Savior System

Savior System
Bab 121 : Wormdes Battle


[Tugas Sistem Darurat!]


[Tugas : Basmi Wormdes yang datang]


[Rincian Tugas : Makhluk melata entah datang dari mana mencoba memusnahkan manusia yang ada di Jakarta Selatan]


[Hadiah : 2 Tiket Lotere, 200 Savior Coin]


[Hukuman : Penduduk Jakarta Selatan Musnah]


[Apakah tuan rumah menerima tugas sistem?]


Pemberitahuan sistem terdengar di benak Agler, membuatnya harus menunda untuk menyesap kopinya.


"Tugas sistem darurat?" Setelah Agler menatap judul dari tugas sistem, dia merasa aneh dengan judulnya.


Karena ingin tahu arti tugas ini, dia bertanya, "Apa artinya ini?"


Baru pertama kali dirinya melihat judul tugas semacam ini. Sekian lama dirinya selalu menerima tugas yang diberikan sistem, dia tidak pernah menerima tugas dengan nama yang sama seperti ini.


[Tugas Sistem Darurat adalah tugas yang muncul di tengah situasi darurat, tidak dijelaskan kapan waktu terjadinya peristiwa, dan hukuman kegagalan yang diterima tidak begitu besar dibandingkan dengan tingkat berbahaya]


"Aku mengerti, sistem!" Agler berkata sambil menganggukkan kepalanya setelah mengerti apa yang disampaikan tentang tugas ini oleh Sistem.


Dari apa yang dijelaskan oleh Sistem barusan, Agler dapat mengartikan bahwa tugas darurat ini ada di atasnya tugas biasa tanpa kata-kata tambahan dan tidak lebih tinggi dari tugas tingkat berbahaya.


Artinya tugas ini sangat penting dan tidak boleh ditolak, karena ini menyangkut dengan keberadaan manusia.


"Terima tugas!"


Agler segera bangkit dari tempat duduk dan hendak keluar dari Kafe. Namun, saat dirinya sedang berjalan keluar, getaran kecil dari lantai kafe terasa oleh kakinya.


Berhenti sejenak dan mencoba merasakan lebih jelas getaran yang mendadak muncul ini.


Apa yang Agler rasakan itu benar, getaran kecil dan halus ini semakin besar, membuat orang-orang yang ada di dalam kafe berhamburan keluar dari bangunan Kafe.


Semua orang keluar dan berdiri di trotoar tempat orang untuk berjalan, Agler dan wanitanya pun ikut berlari keluar dari Kafe, karena bahaya jika wanitanya tetap berada di dalam sana.


Mobil yang melaju di jalanan pun berhenti dan orang yang mengemudi keluar dari mobilnya.


Terdapat kepanikan dan rasa penasaran di wajah setiap orang yang berdiri di luar, entah itu di jalan dan bahu jalan. Mereka penasaran apa yang sedang terjadi sekarang.


"Gempa! Gempa!"


"Semua orang keluar! Ada Gempa!"


Beberapa orang berteriak keras memperingati orang-orang yang masih ada di dalam rumah ataupun gedung. Orang-orang yang berteriak ini dengan cepat menyimpulkan bahwa apa yang saat ini terjadi adalah gempa bumi, tapi kenyataannya itu salah.


Di sebuah jalan yang tidak jauh dari depan Kafe wanita Agler, retakan bergaris muncul di jalan beraspal itu.


Tentunya Agler memperhatikan ini, dia izin kepada wanitanya untuk ke dalam Kafe yang kosong, tak lupa sebelum pergi dia memberi kode kepada wanitanya ini.


Setelah beberapa detik di dalam Kafe itu, Agler keluar dengan tampilan tubuh yang yang berbeda, sekarang dia memakai tubuh Flugel yang telah dikenal oleh banyak orang sebagai Saviorman Sang Pahlawan.


Orang-orang tidak sadar akan keberadaan Saviorman, mereka masih fokus pada keselamatan dirinya sendiri dan terus waspada pada getaran di tanah yang kini masih berlangsung.


Retakan di jalan itu semakin lebar dan terbuka, dan waktu berikutnya sesuatu seperti makhluk yang sangat besar keluar dari tanah.


BAM...!


Mobil-mobil terangkat dan terlempar akibat sundulan dari kepala makhluk ini.


Melihat hal ini terjadi, saraf pada tubuh Agler bereaksi, dia tiba-tiba menghilang di tempatnya dan muncul di setiap orang yang berdiri di sekitar area munculnya monster besar ini.


Tidak ada dua detik berlalu, semua orang telah Agler selamatkan dari jangkauan tempat Makhluk ini ada dan dia segera kembali lagi ke tempatnya.


Agler berteriak dengan nada yang keras sambil memandangi orang yang masih diam tak bergerak karena terpana akan kemunculan monster besar ini secara tiba-tiba. Suara Agler terdengar jelas di setiap telinga orang yang di tempat kejadian, dia meminta semua orang untuk berlari menjauh dari tempat ini.


Akibat teriakan Agler yang keras itu yang menjangkau ratusan meter jauhnya dari pusat Agler berdiri, semua orang seketika pulih dan mereka segera berlarian menjauhi monster ini.


"Kalian juga menjauh dari sini. Aku akan menyuruh satu klon milikku yang ada di Kafe untuk menjaga kalian," kata Agler sambil menatap ketiga Wanitanya yang cantik ini, samar jejak kekhawatiran Agler terlihat di kedua matanya saat melihat mereka bertiga.


"Hum! Kita mengerti... Jaga dirimu baik-baik, kita semua menunggumu kembali, Sayang!" jawab Svalia sambil menganggukkan kepalanya.


Lalu mereka bertiga mencium bibir Agler sekilas, dan ikut berlari bersama klon Agler yang berbeda bentuk, juga para warga yang berlarian ke tempat aman.


Untungnya saat Agler berbicara kepada wanitanya dengan memakai tubuh Flugel, tidak ada orang yang memperhatikannya, mereka semua sibuk menyelamatkan diri tanpa memperhatikan kondisi sekitarnya.


Agler membalikkan badan menghadap monster besar yang sedari tadi tidak bergerak, hanya menatapnya dengan tatapan yang tajam.


Mata Agler melihat keseluruhan tampilan monster yang datang tanpa undangan ini. Bentuk monster ini sama dengan reptil melata tetapi dengan ukuran yang sangat besar, kepalanya saja berukuran hampir dua puluh meter belum dengan tubuhnya yang keluar dari permukaannya.


Kepala yang besar itu memiliki sepasang mata reptil berwarna merah, dengan mulutnya yang seringkali mengeluarkan lidah yang bercabang tiga. Sekilas monster ini mirip dengan ular yang berukuran besar, semacam Anaconda, tetapi monster ini terlihat lebih menyeramkan karena di kepalanya terdapat satu tanduk mengarah ke depan berwarna hitam dan sisik kasar seperti diselimuti oleh asap berwarna hitam yang berkobar.


Keseluruhan tampilannya berwarna hitam yang dapat menyerap cahaya sekitarnya.


"Monster apa ini? Apakah ada monster selain Gycleps dan Draith yang telah aku bunuh sebelumnya?"


Agler bertanya kepada dirinya sendiri sambil mengawasi monster di depannya. Dia mengira bahwa monster yang aneh tidak akan muncul lagi setelah datangnya Gycleps terakhir kali.


Matanya selalu tertuju pada makhluk ini dan tidak pernah berpindah. Agler dapat merasakan ancaman dari makhluk di depannya ini, dia takut sesuatu akan terjadi ketika makhluk ini bergerak.


Mind Barrier diaktifkan oleh Agler diam-diam, kekuatan pikirannya menyelimuti seluruh bangunan yang ada di sekitar dirinya dan monster ular ini, termasuk Kafe milik Wanitanya.


Monster ular dan Agler saling bertatapan lama, hampir sepuluh menit berlalu sejak mereka beradu tatapan.


"Sepertinya dia tidak akan bergerak jika aku tidak bergerak."


Setelah tatapan yang Agler lakukan, dia mendapatkan pemahaman bahwa monster ini tidak akan bergerak jika lawannya tidak lebih dulu bergerak. Bisa dibilang monster ini tidak akan menyerang jika lawan tidak memulai penyerangan pertama.


Agar dirinya tidak salah, Agler memutuskan untuk melakukan serangan pertama yang sekaligus menandakan bahwa pertempuran telah dimulai.


Whooshhh..!


Sebuah bayangan hitam melintas dengan cepat mengarah ke monster ini.


Orang-orang normal tidak dapat melihat bayangan ini karena kecepatan gerakan bola mata mereka kalah cepat dengan gerakan bayangan ini.


Bayangan ini muncul tepat di depan kepala monster ini, dan sosok bayangan ini menghantam dengan keras kepala dari monster ini.


Bang...!


Suara seperti hantaman dari benda keras dengan benda keras terdengar keras.


Dari tabrakan ini menciptakan gelombang kejut skala kecil.


Setelah itu bayangan hitam mundur dengan satu lompatan dan berhenti di tempat yang tidak jauh dari monster besar ini.


"Pukulan mentah milikku tidak mempan kepadanya?"


Bayangan hitam itu adalah Agler yang melancarkan serangan sebuah tinju kepada kepala monster ular besar ini.


Agler tidak menyangka bahwa pukulannya tidak mempan terhadap sisik yang ada di kepala monster ini, walaupun tinjunya tidak mengandung setengah dari kekuatan penuhnya, tetap saja pukulan yang tadi dia berikan itu termasuk kuat.


Di sisi lain, Wormdes menggelengkan kepalanya untuk meredakan rasa keterkejutannya setelah diserang oleh Agler. Dia merasakan sedikit rasa sakit akibat serangan tinju Agler yang tiba-tiba ini.


Wormdes kembali menatap Agler, tapi kali ini tatapannya semakin tajam dan mengandung niat membunuh yang sangat kental.


Tatapan membunuh ini dapat dirasakan oleh Agler. Membuat Agler segera memasang postur bertarung untuk bersiap melakukan penyerangan berikutnya.