Savior System

Savior System
Bab 127 : Touring PT 05


Rai keluar dari tempat parkir dan berjalan menuju bangunan berbentuk kura-kura raksasa yang dapat dilihat dengan jelas dari area parkir.


Di sana banyak sekali pengunjung yang berfoto ria dengan latar belakangnya bangunan kura-kura ini. Pengunjung yang datang ke sini tidak hanya orang dewasa tapi dari semua kalangan umur, juga banyak anak sekolahan yang datang ke sini menaiki bus, mereka menjadikan tempat ini sebagai objek study tour atau objek pariwisata mereka.


Bangunan kura-kura ini dinamakan Kura-Kura Ocean Park, di depan sini banyak sekali pengunjung yang tengah asyik berfoto bersama keluarga dan rombongan mereka.


Namun, ketika Agler berjalan di depan bangunan kura-kura besar ini, orang-orang tiba-tiba melirik Agler hampir bersamaan.


Entah itu orang tua dan anak-anak, remaja dan dewasa, mereka semua menatap sosok Agler.


Penampilan Agler yang bersih dan sederhana yang hanya memakai pakaian kaos hitam polos dengan celana olahraga hitam garis putih di samping kakinya, juga membawa jaket hitam yang dia taruh di pundaknya, tampak begitu menarik bagi orang-orang yang berkunjung ke sini.


Terlebih lagi paras wajah Agler jika dilihat dari samping, sudut rahang dan hidung mancungnya terlihat sempurna, membuat lawan jenis gerah tidak karuan.


Agler terlihat sangat mencolok meski berpakaian sederhana, itu karena postur tinggi, kulit putih tanpa noda, dan wajah yang di luar batas manusia.


'Terjadi lagi ... padahal aku sudah memakai kacamata manusia super, tetapi mereka tetap menatap aku. Kacamata ini kurang efektif,' batin Agler mengeluh persoalan ini.


Agler terus berjalan mengabaikan pandangan orang yang tertuju kepadanya.


Bagian belakang bangunan kura-kura raksasa ini terdapat jembatan yang saling berhubungan dengan gazebo satu dengan gazebo yang lainnya.


Pemandangan di depan gazebo terdapat laut biru yang tenang dengan angin sepoi-sepoi yang sejuk.


Pada jembatan ini tidak terlalu banyak orang, hanya beberapa orang yang lewat dan berjalan, tidak seramai di depan bangunan kura-kura sebelumnya.


"Ketenangan tanpa ada rasa takut akan sesuatu ...." Agler terdiam sesaat sambil menghembuskan napas ringan. "Semoga saja ini akan terus dialami umat manusia di planet ini."


Berdiri di depan pagar jembatan, Agler memandang air laut sambil menikmati suasana yang tenang di bibir pantai.


Alam masih terjaga di tempat ini, keindahannya masih dapat dinikmati oleh khalayak umum.


Semoga saja para pengunjung dan warga setempat tidak mencemari lingkungan di sini. Sangat disayangkan jika keindahan alam ini dirusak tanpa ada tujuan yang baik. Merusak seharusnya tidak yang bertujuan baik, pastinya negatif dan buruk.


Orang-orang yang berjalan melewati jembatan ini selalu mengalihkan pandangan matanya ke arah Agler. Tampilan Agler saat ini seperti pengamat alam yang tampan dan rupawan.


Tidak sedikit orang yang mengambil Agler secara diam-diam, perempuan yang sering mengambil foto Agler dengan cara sembunyi-sembunyi. Ada yang lebih anehnya lagi, ada beberapa perempuan yang dengan terang-terangan memotret Agler di depan pasangannya.


Tidak hanya itu, tetapi pria juga mengambil gambar Agler saat ini, entah bertujuan untuk apa.


Agler memasuki perenungannya, tidak tahu apa yang dia pikirkan sekarang. Ia hanya menatap laut di depannya dan tidak berbuat apa-apa.


"Maaf mas ...."


Suara perempuan terdengar di balik punggung Agler, dan membuat Agler sadar dan pulih dari lamunannya.


Berbalik badan, Agler melihat perempuan cantik berbaju hitam polos dan mengenakan celana jeans, sedang berdiri di belakangnya.


"Ya? Ada apa?" Agler berkata sambil menaikkan kacamata hitamnya ke atas dan menatap mata hitam perempuan di depannya.


"Emm ... itu anu, mas." Perempuan ini seketika bertingkah aneh ketika melihat wajah Agler yang tidak ditutupi oleh kacamata.


Kedua pipinya memerah, dia memandang Agler dengan tatapan yang malu-malu.


"Iya, kenapa?"


Agler bertanya lagi dengan raut wajah yang terheran.


Jujur saja, Agler sendiri pun tidak tahu apa maksud kedatangan perempuan ini.


"Ini ... saya mau bilang, jangan bengong di si-sini, nanti takut ada apa-apa sama mas." Perempuan itu akhirnya mengucapkan kata-kata, namun dengan nada yang sedikit terbata-bata. "Mau bilang itu saja. Emm ... maaf jika saya mengganggu."


Perempuan itu langsung berlari kecil meninggalkan Agler tanpa melihat ke belakang.


"Eh?" Agler terkejut melihat tingkah laku si perempuan itu.


Tidak mengira bahwa perempuan ini memanggil Agler hanya untuk memberitahukan sesuatu. Ia kira ada sesuatu yang lebih penting yang ingin dikatakan perempuan tersebut.


Tatapan mata Agler terus tertuju pada sosok perempuan yang sedang berjalan nampak terburu-buru.


Perempuan ini agak aneh dan sedikit berbeda.


Agler menggelengkan kepalanya, dan sedikit tersenyum.


Lalu dia melangkah ke depan menelusuri jembatan yang tidak tahu akan mengarahkannya ke mana.


Berjalan perlahan sambil menikmati keindahan, tak terasa Agler sudah sampai di ujung jembatan. Pada ujung jembatan ini terdapat orang yang berdagang, juga banyak kursi dan meja untuk pengunjung yang ingin makan di tempat ini.


Orang-orang beristirahat di sini untuk makan siang mau pun bermain air laut bersama keluarga dan teman-teman.


Anak kecil bersama orang tuanya banyak sekali di sini, sepertinya Agler sedikit salah memilih destinasi wisata.


Melihat banyak sekali orang yang berdagang, terlebih berjualan makanan, Agler tertarik untuk mencoba makanan khas daerah ini.


Ia memesan lontong krubyuk yaitu makanan khas Jepara, Jawa Tengah.


Tidak perlu menunggu lama, makanan Agler siap disajikan.


Agler duduk di salah kursi dan meja makan yang paling sisi dekat dengan pantai.


Hembusan angin lembut dan sejuk menerpa tubuh Agler, sehingga membuat baju hitamnya berkibar bagaikan bendera.


Rasa makanan ini enak, sama dengan makanan Indonesia yang lain, sangat cocok dengan lidah Agler.


Hanya dalam beberapa menit, Agler menghabiskan makanannya dan membayar makanannya tersebut.


Agler tidak pergi dari kursinya, dia masih memandangi suasana tenang di sini, tetapi ketika dia menoleh sedikit ke arah kanan, ia melihat sebuah pulau.


Banyak perahu yang sedang berlayar menuju ke sana.


Pantas saja banyak perahu di pantai ini, ternyata itu alat transportasi umum dan berbayar untuk mengantarkan penumpang ke pulau tersebut.


Tertarik dengan pulau itu, Agler bangkit dari tempat duduk dan mencari perahu yang bisa mengantarkannya ke pulau tidak jauh di depannya.


Meski sedikit repot harus berusaha untuk mencari pemilik perahu, Agler tidak mungkin untuk menggunakan kekuatannya untuk pergi ke sana, tubuh yang dipakai sekarang adalah tubuh asli Agler, jika tubuh Flugel mungkin bisa saja.


Baru sesaat mencari, Agler bertemu dengan bapak-bapak yang mampu mengantarkannya ke pulau tersebut, tanpa banyak omong kosong dan negosiasi lagi, Agler meminta bapak ini untuk membawanya ke pulang yang dituju.


Menaiki perahu selama beberapa menit sambil menikmati angin yang berhembus dingin dan percikan air.


Tidak lama Agler sampai di tempat tujuan, melihat papan nama, ternyata pulau ini disebut Pulau Panjang.


Agler tidak menduga, ternyata di sini banyak sekali anak muda yang mungkin seumuran dengan dirinya, tetapi kebanyakan dari mereka berpasang-pasangan.


Ketika Agler menginjakkan kaki di pulau ini, banyak sekali orang yang memandang sosok dirinya.


Kejadian ini terus terulang lagi.


Sama seperti biasa, Agler tidak merespon apa pun terhadap reaksi mereka ketika melihat dirinya.Ia tetap dingin tanpa berbicara sedikitpun.


Agler berjalan mengitari pulau, melihat-lihat pemandangan yang ada di pulau ini.


Terus menerus berjalan menyisir di pasir pantai yang berwarna putih, dan akhirnya Agler sampai di sebuah jembatan kayu, tempat orang-orang mengambil gambar bersama keluarga dan teman.


Ini tempat para anak muda untuk pamer perjalanan dan wisata di sosial media.


Akan tetapi, di sini banyak sekali remaja dan pemuda yang berfoto di sini. Agler hanya melewati mereka dan mencari tempat yang cocok dengannya.


Angin di sini lebih kencang dari tempat sebelumnya, Agler membuka kacamata hitamnya untuk menikmati terpaan angin yang dingin.


Memejamkan matanya, menghadap lautan, Agler masuk ke dalam kondisi tenang tanpa memikirkan dunia.


Orang-orang yang tak sengaja melihat Agler langsung terpesona, penampakan Agler terlihat bukan seperti manusia lagi, keindahan Agler memancar keluar dan bersatu dengan alam.


Para wanita yang ada di sini tidak kuat melihat keindahan sosok Agler, banyak wanita yang menjerit histeris tanpa sebab.


Suara-suara yang ramai itu mengganggu ketenangan Agler, dan membuatnya berhenti menikmati alam.


Agler memasang kacamatanya lagi dan berjalan melewati orang-orang yang berkumpul tidak jauh darinya.


Melihat mereka semua, Agler merasa bahwa dirinya telah menjadi artis yang diidolakan orang-orang. Padahal Agler sendiri sebenarnya merupakan idola semua orang di Dunia ini.


Tetapi, dirinya belum merasakan itu.


Tepat ketika Agler hendak pergi kembali ke pulau sebelumnya, adegan yang tak terduga terjadi.


Sebuah perahu penumpang yang dinaiki banyak orang mulai terguling dan terbalik.


Orang-orang yang ada di dalam perahu terdapat beberapa anak kecil, kemungkinan besar anak kecil ini tidak bisa berenang.


Pengunjung yang melihat berteriak panik, dan meminta tolong kepada orang-orang yang ada di Pulau Panjang, tapi mereka tidak langsung menolong melainkan menonton terlebih dahulu.


Karena kesal dengan orang-orang ini, Agler segera bereaksi, dia berlari cepat mencari toilet umum. Sekarang ia ingin menggunakan tubuh Flugel bertujuan menyelamatkan mereka. Berganti tubuh di toilet umum yang sepi.