
'Sangat cepat! Penglihatan ku tidak bisa mengikuti pergerakannya, aku khawatir bahkan jika aku menggunakan mantra Cyclyps Eyes akan sulit melihat kecepatan makhluk itu bergerak,' ucap Gycser di dalam hatinya.
Matanya sama sekali tidak bisa melihat bagaimana Agler bergerak, hanya mampu melihat Agler yang tiba-tiba saja ada di belakang Gycmer.
Mulai sekarang dia harus berhati-hati dengan makhluk ini.
Setidaknya jangan terlalu dekat dengannya.
Melihat kekuatan pukulannya yang bisa membuat Gycmer terbang ke atas, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya yang terkena pukulan ini tanpa ada kesiapan apapun.
"Satu pukulan bisa membuat Gycmer yang paling kuat dalam hal fisik dan bertahan, terpental jauh ke atas langit.
Walaupun aku masih bisa menetralisir pukulan ini ke tingkat tanpa ada kerusakan sedikit pun pada tubuhku, tetap saja itu perlu waktu untuk merapal mantra. Dalam pertempuran mendadak seperti tadi, aku pasti tewas sebelum mengucapkan mantra."
Gycser adalah ahli mantra sihir, dia bisa menggunakan berbagai jenis sihir, sumber sihirnya itu berasal dari asap biru yang dikeluarkan dari tongkatnya...
Itu adalah asap atau aura kehancuran.
"Pukulan Makhluk ini cukup kuat... tapi jika dibandingkan dengan pukulan ku--... itu masih jauh." Gycger yang selama pertemuan di istana selalu diam, sekarang dia tiba-tiba mengucapkan kalimat ini.
Tanpa sadar kedua tangan Gycger mengepal sangat keras, urat-urat syarafnya terlihat di balik kulit tebalnya.
Baammm!
Debu dan asap tanah berterbangan, tampak sosok Gycmer yang mendarat dengan postur tubuh berlutut di tanah, sambil memegangi palu di tangan kanannya.
"Cuhh!"
Gycmer menyemprot ludah darah dari mulutnya, terlihat jelas terdapat darah merah di sela-sela gigi tajamnya.
Sambil mengusap bekas noda darah yang keluar dari mulutnya, dia bergumam, "Sial, baru kali ini aku terkena serangan telak, aku sama sekali tidak bisa melihatnya bergerak."
Perlahan dia berdiri tegak, luka di mulutnya pun pulih dengan kecepatan yang sangat lambat.
Pada saat ini...
Setelah Agler melakukan upper cut kepada monster yang membawa palu besar itu, dia segera menghampiri Ghidorah yang sedang berbaring terluka di tanah.
Raungan pelan yang keluar dari ketiga moncong Ghidorah terdengar seperti sebuah tangisan bayi.
Agler merasa aneh dengan luka ini, kenapa kemampuan regenerasi Ghidorah tidak bisa diaktifkan untuk menyembuhkan luka ini.
Melihat kebenaran ini, Agler menduga ini adalah salah satu kemampuan dari monster palu besar itu.
Melihat Ghidorah tersiksa kesakitan seperti ini, Agler tidak tega membiarkannya sakit lebih lama lagi.
Blarr...
Suara kobaran api muncul bersamaan dengan tiga buah bola api biru keunguan yang melayang di hadapan Agler.
Bola api biru-ungu itu terbang menuju dada Ghidorah yang telah rusak itu, lalu melebar menutupi semua luka yang ada di dada Ghidorah.
Dada yang rusak dan terlihat hancur itu memperlihatkan tanda-tanda penyembuhan.
Daging dan darah yang terekspos ke luar menutup kembali, hanya dalam beberapa detik saja dada Ghidorah pulih tanpa adanya bekas luka.
Gruoaahhhhhh!
Ghidorah meraung penuh semangat, lalu dia menatap Agler dengan tatapan penuh terima kasih.
"Tugasmu sampai di sini terlebih dahulu, Ghidorah."
"Kamu mundur, sekarang sudah waktunya giliran ku," Agler berkata sambil menatap Ghidorah di depannya.
Nampak ekspresi Ghidorah yang sedikit tidak mau, karena dia masih memiliki keinginan untuk membantai dan menghabiskan monster ini.
Apalagi sekarang dia memiliki dendam pribadi pada Gycleps yang membawa palu besar yang melukainya tadi.
"Ghidorah, daripada kamu diam seperti ini, lebih baik kamu bawa Ancalagon dan yang lain ke sini sekarang," saran Agler kepada Ghidorah.
Ghidorah mau tidak mau menuruti keinginan Agler, dan dia segera terbang, dan pergi ke tempat Ancalagon dan lainnya berada.
Melihat Ghidorah sudah pergi dari sini, dia kembali fokus dengan para monster yang berdiri tidak jauh di depannya, yang mulai berbaris dan dipimpin oleh monster botak yang membawa palu besar itu.
Gycmer yang melihat Ghidorah terbang dan menghilang di langit kembali memfokuskan pandangannya ke arah Agler.
Sepasang mata yang indah dan satu mata yang jelek saling memandang.
"Are you ready to lose?" Agler tiba-tiba berkata kepada Monster itu.
Gycmer dan ratusan ribu Gycleps yang tersisa, tidak mengerti apa yang Agler bicarakan.
"Apa kalian sudah siap untuk kalah?" Agler berkata sekali lagi, dia melakukan ini hanya sekedar iseng.
Dia ingin tahu apa monster ini juga bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris seperti Czar Draith.
"Hahaha... lelucon yang terstruktur seperti ini membuat perutku merasa geli!"
Gycmer tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar ucapan Agler.
Para Gycleps di belakangnya menggaruk kepalanya karena tidak mengerti apa yang ditertawakan oleh Pemimpinnya.
Dia kira monster ini tidak bisa berbahasa Indonesia.
[....]
"Jangan merasa kau adalah yang paling kuat hanya karena bisa memukulku tadi."
"Itu pun kau menyerangku dari belakang, dasar Pengecut!"
Gycmer berkata sambil menatap Agler, ekspresi merendahkan terlihat jelas dari wajahnya.
Detik berikutnya...
Tiba-tiba, Agler muncul di hadapan Gycmer, dan kepalan tangan kanannya dengan cepat bergerak memukul Gycmer.
Bang!
Tubuh Gycmer terbang mundur menabrak beberapa ribu Gycleps di belakangnya.
Semua Gycleps yang dihantam oleh tubuh Gycmer langsung terluka parah, dan sebagian dari mereka mati seketika.
Tidak lama Gycmer berhenti dan bangkit dari tumpukan tubuh Gycleps yang mati, dan menatap Agler penuh emosi.
"Serangan mendadak lagi!" gumam Gycmer sambil menatap Agler dengan tatapan yang dipenuhi niat membunuh.
Dirinya kali ini tidak terluka oleh pukulan Agler, untungnya reaksinya cukup cepat dan sempat memblokir pukulan Agler menggunakan gagang palu besarnya.
"Sepertinya kemampuanmu hanya bisa menyerang lawan secara tiba-tiba, benarkan?" tanya Gycmer sambil menuruni bukit yang terbuat dari mayat rasnya sendiri.
"Sayangnya dugaanmu salah, Monster botak," balas Agler sambil berjalan mulai mendekati para Gycleps ini.
"HAHAHA!!!"
Gycmer tertawa seperti orang yang tidak lagi waras.
"Ayo kita bertarung saling bertarung, Makhluk Pecundang!"
"Aku tidak sabar untuk mengambil naga emas itu darimu," kata Gycmer dengan wajahnya terlihat serius.
Setelah mengatakan itu, otot di tubuhnya sedikit membengkak, urat biru menjalar ke seluruh tubuhnya, tampak sangat ganas dan mengerikan.
Sambil membawa palu besarnya, dia berjalan ke arah Agler.
Melihat ini, Agler terus berjalan, sambil memakai pakaian flugelnya, sengaja sayapnya tidak dia keluarkan, dia takut sayapnya akan menjadi hambatan saat dia bertarung dan fatalnya bisa menjadi kelemahannya.
Agler berjalan santai, wajahnya tidak terlihat serius sama sekali.
Kedua tangannya tidak memegang senjata apapun, hanya tangan kosong.
Mereka berdua perlahan saling mendekat satu sama lain.
Para Gycleps berlarian mundur dan menjauh dari tempat mereka berdua berada.
Kemungkinan besar pertarungan yang luar biasa akan terjadi selanjutnya.
"Gycmer melawan makhluk itu?"
"Menurutmu... siapa yang akan menang, Gycser?"
Pertanyaan tiba-tiba dilontarkan oleh Gycger kepada Gycser yang berdiri di sampingnya.
"Aku tidak tahu siapa yang akan menang," jawab Gycser sambil memandang mereka berdua yang semakin mendekat.
"Oke."
Setelah mendengar jawaban Gycser, dia kembali menoleh untuk menatap Agler dan Gycmer, terlihat sebentar lagi akan ada bentrokan keras di antara mereka berdua.
Tiba-tiba mereka berdua meningkatkan kecepatannya saat berjalan, setiap detik kecepatannya terus meningkatkan.
Bam!
Gycmer menendang tanah dengan kaki kirinya, dan meloncat tinggi ke arah Agler, sambil mengangkat palu besarnya di kedua tangannya.
Retakan muncul di tanah sekitar pijakan Gycmer ketika dirinya meloncat.
Dari sini kita tahu, kekuatan fisik Gycmer tidak boleh diremehkan begitu saja.
Tangan besar yang memukul Agler di awal pertemuan juga adalah Gycmer.
Gycmer dengan cepat turun menukik ke bawah menuju Agler yang ada di bawahnya.
Melihat ini, Agler langsung meloncat, dan melesat menuju Gycmer yang ada di atasnya.
Bermodalkan kepalan tangan yang keras, dia bersiap untuk meninju Gycmer.
"BigHammer Gycmer!" teriak Gycmer sambil mengayunkan dengan kuat palu besarnya.
"Punch Monster Bald!"
Agler pun tidak mau kalah, dia juga ikut berteriak mengucapkan nama jurusnya sambil meninju ke arah monster di hadapannya.