
"Kita beli baju dulu yuk," ajak Adena sambil memegang tangan Nayla.
"Ayo kak."
Anak-anak itu menuju toko baju bersama Adena. Agler dan Dua supir Gokar mengikuti dari belakang.
"Bang, nama lu siapa?" tanya Agler kepada dua supir yang berjalan berdampingan dengannya.
"Nama saya Kotet mas," jawab salah satu supir.
"Kalo saya Cuprut mas," jawab supir satu lagi.
Cukup aneh mendengar nama dua supir ini, lalu Agler bertanya lagi, "Gaji jadi Gokar berapa bang perbulannya?"
"Ga nentu mas, biasanya satu hari saya bisa dapet 500k-800k," jawab Kotet.
Cuprut juga mengangguk.
"Gede juga gaji lu pada, Bang."
"Ya begitu lah mas," kata Cuprut.
"Yauda bang lu mau beli baju buat anak atau anak kecil yang ada di keluarga ga? lu pilih aja," ucap Agler.
"Kebetulan saya punya keponakan mas."
"Saya juga."
"Bentar bang, sekalian tolong kasihin kartu ATM ini ke pacar gua." Agler menyerahkan ATM-nya ke tangan Kotet.
"Oke mas siap," balas Kotet.
"Mas-nya mau kemana?" tanya Kotet.
"Mau ke toilet bentar, mules gua bang," jawab Agler.
"Oke bang, kita berdua masuk dulu."
Lalu mereka berdua masuk ke toko baju.
Setelah memastikan mereka berdua benar-benar memasuki toko, Agler segera berlari menuju pintu keluar Mall.
Pergi ke tempat parkiran di luar Mall dan bersembunyi di titik buta cctv, merubah pakaiannya menjadi kostum superman hitam.
Terbang melesat cepat menuju Gunung Halimun Salak, Bogor.
.....
Sepersepuluh luas hutan Gunung Halimun terbakar tanpa sebab, sementara diduga karena ada seseorang yang membuang puntung rokok sembarangan.
Asap hitam menjulang tinggi ke atas langit, orang-orang di sekitar mulai panik dan mencoba memanggil pemadam kebakaran.
Panas yang dihasilkan oleh kebakaran hutan dapat dirasakan pada jarak 100 meter dari bagian hutan yang terbakar.
"Apa'an tuh?"
"Kebakaran woy di hutan Halimun."
"Aduh temen-temen gua lagi pada hiling ke situ."
"Semoga cepet padam ya tuhan."
Warga di sekitar Gunung Halimun Salak juga ikut panik, karena asap terlihat jelas dari rumah mereka.
.....
Pada saat yang sama.
Agler melayang di udara melihat hutan yang terbakar di depannya berjarak 50 meter darinya. Api dengan cepat menjalar dari satu pohon ke pohon lain.
Mengulurkan kedua tangannya ke atas lalu ia menggunakan kekuatan es untuk membuat hujan salju.
Awan abu-abu sedikit putih segera berkumpul di atas hutan yang terbakar, perlahan butiran salju turun dari awan dan semakin lama semakin banyak begitu deras.
Butiran salju yang tak terhitung jumlahnya menyentuh api besar yang membakar hutan, api itu lama-kelamaan menyusut padam dikalahkan oleh dinginnya salju.
Di sisi lain, Warga dan orang di sekitar hutan Gunung Halimun menyaksikan keajaiban yang tak terlupakan di hidup mereka, tiba-tiba ada awan yang menjatuhkan salju di atas hutan yang terbakar.
Warga tidak habis pikir, salju bisa turun di Indonesia. Mereka mengira ini fenomena alam dan tanda-tanda kiamat.
"Permisa hujan salju turun di atas kawasan hutan halimun."
"Di luar nalar coy."
"Tobat lah wahai kawan, kiamat sudah dekat!"
"...."
.....
Api yang membakar hutan akhirnya padam dan menyisakan salju tebal yang menempel di pohon hangus karena terbakar.
Salju menyelimuti 12 km² dari luasnya hutan halimun, warga dan orang-orang sekitar mencoba mendekati hutan yang tadi terbakar sekarang sudah menjadi hutan bersalju.
Menyentuh dan menginjak salju memastikan bahwa itu salju asli.
"Asli cuy."
"Cok! bawa sirup Marjan sama gelas dari rumah."
"Gaes lihat ini keajaiban dunia."
Warga segera mengevakuasi dan mencari korban yang terbakar, untungnya tidak ada korban jiwa pada musibah ini.
.....
[Ding! Selamat kepada tuan rumah telah menyelamatkannya tugas sistem!]
[1x Tiket Lotere sudah diberikan]
Mendengar suara sistem yang memberitahukan bahwa tugas sudah selesai, Agler melambaikan tangannya dan segera salju di hutan naik ke atas dan menghilang di langit.
Warga tercengang dengan salju yang tiba-tiba menghilang.
Satu orang warga memperhatikan salju yang naik ke atas dan tak sengaja melihat Agler yang melayang di atas langit lalu ia segera berteriak sambil menunjuk Agler berada, "Itu Saviorman yang sekarang lagi ngetrend!"
Refleks warga yang mendengar teriakannya mendongak ke atas, segera mereka melihat Agler dengan jubah yang berkibar sedang melayang di atas langit.
Merasa sedang ditatap oleh ribuan orang, Agler melihat ke bawah ke arah warga yang ada di sekitar dan menyapa dengan melambaikan dua tangannya ke arah mereka.
Lalu dengan cepat terbang kembali menuju mall ke tempat Adena dan anak-anak sedang belanja.
.....
Di Toko Baju.
"Sayang, kamu kemana aja?" tanya Adena memandang Agler yang sedang berjalan ke arahnya.
"Toilet sayang," jawab Agler seolah-olah tidak berbohong.
Menatap Agler dengan teliti memastikan kekasihnya tidak berbohong.
Merasa malu ditatap tajam oleh Adena, Agler segera berkata untuk mengalihkan topik, "Gimana? udah beli bajunya?"
"Udah, aku milih buat mereka 10 set untuk 1 orang."
Adena memilih 10 set pakaian untuk masing-masing mereka, walaupun ia merasa pusing saat memilih total 100 set pakaian, demi kebahagiaan mereka Adena pun ikut senang.
Agler melihat Adena yang sedikit lelah, langsung mencium keningnya tanda terima kasih karena Adena menemani mereka membeli pakaian.
"Huh~ Nakal kamu ya asal nyosor." Pipi Adena mengembung dan memerah.
Mencubit lembut kedua pipi Adena yang menggemaskan. "Lucu banget sih kamu."
"Ih jangan cubit gitu, sakit tau." Adena pura-pura sakit karena dicubit.
"Yauda aku cium aja pipinya." Agler segera mencium pipi kanan Adena.
Dicium tiba-tiba oleh Agler, Adena tidak bisa menahan rasa malunya lalu ia bergegas kedalam pelukan Agler.
"Hahaha," Agler tertawa melihat tingkah laku adena.
Mengusap rambut Adena agar rasa malunya mereda.
Adena melepas pelukan Agler dan dengan cepat ia mencium bibir Agler lalu berlari menuju anak-anak yang sedang mengantri di kasir.
"Mas kita berdua ada disini loh," ucap Kotet yang melihat Keuwuan Agler dengan Adena barusan.
Mendengar suara Kotet dari belakang dirinya, Agler berbalik dan melihat mereka berdua yang sudah menangis tidak keluar air mata.
"Hehehe maaf bang, gua gatau lu berdua ada di sini."
Agler tidak sadar ada mereka berdua berdiri dibelakangnya.
"Gapapa mas, sudah biasa."
Kotet dan Cuprut berpura-pura tegar.
"Udah milih baju?" tanya Agler.
"Udah nih mas," jawab Kotet sambil mengangkat satu set pakaian anak kecil ditangannya.
"Saya juga mas." Cuprut menunjukkan pakaian anak kecil yang dipilihnya.
"Yauda bang, lu ikut ngantri di kasir bang, biar pacar gua yang bayar," kata Agler.
"Oke mas."
.....
"Beli baju udah, beli sepatu udah, beli peralatan mandi udah, beli seragam sekolah udah, peralatan sekolah juga udah." Adena mengingat-ingat list yang ingin dibeli untuk mereka.
"Beli mainan kak, aku sama Nayla masih simpen uang yang dikasih Kakak Adena dan Bang Agler, ada di tas selempang yang Nayla pake," usul Farid.
Adena menggelengkan kepalanya dan memandang Farid. "Dari pada beli mainan mending kita tabung uangnya."
"Siapa yang mau belajar menabung?" tanya Adena kepada Anak-anak.
"Aku mau kak."
"Aku juga kak."
"Nabung pangkal kaya kata Ilham."