biaya keperluan anak-anak di sini.


Ibu Komariyah dan pengasuh juga merawat Farid dan lainnya disamakan dengan anak-anak dari Panti Asuhan.


Tidak mungkin untuk Agler mengurus semua Panti Asuhan jadi Dia hanya bisa membantu panti asuhan melalui uang. Agler meminta Jarvis untuk menyumbangkan 50 Miliar ke tempat donasi online anak yatim yang ditujukan untuk 100 Yayasan Panti Asuhan yang ada di Jabodetabek.


•••••


"Hari yang melelahkan dan juga menyenangkan, Semoga anak-anak kecil di panti asuhan menjadi anak yang sukses di kemudian hari," gumam Agler.


Malam tiba dan semua anak-anak sudah makan malam yang dibuat para pengasuh Panti Asuhan, Agler merasa senang melihat anak-anak tertawa ceria tanpa ada kesedihan di raut wajahnya.


Adena memberitahunya tadi pagi bahwa mulai besok dia tinggal di sini karena sudah di izinkan oleh Orang tuanya untuk tinggal bersamanya.


"Ga sabar jadinya, mau ngengkok sama Adena hehehe," ucap Agler sambil tersenyum cabul.


*****


Tiga hari berlalu tanpa adanya tugas sistem lagi.


Hari ini Galuh memberi tahunya bahwa Adit yang menjahatinya, sudah dibawa ke meja pengadilan.


Agler mentransfer uang kepada Galuh untuk menyewa pengacara yang paling top, Agar Galuh menang dalam persidangan.


Hari ini Agler ingin mengajak Adena untuk pergi ke Bogor menemui saudaranya dari keluarga Bapak Agler di sana.


Ternyata Agler baru ingat bahwa pemilik tubuh ini masih memiliki saudara dari keluarga Bapak dan Ibunya. Saudara keluarga Bapak tinggal di daerah kabupaten Bogor dan Saudara keluarga Ibu ada di Sukabumi.


Saat di acara pemakaman kedua orang tua Agler, mereka semua berkumpul di rumahnya dan mereka semua menemani, merawat Agler hingga 1 bulan setelah pemakaman.


Setiap minggu Adik kandung Bapak rutin datang ke rumah Agler untuk merawat, menjenguk dan memastikan dirinya baik-baik saja. Tapi karena Agler yang asli terlalu sedih dan selalu menyalahkan dirinya sendiri. Dia tidak mau di temani siapapun dan diganggu oleh siapapun dia hanya ingin menyendiri disepanjang hidupnya. Hingga akhirnya saudaranya tidak lagi mengunjunginya lagi.