Savior System

Savior System
Bab 27 : Rumah Bibi


Bapak Agler adalah anak pertama dan mempunyai 3 adik perempuan di kampungnya.


Adik pertama sudah mempunyai suami serta 2 anak perempuan yang masih bersekolah di bangku SD. Adik kedua sudah menikah dan mempunyai 1 anak laki-laki yang masih TK dan Adik ketiga belum menikah, dia berumur 25 tahun dan bekerja menjadi buruh di salah satu pabrik di Bogor.


"Ibu Naimah titip anak-anak dulu ya, saya mau ke rumah saudara di Bogor."


Agler meminta tolong Ibu Naimah untuk merawat sebentar anak-anak selagi dia tidak ada di rumah.


Ibu Naimah dan Bapak Anto yang adalah pasangan suami istri tinggal di rumah Agler di lantai 1, karena tidak ada orang dewasa selain Agler dan Adena di rumah itu dan juga kamar Agler ada di atas tidak bisa mengawasi anak-anak bila terjadi kejadian yang tidak diinginkan.


"Iya pak. Itu udah kewajiban saya pak sebagai pengasuh, Saya sama suami saya bakal rawat anak-anak seperti anak saya sendiri," balas Ibu Naimah sambil tersenyum.


Ibu Naimah dan Bapak Anto pasangan yang berumur 40 tahun tetapi masih belum dikaruniai seorang anak, jadi mereka menjadi pengasuh di Panti Asuhan agar bisa merasakan mempunyai anak.


"Makasih ya bu," ucap Agler dan tersenyum.


"Sama-sama, Pak."


Menaiki mobil Adena dan berangkat menuju kabupaten Bogor.


*****


Berhenti di depan rumah yang terlihat kecil hanya 50 m² luasnya dan agak tua, turun dari mobil dan segera melihat sekeliling.


Agler melihat lingkungan yang masih asri setidaknya tidak sepanas di Jakarta. Terdapat pohon Nangka di depan rumah.


Seorang wanita berusia 40 tahunan keluar dari rumah itu, lalu memanggil.


"Agler?"


Bibi pertama terkejut melihat Agler yang tanpa kabar tiba-tiba ke sini.


"Iya ini Agler Bi," jawab Agler.


Bibi pertama memeluk Agler dan memandangnya dari kaki sampai atas kepala.


"Kamu kaya beda deh? kaya lebih kasep sama tinggi kitu."


"Hehehe masih usia pertumbuhan kan, Bi," jawab Agler.


Bibi Agler melihat seorang perempuan di belakang Agler dan bertanya kepada Agler, "Pacar kamu?"


"Aduh lupa, ini kenalin calon istri aku, Bi." Agler memperkenalkan Adena kepada Bibi pertamanya.


Adena tersipu saat dikenalkan oleh Agler sebagai calon istrinya.


"Halo bi, Aku Adena," kata Adena.


Bibi pertaman mendekati Adena lalu melihat wajahnya, "Geulis pisan atuh ini mah, kamu pake skincare apa Adena?"


"Eh aku cuma pake facialwash aja Bi," jawab Adena yang bingung dengan sikap Bibi pertama.


"Bisa Glowing Shimmering Splendid banget muka kamu, Bibi jadi iri," kata Bibi pertama.


"Ayo masuk ke rumah," ajak Bibi.


Lalu menarik tangan Adena membawanya masuk ke rumah.


Melihat perilaku Bibi pertama, Agler hanya bisaa berdoa agar Adena kuat menghadapi sifat periang dan bersemangatnya Bibi pertama.


Agler masuk ke rumah Bibi dan melihat-lihat ruangan yang luasnya hanya 50 meter persegi dengan interior yang sudah tua dan usang, masih sama seperti dulu saat Agler asli ke sini saat SMP.


Adena seperti sedang dipaksa oleh Bibi pertama untuk mencicipi makanannya di ruang makan. Melihat ekspresi wajah Adena yang canggung dan bingung, Agler tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.


"xixixi~"


Adena mendengar Agler yang sedang tertawa kecil, langsung melototinya. Agler segera berhenti tertawa dan diam.


"Kamu kenapa melotot gitu Adena?" tanya Bibi pertama.


"Ini Bi, Aku kaget sama rasa makanan yang dibuat Bibi, soalnya enak banget!" jawab Adena.


"Yauda, sekarang kita makan bareng di sini biar makin asik."


"Agler kenapa duduk di situ, sini kita makan bareng mumpung anak-anak lagi sekolah, nanti riweuh," kata Bibi pertama.


"Iya, Bi." Agler berjalan menuju dapur dan duduk di bangku.


Bibi pertama menyiapkan nasi dan lauk pauk seperti pepes ikan, tahu tempe, sambal dll.


"Mobil di depan rumah itu punya kamu Agler?" tanya Bibi.


"Mobil Adena Bi," balas Agler jujur.


"Ouhh gitu."


Bibi pertama curiga Agler milih Adena karena harta dan bukan cinta.


Setelah mereka bertiga selesai makan, Agler bertanya kepada Bibi, " Mamang kemana Bi?"


"Itu lagi mancing, lagi nganggur sekarang Agler karena dipecat sama bos. Bingung jadinya Bibi gimana cara muterin uang buat cukup makan sehari-hari dan keperluan yang lain seperti biaya listrik, jajan anak Dll," kata Bibi pertama.


Tidak tega melihat Bibi seperti ini, Agler berniat memberi uang kepada bibinya.


"Coba panggil Mamang Bi ke sini, Agler ada perlu sama Mamang," kata Agler.


"Bentar ya Bibi panggil dulu." Bibi keluar dari rumah dan menjemput suaminya di tempat pemancingan yang dekat dari sini.


Melihat Bibi yang sudah keluar, Adena bertanya, "Sayang, Bibi pertama emang gitu ya sifatnya?"


"Iya, emang gitu sayang, orangnya excited gtu kalo bahasa Jaksel mah," jawab Agler.


"Lucu orangnya bisa bikin orang ketawa, tapi tadi aku masih kaget hehehe," kata Adena.


"Baik orangnya, tapi ya gitu sifatnya terlalu periang, bikin kaget orang."


Bibi datang lagi bersama suaminya yang habis mancing.


Malihat Mamang datang ke rumah bersama Bibi, Agler dan Adena berdiri menghampiri Mamang lalu salim kepadanya.


"Agler makin gede aja kamu," kata Mamang.


"Hehe iya mang. Ini mang Agler mau transfer uang ke Mamang soalnya lagi punya rezeki banyak," ucap Agler.


"Ga usah Agler, Uangnya buat modal kamu nikah aja, calonnya kan udah Ada." Mamang melihat perempuan disamping Agler dan menebak langsung siapa perempuan ini.


Malu dengan ucapan Mamang Agler, Adena menundukan kepalanya.


"Ada kok Mang buat modal nikah, Ini emang udah Agler niatin untuk ngasih sebagian rezeki Agler ke Mamang serta keluarga."


"Yauda, Kita duduk dulu biar enak ngomongnya," saran Mamang.


Mereka berempat duduk di atas karpet ruang tamu.


"Kalo kamu emang mau ngasih ya silahkan tapi jangan sampai membebankan kamu juga Agler, kalo sekiranya terbebani karena memberi sesuatu ke Mamang lebih baik tidak usah," ucap Mamang.


"Iya Mang Agler ngerti, jadi no rekeningnya berapa?" tanya Agler.


"xxxxxxxxx..."


...


"Udah Agler transfer mang," kata Agler setelah mentransfer uang ke rekening Mamang.


"Sebentar Mamang cek dulu."


Mamang membuka aplikasi Livin by MANJA, dan melihat saldonya yang terdapat 0 yang banyak, dia sampai pusing melihatnya.


"Agler kamu beneran ngasih Mamang 10 juta?" tanya Mamang.


"Bukan 10 juta Mang tapi 1 miliar."


Mamang melihat saldonya, langsung menghitung 0 yang ada di sana, dan ternyata ada sembilan 0 yang di belakang angka 1.


"Agler?!"


"Ini beneran? uang dari mana ini?" tanya Mamang.


"Agler berinvestasi ."


"Ouhhh...."


"HAH??!!"


"Serius?!"


"Iya Mang," jawab Agler.


Mamang bingung harus berbuat apa. Bibi pertama terkejut setelah mendengar percakapan mereka, tidak menyangka Agler yang masih kecil dimatanya sudah menghasilkan uang yang banyak.


Melihat Mamang yang bingung dan masih belum sadar apa yang terjadi, Agler menepuk pundaknya dan berkata, "Ini uang untuk Mamang sama keluarga, tolong di pake untuk renovasi rumah kalau tidak usaha yang lain kalau Mamang mau wirausaha."


Melihat ke arah Agler dan berkata, "Iya Agler, pasti uang ini Mamang gunakan sebaik mungkin."


"Tapi Agler ga akan ngasih lagi Mang, Mamang harus tetap kerja karena itu kewajiban Mamang sebagai Pemimpin rumah tangga."


"Iya Agler, Mamang ngerti maksud kamu."


"Oke Mang, Bibi, Agler sama Adena Pamit mau ke rumah Bibi kedua dulu."


"Hati-hati ya Agler, masih tau jalannya, kan?" tanya Bibi pertama.


"Masih Bi," jawab Agler.


Mereka berdua berpamitan kepada Bibi dan Mamang, dan melanjutkan perjalanan ke rumah Bibi kedua.


*****


"Kamu kenapa ga jujur aja bahwa kamu punya perusahaan," ucap Adena.


"Aku takut saudara jadi males untuk bekerja dan hanya mengandalkan uang pemberian Agler, atau tidak, dia meminta kerja di perusahaan Agler bukan karena kemampuannya tetapi karena Dia masih saudara Agler. Istilah ilmiahnya Orang Dalam," balas Agler.


"Ouhh gitu, aku ngerti sayang."


"Aku bakal liat gimana ke depannya saudara aku setelah di beri uang itu. Apakah hanya mengandalkan uang itu atau dia tetap bekerja."


"Aku setuju, sama pemikiran kamu."


"Omong-omong kamu jadi pindah ke rumah kan?" tanya Agler.


"Iyaa jadi sayang, tapi maju aku belum bawa, besok aja aku bawa."


Agler merasa senang di hatinya, akhirnya momen pecah perawan akan tiba. Agler tersenyum seperti orang cabul dan itu dilihat oleh Adena.


"Heh!"


"Eh, apa sayang?" tanya Agler


"Kamu mikir apa hayo," kata Adena pipinya sedikit merah.


"Engga mikir apa-apa kok."


"Yauda sekarang fokus aja nyetirnya, Sayang."


"Oke."


....