
"Ada-ada saja wanita itu."
Agler berjalan menuju tempat parkir motornya berada, di jalan dia masih ingat dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Tak pernah terpikir olehnya, bahwa anak bapak pemilik perahu adalah wanita yang berani berinteraksi dengannya.
Dalam pandangan pertama Agler terhadap wanita itu adalah dia orang yang baik dan pemberani, beda dengan wanita yang pernah dia kunjungi di tempat khalayak umum seperti ini.
Tatapan mata wanita itu pun berbeda dengan tatapan wanita yang secara acak bertemu atau melihat sosok dirinya.
Nampak seperti wanita ini hanya kagum dengan dia, namun tidak memiliki tujuan untuk memilikinya, bahkan dia bisa mengalahkan sifat pemalunya saat dia tersinggung.
Tidak malu menunjukkan sifat aslinya, dan tidak menahan sifat yang sebenarnya.
Wanita itu tipe-tipe yang mudah tersinggung. Apabila marah dia tidak sebenarnya marah.
Sifat dan sikap yang ditunjukkan wanita itu cukup menarik perhatiannya.
Sibuk merenung memikirkan wanita itu, Agler tidak sadar bahwa dia sudah sampai di tempat motornya terparkir.
Agler membawa barang belanjaan oleh-oleh khas Jepara yang tidak begitu banyak, tidak ada tempat untuk menaruh banyak barang di motornya.
Menggelengkan kepalanya untuk menghilang pikiran tentang wanita tadi, dia segera berjalan menuju posisi motornya diletakkan.
Memandang dari jauh, Agler melihat beberapa orang sedang berdiri di dekat motornya yang sedang terparkir diam.
Orang-orang ini sedang memperhatikan motornya sambil berbicara dan bergumam kecil, sesekali memotret dari setiap sudut. Dilihat dari perilakunya yang seperti ini, mereka mengtahui merek motornya ini.
Selain itu, Agler juga baru sadar bahwa di samping motornya dikosongkan tidak ada motor yang terparkir di sebelah kiri dan kanannya.
Padahal Agler melihat dengan jelas tempat parkir ini penuh dengan sepeda motor dengan berbagai jenis dan merek. Sedikit ruang pun oleh penjaga tempat ini dipaksa masuk dan dimuatkan secara paksa tanpa ada goresan atau kerusakan.
Penjaga di sini benar-benar memanfaatkan ruang yang ada, jangan sampai ada ruang yang tidak terpakai.
Akan tetapi, ruang di sebelah motornya oleh mereka dikosongkan, tidak ada yang boleh motor yang diparkir di sana.
Mungkinkah mereka tahu motornya?
Karena ketakutannya untuk merusak motor, penjaga ini rela merugi. Memikirkan ini Agler merasa tidak enak.
"Halo, bro!"
Berjalan mendekati sepeda motor miliknya, Agler juga tidak lupa untuk menyapa orang-orang ini.
"Yo, mas."
"Halo juga, bro."
Beberapa dari mereka ada yang merespon menyahut, dan sebagiannya hanya menatap Agler saja.
"Lihat apa nih, bro?" tanya Agler berdiri di samping salah satu dari mereka.
Salah satu pemuda yang ada di sebelah Agler berdiri dan melihat hasil potret yang telah dia ambil tadi.
"Motor. bro. Bagus banget ini motor," jawab Pemuda itu sambil melihat-lihat hasil jepretannya di layar ponsel.
"Oh, dikira ada apa."
"Ini motor mahal, bro. Hati-hati nyenggol, kalau rusak biaya ganti rugi pasti mahal." Pemuda itu menoleh kepada Agler yang ada di sebelahnya.
"Siap, ga akan nyenggol, bro." Agler menjawab seadanya.
"Bagus kalau begitu, soalnya motor ini ...."
Pemuda ini memberi tahu Agler persoalan motor miliknya sendiri, dimulai dari harga, bahan tubuh motor, mesin, dll. Orang ini dengan lengkap menginformasikan tentang motor ini kepada Agler.
Telinga Agler terpasang, sambil dirinya memakai jaket hitam dan memeriksa barang yang ada di saku pakaiannya.
Mengambil kunci sepeda motor dari saku celana olahraga hitam, dia berniat untuk pergi dari sini.
"Terima kasih penjelasannya, bro." Agler tersenyum kepada pemuda ini dan berjalan lebih dekat pada motornya.
Orang-orang ini bingung dengan apa yang ingin dilakukan oleh Agler.
Kaki Agler bergerak, ia menduduki tempat duduk motor, meletakkan oleh-oleh di dalam bagasi, dan memasukkan kunci motor ke lubang secure key.
Vroom ...!
Agler menyalakan sepeda motornya dan suara garang terdengar oleh orang-orang di sekitar.
Pemuda yang menjelaskan tentang motor dan orang-orang yang mengambil gambar tidak bereaksi saat ini, mereka diam membeku sambil menatap Agler yang duduk di atas sepeda motor.
"Ayo, mas. Mau keluar, kan?" Juru parkir datang entah dari mana, Agler pun tidak sadar kedatangan Juru parkir ini.
"Iya, bang." Agler menjawab lalu memeriksa kelengkapan sepeda motor, seperti ban, rem, dll.
Periksa kendaraan terlebih dahulu sebelum berangkat bepergian ke tempat yang jauh. Keselamatan nomor satu.
Setelah memeriksa kendaraan, ia memasang ponsel buah empat belas yang baru dia beli ke stang, dan memakai helmnya, Aglee siap berangkat ke destinasi wisata selanjutnya.
"Oke, mas. Saya bantu arahkan supaya mudah untuk keluar."
"Oke!" Agler memberi tanda isyarat oke dengan tangannya.
Parkiran ini terlalu padat, Agler harus berhati-hati agar tidak bersenggolan dengan kendaraan lain dan merugikan orang.
Juru parkir ini cukup membantu, dia menggeser beberapa motor agar jalan keluar tidak begitu sempit dan dapat dilalui olehnya.
"Terima kasih, bang."
Agler bersalaman sekaligus memberi uang lebih kepada Juru parkir atas rasa tidak enaknya melihat ruang kosong yang seharusnya bisa diisi oleh motor lagi.
"Eh!" Juru parkir terkejut melihat sesuatu yang diberi oleh Agler dengan diam-diam.
Menatap wajah Agler, Juru parkir itu mengucapkan terima kasih kepada Agler.
"Pergi dulu, bro!" Agler berpamitan jarak jauh dengan Pemuda itu
"Eh, iya, bro. Hati-hati di jalan!" Pemuda itu langsung tersadar dan menyahut Agler.
Agler tersenyum di balik helmnya, dia mengangguk kepada Juru parkir tanda isyarat dia ingin pergi.
Tepat saat dia ingin menancap gas, suara wanita terdengar.
"Itu, kamu!"
Suara ini Agler masih mengingatnya.
Menoleh ke arah suara, dia melihat wanita berbaju hitam ditutupi Jaket kulit wanita dengan celana panjang yang telah diganti menjadi celana wanita kulot panjang berwarna krem.
Juga, dia membawa tas travel yang ukuran sedang, bisa dibawa dengan cara dijinjing, tampilan wanita ini seperti ingin bepergian.
"Ya?"
Agler merespon dengan sederhana.
Wanita itu berkata dengan wajah yang pemalu, seperti biasa dia selalu menundukkan kepalanya.
"Tapi ... maaf, aku tidak butuh orang buat nemenin perjalanan aku. Maaf ya ...."
Agler berkata dengan nada paling ramah agar tidak menyinggung perasaan wanita di depannya.
Ekspresi wajah Wanita itu berubah, dia mengangkat kepalanya dan menatap Agler dengan tatapan sedih.
"Bapak sudah memintaku untuk menemanimu, aku tidak mau Bapak kecewa."
"Kecewa?" Agler tidak mengerti kenapa bapak wanita ini menjadi kecewa.
"Iya, Bapak mendesak terus, padahal aku sudah menolaknya berkali-kali. Tapi, Bapak tetap bersikeras dan ingin aku menemani perjalananmu," ucap Wanita itu dengan terus terang.
Mendengar ucapan wanita ini membuat Agler bingung dan rumit.
Perjalanan ini akan jauh sekali, kemungkinan besar akan menginap di salah satu hotel yang ada di rute perjalanan.
Akan aneh jika Aglee membawa wanita ini check-in di sebuah hotel.
"Boleh, ya?"
Wanita itu memohon kepada Agler dengan memasang wajah yang menyedihkan.
Permohonan wanita ini tidak langsung dijawab oleh Agler. Agler perlu memikirkan dengan baik dan memilih keputusan yang benar.
Mata Agler berpindah, dia melihat ujung kaki sampai ujung kepala dari penampilan wanita di depannya.
Penampilan wanita ini tidak begitu buruk, juga Agler tidak mencium wewangian yang begitu menyengat dari wanita ini.
Minyak wangi yang menyengat Agler kurang begitu suka, karena penciumannya yang semakin kuat, membuatnya sesekali merasakan sedikit sensitif terhadap wewangian yang menusuk tajam.
"Baiklah, kamu duduk di belakangku. Tas kamu biar aku yang bawa," kata Agler sambil menatap mata Wanita di depannya.
"Benarkah?!"
Wanita ini terbelalak, dia tidak percaya bahwa Pria di depannya yang memiliki sifat keras kepala menurutnya bisa mengalah kali ini.
"Iya, segera duduk. Kita akan berangkat sekarang."
Agler berkata malas menjawab pertanyaan wanita ini.
"Oke!"
Tas travel milik wanita itu Agler ambil dan diletakkan di depannya.
Namun, saat ditaruh di depan, ini membuat Agler terganggu saat mengendarai motor.
Kemudian dia memberi tasnya lagi pada wanita yang duduk di belakang jok motornya.
"Kamu pegang dulu sampai di pemberhentian pertama," pinta Agler seraya menutup kaca motor.
"Oke, aku pegang tasnya."
"Oke."
Berikutnya, Agler menancapkan gas setelah melambaikan tangan ke arah Juru parkir dan orang-orang yang sempat memotret gambar sepeda motornya.
Sepeda motor melaju dengan kecepatan normal meninggalkan Pantai Kartini.
Sebuah jalan di daerah Salatiga Jawa tengah.
Sebuah motor sport hitam melesat dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat maupun lembat.
Dua sosok terlihat menaiki sepeda motor ini, Seorang Pria dan Wanita seperti sedang berbincang beberapa kata mengenai sesuatu hal.
"Oh, nama kamu Ayu Lara, salam kenal aku Agler."
Agler berkata sambil menyetir motor untuk mencari penginapan di dekat sini. Pasalnya hari ini sudah mulai gelap Agler harus bersiap-siap untuk pergi pulang ke rumah.
"Salam kenal juga, Agler" jawab Ayu yang kini telah memakai helm karena Agler hanya membawa satu helm jadi dia harus membeli satu di jalan.
Sepanjang jalan mereka berdua menaiki motor, Agler mendapatkan informasi pribadi tentang wanita yang bernama Ayu ini.
Ayu bekerja di sebuah perusahaan swasta daerah Jakarta Timur, namun sekarang dia sedang mendapatkan cuti beberapa hari, jadi dia memutuskan untuk pulang kampung menemui orang tuanya.
Cuti kerjanya lumayan panjang jadi dia masih ada waktu untuk menemani Agler bepergian selama beberapa hari.
Omong-omong, Ayu telah berusia dua puluh dua tahun yang berarti lebih tua dibandingkan Agler.
Selama perjalanan ini, Ayu menceritakan tentang pekerjaannya, dia sepertinya orang yang cerewet dan suka mengobrol. Jadi, Agler lebih banyak mendengarkan daripada saling berbicara.
"Oke, sudah sampai. Kita menginap di sini dahulu. Besok kita lanjutkan lagi ke lokasi wisata yang aku tuju."
"Oke, kalau begitu."
Keduanya pergi memasuki sebuah hotel yang cukup bagus, sesuai dengan rekomendasi Jarvis.
"Aku aja yang bayar buat aku sendiri." Ayu langsung menolak melihat Agler yang ingin membayar uang kamarnya.
"Ini kartunya, bang."
Agler mengabaikan penolakan Ayu dan memberi kartu ATM pada Resepsionis Pria.
Seketika wajah Ayu menekuk, matanya menyipit terlihat marah pada Agler.
Melirik Ayu seperti ini, Agler tidak bergeming sama sekali, dia segera berjalan menuju kamar yang telah dipesan.
Ayu mau tidak mau mengikuti Agler dari belakang karena kamarnya bersebelahan dengan Agler.
"Sudah saatnya pergi bertemu mereka."
Jam di tangannya telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, waktunya Agler pergi menemui wanita dan anak-anak di rumah.
"Jarvis, apakah telah aman di sekitar kamarku ini?"
{Aman, Tuan. Anda sudah boleh pergi sekarang.}
"Oke, terima kasih, Jarvis."
{Sama-sama, Tuan.}
Verifikasi dari Jarvis sudah jelas, Agler tidak perlu khawatir lagi untuk tidak ketahuan pergi dari sini.
Agler berjalan menghampiri jendela sambil membawa oleh-oleh khas kota Jepara.
Mengaktifkan kekuatan pikirannya untuk merasakan keberadaan di sekitarnya, ternyata sudah aman, sesuai dengan yang dikatakan Jarvis.
Whooshhh ...!
Agler langsung menghilang dari kamar, dia terbang menuju rumah di Jakarta Selatan.