
"Agler, aku ingin berbicara tentang sesuatu kepadamu."
Berdiri di depan Agler, Alyona menatap dengan tegas mata Agler.
"Silahkan, aku akan mendengarkan dan menjawab." Agler membalas dengan tatapan yang lembut pada Alyona yang berwajah serius.
Keduanya sekarang berada di bandara Domodedovo, Moskow. Saling berhadapan di dekat pintu masuk bandara, keduanya sedang memasuki suasana yang serius.
"Tapi, aku akan mengingatkan terlebih dahulu padamu. Saat aku berbicara mengenai intinya, kamu jangan marah," ujar Alyona untuk memberikan peringatan sebelum berbicara hal penting baginya.
"Oke, aku tidak akan marah." Agler sedikit mengangguk.
Menghirup nafas panjang dan menyiapkan niat yang kuat, Alyona siap untuk berbicara tentang perasaan yang telah dia pendam ini.
"Sebenarnya aku telah suka dan cinta padamu, Agler." Alyona berkata lantang dengan tatapan yakin bahwa dia benar berkata seperti itu.
"Semenjak kita mengobrol bersama di tepi danau kecil, aku telah merasakan benih cinta yang tumbuh di hatiku, namun aku belum tersadar saat itu.
Sampai akhir ketika aku menyuapi kue untukmu di dalam pesawat, di situlah aku terbangun dan tersadar bahwa perasaan ini bukan suka, tetapi melebihi kata suka."
"A-aku sangat mencintaimu, Agler."
Semakin Alyona berkata, semakin berubah raut wajahnya menjadi sedih dan senang di saat bersamaan.
Air mata menetes satu per satu dari kelopak matanya, matanya yang indah telah memerah, tetapi dia berusaha untuk menatap kedua mata Agler.
Agler langsung memeluknya erat sambil mengusap lembut belakang kepalanya.
Suara isak tangis yang teredam terdengar dari dada Agler. Kepala Alyona tenggelam dalam pelukan Agler dan dia mengeluarkan semua kegelisahan yang mengendap di hatinya.
"Sudah, jangan menangis," ucap lembut Agler.
Orang-orang di sini semuanya melihat Agler yang sedang memeluk Alyona yang menangis. Ini tidak enak dilihat, dan dia buru-buru menenangkan Alyona.
Karena Alyona masih menangis, Agler menggendongnya dan meminta pengawal untuk membawa barang-barang keduanya.
Dari sini seharusnya Alyona kembali ke kampung halaman, tapi sekarang nampaknya akan tertunda.
Memeluk dan menggendong tubuh Alyona dengan postur seperti menggendong seorang putri, Agler membawanya ke dalam jet pribadi.
Selanjutnya berjalan dan masuk ke kamar utama, meletakkan Alyona di atas kasur yang empuk di sana.
"Sudah jangan menangis lagi, oke." Agler berkata di depan wajah Alyona yang masih terlihat sedih.
Alyona dengan mata memerah dan hidung sedikit pilek, dia mengangguk memberi respon pada Agler.
"Good Girl," ucap Agler sambil tersenyum.
Senyuman ini benar-benar menyembuhkan hati Alyona yang bimbang dan gelisah, seolah dunia yang hancur akan sembuh dengan adanya senyuman ini.
Mata Alyona masih mengeluarkan air mata, meski wajahnya tidak terlalu sedih lagi, namun matanya masih terlihat bengkak. Dengan inisiatifnya, Agler mengusap air mata yang menempel di pipi Alyona dengan sangat lembut dan penuh rasa. Senyumannya tidak berubah dan tetap sama.
"Aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu." Agler tiba-tiba berkata setelah mengusap air mata di wajah Alyona.
"A-apa?" Alyona berkata sedikit tergugup dan tak percaya.
"Aku juga mencintaimu, Alyona." Agler mengulangi perkataannya sambil menatap serius wajah Alyona.
Mendengar ini, Alyona terdiam tak bergerak, tetapi pupil matanya bergerak melihat-lihat wajah tampan Agler.
"Ka-kamu tidak bercanda, kan?" tanya Alyona memastikan sambil mengedepankan wajahnya untuk lebih dekat dengan wajah Agler.
"Aku serius," kata Agler dengan jujur dan tegas.
"Bisakah kau berkata lagi kalimat yang sebelumnya?" Alyona berkata dengan wajah yang terlihat memohon.
"Aku mencintaim ...."
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, mulut Agler disumbat oleh bibir lembut Alyona.
Tak sadar Alyona bergerak dan duduk di pangkuan Agler yang duduk di atas kasur.
Jari jemari Alyona menyentuh tubuh Agler dan dagunya sembari mencium bibirnya penuh semangat.
Tubuh Alyona mendorong Agler untuk berbaring pada kasur, dan dia duduk di atas tubuh Agler sambil bercumbu mesra.
Tentu Agler tidak tinggal diam saat diperlakukan seperti ini, dia membalikkan posisi berdua, kali ini dia berada di atas tubuh Alyona, namun ditopang oleh tangannya untuk tidak menekan tubuh Alyona.
Tangan Agler menjalar dan meraba beberapa bagian terlarang Alyona.
Merasakan ini Alyona hanya diam dan membiarkan Agler menyentuhnya, ia masih terfokus pada bibir pria ini dengan nikmat.
Kedua tangannya melingkari leher Agler, dia sanga-sangat menikmati perasaan ini yang baru pertama kali dia rasakan seumur hidupnya.
Mereka berdua semakin intens dan memanas, bahkan keduanya sepertinya tidak sadar bahwa pesawat lepas landas menuju negara yang sudah Agler tentukan.
Baju, dua kemeja hitam, celana panjang krem, sepatu wanita, kacamata dada wanita, dan yang lainnya terlempar ke segala arah di dalam kamar utama.
Suara aneh mulai terdengar di seisi ruangan, susana pun ikut menjadi aneh, suhu ruangan juga mulai terasa panas.
"Emmm~"
"Terus lagi! Nghhhh~"
Erangan demi erangan terlontar dari mulut Alyona, sedangkan Agler tetap diam sambil menikmati semua yang bisa dinikmati dari Alyona.
Beberapa jam berlalu, kamar tiba-tiba menjadi sunyi, suasana kembali normal. Tetapi, tercium bau aneh di ruangan ini untuk sementara waktu.
"Cukup kuat juga wanita ini, tidak kalah dengan Rem dan Ram serta yang lainnya. Namun, wanita ini cepat beradaptasi dari yang lain, padahal dirinya baru pertama kali mencoba." Agler berkata sambil menoleh ke arah Alyona yang sedang berbaring lemas di atas kasur yang berantakan.
Agler mengaktifkan kekuatan telekinesisnya dan menggerakkan selimut untuk menutupi tubuh Alyona yang tanpa mengenakan pakaian.
Naik ke atas kasur, lalu Agler mencium pipi Alyona dengan lembut.
Setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tubuhnya, lalu mengenakan pakaiannya.
Duduk di atas kasur, Agler meminta pramugari untuk datang membawakan makanan kecil dan satu teh hangat, juga buku yang ada di rak.
Ia berniat untuk menunggu Alyona bangun dari tidurnya.
Hari ini adalah hari dia pergi menuju ke suatu negara yaitu Swiss.
Seminggu yang lalu Agler telah menyempatkan untuk pergi ke tempat wisata yang ada di moskow, seperti Museum Kremlin Armoury, Katedral Santo Basil, Istana Tsaritsyno, Kolomenskoye, Moskow Metro, dan masih banyak lagi, perjalanan berwisata di akhiri dengan berkunjung ke Kamchatka untuk melihat ribuan beruang.
Di sana juga Agler mendapatkan tugas biasa, hanya mendapatkan satu tiket lotere dan lima puluh Savior Coin.
Sebelum akhirnya kemarin mereka berdua kembali ke Moskow.
Semestinya hari ini mereka akan berpisah, Agler terbang ke Swiss dan Alyona ke kampung halamannya, yakni Kota Sochi.
Tidak disangka akan ada peristiwa seperti ini yang membuat rencana Alyona dan Agler berbeda dan berubah tidak seperti awal yang telah direncanakan.
Dini pagi hari mereka berangkat, itu sengaja agar Agler tidak terlambat lagi seperti awal pertama datang ke Moskow.
Ketika datang, anak-anak dan wanitanya menunggu dan sedikit kelaparan karena dirinya, itu membuatnya merasa bersalah.
Untuk antisipasi agar tidak terjadi hal yang merugikan itu, Agler membuat keberangkatan lebih pagi.
Menunggu beberapa jam, Alyona akhirnya terbangun dari tidurnya.
"Emmm?" Alyona sedikit bingung saat terbangun. Wajahnya yang bengkak akibat mengeluarkan air mata yang banyak telah berubah menjadi seperti biasanya.
"Aww~"
"Kamu udah bangun?" Agler menutup bukunya dan menoleh pada Alyona.
"Eh? Kenapa kamu di sini?" Alyona tersentak karena kerena terkejut saat melihat Agler yang sedang duduk di samping dirinya.
Sebelum Agler menjawab, Alyona tersadar dan melihat ke dalam selimutnya.
"Eh~"
Wajahnya memerah sangat cepat, dia segera memegangi erat selimutnya.
"Kamu tidak ingat?" Agler berkata sedikit ambigu.
"Ma-maaf, tadi itu aku kelepasan dan tidak bisa mengontrol diriku," ucap Alyona dengan sedih dan malu.
Ia sudah ingat apa yang telah terjadi kepada mereka berdua sebelumnya.
Hal memalukan dilakukannya lagi tanpa sadar, Alyona menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menahan tubuhnya untuk tidak berbuat seperti itu.
Agler tidak merespon langsung, melainkan dia meletakkan buku yang telah dia baca ke meja yang ada di sebelah tempat tidur.
Tiba-tiba hal aneh terjadi, tubuh Alyona perlahan melayang, wajahnya langsung berubah drastis menjadi panik dan takut.
"Kenapa ini?! Tolong Agler!" Alyona meronta-ronta di udara sambil meminta tolong pada Agler.
Permintaan pertolongan ini tidak Agler jawab dan dia menatap sambil tersenyum pada Alyona yang semakin tinggi terbang.
Selimut yang dipegang Alyona terlepas dan di udara nampak jelas keindahan tubuh seorang Wanita.
Kepanikan, Ketakutan, Malu dirasakan oleh Alyona saat ini.
Tubuhnya yang melayang perlahan bergerak dan datang pada tubuh Agler.
Membuka kedua tangannya, Agler segera memeluk tubuh Alyona yang melayang di depan matanya.
"Tak perlu takut, aku akan memberitahumu sesuatu." Agler berkata pelan di dekat telinga Alyona.
"Tadi, ta-tadi itu apa?" Alyona masih tercengang dan masih belum pulih.
Matanya menatap Agler dengan rasa ingin tahu dan sedikit tersirat rasa takut.
Melihat wajah cantik yang terlihat panik di depannya, Agler langsung mencium Alyona dengan kehangatan dan cinta.
Seketika Alyona merasakan rasa aman dan nyaman. Kepanikan dan ketakutan telah menghilang secara bertahap.
Matanya yang mendelik menjadi tenang lalu memejam.
"Tadi itu apa? Kenapa aku bisa terbang dan melayang seperti itu?" Alyona berkata kepada Agler dengan bibir yang masih basah oleh air liur mereka berdua.
Agler tidak menjawab pertanyaan Alyona, melainkan menunjukkan ke suatu arah di belakang Alyona, "Kamu tolong lihat itu?"
Mengikuti ucapan Agler, Alyona melihat ke belakangnya. Arah itu adalah pintu keluar dari kamar utama ini.
"Iya, lalu?" Alyona tidak mengerti maksud Agler.
Tepat ketika dia hendak bertanya lagi, sesuatu adegan yang belum pernah dia lihat secara langsung ditampilkan saat ini.
Sebuah serbet putih terbang dari luar kamar lalu masuk ke dalam dan jatuh tepat di tangan Agler.
Alyona tercengang kembali, melihat ini Agler tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum kecil, usaha menahan tawanya.
Serbet itu Agler gunakan untuk menyeka mulut Alyona yang ekspresinya masih terkejut.
"Ka-kamu?" Alyona berkata dengan terbata-bata dan matanya melebar karena tidak percaya.
Agler tersenyum, lalu menjulurkan tangannya ke depan wajah Alyona.
Sebuah cincin emas dengan berlian indah muncul dari udara tipis, "Ini untuk kamu, tanda bahwa kamu sekarang sudah menjadi milikku."
"I-ini." Alyona tergagap masih belum menerima apa yang telah terjadi tadi.
Tetapi, tangannya tetap mencoba berusaha untuk mengambil cincin yang melayang di telapak tangan Agler.
Tangan Agler mengambil tangan kiri Alyona dengan lemah lembut, lalu memakaikan cincin itu pada jari manis Alyona.
"Kamu itu pesulap?" Alyona telah tenang dari keterkejutannya yang disebabkan oleh penampilan Agler yang ajaib.
Ia belum berpikir bahwa Agler itu seorang Saviorman. Pikirannya masih berpikir di kemungkinan yang pasti baginya.
"Bukan," balas Agler sambil mencium pipi Alyona.
Setelah mengatakan itu, penampilan Agler berubah menjadi sosok yang familiar bagi Alyona.
"Apa!!" Alyona menjerit keras setelah melihat pria yang di depannya telah berubah menjadi sesosok yang telah dia kagumi.
Bereaksi cepat, Agler mencium Alyona dengan bentuk Flugelnya.
Alyona melotot terkejut, dia sekarang sedang dicium oleh pria yang diidolakannya. Hal ini sesuatu yang luar biasa.
"Ja-jadi, kamu itu Saviorman?" tanya Alyona yang masih tidak percaya dan gugup.
"Benar, seperti yang kamu lihat sekarang." Wajah seorang pemuda Asia yang tampan dan mempesona ini membalas sambil tersenyum manis.
"A-aku tidak pernah menyangka bahwa kamu adalah seorang yang aku kagumi," kata Alyona yang melihat dengan baik-baik wajah tanpa cacat Agler.
Ia benar-benar tidak pernah membayangkan semua ini terjadi padanya, ternyata orang random atau acak yang dia temui di jalan adalah seorang yang kaya raya, dan tak pernah dia duga sebelumnya, pria ini adalah Saviorman yang dia hormati dan kagumi.
"Berarti, pada saat di tepi danau dan juga beberapa hari akhir ini, aku sedang membicarakan dirimu?"
"Benar." Agler menjawab sambil menahan tawa.
"Dasar! Kamu, Rasakan ini ... Awww~"
Ketika Alyona ingin memukul bercanda kepada Agler, dia merasakan lagi sakit nyeri di bagian bawah tubuhnya.
Agler menjangkau salah satu tangan Alyona, lalu sinar biru memancar dari telapak tangannya.
Aliran hangat mengalir di seluruh tubuh Alyona, membuat Alyona mengerang karena kenikmatan.
Dalam beberapa detik, sinar biru menghilang, dan juga rasa sakit dan nyeri pada sekujur tubuh Alyona menghilang tak terasa lagi.
"Bagaimana? Sudah tidak sakit?" Agler bertanya dengan senyuman.
"Sudah tidak lagi," jawab Alyona sambil mengangguk.
"Ayo kita benahi kamar dulu, sebentar lagi pesawat akan mendarat," ajak Agler pada Alyona lalu menggendong dengan santai tanpa terlihat keberatan mengangkatnya.
Sambil menggendong dia mengembalikan tampilannya ke mode yang sesungguhnya.
"Ayo,!" Alyona berseru senang, lalu dia turun dari pelukan Agler dan pergi ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, dia segera mengenakan pakaiannya lagi.
Keduanya langsung berbenah kamar sampai bersih seperti belum pernah dipakai untuk tidur.
Benar saja ucapan Agler yang telah dia ucapkan tadi, pesawat mendarat di Bandara Geneva setelah beberapa menit mereka merapihkan kamar.
Sehabis bermain hebat hingga berjam-jam, Alyona semakin menempel pada Agler, dia bahkan berani untuk mencium bibir Agler di depan pramugari yang memprovokasinya.
Memeluk tangan kuat dan kokoh, Alyona bersama Agler berjalan keluar dari pesawat.