
"Boleh aku duduk di sini?"
Suara perempuan ini sangat lembut, berbicara Bahasa Korea Selatan dengan nada rendah.
Mendengar ada yang bertanya kepadanya, Agler menoleh ke sumber suara itu.
Sebuah wajah cantik dengan raut ekspresi yang ramah langsung ditampilkan saat dirinya menoleh.
"E-eh kamu?!"
Wanita itu terkejut saat melihat wajah Agler yang menoleh ke arahnya.
Dirinya tidak menyangka bahwa pria ini begitu tampan, sangat tampan dan mirip seseorang yang pernah dia temui kemarin.
Mata Agler dan mata wanita ini saling bertatapan beberapa detik sebelum wanita ini memalingkan wajah ke arah lain.
"Kenapa kau ada di sini?" Agler bertanya dengan heran.
Baru saja semalam dia menemui wanita ini, pagi ini ketemu kembali.
Wanita yang berambut pirang dikuncir kuda atau one tail dan mengenakan masker, semalam menanyakan sebuah alamat rumah kepadanya.
Namun, dia tidak tahu alamat ini, jadi dia tidak bisa membantu wanita ini, setelah itu dia pergi melanjutkan melihat pemandangan daerah Gangnam.
Dan sekarang dia bertemu lagi dengan wanita ini, tapi model rambutnya sudah berganti sudah tidak lagi dikuncir, kini rambutnya bebas kuncir dan panjangnya melebihi bahu, hampir setengah punggungnya.
Jujur, mata wanita ini bisa dikatakan cantik, sebab memiliki bulu mata lentik yang mempesona dengan pupil mata berwarna coklat. Mengenakan pakaian seperti ingin olahraga dengan memakai jaket hitam di tubuh bagian atasnya, tidak ditutup melainkan dibuka ritsleting jaket tersebut.
Juga Agler barus sadar bahwa mata yang sedikit besar wanita ini seperti berbeda dengan wanita asli negara ini. Pasalnya dari matanya saja sudah terlihat mencirikan sosok wanita yang asalnya dari luar negeri, nampak agak Eropa. Tentunya bukan asli negara ini.
"Aku? Kenapa di sini?" Wanita itu menatap Agler yang masih duduk di bangkunya dan berkata.
"Aku di sini arena aku sedang liburan. Tempat ini juga termasuk lokasi yang ingin aku kunjungi." Wanita ini menjawab dengan jujur.
"Oh, oke. Kenapa kau tidak duduk, tadi kau meminta izin untuk duduk padaku," ucap Agler melihat Wanita di depannya sedikit mendongak.
"Eh, apakah itu boleh?" tanya Wanita ini untuk memastikan.
"Boleh, masih ada ruang untuk kamu duduk di bangku ini," balas Agler dan dia menyampingkan diri untuk memberi ruang pada Wanita yang duduk ini.
"Em, terima kasih."
Segera Wanita itu duduk di bangku dengan gerakan tubuh yang sedikit kaku.
Saat duduk di samping Agler, tingkah Wanita ini sedikit aneh dan canggung, dia duduk sangat di tepi, dan tidak di tengah bangku.
Padahal Agler memberi ruang luas di bangku ini untuk dia duduk, tapi Wanita ini duduk di paling sisi dari bangku.
Terdapat ruang kosong di antara mereka berdua, seperti mereka sedang bermusuhan.
Keheningan terjadi di keduanya dalam beberapa menit.
Agler sibuk dengan ponselnya dan juga memandangi danau di depannya. Sementara, Wanita itu diam karena masih terasa canggung.
Ingin membuka pembicaraan, tapi dia ragu-ragu. Dan dia mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan.
"Kamu tinggal di daerah sini?" tanya Wanita ini yang akhirnya berhasil memberanikan memulai topik pembicaraan.
Mendengar pertanyaan yang lontarkan Wanita ini, Agler pun menjawab, "Tidak, aku tinggal di hotel daerah Jung-gu. Sama sepertimu, aku juga liburan ke daerah ini."
"Jung-gu? Bukannya daerah itu jauh dari sini?" Wanita ini tahu daerah tempat Agler tinggal.
Memang benar, itu cukup jauh, dan Agler harus berjalan kaki dan menaiki kereta untuk sampai di sini. Hotel dia inap juga dekat dengan stasiun
kereta, terhitung tidak terlalu jauh.
"Lumayan jauh. Lalu, kau sudah menemukan alamat yang kamu tanyakan semalam?" Agler mengganti topik pembicaraan.
"Sudah. Ternyata itu dekat dengan Gangnam, juga dekat dengan tempat ini," jawab Wanita itu sambil sekali mengangguk.
"Oh, begitu. Pantas saja kamu ada di sini," ucap Agler sambil menoleh ke Wanita di sampingnya ini.
"Iya. Omong-omong kamu liburan di sini berapa hari?" Wanita ini memperpanjang perbicangan di antara mereka.
"Tidak pasti, entah itu tiga atau tujuh hari." Agler berkata sambil memandangi air mancur di depannya.
"Sama sepertiku. Mungkin akan hanya berlibur selama lima hari, bisa lebih dari itu, setelah itu aku harus pulang ke negara asalku." Wanita itu juga ikut memandangi air mancur di depannya.
"Negara asalmu? Di mana itu?" Agler menatap Wanita ini dengan sedikit rasa ingin tahu.
"Negara asalku di Rusia. Aku akan kembali ke sana setelah sekian lama aku tidak pulang beberapa tahun," jawab Wanita itu dengan sedikit sedih.
"Rusia? Kamu di sini kuliah atau bekerja?" Agler cukup tertarik dengan identitas Wanita ini.
"Kuliah, dan aku telah lulus satu tahun kemarin." Wanita ini memandang Agler.
Tanpa sadar mereka saling memandang sesaat.
"Oke." Agler terdiam sejenak lalu melanjutkan, "Lalu kamu di sini sendirian? Dan alamat itu rumah siapa?"
Dua pertanyaan Agler berikan pada Wanita di depannya.
"Iya aku sendiri tinggal di rumah, namun aku di sini memiliki teman satu negara. Alamat itu ialah alamat rumah teman kampusku yang senegara itu."
Agler mengangguk mengerti. Wanita ini ternyata lebih tua darinya, mungkin berumur lima tahun lebih tua dibanding umurnya.
"Jadi, kau akan pergi dari sini setelah liburan dan langsung pergi ke Rusia?" tanya Agler setelah mengambil kesimpulan dari semua jawaban Wanita di depannya.
"Iya, seperti itu kurang lebih." Wanita itu mengangguk kemudian bertanya kembali pada Agler, "Kalau kamu, apakah liburan juga dan akan pergi lagi ke tempat negaramu? Asal negara mana? Pasti bukan negara ini, kan?"
"Hampir sama, namun aku hanya liburan saja, dan akan pergi ke negara yang lain untuk liburan setelah beberapa hari di sini," jawab Agler sambil mengangguk.
"Oh kamu liburan di sini. Berarti kamu sedang melakukan tour? Berkeliling dunia?" Wanita ini bertanya penuh semangat dan ingin tahu.
Tidak sadar ruang kosong di antara mereka berdua semakin mengecil. Mereka berdua perlahan mendekati satu sama lain.
"Bisa dibilang seperti itu." Agler sedikit mengangguk. "Pertanyaan kamu yang terakhir aku belum jawab."
"Salah dugaanmu. Sebaliknya, aku orang Asia, lebih tepatnya Asia tenggara," jawab Agler ringan.
"Asia tenggara? Negara apa?" Italia?" Wanita ini bertanya dan menebak.
"Sejak kapan Italia itu Asia tenggara?" Agler berkata bingung.
Italia adalah bagian Eropa Selatan. Wanita ini agak-agak aneh dan bobrok.
"Eh!" Wanita itu menutupi mulutnya karena salah berucap.
"Aku lupa, hehe." Wanita itu Terkekeh.
"Ada-ada saja." Agler menggelengkan kepala.
"Negara Indonesia, kau tahu?" tanya Agler menatap wajah Wanita yang setengahnya ditutup oleh masker hitam.
"Indonesia?" Wanita itu menundukkan kepalanya sedikit dan berpikir.
"Bali? Aku tahunya Bali, dan tempat itu ada di Indonesia, kan?" Matanya berbinar, dan dia mengetahui Negara Indonesia.
"Benar, Bali ada di Indonesia."
Orang luar negeri hanya tahu Bali, selain itu mereka tidak tahu, mungkin ada yang tahu yang lain seperti batik, tempe, alat musik, tapi itu hanya segelintir.
"Ouh aku tahu!" Wanita ini tiba-tiba berseru. "Negara Indonesia yang dicurigai bahwa tempat Saviorman tinggal, kan?"
"Kau tahu Saviorman?" tanya Agler sedikit terkejut.
"Aku tahu, karena aku juga salah satu penggemar Saviorman." Wanita itu mengangguk semangat.
"Kau tahu? Saviorman orang yang sangat kuat, memiliki kemampuan di jangkauan umat manusia, juga dia memiliki sifat yang baik dan rela berkorban. Bahkan dia menangis sedih ketika dia melakukan kesalahan yang telah menghilangkan banyak korban ...."
Dalam sekejap Wanita ini menjadi cerewet dan banyak bicara. Dia membicarakan tentang semua fakta Saviorman. Agler mau tidak mau harus mendengarkan sampai wanita ini selesai dan kehabisan kata.
"... Saviorman memang pantas menjadi idolaku!"
Setelah berkata panjang lebar, wajahnya masih mempertahankan ekspresi senang dan gembira. Tampaknya hanya membahas Saviorman saja dia sudah senang.
Kebanyakan wanita senang dengan membahas drama dari negara ini, entah itu memuji visual aktor atau menceritakan kembali jalan cerita. Tapi, Wanita ini berbeda.
"Kau sepertinya senang sekali dengan Saviorman?" Agler melirik Wanita di sebelahnya yang masih mempertahankan mata yang cerah.
"Iya, benar! Aku senang dengannya. Semoga saja aku bisa bertemu dia." Wanita itu mengangguk dan berkata melihat ke langit biru.
"Bertemu untuk apa?" Spontan Agler bertanya.
"Untuk berterima kasih karena telah menggunakan kekuatannya demi manusia." Wanita itu menatap kembali wajah Agler lalu tersenyum manis walau tidak terlihat karena tertutup masker. Dari matanya masih bisa terlihat bahwa dia sedang tersenyum.
Salah satu alis Agler naik. Agler cukup tertarik dengan Wanita ini.
"Selama kita mengobrol, kita belum mengetahui nama satu sama lain," ujar Wanita itu tiba-tiba.
"Ladies First, kau terlebih dahulu." Agler berkata pada Wanita di sampingnya.
"Baiklah," ucap Wanita itu.
"Perkenalkan aku Alyona Calina." Wanita itu mengulurkan tangan kanannya ke depan Agler.
Mengambil tangan putih itu, Agler menjabatnya, lalu berkata, "Agler Cullen Keen."
Mendengar naman Agler, Alyona bereaksi. "Namamu seperti nama dari Amerika dan sekitarnya. Sepertinya nama Negara Indonesia tidak seperti itu."
"Memangnya kau tahu, apa nama yang biasa digunakan oleh orang Indonesia?" Agler terheran dan bertanya.
"Hehe, tidak." Alyona terkekeh canggung. "Tapi, setahuku nama orang di negara bagian Asia Tenggara tidak seperti itu."
"Tapi sangat bagus namamu, seperti orangnya," tambah Alyona.
"Maaf, apa katamu?" Agler salah fokus pada perkataan Alyona.
"Seperti orangnya?" tanya Agler.
"Tidak-tidak, kau salah dengar, aku hanya bilang namamu sangat bagus." Alyona menggerakkan kedua tangannya dan melambai cepat.
"Oke," ucap Agler dengan santai.
Padahal Agler sudah tahu apa maksud perkataan Alyona di akhir tadi. Sepertinya dia mengagumi tampilan Agler, tapi tidak begitu malu dan memuji dengan terang-terangan.
"Namamu juga bagus, sama seperti matamu." Agler membalas sambil tersenyum.
"Eh~" Pipinya memerah dengan cepat dan memanas.
Alyona memalingkan wajahnya, tidak berani menatap Agler kembali.
Tingkahnya mulai aneh, dia menepuk kedua pipinya yang tertutup masker, dan juga bergumam kecil.
"Tahan, tahan, tahan Alyona. Kamu pasti bisa. Dia pasti salah berbicara," gumam kecil Alyona kepada dirinya sendiri.
Agler menggelengkan kepalanya dan kembali memainkan ponselnya.
Dua menit berlalu, Alyona telah berhenti bertingkah aneh, dan dia melihat Agler yang sedang menatap ponselnya.
"Kamu tidak bosan di sini? Bagaimana kalau kita berjalan menikmati suasana di sini." Alyona mengajak Agler untuk berjalan-jalan di sekitar sini.
Ajakan Alyona membuat Agler tertarik, dia mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku jaket. Meninggalkan bangku dan berdiri di depan Alyona.
"Ayo," ucap Agler ringan sedikit menunduk.
"Oke," Alyona bangkit dari tempat duduk dan berdiri di hadapan Agler.
Agler merespon mengangguk dan berjalan terlebih dahulu, diikuti oleh Alyona yang bejalan di belakangnya.
Mereka berdua pergi bersamaan meninggalkan danau kecil dan berjalan menuju hutan dengan pohon yang tinggi dan rindang.