Savior System

Savior System
Bab 42 : Memusnahkan Draith Pt 07


Six Arm-FlameGolem dan ThunderGolem mengelilingi Drithaur, dengan postur tubuh yang siap menyerang kapan saja.


Mereka menunggu momen yang tepat untuk mengeluarkan serangan.


Sangat kebetulan, tiba-tiba awan cumulus congestus menutupi cahaya matahari yang menyinari Terrain Of Earth Agler.


Drithaur yang pertama memulai pertempuran, aura energi merah dari tubuhnya menyebar 360 derajat ke sekelilingnya.


Aura energi merah merambat cepat menuju para Golem.


Tanah coklat yang dilewati aura itu langsung terbelah-belah dan berubah menjadi hitam.


Rasa kesuraman dan kehancuran terkandung di dalam aura itu.


Six Arm-FlameGolem meloncat mundur dengan cepat menghindar, namun karena tubuhnya yang besar otomatis pergerakannya juga menjadi lebih lambat, dan dia terkena sentuhan aura merah itu di kaki kirinya.


Krak...!


Kaki yang terbuat dari tanah itupun kehilangan vitalitasnya kemudian berhamburan ke bawah.


Sedangkan ThunderGolem menghilang dan muncul seketika di 2 kilometer jauhnya dari tempat Drithaur.


Kecepatan adalah keunggulan ThunderGolem tetapi dia kalah telak dalam faktor kekuatan fisik.


Graaahhh.....!


Drithaur semakin marah, dia langsung bergegas lari menuju Six Arm-FlameGolem yang paling dekat.


Kaki kirinya beregenerasi kembali dengan cepat, melihat ini Six Arm-FlameGolem juga segera berlari mengarah kepada Drithaur.


Mengambil ancang-ancang untuk melepaskan serangan, Drithaur memutar lagi bola berduri mace-nya disamping kanan tubuhnya sambil berlari kencang.


Six Arm-FlameGolem melebarkan enam tangannya ke belakang, mengisi energi api di setiap tangan untuk mengeluarkan serangan paling kuat yang dia punya.


Jarak semakin dekat, Drithaur melambaikan mace-nya dan melontarkan bola berduri yang diselimuti energi merah yang kental menunjuk ke arah FlameGolem.


Bola berduri itu terbang dan menghasilkan lintasan cahaya merah-hitam yang panjang.


Merasa energi yang ada di enam kepalan tangannya sudah cukup banyak, FlameGolem seketika meningkatkan akselerasi kecepatannya, mengeluarkan semburan api di kakinya untuk membuatnya lebih cepat, dan dia sambil menekukkan tangan dalam keadaan mengepal disamping tubuhnya, menimbulkan efek gelombang sonic


dibelakangnya.


Kilatan merah dan sinar merah-hitam semakin dekat.


FlameGolem mengulurkan keenam tangannya ke depan seperti posisi sedang meninju.


Beberapa detik kemudian, enam pukulan api super dan bola berduri dengan energi merah bertemu.


Dua energi bertabrakan dengan sangat keras, tanah di bawahnya menjadi retakan yang terus menjalar membentuk lingkaran.


Menghasilkan gelombang angin yang sangat kuat menghempaskan apapun di sekelilingnya.


Efek visual yang sangat keren dan Agler segera memotret adegan ini dengan i-nya.


Orang-orang yang menonton juga tercengang setelah melihat pertempuran ini, apakah ini masih dunianya atau dunia para monster.


Banyak dari penonton di rumah yang melihat Agler mengeluarkan ipon 13 nya dan para penggemar berat Saviorman langsung memesan ipon 13 pro max dengan gaya yang sama seperti idolanya.


Penjualan ipon mulai menjadi stonks melonjak tinggi di mulai dari hari ini.


Kembali pada Drithaur dan Six Arm-FlameGolem yang saling adu kekuatan.


Bola berduri menunjukkan tanda-tanda melemah.


Melihat ini, FlameGolem menambah keluaran energi api pada pukulannya.


Pukulan FlameGolem mengikis sedikit demi sedikit energi merah yang ada di bola berduri.


10 detik kemudian, enam pukulan api super akhirnya menghancurkan bola berduri menjadi kepingan kecil dan cahaya merah hilang sepenuhnya.


Enam pukulan api tidak berhenti dan terus maju menuju Drithaur.


Dengan kilatan merah, pukulan enam tangan FlameGolem menghantam tubuh Drithaur hingga dia terhempas jauh.


FlameGolem berhenti bergerak setelah memukul Drithaur dengan sangat keras.


Melirik Drithaur yang terbang terlempar yang akhirnya jatuh mendarat di tanah dan tubuhnya menggempur tanah sepanjang ratusan meter.


Krakk! Krakk! Krakk!


Bunyi retakan terdengar dari FlameGolem.


Enam tangan yang barusan meninju tubuh Drithaur, menjadi retak dan diikuti dengan asap hitam yang keluar.


Api yang ada di kepalan tangannya kini sudah menghilang.


Pecahan tangan tanah berjatuhan ke bawah, dan itu merembet hingga seluruh tangannya benar-benar hilang.


Aura merah-hitam milik Drithaur mulai meruntuhkan seluruh tubuh FlameGolem dan hanya tersisa Bola Api yang jatuh di tanah.


Asap merah merambat ke Bola Api yang ada di atas permukaan tanah dan itu mulai meredam panasnya Bola Api.


Bola Api menyusut semakin kecil dan asap merah terus memadamkan perlahan.


Dan akhirnya asap merah itu melenyapkan Bola Api FlameGolem.


Asap merah terbang melayang kembali menuju Drithaur yang terseret jauh.


Ternyata asap merah itu milik Drithaur lalu menjalar ke tubuh FlameGolem melalui kontak fisik saat FlameGolem meninju Drithaur.


Tubuh Drithaur yang remuk dan patah-patah hampir tidak bisa dikenali terbaring di tanah, tidak tahu apa itu masih hidup atau mati.


Aura merah-hitam yang ada di tubuhnya membungkus Drithaur menjadi bola hitam.


Bola hitam semakin besar dan naik perlahan ke udara.


Dari kejauhan Agler yang melihat ini, langsung bangkit dari singgasananya.


"Energi yang kuat, apakah energi itu sedang menyembuhkan tubuhnya?"


Bola hitam terus membengkak dan berlangsung beberapa menit dan akhirnya bola itu membesar hingga 70 meter.


Tergantung melayang di langit dan asap hitam yang sesekali keluar dari bola hitam itu meruntuhkan dan merobohkan tanah di sekelilingnya.


......................


Di Kastil pada suatu planet yang gelap, mencekam dan suram.


Sosok Czar Draith duduk terbaring di singgasana-nya sambil memakan suapan daging yang di beri oleh 3 Draith wanita dengan paras yang cantik dengan sayap kelelawar kecil ditubuhnya.


Dan dia menikmati belaian dua Draith wanita ini yang ada di pelukannnya.


"Hahaha!!!"


"Menarik! sangat menarik!"


Czar Draith berbicara dan tertawa dengan sangat keras di dalam kastilnya.


"Menarik! makhluk yang ada di planet itu bisa membuat tunggangan Raja ini menyalakan amarahnya!"


Memakan lagi sesuatu seperti daging yang di suapi oleh Draith wanita.


"Raja ini tidak sabar ingin melihat siapa yang bisa menyudutkan Drithaur sampai dia menggunakan bentuk terakhirnya!"


Czar melirik para Draith wanita yang ada di sekelilingnya.


"Para pelayanku Succubus, Segera ambilkan pedang itu!"


"Ya Raja!"


Dua Succubus berhenti menyuapi dan berjalan ke dalam ruang yang ada di kastil.


Kemudian mereka kembali dan membawa sesuatu benda panjang yang di bungkus oleh kulit yang bersisik.


Entah dari makhluk apa kulit itu.


Mereka lalu menyerahkannya kepada Czar dengan hormat.


Mengambil benda itu, Czar menyentuh lembutnya dengan sangat hati-hati dan penuh perasaan.


"Sepertinya kita akan menikmati pertempuran bersama lagi~"


Czar berbicara sangat lembut dan penuh kasih sayang pada benda panjang itu, dan matanya menatap penuh kerinduan.


"Kita akan menghancurkan makhluk yang kuat di planet itu, apakah kamu bersemangat kekasihku?"


Benda panjang itu bergetar pelan.


"Sepertinya kamu juga ingin menghancurkan dan melahap makhluk itu!"


Czar mengalihkan pandangan ke arah Succubus.


"Raja ini merasakan energi para Draith semakin kecil, sepertinya mereka sudah gagal dalam misi ini!"


Czar bertanya kepada mereka, "Berapa jiwa Draith yang masih hidup?"


"25 juta Draith masih hidup dan mereka semua diperjalanan menuju planet itu."


Salah satu Succubus menjawab dengan penuh kesopanan dan rendah diri.


"Sangat tidak berguna!!!"


Czar sangat marah mendengar para Draith-nya hanya tersisa setengah dari populasi seluruh rasnya.


Matanya menyala berwarna merah dengan wajah banteng yang seram, dan aura merah yang kental memenuhi seluruh tubuhnya.


"Sudah saatnya Raja ini memberikan pelajaran kepada makhluk yang kuat itu!"


Berdiri dari singgasananya, para Succubus langsung menyamping dan berlutut memberi hormat.


"Para Succubus jaga kastil ini sampai Raja ini kembali!"


"Iya Rajaku."


Succubus menjawab sambil menundukkan kepalanya.


Czar berjalan menuju pintu kastil, sambil memegang benda panjang itu dengan penuh kasih sayang, seperti memeluk bayi.