
Hari telah berlalu begitu saja sejak Agler meninggalkan dunia Marvel.
Tidak terasa hari ini adalah hari awal semua anak sekolah dan memulai awal semester, tepatnya di Bulan Juli.
Yuki, Miki, Kurumi, dan Yuri naik mobil bersama Agler dan Tsunade menuju sekolah mereka yang baru.
Dengan bantuan Jarvis, Agler dengan mudah memasukkan mereka berempat ke salah satu sekolah favorit dengan prestasi sekolah yang banyak.
Jarvis membuat surat-surat persyaratan dan pindahan keempat gadis ini meski sebenarnya mereka belum pernah sekolah di dunia ini.
Namun, kecerdasan buatan Jarvis dengan mudah menyelesaikan hal tersebut sehingga mereka hari ini bisa mulai hari pertamanya sekolah.
Sekarang mereka berempat sudah beradaptasi dengan budaya Indonesia meski masih ada beberapa hal yang terasa asing bagi mereka.
Beberapa pelajaran dan kurikulum pun berbeda dengan apa yang mereka pelajari di sekolah sebelumnya.
Untungnya, Yuki dan lainnya belajar di beberapa waktu yang lalu mengenai hal ini agar mudah beradaptasi dengan segala sesuatu yang ada di sekolah nanti.
Namun, itu bukan suatu yang penting yang harus dipikirkan, mereka tidak masalah bersekolah di Indonesia yang memiliki budaya yang berbeda dengan mereka sebagai orang Jepang.
"Bagaimana, kalian bersemangat sekarang?" tanya Agler kepada keempat gadis yang duduk di kursi belakang.
Mata Agler melirik cermin yang ada di dalam mobil.
Jenis mobil yang Agler pakai adalah mobil Alphard yang muat untuk banyak orang.
Mendengar pertanyaan Agler, mereka semua menunjukkan senyuman yang senang dan ceria.
"Aku tidak sabar ingin belajar di sekolah," kata Miki dengan wajah yang tak sabaran.
"Aku juga sama, semoga saja teman-teman di sana baik-baik semua," ucap Yuki yang tersenyum lebar.
"Ya, aku pun sangat bersemangat sampai-sampai tidak bisa tidur tadi malam.""
"Kita berdua tidak bisa tidur."
Kurumi dan Yuri mengangguk tegas dengan mata yang terang.
Mereka berempat sangat antusias, bahkan sebelum Agler bersiap-siap, mereka sudah ada di meja makan dengan mengenakan seragam sekolah.
"Bagus kalau begitu. Sebentar lagi kita akan sampai," Agler mengingatkan mereka bahwa mobil akan segera sampai di sekolah mereka.
Orang yang mengendarai mobil adalah Agler, sedangkan Tsunade hanya menemani mereka semua.
"Ingat, kalian di sana jangan berbuat hal aneh dan fokus pada tugas kalian, yaitu belajar. Kalau tidak mengerti bahasa Indonesia, kamu bisa meminta teman untuk menerjemahkannya," Tsunade memberikan pesan nasihat kepada mereka berempat.
Penampilan Tsunade saat ini terlihat rapi dan tentu saja cantik, memakai gaun rok panjang santai dan anting yang indah.
Meskipun pakaian yang dikenakan adalah pakaian berjenis santai, tetapi terkesan elegan kalau yang memakainya itu Tsunade.
Selain Tsunade, semua orang yang ada di dalam mobil memiliki keindahan wajah yang luar biasa.
Empat gadis remaja ini juga sangat cantik, dengan gampangnya menjadi sosok bunga kelas atau bunga sekolah.
"Baik, Kak."
Mereka semua mengingat pesan Tsunade dengan baik.
Tsunade dianggap sebagai Kakak mereka, padahal Tsunade tidak pantas dipanggil Kakak karena umurnya yang sudah tua.
Melihat empat gadis ini yang menurut, Agler dan Tsunade tersenyum senang.
Tak lama kemudian, mobil mereka masuk ke dalam gerbang dan berhenti di depan tempat parkir sekolah.
Di luar jendela mobil terlihat banyak sekali orang-orang yang berdatangan. Orang-orang yang memakai seragam yang sama dengan Kurumi dan lainnya adalah murid di sekolah ini.
Semua orang tidak memperhatikan kedatangan mobil Agler, mereka fokus ke urusan masing-masing karena hari ini adalah hari pertama mereka bersekolah.
Bug!
Suara pintu ditutup terdengar, sosok Agler dan Tsunade keluar dari mobil bersamaan dengan empat gadis cantik.
Kemunculan mereka semua langsung menarik perhatian banyak orang yang datang ke sekolah.
Agler dan Tsunade mengabaikan banyak sorot mata yang mengarah kepada mereka.
Menatap Yuki dan yang lain, Agler berkata, "Aku akan menemani kalian ke kantor kepala sekolah untuk melapor. Jangan khawatir."
"Tentu, aku juga ikut," celetuk Tsunade yang tidak mau ditinggal.
Tentu, mereka senang dengan ini. Setidaknya mereka merasa aman di saat pertama kali ke tempat yang asin dan baru karena adanya kehadiran Agler dan Tsunade.
Setelahnya, mereka semua berjalan di bawah tatapan banyak orang dan masuk ke dalam sekolah.
Mengetahui ini, banyak remaja laki-laki dan perempuan yang penasaran dengan mereka sehingga mereka berjalan sambil mengikuti.
Kepal Sekolah bersedia membantu Agler untuk mengurus empat gadis tersebut, Agler pun tidak khawatir dengan Kepala Sekolah ini karena Kepala Sekolah di sekolah ini adalah seorang wanita. Mestinya aman-aman saja.
Usai mengobrol, Agler, Tsunade, serta Kepala Sekolah mengantarkan kempat gadis ini ke ruang guru.
Di ruang guru mereka akan diserahkan kepada guru yang mengajar di kelas yang keempat gadis tersebut tempati.
Miki diserahkan ke guru sejarah karena guru sejarah mengajar di kelas 10 sehabis bel, sedangkan Yuki dibawa oleh guru matematika yang mengajar di kelas 12. Sisanya, Yuri dan Kurumi diserahkan kepada guru geografi yang mengajar di jam pelajaran pertama di kelas 11.
Melihat mereka sudah ada dengan guru, Agler dan Tsunade mengobrol kembali dengan Kepala Sekolah.
Lagi-lagi Agler memberikan pengingat atau pesan kepada Kepala Sekolah untuk lebih memperhatikan mereka.
Kepala Sekolah mengerti dan dia dengan senang hati menjaga mereka. Kepala Sekolah paham dengan tugasnya di sekolah ini, tanpa diminta oleh Agler pun, dia pasti memperhatikan murid-muridnya.
Sebagai terima kasih, Agler memberikan uang kepada Kepala Sekolah. Bukan untuk suap agar nilai mereka dibagikan. Uang itu diberikan untuk membayar keringat Kepala Sekolah yang akan menjaga empat gadis selama di sekolah.
Agler anti dengan suap-menyuap. Dia bukan dari organisasi merah. Lupakan saja.
Sehabis melihat mereka yang masuk ke dalam kelas masing-masing, Agler pulang bersama Tsunade ke rumah.
Semuanya baik-baik saja dan berjalan normal, tidak mengapa jika mereka ditinggalkan di sekolah.
Nanti pun mereka akan menghubungi kalau sekolah sudah selesai.
Setibanya di rumah, Agler dan Tsunade pergi ke kamar untuk menjalankan kegiatan intimnya.
Dua bola besar yang terombang-ambing ditampilkan di depan Agler sekarang.
Beberapa waktu sebelumnya, Agler tidak mendapatkan satu pun misi sepuluh ribu dunia. Hanya ada beberapa kali muncul misi menyelamatkan banyak orang di situasi yang genting.
Hadiahnya tidak sebagus Misi Sepuluh Ribu Dunia, selama itu dia cuma berhasil mendapatkan 1.000 Savior Coin.
Tidak ada yang Agler lakukan selain menyelamatkan orang-orang di berbagai belahan dunia dan berjemur di inti matahari yang panas.
Dengan kesehariannya yang seperti itu, pertumbuhan kekuatan fisik Agler meningkat drastis.
Kini kekuatan fisik Agler mampu mengangkat benda dengan berat 10 triliun ton, pukulannya yang biasa bahkan bisa menghancurkan gedung dan membuat retak gunung dengan mudah.
Kecepatannya 55 kali kecepatan cahaya yang di mana gerakan, reaksi, lari, dan terbang Agler bisa secepat itu.
Di dunia ini, tidak ada yang sekuat dan sehebat Agler.
Selepas bermain dengan Tsunade, Agler pamit pergi untuk berjemur.
Di rumah tidak ada siapa-siapa, Adena dan yang lain pergi beraktivitas sesuai dengan tugas serta pekerjaannya.
Siluet hitam melintas sangat cepat, melubangi awan putih di langit yang sedang terik.
Sosok Agler yang ada di rumah kini telah tiba di atas Aquater.
Di barus tersadar bahwa di luar planet Aquater ini penuh oleh sampah satelit.
Pantas saja internet anak-anak suka terputus-putus dan jarang sekali lancar. Sampah-sampah yang melayang di luar angka inilah penyebabnya.
Dengan kekuatan manipulasi logam dan gravitasinya, Agler menarik semua sampah satelit yang tidak terpakai, dituntun oleh Jarvis yang memberi tahu satelit apa saja yang masih berfungsi dan berjalan.
Bintik-bintik di sekitar Aquater ditarik menuju suatu titi di luar angkasa.
Agler merentangkan tangannya ke depan dan semua satelit serta sampah berukuran kecil terkompresi menjadi bola besi yang sangat padat.
Ukuran bola ini berukuran sebesar rumah mewah yang besar dengan diameter ratusan meter.
Setelah terkumpul, api biru keunguan membakar bola tersebut sampai lenyap dan menghilang.
"Jika seperti ini, kecepatan internet di Indonesia akan bisa lebih baik lagi," gumam Agler tersenyum puas melihat planet Aquater yang bersih meski masih ada beberapa benda yang mengorbit planet Aquater.
Boom!
Sosok Agler berubah menjadi garis hitam menuju ke tempat matahari berada.
Terbang menukik dan masuk ke dalam matahari, duduk di Inti matahari, Agler bersantai dengan tenang.
Tepat ketika dia bersantai, dia melihat bintik terang di kejauhan yang bergerak ke suatu arah.
Melihat ini, Agler langsung bangun dan pergi memeriksa sesuatu yang bergerak itu.
Mustahil untuk manusia bisa menerbangkan roket sejauh ini. Kemungkinan besar bintik hitam di langit yang terang tersebut benda yang berasal dari luar planet.
Pada saat Agler melayang di beberapa kilometer dari benda yang bergerak dan mengeluarkan sinar, dia terdiam tak bergerak dan melihat benda tersebut dengan ekspresi yang terkejut.
"Monster yang lain?"