
[Tugas Sistem]
[Tugas: Lindungi semua orang jangan biarkan satu orang pun yang tewas dari serangan Wormdes Cean.]
[Lokasi: 16 Kilometer dari Pantai Sadranan.]
[Hadiah: 2 Tiket Lotere, 300 Savior Coin.]
[Hukuman: Semua orang di Pantai Sadranan mati.]
[Apakah Anda ingin menerima tugas?]
[Iya/Iya]
Mata Agler tertuju pada kata Wormdes Cean yang tercantum di layar hologram transparan di hadapannya.
"Wormdes Cean?" gumam Agler tanpa sadar.
"Kamu bilang apa, Agler?"
Ayu mendengar gumaman Agler dan langsung bertanya kepadanya.
"Tidak, aku tidak bilang apapun." Agler melambaikan tangannya dengan cepat. "Mungkin kamu salah dengar."
"Hm?" Alis kanan Ayu naik dengan sendirinya, terlihat curiga pada Agler.
"Kamu tunggu di sini dulu, aku mau ke toilet umum sebentar."
Tanpa menunggu respon jawaban dari Ayu, ia segera berlari keluar dari pantai.
"Kenapa dia tiba-tiba bertingkah aneh?"
Mata Ayu bergerak terus mengikuti bagian belakang Agler yang semakin lama menghilang, dan pandangannya tertutupi oleh orang sekitar.
"Entahlah, aku menunggu di sini saja sampai dia kembali."
Tangan Ayu kembali bermain air dan pasir, duduk di pasir pantai sambil memandang laut tenang di depannya.
"Permisi, boleh aku meminta nomor ka ...."
"Maaf, aku tidak punya ponsel." Ayu berkata dengan datar, memotong kalimat Pria itu.
Ia masih bermain pasir tanpa melihat sedikitpun Pria yang datang kepadanya.
Pria yang datang hendak meminta nomor telepon Ayu langsung terdiam membeku sesaat, sebelum akhirnya dia kembali dengan tubuh yang lesu.
Di dalam mobil.
Baju manusia super hitam Agler kenakan, lalu dia mengubah tampilan kostum menjadi jas hitam seperti orang-orang berdasi rapih yang ingin pergi ke acara formal.
Setelah mengenakan pakaian, seketika dia mengubah tubuhnya menjadi mode Flugel. Wajah yang terlihat tampan melebihi artis kimchi ditampilkan saat ini. Namun, tangan Agler bergerak dan memakaikan topeng hitam di wajahnya untuk menutupinya.
Jarvis memantau area di sekitar mobil untuk Agler keluar dari mobil dengan aman tanpa ada kecurigaan.
{Di luar telah sepi, Anda boleh keluar untuk beberapa detik.}
Mendengar pemberitahuan Jarvis, Agler mengangguk dan segera membuka pintu mobil.
Berdiri menghadap ke depan, tampilan Agler yang rapih dan tampan terlihat jelas nampak tidak sesuai dengan tempatnya.
Agler berjalan perlahan mengikuti arahan yang telah ditentukan oleh Sistem.
Tugas ini adalah tugas biasa, Sistem memberi arahan di mana lokasi tugas berada.
Penampilan Agler berambut cokelat ini menarik perhatian orang di pantai. Terlebih baju yang dipakai sangat tidak cocok dengan suasan pantai.
Banyak orang yang segera mengambil gambar Agler, bahkan anak-anak tertarik dengan Agler saat ini.
Visual Agler sekilas mirip dengan ceo dalam beberapa film, tampak keren dan tampan, juga kaya.
Tidak sedikit para perempuan yang memanggil Agler dengan sebutan oppai ... eh maksudnya oppa.
Mereka sudah menganggap Agler tampan, padahal Agler belum membuka topengnya.
Menyapa mereka semua dengan lambaian tangan, Agler akhirny sampai di pinggir pantai.
Rasa penasaran di wajah setiap orang nampak jelas, mereka ingin tahu apa yang ingin dilakukan oleh Agler dia berdiri di sana.
Tangan kanan Agler terulur dan membuka topeng hitam yang menghalangi ketampanannya.
Seketika itu orang-orang yang melihat langsung berteriak histeris, terlebih para perempuan yang mengidolakan sosok Saviorman.
Wajah Agler versi tubuh Flugel terpampang dengan jelas tanpa ada halangan, orang-orang di sini segera memotretnya.
Bahkan ada yang ingin mendekatinya, sayangnya mereka yang ingin mendekati Agler terhalang sesuatu yang transparan sehingga mereka tidak bisa maju untuk mendekat.
Topeng yang dilepas menjadi bubuk dan menyatu pada pakaian formalnya yang berjas.
Kaki Agler mulai meninggalkan pasir, sosoknya melayang perlahan di atas pasir, dan terus meninggi.
Rambut berwarna cokelatnya berkibar terkena deburan angin ombak. Tampilan Agler kini sama seperti seseorang yang memiliki devine dan hidup di alam yang tinggi.
Tua dan muda, anak kecil dan orang tua, semua kalangan yang ada di sini terpana dan terpesona oleh Agler.
Kedipan cahaya ponsel menghujani membidik Agler, sekarang ia sudah sama seperti artis yang muncul di dunia televisi.
Boom!
Angin kencang menerpa pasir yang ada di bawah Agler menciptakan hujan pasir dan menyelimuti orang yang ada di jangkauan belasan meter dari Agler.
Tubuh Agler meluncur cepat ke depan laut, arah terbangnya menuju mengarah laut yang cukup jauh hampir ada di tengah-tengah laut.
Saat semakin mendekat dengan lokasi tugas, Agler melihat sebuah bayangan hitam yang meliuk-liuk seperti ular.
Akan tetapi, ukuran ini bukan hal yang wajar bagi seekor ular. Bayangan ular ini sangat panjang dan lebar, mungkin puluhan meter panjangnya dengan lebar tubuh beberapa meter.
"Apakah ini Wormdes Cean?"
Tatapan Agler terus mengawasi bayangan makhluk yang sedang berenang ini. Ia terbang di atas langit dengan ketinggian puluhan meter dari laut.
Selama dia amati beberapa waktu, ternyata bayangan panjang dan besar ini berenang ke Pantai Sadranan.
Whooshhh ...!
Agler menukik ke bawah menunjuk pada bayangan hitam panjang ini.
Kecepatan terbang Agler sangat cepat sehingga dia membuat ombak besar saat menceburkan diri ke laut.
Tanpa menggerakkan kakinya, Agler berenang dengan sangat cepat di dalam air mengejar sosok panjang dan besar ini.
Tak lama kemudian, Agler mendapati seekor makhluk besar di depannya yang sedang meliuk-liukan tubuhnya bagai ular di dalam air.
Makhluk ini sangat mirip dengan Wormdes yang sebelumnya Agler temui dan kalahkan, namun ada perbedaan yang mencolok di antara keduanya.
Wormdes ini memiliki sirip pada ujung ekornya untuk dia bisa berenang dengan cepat, warna tubuhnya tidak hitam seperti Wormdes sebelumnya, melainkan berwarna sedikit biru tua yang terkesan sedikit gelap dari biru biasanya.
Tangan Agler meluncur dengan cepat mencoba meraih ujung ekor Wormdes.
Dengan diberkati sihir raksasa, tangannya menjadi besar, dan berhasil menangkap ekor besar ini.
Seketika Wormdes itu meliuk-liukan tubuhnya secara paksa untuk mengeluarkan tubuhnya dari cengkraman Agler.
Tidak peduli seberapa keras dia berusaha, tubuhnya tetap dipegang oleh tangan Agler yang besar seolah dia sedang ditahan oleh sesuatu benda yang sangat keras di dunia.
Cengkraman tangan Agler sama dengan kekuatan pukulannya, sulit untuk lawan keluar dari tangannya.
Air laut di sekitar mereka menjadi bergelombang, hingga di atas permukaan laut menimbulkan ombak kecil yang dapat berkembang menjadi besar.
Sihir raksasa mulai menyelimuti seluruh tubuh Agler, dan membuat tubuhnya menjadi lebih besar bagikan raksasa.
Sosok Agler menjadi besar hingga kedalaman laut hanya sepinggangnya saja.
Kedua tangannya memegang kepala Wormdes Cean dan tubuhnya yang sedang memberontak dan melilit tubuhnya.
Makhluk ini mencoba menyerang kembali Agler dengan lilitannya. Berharap dia lepas dari genggaman Agler.
Sayangnya adegan itu tidak akan pernah terjadi.
Cahaya emas, cahaya hijau, dan cahaya cokelat menutupi seluruh tubuh Agler.
Manipulasi emas, berlian, dan tanah membungkus seluruh tubuh Agler yang membuatnya bertambah keras, dan sangat sulit untuk diremukkan.
Tubuh Wormdes semakin kuat untuk menekan tubuh Agler, tapi Agler hanya diam terlihat ketakutan.
Agler merasakan bahwa kekuatan yang menekan tubuhnya telah ditingkatkan, dia hanya merasa bosan dengan serangan ini.
Itu lemah, meskipun Wormdes Cean ini memiliki kekuatan tekanan lilitan yang kuat, dibandingkan dengan pertahanan tubuh Agler yang berlapis-lapis itu seperti pijitan seorang anak kecil.
Kekuatan lilitan terus menguat, bahkan tubuh panjangnya mengeluarkan bunyi yang keras, nampak dia berhasil meremukkan tubuh Agler. Padahal tidak sama sekali.
Tetapi meski begitu Agler masih tidak merasakan serangan yang berarti dari Wormdes Cean, wajah ketakutannya perlahan berubah menjadi seringai yang menakutkan.
Kedua tangannya yang memegangi kepala ular ini, Agler mencoba untuk meregangkan tubuh panjang ini menjadi lebih panjang hingga terpisah.
Ternyata ini tidak semudah Agler kira, ia masih harus mengeluarkan tenaga untuk berhasil memisahkan tubuh panjang makhluk ini.
Sosok Agler dan Wormdes Cean yang sedang bertengkar satu sama lain dilihat oleh seluruh orang.
Beberapa helikopter dari berbagai dunia yang sering dipakai untuk meliput acara Agler bertempur telah datang dan melakukan siaran langsung.
Mereka ini adalah orang yang sangat pemberani.
Demi cuan mereka rela mengorbankan nyawa.
Agler mencoba memutus paksa makhluk panjang ini, namun dia mengurungkan upayanya.
Detik berikutnya, Agler terbang sambil membawa Wormdes Cean ke langit.
Bersamaan dengan itu, bubuk tanah tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya, dan itu terbang hingga menyatu membuat permukaan tanah yang melayang di ketinggian puluhan meter dari permukaan atas laut.
Melihat ini Agler segera membelok dan terbang menukik menuju permukaan tanah ini.
Memegang kepala Wormdes Cean daan diarahkan ke depan.
Bam!
Tubuh raksasa Agler dan Wormdes Cean mendarat cukup keras di permukaan tanah yang luas sehingga menciptakan debu dan tanah yang beterbangan menutupi sosok keduanya.
Sebagian orang yang melihat siaran langsung ini langsung menahan napas.
Tatapan mereka selalu terpaku pada layar kaca mereka, dan dengan rasa penasaran serta jiwa yang bersemangat mereka mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat televisi lebih jelas.
Tak berapa lama, debu dan tanah yang beterbangan menghilang, menampilkan sosok yang besar di atas tanah.
Agler dengan tubuh raksasanya sedang menekan kepala ular bertanduk di permukaan tanah dengan tangan kanannya.
Namun tubuh ular yang panjang ini masih terus berusaha untuk mengalahkan Agler.
"Kemauan yang kuat, namun sayang kau telah bertemu denganku." Senyum mengerikan di wajah Agler semakin jelas terlihat.
Selanjutnya, tangan Agler semakin membesar hingga menutupi seluruh kepala dari monster ular ini.
Tidak hanya membesar, sebuah api biru-ungu muncul secara tiba-tiba dan membungkus kepalan tangan Agler.
"Matilah!"
Tangan yang berapi-api itu menekan keras hingga membuat bunyi seperti tulang yang retak.
Api biru-ungu ikut berkontribusi terhadap kematian Wormdes Cean ini. Api itu menyambar dan mengalir hingga ujung ekor, sampai akhirnya seluruh tubuh ular ini diselimuti api biru.
Sementara waktu, udara di sekitar Agler hingga menjangkau beberapa kilometer darinya tercium bau hangus seperti daging yang dibakar.
Orang Indonesia mungkin banyak yang tidak menyukai aroma ular bakar, namun berbeda dengan negara warga puncak rantai makanan. Mereka pasti sedang mengeluarkan air liur dari mulutnya.
YTTA.
Tidak lama kemudian, hanya dalam beberapa menit, api itu menghilang dan menyatu kembali pada tubuh Agler.
Sosok ular panjang ini telah menghilang menjadi abu hitam di atas tanah.
Ding!
[Selamat Anda Telah Menyelesaikan Tugas Sistem!]
[Hadiah Tugas Sistem Telah Diberikan!]
Pengingat Sistem terdengar oleh Agler, dia merespon mengangguk.
Pandangan Agler masih menunjuk pada abu ini.
Dia mengulurkan tangannya lagi dan api biru kembali keluar.
Semburan api biru dengan ganas melahap abu hitam yang bertebaran di permukaan tanah hingga menghilang sepenuhnya.
Setelah melakukan pembersihan, Agler mengubah tubuhnya menjadi ukuran normal dengan masih mempertahankan kostum jasnya.
Selama pertarungan tadi dirinya menjadi seorang raksasa, dia masih mengenakan jas hitam ini. Ukuran jas dari manusia super hitam dapat menyesuaikan dengan tubuhnya, jadi Agler tidak perlu khawatir.
Bergerak melihat ke sekelilingnya, Agler memastikan bahwa tidak ada satu pun tetes darah dan abu dari bagian tubuh Wormdes Cean yang tersisa.
"Oke, sudah selesai saatnya kembali."
Whooshhh ...!
Agler menghilang di detik berikutnya, hanya menyisakan suara supersonik yang keras.
Helikopter yang terbang menyoroti adegan Agler bertarung masih tinggal.
Karena mereka masih menyiarkan langsung sebuah adegan permukaan tanah yang melayang secara perlahan dan bertahap menjadi tanah kecil dan menghilang tanpa meninggalkan jejak.