Savior System

Savior System
Bab 137 : World Tour Dimulai


Lima hari berlalu, Agler menikmati sebagian besar waktunya di rumah, karena bulan ini sedang ada acara keagamaan selama satu bulan ini.


Suasana sedikit berubah, malam banyak orang yang keluar untuk bertemu kawan-kawan. Malam pada satu bulan ini terasa berbeda.


Kekeluargaan Agler juga ikut terinfeksi suasana nyaman dan tentram ini, di rumah selalu ramai dan gembira, para perawat panti asuhan lain selain ibu Naimah beserta suaminya seperti biasa sering menengok anak-anak yang tinggal bersama Agler di rumah.


Canda tawa, kehangatan, kepedulian satu sama lain menghiasi orang-orang rumah, rumah Agler tidak pernah sepi.


Lima hari setelah Taylor datang, Agler tidak mendapatkan tugas dari sistem.


Juga selama beberapa hari itu Taylor sedang beradaptasi dengan dunia ini, segala sesuatu dia pelajari, dibimbing oleh Ayu dan Adena yang memang asli berasal dari dunia ini.


Teknologi yang ada, pada pertama kali mencoba membuat Taylor sedikit kesulitan untuk menggunakan barang dengan teknologi seperti itu. Melihat gedung tinggi dan alat canggih, dia masih terpesona dan terpana, tapi tiga hari berlalu dia sudah mulai terbiasa.


Pakaiannya pun telah diganti menjadi gaun biru gelap kesukaannya, gaun yang menyatu dengan rok. Itu juga karena penilaian Agler saat wanitanya mencoba untuk memakaikan beberapa model pakaian untuk Taylor.


Saat Taylor memakai gaun sederhana, itu terlihat sangat cocok.


Namun, jika keluar rumah, Agler tidak menyarankan atau meminta untuk memakai pakaian khusus, itu terserah dia ingin memakai baju apa.


Semua pakaian yang ada di dunia ini sangat cocok bagi Taylor, bentuk tubuhnya sangat panas dan lekukannya hampir sempurna.


Boba dan bumper belakang besar, ukurannya selalu cocok dengan Ayu.


Ketidaktahuan dasar mengenai pakaian inilah yang membuat Agler meminta Ayu untuk membimbing dan mengajarkan pengetahuan dasar mengenai dunia ini pada Taylor.


Kemarin Taylor berbicara kepadanya, bahwa dia ingin bekerja bersama dengan Cass, Svalia, dan Ghinava.


Tentu saja, Agler menerima permintaannya ini dan mengabulkan, jadi dia mengizinkan Taylor untuk bekerja sebagai barista kopi.


Tingkah Taylor saat Agler mengucapkan bahwa mengizinkannya untuk bekerja, Taylor langsung gembira dan tersenyum manis pada Agler, dan ingin mencium Agler di tempat, tapi dengan cepat Agler tahan, karena posisi mereka sedang ada di ruang keluarga bersama anak-anak.


Sifat dan sikap dinginnya tidak ditunjukkan pada Agler dan keluarga, dia hanya dingin pada orang lain, bahkan tatapannya dapat membuat orang takut.


Kekuatannya juga kuat, dia tidak begitu khawatir jika Taylor dilukai atau dalam bahaya.


Dalam Dunianya Taylor sendiri seorang pejuang yang berkeliaran, pasti dia sudah bertemu dengan orang kuat.


Juga, dia telah meminta Taylor untuk menjaga orang-orang di rumah jika ada sesuatu berbahaya.


Dengan senang Taylor menerima permintaan Agler.


Sudah cukup lima hari bersantai dengan keluarga, saatnya minggu ini dia pergi ke suatu tempat, di luar negeri tentunya.


Sesuai rencana yang telah dia buat di otak, dia malas menulis karena tulisannya jelek, juga mengetik, dia akan pergi untuk berpergian mencari wani .... ketenangan dan pemandangan alam.


Sudah pasti Agler tidak akan menggunakan kekuatannya untuk pergi, kalau untuk pulang kembali ke rumah saat makan malam tentu dia harus menggunakan kekuatannya. Dia masih menggunakan cara seperti touring di pulau Jawa.


Agler telah meminta untuk Jarvis menyiapkan jet pribadinya untuk pergi menuju Korea Utara, tidak maksudnya untuk pergi ke Korea Selatan.


Cukup penasaran dengan orang-orang di sana, banyak yang berkata bahwa di sana hidup bagaikan drama asli negara sana, hidup tenang dan tentram, sontak saat melihat berita ini Agler beraksi seperti 'Affh Iyah, Kids?'.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya, dia memutuskan untuk pergi ke sana.


"Apakah pesawat sudah siap di bandara Soekarno-Hatta, Jarvis?" tanya Agler pada Jarvis via aerpod.


{Telah siap tuan, Anda hanya perlu ke bandara untuk terbang.}


Jarvis merespon dan mengabarkan bahwa pesawat telah siap untuk digunakan.


Omong-omong Agler memesan jet pribadi Boeing 747-8 VIP, dia membeli dengan saluran cepat yang dilakukan oleh Jarvis, karena pesanan cepat untuk beberapa hari, harganya cukup mahal, dan ia harus mengeluarkan uang 13 Triliun untuk paket lengkap pesawat ini.


Juga Jarvis telah mengirim surat izin kepada suatu lembaga negara atas kepemilikan pesawat pribadi ini, seharusnya penolakan dan pemberian izin akan dikeluarkan setelah tiga bulan pengiriman surat izin.


Akan tetapi, Agler hanya butuh waktu tiga hari, mungkin itu disebabkan oleh keuangan Agler dan identitas Agler yang dicantumkan pada surat izin, itu memeng harus ditulis agar jelas.


Pemeliharaan juga harus jelas, jasa perusahaan apa yang merawat pesawat.


Tentu Agler mencantumkan Jasa perusahaan manajemen pesawat turnkey, itu paket lengkap.


Meski mahal dibanding yang biasa.


Perekrutan kru pesawat termasuk pramugari cantik dan pilot berpengalaman sudah ditanggung oleh perusahaan yang Agler pilih, dan itu ternyata masihlah ada saham milik Agler di sana.


Bukan karena memiliki saham di sana jadi dia tidak membayar uang jasa, Agler tetap pelanggan, tidak akan ada penggratisan.


Itu memang kemauan Agler, jika ingin gratis, dia bisa saja.


Bandara beberapa di Indonesia juga telah dia tanamkan sahamnya, tidak sulit untuk dia meletakkan jet pribadi.


Sebenarnya di kehidupan sebelumnya Indonesia tidak diizinkan untuk flight support atau jasa manajemen pesawat keberadaannya.


Karena pemilik perusahaan ini adalah orang Indonesia juga, tentu dibolehkan di indonesia dunia ini, namun itu hanya Agler saja.


Informasi bahwa Agler telah menjadi orang terkaya di dunia ini pada peringkat keenam menggeser Billiard Gerbang-gerbang.


Peningkatan pendapatan ini dikarenakan Jarvis dan dua wanitanya yaitu Mirage dan Ada Wong.


Dan itu terus meningkat dalam beberapa bulan.


Kekayaan sebenarnya dari Agler tidak terhitung, mengingat dia memiliki kemampuan Manipulasi Emas, dan Berlian, dia menjadi harta berjalan jika orang mengetahuinya, ditambah dengan kemampuan di luar nalar manusianya.


Orang terkaya di dunia pun tidak akan pernah bisa membeli satu kemampuannya.


Menjual Mark Iron Man bisa membuatnya kaya secara instan, namun Agler tidak akan melakukan itu.


Membawa mobil Rolls-Royce Boat Tail, Agler melaju menuju bandara nasional Soekarno-Hatta.


Kalau dia mengatakan lebih rinci, mungkin mereka akan ikut, dan rencana sebenarnya untuk mencar .... Uhuk! Mencari keindahan pemandangan di dunia ini.


"Selamat pagi, Tuan!" Dua suara perempuan berkata hampir berbarengan menyapa Agler.


Berjalan menaiki tangga pesawat, Agler dilihat dan disambut orang yang tidak dikenal olehnya. Mereka semua adalah kru dan anggota Jasa perusahaan yang melayani Agler.


Memakai kemeja hitam dengan dua kancing paling atas dilepas, juga celana panjang krem, serta jam Yollex yang pernah dia beli untuk acara reuni SMP Adena.


Tak lupa mengenakan kacamata manusia super, tampilan Agler yang tampan dan sederhana bak Ceo dalam cerita novel.


Dua pramugari yang direkrut oleh perusahaan jasa manajemen langsung berbinar matanya ketika melihat Agler si pemilik jet pribadi yang terkenal paling mahal ini.


Mereka berdua tidak pernah menduga atau menebak bahwa pemilik akan menjadi seorang pria muda yang sangatlah tampan.


Pramugari yang direkrut salah satu di antaranya orang Indonesia dan satunya Kanada. Mereka berdua cukup cantik, juga pastinya masih tersegel, tidak mungkin jasa manajemen ini memberi Agler barang bekas.


Pastinya tersegel dan tersimpan rapih.


Tidak lama kemudian, pesawat lepas landas menuju Korea Selatan.


Selama tujuh jam untuk jam penerbangan, Agler dilayani sangat-sangat baik oleh dua pramugari ini.


Pelayanan mereka sangat bagus dan terlatih, semua tindakannya tidak membuat Agler risih atau tidak nyaman.


Terkadang mereka agak agresif, biasanya ketika jam makan dan santai.


Mereka berinisiatif untuk memijat tubuh Agler, dan memberi makan Agler. Namun, mereka akan melakukan gerakan diam-diam yang seakan menggoda dirinya.


Wajah tampan tanpa cacat ini membuat pramugari ini nampak sedikit tidak profesional.


Tapi, mereka sebisa mungkin menahan dan mengendalikan diri mereka sendiri.


Waktu berjalan cepat, tidak terasa jet pribadi milik Agler sampai di Bandara Gimpo.


Banyak orang yang ada di bandara ingin tahu siapa pemilik pesawat mewah ini.


Dan Agler pun keluar dari pesawat mengenakan jaket hitam sambil menundukkan kepalanya sampai hampir tidak terlihat wajahnya.


"Siapa itu?"


"Apakah dia orang kaya di sini?"


"Wow! Jet pribadi termahal!"


"Sepertinya dia adalah tuan muda dari suatu keluarga."


"Aku ingin jadi pacarnya!"


Banyak orangnya mengomentari Agler dengan beberapa tebakan mereka.


Saat keluar juga Agler dikawal oleh beberapa pengawal untuk alasan keamanan, dia merasa seperti artis yang goyang di panggung.


Orang dari perusahan jasa ini mengawal Agler hingg ke hotel yang telah dipesan, dan sampai ke kamar.


Setelah di kamar Agler benar terbebas dari mata orang-orang yang iri dan dengki padanya.


"Pengalaman yang cukup menegangkan, bagai seperti Artis yang terkenal hingga alam semesta lain," gumam Agler berbaring di atas kasur empuk.


Perasaan tadi cukup menyenangkan tapi juga tidak, Agler lebih suka menjadi orang biasa saja di wujud ini, kecuali dia dalam bentuk Flugel, dia akan membedakan karakternya.


"Bentar lagi malam akan tiba, saatnya untuk berjalan melihat suasana kota Seoul."


Agler bangkit dari tempat tidur, dan mulai menyiapkan baju untuk keluar.


Hasilnya tidak jauh dengan pakaian celana olahraga hitam yang biasa dia kenakan, dan jaket tebal berwarna hitam serta kacamata.


Jam masih menunjukkan pukul lima lewat beberapa menit, ini waktu yang tepat untuk keluar dari hotel.


Jika terlalu malam dia tidak akan puas dan hanya satu jam untuk keluar, dan jam selanjutnya dia harus pulang ke rumah untuk makan lama bersama.


Karena itu ini saatnya untuk keluar dan mulai menjelajah kota Seoul.


Membuka pintu kamar, Agler langsung disambut oleh pengawal dengan badan yang besar seperti binaragawan.


"Selamat sore, Tuan." Mereka mengucapkan selamat dalam bahasa Indonesia yang cukup bagus.


Menjawab ini, Agler mengangguk terlebih dahulu sebelum berkata kepada mereka, "Kalian boleh pergi sore ini, aku tidak butuh pengawal."


Mendengar perkataan Agler, mereka terkejut dan gugup, "Kenapa, Tuan? Apakah kita berdua menjalankan tugas dengan baik?"


"Bukan seperti itu, memang akan tidak ingin pengamanan seperti ini, kalian bisa pergi dan bilang bahwa ini kemauan dariku," jawab Agler ringan.


"Baiklah, Tuan! Kita akan segera pergi." Karena Agler telah berkata seperti itu, mau tidak mau mereka harus melaporkan ini ke pusat perusahaan.


"Baik." Agler berdiri di depan pintu melihat sosok besar mereka berdua pergi dan masuk ke dalam lift hotel.


Agler tidak membutuhkan pengawal seperti ini karena terlalu mencolok, lagipula dia memiliki Jarvis yang telah terjamin masalah keamanan, kalau keamanan fisik tidak akan terjadi masalah. Memang siapa di dunia ini yang bisa melukai Agler.


Melangkah ke depan Agler berjalan menuju lift yang satunya.


"Semoga saja ada hal yang menarik," gumam kecil Agler sambil menatap lift di depannya.


Mengharapkan akan ada sesuatu menarik di kota ini, ini salah satu tujuan Agler melakukan perjalanan.