Savior System

Savior System
Bab 126 : Touring PT 04


"Kamu mau jalan-jalan lagi?"


Agler menoleh dan berkata, "Iya, Rem. Aku mau berangkat lagi."


Mendengar Agler ingin berangkat bepergian, Rem mengubah wajahnya menjadi sedih, dia menatap Agler di depannya dengan mata yang berair.


Bukan Rem saja, saudarinya yaitu Ram juga merasa sedih karena Agler jarang di rumah. Padahal mereka berdua ingin menghabiskan waktu bersama Agler seharian, tapi sekarang tidak bisa.


Wajah mereka yang menekuk itu membuat Agler peka terhadap perasaan mereka berdua. Ia berjalan ke depan mereka berdua, lalu memeluknya secara bersamaan.


Setelah memeluk mereka, Agler mencium bibir mereka berdua sekilas dan kemudian tersenyum menatap mereka berdua di depannya, "Aku akan pulang ke rumah seperti biasa. Jangan sedih, oke?"


"Eum ...."


"Iya, kita mengerti."


Ram dan Rem mengangguk hampir bersamaan, dan masih menatap Agler dengan mata yang sedih.


"Mengerti tapi masih memasang wajah sedih?" Agler sedikit terheran melihat mereka berdua seperti ini.


Sepertinya perjalanan hari ini akan tertunda, Agler harus mengurusi dua wanita imut ini sampai tidak bersedih lagi.


"Ya sudah, aku akan menunda keberangkatan untuk kalian berdua. Aku mengerti maksud kalian," ucap Agler memandang Ram dan Rem.


"Eum?"


"Kenapa seperti itu?"


Alih-alih menjawab pertanyaan mereka berdua, Agler menggendong mereka berdua di setiap tangannya, dan membawa mereka ke suatu tempat.


"Mau ke mana?"


"Iya, kita akan dibawa ke mana?"


Di atas kedua tangan Agler, mereka berdua duduk sambil mengaitkan tangannya pada leher Agler, bertanya pada Agler dengan wajah penasaran bercampur malu.


Dua pasang gunung putih dan bersih mengkilap memantul terus menerus, seringkali Agler terhantam goncangan kuat itu di wajahnya.


Bukan merasa sakit tetapi membangunkan sesuatu dari tubuhnya.


'Celana seketika menjadi sempit! Aku tidak tahan lagi!' Agler mengeluh di dalam hatinya.


Keinginan untuk bermain semakin naik dan naik lebih tinggi lagi.


Teman kecilnya telah menjadi besar, sepanjang jalan Agler menahan rasa mengekang yang luar biasa.


Tidak lama, Agler akhirnya sampai di depan pintu kamar utama di lantai tiga.


Wajah mereka berdua telah semakin merah sehingga terlihat seperti apel yang telah matang, sangat lucu sekali.


Rasa ingin mencium pipi mereka berdua melonjak naik, Agler tidak tahan lagi, dan dia mencium pipi mereka berdua dengan lembut.


"Emm ... kita mau ngapain?" Ram bertingkah aneh dan bertanya kepada Agler dengan ekspresi pemalu.


Sedangkan Rem sedari tadi diam tidak bertanya, hanya menunduk dan menatap sesuatu di bawah.


"Kamu akan tahu sebentar lagi."


Agler memandangi parah wajah cantik Ram dari samping, dan ia tersenyum.


Lalu dia memindahkan pandangannya kepada Rem yang diam dan hanya menatap sesuatu di bawah.


Salah satu alis Agler naik, dia merasa ada yang aneh dari wanita ini.


Tatapan Agler mengikuti arah pandangan Rem, dan saat terus menelusuri ternyata itu mengarah ke bawah perutnya.


Benar!


Rem sedang mengawasi sesuatu benda yang panjang bagaikan ular di bawah perutnya. Benda itu adalah teman kecil Agler.


Tidak, dia tidak lagi disebut teman kecil, melainkan teman yang sangat besar.


Milik orang berkulit hitam saja tidak sebesar ini. Milik Agler sangat besar, dan penampilan ini belum ditambah dengan sihir raksasanya.


Tampaknya sihir itu tidak diperlukan.


"Ahem!" Agler berdeham keras dengan sengaja.


Suara itu membangunkan Rem dari memandangi ular besarnya, dan dia menatap Agler dengan wajah malu dan canggung.


Agler tidak tahu ingin tertawa atau marah saat ini. Kedua wanitanya ternyata begitu suka pada dirinya.


Terlalu antusias sehingga dengan sengaja memancingnya untuk melakukan ritual itu.


Tanpa menunggu lama lagi, Agler meminta Ram untuk membukakan pintu dan mereka bertiga masuk ke dalam.


Hanya dalam beberapa menit setelah mereka masuk ke dalam kamar, suara aneh bermunculan.


Suara itu bukan berasal dari seorang pria, tetapi seorang wanita yang menggairahkan.


Bunyi yang aneh dan kegaduhan terus terdengar hingga dua jam lamanya.


Pintu kamar yang tertutup itu terbuka, dan Agler keluar dengan pakaian yang sama seperti ketika masuk ke dalam kamar, tetap rapih dan bersih.


Dalam kamar terdapat Ram dan Rem yang terkapar lemas di atas kasur, itulah hasil memancing dirinya untuk melakukan ritual yang menyenangkan.


Sampai kapan pun Agler tidak akan kalah dalam hal itu, meski satu lawan puluhan wanita sekalipun.


Agler segera menuruni tangga dan keluar dari rumah.


Ia berdiri diam di halaman rumah sambil menoleh ke kanan dan kiri untuk memeriksa rumah di sekitarnya.


"Jarvis, apakah sudah aman di halaman rumah di sini? Mereka tidak bisa melihatku, 'kan?" tanya Agler pada Jarvis melalui ponsel pintarnya.


{Area sudah diamankan. Telah dipastikan tidak ada orang yang melihat Tuan.}


"Baik. Terima kasih, Jarvis."


{Sama-sama, Tuan!}


Tangan Agler mengaduk saku celana olahraga berwarna hitamnya, mengeluarkan dua benda. Benda itu adalah aerpod dan kacamata manusia super, kemudian dia memasang satu aerpodnya dan memakai kacamata hitam. Agler siap untuk berangkat.


Berikutnya Agler mengangkat kepalanya ke langit, dan menghilang di detik selanjutnya.


Daun-daun yang jatuh dan kering di halaman depan rumah langsung terhempas ke segala arah oleh angin yang diciptakan oleh kecepatan Agler ketika meluncur terbang, hanya meninggalkan halaman rumah yang berantakan akan dedaunan.


Di sebuah hotel daerah pekalongan.


Agler sedang duduk di atas kasur kamar hotel, memainkan ponsel pintarnya untuk melihat ulasan dari tempat yang ingin dia kunjungi, yaitu Pantai Kartini.


Pantai Kartini, Agler baru mengetahui tempat ini, jadi dia tertarik untuk ke sana.


Bangunan berbentuk kura-kura memiliki daya tarik untuk pengunjung datang, Agler juga ingin melihatnya.


Bangkit dari kasur, merapihkan bajunya dan mengecek perlengkapan yang dipakai seperti jam tangan, aerpod, dan kacamata.


Kemudian dia berjalan mengambil helmnya yang dia bawa hingga ke dalam kamar, dan membuka pintu berjalan menuju meja resepsionis untuk check out.


Proses untuk keluar dari penginapan tidak memakan waktu yang lama, namun karena Agler tampan ia diulur waktunya oleh wanita resepsionis.


Keluar dari tempat penginapan dia berjalan mencari tempat sampah dan membuang bola kertas ke tempat sampah.


Kertas itu terdapat nomor wanita resepsionis, dengan sengaja dan terang-terangan dia memberi Agler secarik kertas.


Penampilan wanita resepsionis cukup cantik, tetapi masih jauh dari kecantikan para wanitanya, Agler tidak tertarik pada kecantikannya.


Pergi menuju tempat parkir, Agler menaiki motornya dan memakai helm hitamnya.


"Jarvis, tolong nyalakan navigasi rute yang paling cepat menuju Pantai Kartini," ucap Agler meminta Jarvis untuk mengatur navigasi.


{Telah selesai, Tuan.}


{Selamat menikmati perjalanan dan selalu berhati-hati.}


"Terima kasih, Jarvis."


Muncul senyum kecil di wajah Agler setelah mendengar pengingat Jarvis.


Perhatian kecil saja dapat membuat senang seseorang.


Ponsel pintarnya menampilkan rute tercepat menuju lokasi tujuan.


Agler manarik gas, ban besar sepeda motor itu berputar di tempat sebelum akhirnya meluncur cepat ke jalan raya, meninggalkan hotel.


Sepeda motor berwarna hitam dengan lincahnya menghindari kemacetan, bagaikan belut yang licin ketika ditangkap, pasti akan lolos.


Masuk ke dalam jalan tol, Agler menancapkan gasnya tanpa menginjak rem.


Jalan tol tidak terlalu ramai, Agler ingin menantang dirinya sendiri untuk berkendara tanpa menekan rem.


Vroom ...!


Suara yang garang keluar dari knalpot motornya, Agler melesat sangat cepat melewati mobil-mobil yang ada di jalan tol.


Sepertinya sulit untuk menarik gas hingga spedometer motor sampai batasnya, Agler sesekali melihat mobil polisi yang berpatroli dan terpaksa dia menuruni kecepatannya.


Tantangan yang dia buat sendiri digagalkan oleh dirinya sendiri.


Agler melaju dengan kecepatan yang sudah ditetapkan. Sembari berkendara Agler memutar lagu pada aerpod di telinga kirinya agar tidak begitu membosankan.


Berjam-jam Agler duduk di atas motor, mengendarai motor ke tempat tujuan. Pada jam satu siang akhirnya Agler sampai di Pantai Kartini.


Dari jauh dia bisa melihat bangunan berbentuk kura-kura besar ini. Besarnya masih kalah oleh teman-teman binatang psikisnya, tidak begitu besar seperti yang ada di foto pada ulasan internet.


"Akhirnya sampai juga."


Agler berhenti di tempat parkir motor yang telah disediakan dan mematikan mesin motor.


Kemudian dia membuka helm yang menutupi kepalanya meletakkannya di atas bangku motor, setelah itu melepaskan jaketnya.


Rambutnya sedikit berantakan akibat pengendapan selama beberapa jam di dalam helm yang lembab.


Agler berkaca pada spion motor dan merapihkan rambut menggunakan tangannya. Ia lupa membawa sisir.


Melihat bahwa dirinya sudah rapih dan tampan pada cermin spion. Ia segera mengambil jaket hitamnya, dan melangkah ke depan memasuki pintu masuk Pantai Kartini.