Savior System

Savior System
Bab 109 : Melawan Para Gycleps PT 05


Gycmer terbang terbalik sangat jauh, dan menabrak Gycser dan Gycger yang sebelumnya sedang berlari menuju Gycmer untuk menghentikan serangannya.


BANG!!!


Tiga monster botak itu terus mundur hingga menabrak Gycleps yang ada di dekatnya cukup keras.


Mereka bertiga terlempar sangat jauh hingga 20 kilometer dari tempat Agler berdiri akhirnya mereka berhenti.


Para Gycleps yang tertabrak oleh mereka sebagian besar mati terpotong dan patah bagian tubuhnya akibat dihantam dengan sangat keras.


Agler berdiri di samping kawah besar akibat benturan pukulannya yang ditahan oleh Gycmer.


"Aku kira kuat ternyata kertas," ejek Agler sambil memandangi tiga monster yang terbaring di atas tumpukan mayat dari rasnya sendiri.


Tapi Agler merasakan sesuatu yang aneh, dia menoleh untuk melihat tangan kirinya yang dia pakai ketika memukul Gycmer tadi.


Kepala tangan kirinya terluka parah, terdapat aura biru tua yang menggerogoti jarinya hingga terluka parah sebelum akhirnya menghilang.


Mirip suatu zat kimia yang bersifat korosif, jika mengenai seseorang secara kontak langsung akan membuat luka bakar dan merusak jaringan sel tubuh manusia.


"Asap biru ini mirip dengan asap merah yang dikeluarkan oleh Pemimpin Draith," ucap Agler setelah melihat asap biru yang membuat luka di tangan kirinya.


Api biru-ungu muncul dan mengisi luka, hanya dalam kedipan mata, luka di tangan kirinya menghilang.


"Sepertinya mereka dan Pemimpin Draith masih satu monster sejenis, sifat asap berwarna itu mirip, hanya terdapat perbedaan dari kekuatan destruktif-nya dan warnanya," kata Agler sambil mengamati asap biru dari Gycmer ini.


Dia menduganya seperti itu, karena jika diingat kembali dengan asap atau aura merah yang mengelilingi Pemimpin Draith waktu itu. Asap merah ini mirip sekali dengan asap biru dari monster botak ini.


Di sisi lain, Tiga Pemimpin Gycleps bangun dari tumpukan ratusan mayat Gycleps.


"Sial!"


Gycmer perlahan bangkit, tubuhnya sedikit bergetar sambil bertumpu pada palunya yang besar.


Terlihat armor birunya sedikit rusak dan retak di bagian titik Agler meninju tubuhnya.


Tidak ada luka berat di sekujur tubuhnya, hanya ada beberapa luka memar di bagian dadanya akibat pukulan Agler dan di beberapa bagian pada tubuhnya akibat menabrak Gycser dan Gycger serta ratusan Gycleps.


Serta luka di dalam tubuhnya yang sempat membuatnya muntah darah.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Gycser mengeluarkan batuk darah dari mulutnya, lalu menyingkirkan salah satu tubuh Gycleps yang menimpa dirinya, dia akhirnya bisa bebas dari tumpukan tubuh prajurit Gycleps yang telah mati ini.


Bum!


Suara dentuman seperti seseorang memukul ke benda tumpul dan keras terdengar jelas.


Salah satu mayat tubuh Gycleps yang sudah tidak utuh terlempar tidak jauh dari tempat Gycser dan Gycmer berada.


"Haa... Haa... Hah ...."


Suara menarik nafas yang berat terdengar, Gycger yang tertimpa beberapa mayat Gycleps yang lebih besar dari dirinya perlahan keluar dari kuburan mayat.


Tubuhnya diselimuti berbagai macam luka memar dan beberapa goresan yang menyayat kulitnya yang tebal.


Dadanya kembang kempis seolah ia telah melakukan lari cepat mengelilingi satu dunia.


"Bajingan kamu Gycmer! Haa ...."


Gycger masih bisa menyempatkan untuk mengutuk Gycmer di saat kondisinya terluka seperti ini.


Mereka bertiga secara bersamaan mulai memulihkan lukanya, asap biru dengan cepat membungkus tubuh mereka.


Semua luka yang ada di tubuh mereka mulai pulih, itu tidak secepat regenerasi milik Agler, mereka harus membutuh kan waktu hampir satu menit sampai pulih sepenuhnya.


Gycmer berdiri menghadap Agler yang jauh darinya walaupun terlihat seperti titik kecil saat dia melihatnya.


Tangan kanannya terulur, lalu memegang gagang palu besarnya dengan erat. Ia berniat untuk kembali menyerang Agler sekali lagi, karena di dalam hatinya dia tidak terima kekalahan dari makhluk seperti Agler ini.


Tepat ketika Gycmer ingin mengambil langkah ke depan, tiba-tiba suara terdengar di telinganya.


"Berhenti Gycmer, kita tidak boleh seperti ini," panggil Gycser untuk menghentikan aksi Gycmer yang ingin melanjutkan pertarungan satu versus satu dengan Agler.


Gycmer berbalik menatap Gycser yang sedang berdiri di belakangnya.


"Kenapa? Ini adalah pertarungan antara aku dengan makhluk itu," jawab Gycmer dengan ekspresi tidak puas dengan perkataan Gycser yang ingin dirinya berhenti bertarung.


Sifat arogannya terlalu berlebihan, demi mendapatkan keinginannya dia sampai melupakan tujuan awal mereka semua datang ke sini.


"Gycmer, ingat tujuan kita datang ke Planet ini untuk memusnahkan makhluk ini serta mengambil alih tempat tinggal mereka.


Urungkan sebentar niatmu untuk mendapatkan makhluk kuning yang besar itu. Lagipula jika kita berhasil menyelesaikan tugas, otomatis kau mendapatkan makhluk itu. Jadi kita fokus mengalahkan Makhluk itu bersama-sama, agar semua cepat selesai," ucap Gycser panjang lebar kepada Gycmer.


Dia mengucapkan banyak kata seperti itu untuk bisa menyadarkan Gycmer dari sifat egoisnya yang sudah keterlaluan.


Gycmer terdiam sejenak, terlihat dirinya sedang termenung memikirkan ucapan Gycser lontarkan kepadanya tadi.


"Oke... kali ini aku mengikuti apa katamu, Gycser," balas Gycmer sambil memandang Gycser dan Gycger di depannya.


Gycser mengangguk dan menghela nafas lega.


Lalu dia menatap Gycger yang sudah tenang daripada sebelumnya.


Ekspresi saat dia ingin menghentikan Gycmer terlalu over, seakan sesuatu yang paling buruk akan terjadi.


"Kita harus mencari kelemahannya terlebih dahulu, bila sudah menemukan kelemahannya, kita akan mengalahkannya dengan mudah," ucap Gycser kepada mereka "Ayo kita amati, biarkan para Gycleps ini menyerangnya."


Gycmer dan Gycger mengangguk menandakan mereka berdua setuju dengan saran Gycser.


"Oke." Dengan lambaian tongkatnya, aura biru kembali menyelimuti mereka bertiga dan membuat mereka melayang menjauh dari Agler.


"???"


Melihat mereka mundur seperti itu, Agler tidak mengerti apa tujuan mereka memutuskan untuk mundur.


Tiba-tiba, Agler mendengar suara bergemuruh, dia menoleh ke sekelilingnya dan melihat ratusan ribu Gycleps yang tersisa berjalan mengepung dirinya.


"Oke, mereka berdua sepertinya ingin mengulur waktu untuk melakukan sesuatu ... tapi tidak peduli apapun yang mereka lakukan aku akan tetap melawannya."


Pedang Bavdrago muncul di samping Agler, dia segera menangkap dengan tangan kanannya.


"Pembantaian akan segera dimulai," ucap Agler dengan wajahnya yang datar dan dingin.


Ia melangkah perlahan, dan berinisiatif untuk maju melawan ratusan ribu raksasa ini.


Semua adegan yang terjadi sebelumnya hingga saat ini telah tersorot oleh kamera pembawa berita dari berbagai Negara.


Orang-orang ketika melihat ratusan ribu raksasa yang sangat mengerikan ini, mereka semua sama-sama berharap semoga Agler bisa memenangkan pertempuran ini.


Graaahhhh!!!


Kraaaahhh!


Ratusan ribu Gycleps meraung tanda peperangan, mereka semua serempak menyerang Agler menggunakan senjatanya.


Puluhan ribu panah besi yang sangat besar diarahkan menuju Agler.


Para pemanah Gycleps secara bersamaan melepaskan anak panahnya menunjuk ke arah Agler.


Melihat serangan ini, Agler tidak bereaksi sama sekali seolah dia mengabaikan semua panah-panah yang meluncur kepadanya.


Swoosshhh...


Swoosshhh...


Swoosshhh...


Panah yang begitu banyak, jika dilihat dari jauh nampak seperti hujan yang deras mengerumuni Agler dari segala sisi.


Agler akhirnya bergerak saat panah sudah sangat dekat dengan dirinya.


Klik!


Bersamaan dengan suara jentikan jari, semua panah itu berhenti bergerak maju ke melesat ke arah Agler, seakan ada sesuatu yang menahannya.


Tiga monster pemimpin para Gycleps tercengang. Tidak hanya mereka yang seperti ini, semua orang yang melihat ini pun tercengang tidak mengerti.


"Apa yang terjadi?"


Gycmer tercengang melihat pemandangan di depannya.


"Kenapa semua panah itu berhenti?" Gycger bertanya dengan wajahnya yang terkejut.


Hanya Gycser yang tercengang sejenak sebelum dirinya mengetahui sebab panah itu berhenti di udara.


Dengan mata Cyclyps dia bisa melihat energi Mana yang menyelimuti semua panah ini.


Oleh Mana inilah yang membuat panah ini berhenti bergerak, jelas sekali mana ini bisa mengontrol besi dengan mudah.


"Ini salah satu kekuatan makhluk itu, dia bisa mengontrol besi sesuka hatinya," celetuk Gycser memberitahu mereka berdua.


Benar apa yang dikatakan oleh Gycser, setelah dia mengatakannya, semua panah itu mulai berubah bentuk seperti sedang dilipat dan dibentuk ulang oleh sesuatu yang tidak terlihat.


Semua panah itu berubah bentuk sambil bergerak menuju satu titik di udara.


Besi-besi panah ini bersatu hingga akhirnya membentuk panah yang sangat besar.


Panah dengan panjang 10 kilometer, mengambang di udara, lalu perlahan merubah ujung panah mengarah membidik tiga Raksasa yang melayang jauh dari Agler.


"Apa-apaan ini!"


Mereka bertiga berteriak bersamaan ketika melihat panah besar ini mengarah ke tempat mereka.