
Ting! Ting!
Suara dentingan sendok dan garpu mengisi suasana yang tenang dan sunyi ini.
"Abang Agler! kita jadi pergi ke Mall, kan?" Nayla berbicara memecahkan kesunyian di ruang makan.
Tangan Agler berhenti bergerak, dia menatap Nayla, lalu menjawab, "Jadi kok, hari ini kan kalian libur sekolah, sehabis ini kita langsung pergi, oke?"
Anak-anak mengangguk setuju, Nayla dan yang lain berkata serempak, "Oke, Abang!"
"Yauda habisin makanannya dulu, jangan cepat-cepat makannya." Agler tersenyum dan menasehati mereka agar tidak makan terlalu cepat.
"Iya, Abang~."
Mereka semua kembali melanjutkan memakan sarapannya, terlihat ekspresi di setiap wajah anak-anak menikmati makanannya.
Tentu saja sarapan ini lezat, karena makanan ini dibuat oleh dua orang yang hebat dalam memasak yaitu Cass dan Ibu Naimah.
Mereka berdua berkolaborasi menciptakan makanan yang kaya akan gizi dan vitamin untuk orang-orang di rumah.
Tidak hanya mereka, wanita yang lain juga memasak, para wanita ini memiliki jadwal memasak setiap minggunya, dan juga saling membantu satu sama lain dalam pekerjaan rumah, mereka memiliki peran masing-masing.
Rem memiliki pekerjaan untuk membangunkan anak-anak bersama Ibu Naimah dan juga mengurus anak-anak.
Svalia, Cass dan Ghinava biasanya membuat kue untuk anak-anak dan mengajari mereka membuat makanan tradisional dari dunianya, saat mereka libur dan berganti shift di kafe mereka.
Ada Wong dan Mirage banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, mereka ke rumah hanya untuk makan malam bersama dan juga tidur bersama.
Meskipun demikian, mereka juga sangat baik dan ramah kepada anak-anak, mereka selalu menyempatkan mengajarkan hal-hal tentang bisnis kepada anak-anak terutama Mirage yang jago dalam hal berbisnis.
Tak lupa, Ada Wong yang mengajarkan mereka bertarung dasar apabila mereka berdua sedang libur kerja.
Hari ini adalah Hari Minggu, tiga hari setelah melakukan misi sepuluh ribu dunia di dunia One Piece.
Seperti biasa dia tidak mendapatkan tugas sistem setelah beberapa hari menyelesaikan misi.
Mungkin ini penyakit bawaan sistem, atau ada kesalahan dalam proses pembuatannya.
"Ayo, Bang! Kita pergi ke Mall!" kata Farid sambil menarik tangan kiri Agler.
"Kita berangkat!" seru Nayla sambil memegang tangan kanan Agler.
Melihat kedua anak ini, Agler tersenyum senang karena anak-anak ini bahagia dan selalu tersenyum cerah, seperti yang seharusnya.
Agler bersama wanitanya menuntun anak-anak masuk ke dalam mobil.
Setelah selesai, tiga mobil Alphard dan satu BMW X5 melaju keluar dari rumah.
•••••
Berbelanja dan bermain di Mall, Agler mengajak mereka semua ke tempat Mie Ayam Galer untuk makan siang.
Sebelumnya Agler sudah memesan kepada Galuh agar restoran dikosongkan terlebih dahulu untuknya, karena dia akan membawa banyak orang ke sana yaitu puluhan anak-anak dan Agler beserta wanitanya.
Suami Ibu Naimah, Agler dan Cass membawa masing-masing dari tiga mobil Alphard dan Adena membawa BMW X5 nya.
Tidak lama kemudian mereka sampai di tempat makan Mie Ayam Galer, memarkirkan mobil mereka dan masuk bersama-sama ke dalam restoran.
Galuh dan pegawainya berdiri menyambut mereka semua, makanan hampir semua sudah disiapkan, tinggal mereka mengantarkannya ke meja Agler dan anak-anak.
Di Mie Ayam Galer ini tidak hanya menjual mie ayam saja, tetapi berbagai jenis bakso seperti bakso lava, bakso beranak 10, bakso aci dan lain-lain ada di sini, tidak heran jika Galuh seringkali melaporkan kondisi restoran pinggir jalannya bahwa restoran semakin ramai setiap harinya.
"Gimana? enak mie ayamnya?" tanya Agler kepada anak-anak.
"Enak, Bang!" jawab anak-anak hampir bersamaan.
"Farid suka mie ayamnya, Bang! Nyam Nyam~"
"Nayla juga suka, hihihi~"
Farid dan Nayla memakan mie ayam dengan ekspresi yang menghayati, hingga mereka berdua tidak sadar bibirnya ternodai oleh bumbu mie ayam.
Mulut, hidung dan dagu anak-anak terdapat noda makanan, mungkin mereka tidak terbiasa makan mie ayam, air kaldu mie ayam terciprat ke mana-mana.
Melihat anak-anak seperti ini, Adena, Rem dan wanita yang lain mengelap mulut anak-anak kecil ini dengan tisu.
Agler tersenyum bahagia melihat wanitanya sangat perhatian kepada anak-anak.
Brak!
Tiba-tiba, suara gebrakan meja terdengar ke semua isi ruangan tempat makan.
Ini membuat anak-anak dan wanitanya sangat terkejut, terlebih anak-anak yang wajahnya telah berubah menjadi ekspresi ketakutan.
Wajah Agler dalam sekilas berubah drastis, dia menoleh ke arah depan restoran.
Dia melihat sepuluh orang pria bertato tampak seperti preman itu melototi Galuh dan para pegawainya.
"Mana uang sewanya!!!"
Salah satu dari mereka yang terlihat seperti pemimpin berbicara dengan nada yang kasar dan mengancam kepada Galuh.
"Maaf, i-ini tempat sudah saya be-beli, jadi tidak ada u-uang sewa," kata Galuh dengan ekspresi ketakutan.
"Apa-apaan, saya ga mau tahu, pokoknya harus ada uang sewa sekarang!!!" balas Pria itu dengan nada yang lebih keras.
Anak-anak ketakutan mendengar suara ini, mereka semua memeluk Adena dan wanita yang lain.
Rem yang melihat ini, sudah sangat kesal dia ingin menghajar orang-orang ini.
Tapi, saat dia ingin maju, tangan Agler menahannya dan menatap matanya tampak seperti memberi isyarat.
Tatapan Agler membuat dia tenang kembali, dan membiarkan Agler yang mengurusinya.
Agler bangkit dari tempat duduk, dan berjalan perlahan menuju mereka yang seperti seorang pemalak ini.
"Tapi, bang saya ga menyewa tempat i-ini." Galuh dengan rasa takut tetap menolak untuk memberikan uang sewa yang seharusnya memang tidak ada.
Para pegawai yang berjumlah 4 orang hanya bisa diam, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Banyak omong!" ucap Pria itu sambil mengangkat tangannya ingin memukul Galuh.
Kepalan tangan itu dengan cepat melesat menuju wajah Galuh.
Saat pukulan itu hendak menyentuh wajah Galuh, telapak tangan seseorang dengan kecepatan yang lebih cepat datang menahannya.
Pria yang memukul itu terdiam sejenak, lalu menoleh ke orang yang menahan pukulannya, yang adalah Agler.
"Siap kau?!" tanya Pria itu dengan nada membentak.
Agler tidak menjawabnya sama sekali, dia hanya menatapnya lalu mencengkeram kepalan tangan pria ini dengan biasa saja.
Pria ini ingin mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Agler, tapi dia tidak bisa, dia merasa tangannya seperti dijepit oleh baja yang keras.
"Hei, Bajingan! lepaskan tanganku!!!" kata Pria itu dengan memerah karena marah dan memasang raut wajah yang lebih ganas.
"Oh?"
Agler melepas genggamannya, dan pria itu mundur dan terjatuh ke belakang menabrak anak buahnya.
"Aduh!"
Bokong Pria itu kesakitan, sebab menghantam lantai juga tubuhnya menabrak anak buahnya dengan keras.
"Pfffttt—..."
Rem dan wanita yang lain berusaha menahan tawa ketika melihat para preman ini yang terjatuh ke lantai.
Pria itu langsung bangun dari lantai, menepuk bajunya agar tidak kotor dan segera merapihkan pakaiannya.
"Sialan bocah ini!" Pria itu kembali mengumpat pada Agler.
Dia benar-benar sangat marah kali ini, lalu menyuruh anak buahnya untuk menyerang Agler.
"Pukul dia sampai babak belur!" teriak Pemimpin preman ini.
"Siap!"
Anak buahnya segera maju beberapa langkah menuju Agler, akan tetapi saat menatap Agler, mereka semua seketika membeku tidak bergerak.
"Woi, kenapa diam, serang bocah ini!" panggil Pemimpin itu saat melihat anak buahnya terdiam.
Namun sayang, anak buahnya tidak menanggapi dan tetap terdiam mempertahankan posisi ingin memukul Agler.
Beberapa detik kemudian sesuatu yang menjijikan terjadi.
Air berwarna kuning mengalir keluar dari celana sembilan anak buah ini, seketika membuat tempat ini menjadi bau tidak sedap.
Wajah mereka semua memperlihatkan ekspresi yang sangat ketakutan dan penuh dengan keputusasaan.
Kakinya gemetar tidak terkendali sambil mengeluarkan air kuning yang jatuh keluar dari kakinya.
"Sial! kenapa kalian seperti ini?!" ucap Pemimpin itu sambil menutupi lubang hidungnya menggunakan tangan.
Alih-alih mereka menjawab pertanyaan pemimpinnya, mereka malah melarikan diri dari tempat ini.
Mereka lari terbirit-birit seperti orang yang sedang dikejar makhluk yang menyeramkan.
"Mau kemana kalian?!" kata Pemimpin itu berteriak ke arah mereka berlari.
"Anak buah tidak berguna!"
Pemimpin itu mengalihkan pandangannya lagi pada Agler.
Tapi, saat dia menatap sepasang mata Agler, dia merasakan ketakutan yang tak terhingga, seakan dirinya akan mati di detik berikutnya.
Tanpa dia sadari air pipis keluar dari celananya dan mengalir keluar membasahi kakinya.
Tubuhnya bergetar hebat, wajahnya telah berubah dari keganasan menjadi ketakutan.
"Ti-tidak!!"
"Ampuni saya!"
Pemimpin itu perlahan mundur sambil memohon ampun pada Agler, dan akhirnya dia berlari mengikuti anak buahnya.
Padahal Agler sendiri hanya dia menatap mereka, tetapi mereka semua lari terbirit-birit meninggalkan tempat ini.
Galuh dan para pegawai karyawannya bingung sekaligus lucu.
Para wanita dan anak-anak pun tertawa melihat pemandangan ini.
"Hahaha om jahat itu kaya anak kecil pipis di celana~"
"Om itu jorok ihh!"
"Tapi lucu hahaha!"
Para wanita berhenti tertawa dan menggelengkan kepalanya, dan menyuruh anak-anak untuk menghabiskan makanannya.
"Terima kasih, Bos!"
Galuh dan para pegawainya berterima kasih.
"Sama-sama, nanti saya kirim seseorang untuk menjaga ini bila ada orang-orang seperti itu lagi," jawab Agler.
"Siap, Bos. Terima kasih banyak!" kata Galuh.
"Tolong cepat bersihkan kekacauan ini, Galuh, anak-anak nanti tidak mau makan bila mencium bau menyengat ini," perintah Agler.
"Siap, Laksanakan!"
Galuh dan para pegawainya dengan cepat mengerjakan apa yang diperintahkan Agler.
Melihat ini Agler kembali ke meja makannya, dan melanjutkan lagi melahap makanannya.
"Abang Agler hebat!"
"Iya benar!"
"Aku mau jadi Abang Agler yang kuat!"
"Keren!"
Anak-anak memuji Agler setelah melihat tindakannya tadi.
Agler hanya tersenyum dan menyuruh mereka fokus pada makanannya.
Beberapa menit kemudian mereka selesai makan siang, dan segera pergi dari tempat Mie Ayam Galer ini.