Savior System

Savior System
Bab 143 : World Tour PT 06


"Ini?!" Alyona tercengang saat melihat sebuah pesawat yang ada di hadapannya.


Bukan pesawat, lebih tepatnya jet pribadi seseorang.


Dirinya dibawa oleh Agler ke depan pesawat ini. Jujur saja, pada awalnya dia sangat bingung karena dia tidak ikut mengantri dan mendapatkan tiket seperti orang-orang.


Saat bertanya mengenai hal ini, Agler hanya membalas tersenyum pada dirinya, bukannya dia mendapatkan jawaban tetapi senyuman menawan yang membuat dia tersipu.


"Ini?!" Alyona menoleh pada Agler yang berdiri di sebelahnya dengan wajah masih tercengang.


"Pesawat kita untuk sampai ke negara asalmu, yaitu Rusia." Agler menjawab sambil tersenyum pada Alyona. "Ayo masuk."


Agler berjalan terlebih dahulu, Alyona yang ditinggal olehnya langsung berlari mengikuti Agler di belakang, pengawal memberikan koper dan tas pada kru pesawat yang lain.


Pengawal ini yang membawa Agler juga adalah seorang kru pesawat.


Mereka berdua disambut oleh pramugari cantik sampai ke dalam pesawat.


Hal ini membuat Alyona sedikit cemburu, karena di sekitar Agler, ada wanita yang mendekatinya.


Duduk di ruang bersantai dengan sofa yang memanjang serta meja kayu dan televisi, ada juga buku yang banyak di ruangan ini.


Tempat ini sangat mewah, di dalam pesawat ini benar-benar mewah, tentunya tidak ada yang murah.


"Ini Jet Pribadi punya kamu? "Alyona duduk di kursi samping Agler dan bertanya kepadanya.


"Iya, ini punyaku." Agler menjawab dengan santai pertanyaan Alyona.


"Eh!" Alyona tercengang kembali setelah mendengar konfirmasi dari Agler mengenai pesawat ini.


Melihat Agler kembali, Alyona memandang wajah Agler dari samping yang sedang membaca sebuah buku di tangannya.


Peristiwa ini benar-benar di luar dugaannya, dia tak pernah membayangkan jika dirinya akan bertemu dengan seseorang yang tak dikenal di jalan dan ternyata orang itu adalah seorang Milyuner.


Mungkin dia sedang kedapatan keberuntungan yang besar. Untungnya Alyona tidak pernah menganggap Agler itu orang miskin atau pun kaya pada pandangan pertama, kini dia telah mendapatkan kesan yang baik oleh Agler.


Juga, dia sebenarnya sudah suka dengan Agler saat pertama kali mereka mengobrol di tepi danau, tapi dia tidak tahu apakah Agler juga suka dengannya atau tidak.


Dia belum berani mengungkapkan perasaannya saat ini, untuk saat ini dia hanya bisa memendam perasaan ini hingga waktu yang tepat.


Tiba-tiba seorang Pramugari datang menghampiri Agler, dan dia membawakan makanan kue yang terlihat enak dan mahal.


Pramugari itu tidak beranjak saat meletakkan dua kue di meja, yang dimaksudkan untuk dirinya dan Agler.


"Pesawat akan lepas landas dalam sepuluh menit lagi." Pramugari itu berkata pada Agler dengan sopan.


Mendengar hal ini, Agler merespon dengan anggukan.


Setelah mengatakan ini, Pramugari tidak pergi dari ruangan ini dan masih berdiri di depan mereka.


"Maaf, Tuan. Apakah Anda ingin disuapi?" Pramugari itu tiba-tiba menawarkan untuk menyuapi Agler. Wajah Pramugari ini terlihat seperti menggoda Agler.


Sontak hal ini membuat Alyona marah, pramugari ini lancang sekali. Dirinya yang mengenal Agler sepanjang hari beberapa hari ini tidak berani. Wanita di depannya ini sangat kurang ajar.


Tepat ketika Agler ingin menjawab, Alyona berkata lebih dulu.


"Tidak, aku bisa menyuapinya." Alyona berkata dengan tegas sambil menatap wanita di depannya ini.


Agler yang mendengar ini langsung terkejut dan menoleh melihat Alyona.


"Baiklah, kalau begitu." Pramugari ini mundur dari pandangan mereka berdua, namun sebelum pergi Pramugari ini memberi tatapan yang bermusuhan pada Alyona.


Pandangan ini tidak membuat gentar Alyona, ia pun menatap balik ke wanita ini dengan mata yang tajam.


Tentu saja, Agler melihat adegan pertempuran ini, tapi dia tak ingin mencampuri masalah mereka, sesungguhnya itu adalah masalah wanita.


Setelah melihat Pramugari itu telah pergi, Alyona langsung mengubah ekspresinya yang marah menjadi pemalu.


Dia menundukkan kepalanya, tidak berani melihat ke arah Agler.


Tingkah ini sangat lucu menurut Agler, Wanita di depannya ternyata bisa marah sampai seperti ini.


"Katanya ingin menyuapiku memakan kue?" Agler berkata dengan nada yang bercanda.


Mendengar perkataan Agler ini membuat Alyona menjadi panik, "Tidak-tidak, aku hanya bercanda tadi."


"Benarkah?" Agler menatap serius pada wajah Alyona yang masih memerah.


"Emm ....." Alyona menunduk dan terdiam sejenak, lalu mengangkat kepalanya untuk menatap wajah yang, "A-apakah boleh?"


Alyona bertanya dengan wajah yang memerah dan sedikit gugup.


"Boleh kalau kamu mau." Agler setuju dengan tawaran Alyona.


Dia tidak akan menolak jika permintaannya seperti ini, hanya menyuapi dirinya saja itu bukan masalah, melainkan kenikmatan. Jika menyuapi pejabat itu adalah sebuah masalah.


"Emmm ... oke." Alyona mendekati Agler dan duduk di sebelahnya.


Mendadak pesawat sedikit bergetar, itu dikarenakan oleh berjalannya pesawat untuk lepas landas, pengumuman langsung dikeluarkan saat itu juga.


Karena tidak apa-apa Alyona duduk di samping Agler dan hanya dipisah oleh jarak beberapa sentimeter saja.


Tangannya menjangkau piring yang berisikan kue, gerakannya cukup canggung, namun Agler memakluminya.


Menggerakkan sendok ke arah kue dan mengambil potongan kue dengan sendok, lalu mengirimnya ke mulut Agler.


Melihat ini, Agler segera membuka mulutnya dan memakan kue yang disuapi Alyona.


Senyum manis timbul di wajah Alyona, lalu dia mengambil potongan kecil dengan sendok ini, dan menyuapi Agler lagi.


Mulut Agler terbuka dan dia memakan potongan kecil kue ini, lalu menikmatinya.


Sambil membaca buku, Agler memakan kue yang diberikan Alyona dengan penuh hikmat.


Dalam beberapa suapan, kue milik Agler telah habis, dan Alyona meletakkannya di meja.


"Bagaimana? Potongan yang aku berikan itu pas, kan?" tanya Alyona dengan antusias pada Agler.


"Cukup bagus," jawab Agler sambil mengangguk.


Lalu dia bergerak meletakkan buku di tangannya ke rak, lalu dia mengambil kue milik Alyona.


"Sekarang giliranku untuk menyuapi." Agler tersenyum pada Alyona.


"Ehh, tidak usah. Aku bisa sendiri." Alyona dengan wajahnya yang panik berusaha untuk menolak tawaran Agler.


Wajah Agler yang tersenyum sembari memegang sendok yang mengarah padanya membuat Alyona tidak bisa menahan untuk menutup mulutnya, dan tanpa sadar mulutnya terbuka.


Dia menelan potongan kue kecil itu, lalu melirik Agler.


"Bagaimana?" Agler bertanya memiringkan kepalanya pada Alyona sembari memegang sendok dan piring.


"Enak kuenya," jawab Alyona sambil menyeka bibirnya yang ditempeli remah kue.


Ketika Alyona ingin menyeka noda kue yang masih menempel di bibirnya, tangan kanan Agler tiba-tiba datang ke depan wajah Alyona, dan mengelap bibir Alyona.


"Eh?" Alyona tercengang, dirinya membeku tak bergerak, mulutnya terbuka dengan tatapannya yang kosong.


Agler menarik kembali tangannya dan mengambil potongan kecil dari kue dan memasukkan ke dalam mulut Alyona.


Tanpa sadar, Alyona mengunyah kue lalu menelannya.


Tingkah Alyona yang lucu ini membuat Agler tersenyum, lalu dia terus menyuapi Alyona yang belum sadar.


Dalam beberapa sendok, Agler berhasil menyelesaikan menyuapi Alyona, dan dia menumpukkan piring itu di atas piring sebelumnya.


Tubuh Alyona masih tak bergerak, masih mempertahankan ekspresi tak percaya.


Jari Agler menjulur dan mencolek pipi Alyona yang lembut beberapa kali.


Merasakan gerakan ini, Alyona langsung tersadar dan langsung menatap kedua mata Agler selama beberapa detik, lalu dia memalingkan pandangannya dan menutupi wajahnya.


Alyona merasa malu akibat kejadian tadi, itu benar-benar hal yang paling memalukan.


Bisa-bisanya dia seperti tadi di depan orang yang disuka. Tapi, itu bukan sepenuhnya salah dirinya.


"Kamu istirahat saja, kita akan berada di sini selama beberapa jam, mungkin delapan atau sembilan jam penerbangan jika tidak ada kendala," ujar Agler kepada Alyona yang masih menutup wajahnya.


Membuka tangannya, Alyona memandang Agler lalu dia mengangguk.


"Kamar utama ada di atas jika kamu ingin tidur dan beristirahat, kamu bisa ke sana untuk mencari tangga." Agler menunjuk ke suatu arah dan berkata.


"Oke, kalau begitu aku akan ke sana." Alyona beranjak dari sofa dan hendak pergi ke arah yang ditunjuk oleh Agler. Namun, dia berhenti dan menoleh ke Agler.


"Kamu ingin di sini? Tidak ikut ke kamar utama untuk tidur?" tanya Alyona tanpa berpikir apa-apa tentang apa yang diucapkan.


"Kamu ingin aku tidur berdua denganmu?" Agler menjawab sambil menggerakkan salah satu alisnya.


"Eh? Bukan, bukan seperti itu maksudku," ucap Alyona dengan panik seraya melambaikan tangannya.


"Aku akan ke kamar tamu untuk istirahat, tapi aku akan ada di sini selama beberapa jam ke depan, kamu bisa menemui-ku di ruang ini atau kantor pribadi." Agler berkata sambil menatap mata Alyona.


"Jika kamu lapar, bilang aku atau pramugari itu, bilang saja kamu adalah pasanganku, mereka akan patuh. Atau aku akan menyuruh mereka untuk memberikan kamu makan siang nanti, atau beberapa cemilan," tambah Agler ringan.


"Anu, baiklah, aku akan ke kamar utama," balas Alyona dengan pipinya memerah lagi, lalu pergi sembari membawa satu koper yang isinya adalah baju dan beberapa barang keperluannya.


Ruangan di Jet Pribadi ini sangat banyak, kapasitas yang ditampung bisa sampai puluhan orang. Ruangan itu antara lain, kamar tidur utama, kamar tidur tamu, tangga besar, ruang tamu, kantor pribadi dan ruang bersantai, ruang bersantai umum, dapur penuh, kamar mandi, dan lain-lain.


Fasilitas ini sudah lengkap, bahkan ada kamar mandi di dalam sebuah pesawat.


Sosok Alyona menghilang dalam pandangannya, dan Agler berdiri mengambil beberapa buku untuk dibaca.


Tidak terasa beberapa jam berlalu, sebuah pesawat berwarna putih dengan motif merah mendarat dengan selamat di bandara Domodedovo, Moskow, Rusia.


Agler bersama dengan Alyona turun dari pesawat dikawal oleh beberapa pengawal. Di sini sedang musim semi, cuaca masih cerah meski hari sudah memasuki sore.


Segera Agler dan Alyona keluar dari bandara, pengawalnya sudah siap sedia persoalan mengenai transportasi, mereka membawa mereka berdua ke hotel bintang lima di Tverskaya, masih di daerah Moskow.


Mereka sudah memesan kamar untuk dua orang, dan itu kamar royal atau presidential.


Sekarang Alyona mengingat apa yang telah dia alami hari ini yang masih terasa seperti mimpi, sebuah mimpi yang sangat indah.


Jika memang ini mimpi, Alyona berharap mimpinya tidak akan berakhir, setidaknya beri dia waktu untuk menikmati ini lebih lama lagi.


Memandang langit kamar yang mewah, berbaring di atas kasur empuk, Alyona memikirkan masalah mengenai dirinya yang ingin mengungkapkan perasaan atau ingin memendamnya untuk waktu yang lama.


Sejujurnya dia takut Agler pergi sebelum dia mengungkapkan isi hatinya.


"Aku baru sadar ternyata aku telah jatuh cinta saat pertama kali melihat matanya, ucapannya dan sikapnya secara tidak langsung membawaku ke perasaan yang lebih dalam.


Aku takut dianggap sebagai wanita yang gila materi, karena mengungkap perasaanku setelah tahu dia adalah orang kaya," ucap Alyona dengan mata yang tersirat rasa sedih dan bimbang. "Tapi di lain sisi aku ingin mengungkapkannya tidak lama lagi, mungkin beberapa hari."


Perkataan ini sebenarnya terdengar oleh Agler yang ada di kamar di dekat kamar Alyona.


Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya setelah mendengar ini.


"Ternyata dia sudah suka saat pertama kali melihatku." Agler tersenyum tak berdaya dan diam sesaat, "Namun, aku salut dengannya karena keberanian dia dan memberiku perasaan yang nyaman bagaikan bersama teman, tidak berbeda dengan wanita-wanitaku."


Agler berjalan ke balkon kamar, dan memandangi daerah Tverskaya yang memiliki bangunan yang sangat khas.


"Jika memang dia benar mencintaiku, aku tidak akan menahan untuk memberi tahu bahwa aku memiliki wanita yang banyak. Juga tentang identitasku, karena dia sudah menjadi bagian keluarga." Agler berkata sambil menggerakkan jari-jarinya.


Sebuah cincin yang terbuat dari emas dengan hiasan berlian memantulkan cahaya indah sedang melayang di atas telapak tangan kanannya.


"Seperti biasa, anggota baru harus diberikan ini."


Semua wanitanya yang masuk ke dalam harem dan Istana Dewi akan diberi hadiah cincin, semuanya sama tidak ada hadiah yang dibedakan olehnya.


Ini adalah keadilannya terhadap semua wanitanya.


Cincin yang terbang itu menghilang di udara yang tipis.


Ruang penyimpanan memasukkan cincin itu ke dalam.


Cuaca masih terang, tetapi waktu masih jam lima sore. Agler memandang langit yang cerah tidak ada tanda akan gelap seperti jam lima sore yang ada di Jakarta.


Tiba-tiba wajah Agler berubah, dia baru ingat perbedaan waktu antarnegara.


Jika jam lima di sini, berarti di jakarta sudah jam delapan malam.


Sekarang dia telah terlambat!


Masuk ke dalam kamar, Agler mengubah bajunya menjadi kostum manusia super hitam, tidak lupa memerintahkan Jarvis untuk mengamankan dirinya saat keluar dari kamar ini.


Berdiri di balkon kamar, Agler menghilang di detik berikutnya.


Agler tidak langsung pergi ke Jakarta, namun langsung menjemput Mirage dan Ada Wong, mereka bertiga akan makan malam bersama dan bermain malam hari bersama.