
Sosok Agler dengan sepuluh sayap biru-ungunya yang membentang lebar-lebar, nampak sangat gagah nan indah.
Kini Agler masuk ke dalam bentuk Hybrid Phoenix-nya.
Amarahnya perlahan menelan tubuh Agler. Tetapi, masih ada sedikit kesadaran yang masih bertahan.
Kemampuan Agler dalam mengubah enam sayap Flugel menjadi sayap Phoenix adalah ketidaksengajaan, bahkan dia tidak tahu bahwa dia telah mengubah semua sayap Flugel-nya.
Matanya mulai berubah menjadi biru laut dengan pupil matanya membentuk sebuah pola bintang. Sepasang mata yang sangat mulia, hanya saja pandangan mata itu terasa sangat dingin seolah dia tidak peduli tentang apapun di Dunia ini.
Agler fokus menatap Ciberlyps dengan ekspresi tenang di wajahnya. Meskipun begitu di dalam hatinya mengandung amarah yang sangat luar biasa.
Saat ditatap seperti ini oleh Agler, Ciberlyps merasa kedinginan di sekujur tubuhnya, juga hawa yang menakutkan menusuk jiwanya.
Keringat dingin kembali mengucur dari tubuhnya. Tanpa sadar kakinya bergetar dan dia mundur beberapa langkah ke belakang.
Dia merasa seluruh tubuhnya lemas, lalu dia segera memegang palu-nya yang didirikan di atas tanah olehnya agar dirinya tidak jatuh.
Sementara lingkaran biru di depannya berhenti berputar, dan bola hitam yang akan menjadi sebuah serangan pada Agler itu menghilang sementara.
"Maafkan aku Agler... Aku tidak bisa menjaga anggota terakhir keluargamu ..."
"A, Aku benar-benar tidak berguna... Bahkan aku tidak bisa menyelamatkan keluargaku sendiri ..."
"Tapi... Aku tidak akan mengecewakanmu kali ini ..."
Agler bergumam pelan, orang-orang tidak dapat mendengar apa yang dia katakan. Ekspresi wajahnya perlahan berubah menjadi mengerikan, senyumnya yang lebar nampak aneh juga matanya yang menyempit memandang Ciberlyps.
"... Aku pastikan monster jelek ini mati di tanganku! HAHAHAHA...!"
[Ding!]
[Kemampuan tersembunyi : Rage Mode telah diaktifkan!]
[Rage Mode : Semua stats dan kemampuan ditingkatkan 2x lipat]
Pada saat ini...
Semua orang tercengang dan ketakutan melihat Agler yang tiba-tiba saja tertawa keras, dan sosok baiknya berubah menjadi menyeramkan.
Bahkan sosoknya kini lebih menyeramkan dari Ciberlyps yang jelas-jelas dia adalah makhluk yang menyeramkan.
Tapi, saat ini, Ciberlyps takut akan hawa mengerikan yang menyelimuti tubuh Agler.
'Tidak, aku tidak boleh takut dengan makhluk sepertinya'
Ciberlyps sedang meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak takut pada Agler yang menurutnya makhluk yang lemah.
Dia mencengkeram kuat pada gagang palu besarnya, lingkaran biru kembali berputar dan mengisi ulang bola hitam di depannya.
"Berpura-pura menjadi sosok yang kuat? Itu tidak akan membuatku takut, Makhluk lemah!!!" ujar Ciberlyps dengan nada yang keras.
"Makhluk lemah tetaplah makhluk lemah. Tidak akan pernah berubah!!!"
Ciberlyps mencibir dengan keras sampai tubuhnya condong ke depan. Dia berusaha melepaskan ketakutannya terhadap Agler dengan cara seperti ini.
"Sudah saatnya membunuhmu, Makhluk Lemah!"
Lingkaran birunya berputar semakin cepat dan bola hitam itu nampak semakin kuat.
"Cannon Dest!"
Setelah suara Ciberlyps keluar, segera bola hitam itu ditembakkan, dan meluncur sangat cepat menuju Agler.
Mulut Agler melengkung ketika melihat ini. Senyuman yang aneh dan mengerikan menempel di wajahnya.
Detik berikutnya...
Agler menghilang dari lubang besar itu, hanya menyisakan asap debu yang berterbangan.
Dia meluncur dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari sebelumnya menuju bola hitam yang terbang menuju dirinya.
Dalam pandangan orang-orang yang melihatnya, mereka hanya bisa melihat kilatan biru yang melintas sangat cepat hampir tak terlihat.
Bola hitam langsung menghantam Agler.
Saat itu...
Dua pasang sayap biru-ungu menahan bola hitam besar yang menghantam Agler.
Api yang sangat panas bertemu dengan energi yang tidak diketahui, dan saling mengikis satu sama lain.
Sedikit gelombang kejut terlihat kasat mata oleh semua orang, dan membuat orang yang menonton bisa melihat pergerakan Agler, walaupun hanya sebentar.
Kekuatan api Phoenix Agler lebih mendominasi, pada akhirnya bola hitam itu kalah oleh api Phoenix Agler dan menghilang.
Bola hitam itu tidak memperlambat laju Agler untuk terbang menuju Ciberlyps. Sosok Agler kembali menghilang hanya menyisakan lintasan biru ketika dia meluncur di udara.
Boom...!
Agler meninju kepala Ciberlyps hingga tubuhnya terhempas jauh ke belakang.
Dari mulut Ciberlyps itu memercikkan darah ke tubuh Agler, tetapi darah itu menguap sebelum bisa menyentuh Agler.
Bersama dengan palu dan lingkaran birunya, Ciberlyps terbang dan jatuh mendarat ke tanah.
Tubuhnya menabrak tanah dan menghancurkannya. Dia terus berguling di atas tanah hingga membuat sebuah garis lintasan dari tanah yang hancur terkoyak oleh tubuhnya sendiri.
Agler mendarat di permukaan Terrain of Earth, sambil memperhatikan Ciberlyps yang menghantam tanah dan terseret beberapa kilometer sebelum berhenti.
Kini tubuh Ciberlyps terbaring di atas tanah, di sekujur tubuhnya penuh luka goresan dan luka kecil. Moncong di kepala serigalanya bengkok dan patah, banyak darah bercucuran dari lubang hidungnya.
"Sialan!"
Ciberlyps berkata dengan marah. Lalu dia mulai bangkit dan menopang tubuhnya berusaha untuk berdiri.
Asap biru keluar dari dalam tubuhnya dan menutupi semua luka yang ada.
Darah mulai memadat dan berhenti keluar, darah itu menggumpal menutupi luka dan mengering hingga akhirnya pulih secara perlahan.
Proses penyembuhan Ciberlyps hanya memakan waktu beberapa detik. Regenerasi penyembuhan diri ini termasuk yang tercepat, namun jika dibandingkan dengan Agler itu masih jauh.
"Makhluk ini semakin kuat, aku khawatir aku akan kalah olehnya!"
Ciberlyps bergumam pelan dengan ekspresinya penuh kepanikan.
Dia berdiri tegak sambil menatap Agler. Matanya terus mengamati pergerakan Agler di sana.
Tepat saat dia mengawasi sosok Agler, tiba-tiba Agler menghilang dari pandangannya.
Ekspresi wajah Ciberlyps terlihat mulai panik, dia terus menoleh ke sekitarnya, dan mencari keberadaan Agler.
"Aku di sini, Bodoh!"
Sebelum Ciberlyps bisa bereaksi untuk menghindar. Tinju yang sangat kuat itu dengan cepat memukul kepala Ciberlyps sangat keras jatuh dari atas langit.
Pukulan itu membuat kepala Ciberlyps remuk dan tengkorak atasnya bengkok ke dalam. Tiga mata itu hampi copot keluar dari tengkorak matanya.
"Ugh!"
Bum..!
Tubuh Ciberlyps terbanting ke bawah dan menabrak tanah sangat kuat. Seketika tanah di bawahnya menjadi retak sampai membuat lubang yang luas juga dalam.
Darah segar menyembur dari kepala Ciberlyps membasahi tanah yang terkoyak tidak beraturan.
Agler meraih lingkaran biru tua yang melayang di punggung Ciberlyps yang sedang terbaring lemah dengan bentuk tubuhnya hampir tidak dapat dikenali lagi.
Lingkaran biru itu dia rebut secara paksa olehnya.
"Persetan!" kutuk Agler pada lingkaran biru ini.
Kemudian dia mengalirkan api Phoenix yang sangat panas ini pada lingkaran biru tua ini.
Kobaran api yang bersuhu hampir 1 miliar derajat Celcius menutupi semua bagian lingkaran biru ini nampak sedang melahap makanan.
Tidak lama kemudian, lingkaran biru itu menghilang ditelan oleh api Phoenix-nya.
"Aaarrrrhghhhhh...!"
Ciberlyps menjerit kesakitan setelah lingkaran birunya dibakar menjadi ketiadaan.
Mendengar suara erangan kesakitan ini, Agler hanya mengabaikannya tidak peduli dengan makhuk ini.
Dia perlahan mendekati palu yang jatuh tidak jauh dari tempat ia berada, lalu mengambilnya.
Salah satu mata yang masih bisa melihat, tidak sengaja melihat pemandangan Agler memegang palu besarnya.
"Jangan...!" Sebuah teriakan terdengar sangat lemah dari mulut Ciberlyps yang hancur.
Agler tidak peduli dengan teriakan memohon Ciberlyps. Baginya tidak ada ampunan sedikitpun untuk monster ini.
Blaarrrr...!
Api biru-ungu merayap dari tangan Agler dan terus menyelimuti seluruh bagian palu besar ini.
Energi biru yang terkandung pada dua senjata Ciberlyps seperti tidak ada perlawanan saat bertemu dengan api Phoenix milik Agler.
Dalam beberapa menit palu itu meleleh dan menghilang seperti lingkaran biru sebelumnya.
"AAARRRGGHHHHH...!"
Kali ini, jeritan dari Ciberlyps terdengar lebih keras, seolah dia sangat tersiksa akibat telah kehilangan dua senjata itu.
Sebenarnya dua senjata itu adalah termasuk sebagai bagian tubuh Ciberlyps. Jika dua senjata itu rusak ataupun hancur, dia akan merasakan sakit yang tak tertahankan yang sesuai dengan kerusakan yang diterima oleh senjatanya itu.
"Tolong... Jangan bunuh aku... Aku janji aku akan pergi dari sini dan tidak akan pernah kembali."
"Beri aku kesempatan lain!"
Walaupun kepala Ciberlyps kini telah memiliki bentuk yang tidak jelas atau abstrak, tetapi mulutnya masih bisa berbicara cukup jelas.
Dia memohon kepada Agler untuk tidak membunuhnya. Bahkan dirinya melakukan janji lisan terhadap Agler.
Mendengar ini Agler tidak bergeming sedikitpun, dia tidak akan goyah pada tujuannya untuk membunuh Monster ini.
Agler berjalan selangkah demi selangkah menuju Ciberlyps yang tergeletak lemah.
Lalu dia menginjak kepala Ciberlyps memakai kaki kanannya.
"Apakah kau memohon padaku tadi?" tanya Agler di depan wajah Ciberlyps ini.
Ciberlyps diam, dia tidak merespon pertanyaan Agler. Matanya hanya melihat Agler dan pupilnya bergetar.
"Kau memohon pada lawanmu?"
"Tampaknya aku memukulmu terlalu keras sehingga otakmu tidak berfungsi dengan baik..."
"...Atau memang pada dasarnya kau itu bodoh?"
"Sangat lucu lelucon hari ini, Hahahaha!"
Setelah mencibir dengan keras kepada Ciberlyps, ledakan tawa terdengar keluar dari Agler.
Tak lama tawa itu terhenti dan Agler kembali memandang Ciberlyps dengan tatapan yang menusuk.
"Maaf tidak ada ampunan bagimu setelah melenyapkan keluargaku!"
Tangan Agler terulur, dan sebuah pedang putih muncul di tangannya, lalu Agler menempelkan pedang itu di leher Ciberlyps.
Melihat gerakan yang Agler lakukan, Ciberlyps tahu bahwa kini tidak ada negosiasi untuknya. Dan dia baru sadar bahwa saat dia menginjakkan kakinya di sini pertempuran hidup dan mati mulai berlaku.
"Aku kalah oleh makhluk lemah sepertimu... Pasti Tuan menyesal telah menciptakanku..."
Ciberlyps berkata sambil memejamkan matanya yang satu-satunya bisa melihat, nampak dirinya pasrah pada Agler yang ingin membunuhnya.
"Maaf aku tidak peduli dengan keluhanmu."
Agler berkata dingin sembari tangannya yang siap untuk memenggal kepala Ciberlyps.
Mendengar ucapan Agler, Ciberlyps hanya mengungkapkan senyum di mulutnya yang panjang.
Tanpa berlama-lama lagi, pedang Bavdrago mengeluarkan aura seperti kobaran api berwarna putih. Pedangnya terlihat semakin panjang, dan ini cukup untuk memenggal kepala Ciberlyps.
Tangan Agler bergerak, dia dengan cepat menebas kepala Ciberlyps bersama dengan tanah tempat dia terbaring.
Swooshh...!
Kepala itu terputus dari lehernya, genangan darah keluar dari lubang leher dan kepala membanjiri tanah tempat Agler berdiri.
[Kill Three Czar Gycleps +100.000 Exp Bavdrago Sword]
[Ding!]
[Bavdrago Sword telah memenuhi syarat untuk naik ke level selanjutnya.]
[Bavdrago Sword (A) : 400.000/400.000 Exp]