
Tiga hari berlalu semenjak Agler pergi ke dunia Gate.
Dalam tiga hari itu Agler menghabiskan waktu bersama keluarga di dalam rumah.
Kedatangan Tsunade membuat rumah menjadi lebih ramai dari sebelumnya, anak-anak pun ikut senang saat Tsunade datang, mereka terasa memiliki ibu kedua setelah ibu Naimah.
Tsunade setelah hidup bersama Agler, kepribadian menjadi berbeda, dia tidak lagi suka berjudi, melainkan dia sangat dekat dengan anak-anak di rumah.
Mungkin karena Tsunade telah menemukan tujuan hidup membuat ia berubah drastis ke arah yang lebih baik.
Selain itu, wanita-wanitanya begitu terbuka Tsunade membuat rumah menjadi lebih harmonis dengan canda dan tawa dari wanita-wanitanya.
Wanita-wanitanya juga ke rumah sebelah untuk menengok anak-anak yang tinggal di sana, tidak ada pembedaan tidak ada diskriminasi atau pun pilih kasih dalam keluarga Agler.
Mereka semua saling bersama bagaikan sebuah keluarga. Pemandangan saat mereka semua berkumpul membuat kesedihan akan kehilangan sosok keluarga aslinya sedikit berkurang.
Seperti biasanya, wanitanya akan meminta izin kepadanya untuk pergi bekerja atau apapun yang berkaitan dengan Agler dan wanitanya.
Dua hari yang lalu, Tsunade meminta izin kepada dirinya untuk menjadi seorang dokter di salah satu cabang perusahaan yang Agler punya.
Permintaan ini sedikit sulit, karena butuh sertifikat pendidikan yang berkaitan dengan kedokteran, selain itu Tsunade harus belajar terlebih dahulu mengenai ilmu medis yang telah dia minati.
Dokter bedah, diminati oleh Tsunade jadi, Agler meminta dia untuk belajar sebelum bisa masuk ke dalam perusahaannya di bidang kesehatan atau rumah sakit.
Beberapa rumah sakit besar di Indonesia, ternyata Agler mempunyai saham di sana, walau bukan paling besar setidaknya masih berhubungan dengan Agler.
Ini semua karena Jarvis saat ia bermain saham, bahkan rumah sakit pun dia ambil oleh Jarvis.
Beberapa buku Agler berikan dan dokter ahli Agler panggil untuk mengajarkan Tsunade untuk bisa menguasai ilmu bedah. Tentunya Agler pantau dengan prajurit bayangannya, takut terjadi apa-apa dengan wanitanya satu ini.
Di salah satu rumah sakit, Tsunade sudah mulai belajar sekaligus praktek yang diawasi oleh beberapa dokter.
Hari ini Tsunade telah pergi menuju ke rumah sakit untuk kedua kalinya untuk mempelajari cara membedah yang baik dan benar.
Dia tidak selalu menggunakan kekuatan chakranya untuk menyembuhkan orang, kecuali memang keadaan yang sedang terdesak.
Hari ini dia dikabari oleh anak-anak bahwa mereka akan naik ke kelas selanjutnya bulan depan, pergantian semester akan dilakukan tidak akan lama lagi.
"Abang!"
Suara lucu dan manis terdengar dari dalam rumah.
Mendengar ini, Agler menoleh ke belakang ke arah sumber suara.
Dalam pandangan matanya Agler melihat gadis kecil berlarian mendekati dirinya.
"Apa Nayla?" Agler menundukkan kepalanya dan melihat Nayla yang berhenti dan berdiri di depannya.
"Kita jadi hari ini jalan-jalan ke Monas?" Nayla bertanya sembari memiringkan kepalanya menatap Agler.
"Iya, Nayla. Kalian sudah siap-siap?"
"Udah. Lihat Nayla pakai baju yang abang Agler beli waktu itu."
Nayla memegang celana olahraga yang tidak ketat dengan tubuhnya dengan kedua tangannya, lalu dia berputar-putar untuk Agler bisa melihat keseluruhan tampilannya saat ini.
"Cantik!" Agler memuji Nayla dengan hati yang terdalam.
Nayla bertumbuh besar dan menjadi lebih cantik dari sebelumnya, pantas saja Ravathor suka mendekati Nayla, memang karena Nayla ini cantik.
Khawatir dengan Nayla dan juga seluruh keluarganya, Agler menyimpan satu prajurit di bayangan setiap anggota keluarganya yang berfungsi untuk berjaga jika ada sesuatu musibah dan sejenisnya.
Keluarga sangat penting bagi Agler, ia harus menjaganya dengan benar dan ketat.
Tidak ada yang boleh menyakiti keluarganya satu orang pun, ia tidak ragu membunuh orang yang mengusik keluarganya apalagi menyakiti keluarganya.
"Terima kasih, Abang Agler!" Nayla berkata dengan malu-malu setelah dipuji oleh Agler.
Melihat tingkah Nayla yang malu-malu menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah, Agler mencubit pelan pipi Nayla yang lembut dan bersih.
"Oke, Abang Agler!" Nayla bergaya memberi hormat pada Agler lalu berlari ke dalam rumah.
"Jangan lari-larian!"
Menggelengkan kepalanya, gadis kecil satu ini sedikit nakal.
Sekarang ini hari minggu, Agler telah membuat rencana dengan keluarganya untuk pergi ke Monas untuk lari pagi bersama.
Setiap hari minggu diadakan Car Free Day yang di mana mobil tidak ada pada jam tertentu di jalur Senayan hingga Monas.
Jam tertentu, dari jam 5 pagi hingga jam 10 menjelang siang, mobil tidak diperbolehkan berjalan di jalur yang telah disebutkan.
Orang-orang akan berlari berolahraga di jalur itu, selain itu banyak sekali orang yang berjalan hanya sekedar melihat orang yang berjualan di sekitar Bundaran HI.
Anak-anak mendengar isu itu dari tiga anak yang dia rekrut sebagai keluarganya terakhir kali, karena itu anak-anak penasaran dengan acara tersebut dan ingin merasakan.
Tidak lama setelah Agler menyuruh Nayla, orang-orang yang ada di dalam rumah akhirnya keluar dan mendatangi Agler.
Rem, Ram, Adena, Alyona, Ibu Naimah, semua pengurus, dan anak-anak berkumpul di sekeliling Agler. Mereka semua berdiri di halaman depan rumah.
Pakaian yang mereka kenakan semuanya hampir mirip meski tidak semuanya.
Baju olahraga berwarna ungu yang sedikit longgar dan celana hitam, mereka semua memakai pakaian seperti ini nampak seiras.
Melirik jam di ponselnya yang menunjukkan pukul jam setengah tujuh pagi, ini sudah saatnya mereka pergi ke lokasi tujuan.
"Ayo kita berangkat!"
Agler berseru pada anak-anak dan berjalan keluar dari area rumah.
"Yeayy!!"
"Ayoo!"
"Yuhu!"
Senyum muncul di wajah Agler setelah melihat begitu energiknya anak-anak untuk berolahraga.
Ram, dan tiga wanitanya pun ikut senang melihat anak-anak yang penuh semangat di depannya ini.
Tujuh mobil telah terparkir di luar rumah, siap untuk mengantarkan anak-anak ke Jakarta Pusat.
Mobil ini adalah mobil Goker yang Agler pesan dalam sebuah aplikasi.
Satu per satu anak-anak masuk ke dalam mobil sesuai dengan arahan para pengurus panti asuhan, wanitanya pun ikut mengatur anak-anak agar tertib saat masuk ke dalam mobil.
Tidak sampai tiga menit, mereka semua telah masuk ke dalam mobil, dan siap untuk berangkat.
Tujuh mobil itu secara bergiliran melaju ke jalan membentuk barisan dan melesat mengikuti rute yang ditampilkan oleh Jmaps di ponsel pengemudi Goker.
Tak lama kemudian Goker sampai di dekat jalan Menteng Jakarta Pusat, Agler meminta untuk berhenti di sini karena tidak begitu jauh dari Bundaran HI.
"Terima kasih, mas!"
Tujuh Pengemudi Goker hampir secara bersamaan mengucapkan terima kasih pada Agler karena telah diberi uang yang lebih dari harga yang telah dicantumkan dari mengantar Agler dan sekeluarga di dalam aplikasi.
"Sama-sama." Agler menjawab dengan senyumannya.
Para supir Goker berpamitan kepada Agler dan pergi ke pesanan mereka masing-masing.
"Ayo anak-anak kita pergi lurus ke sana." Agler menunjuk ke arah depan, sebuah jalan lurus yang di sampingnya terdapat deretan perumahan elit yang bagus.
"Ayo!"
Mereka semua berjalan bersama mengikuti Agler yang ada di depannya sedang mengarahkan mereka semua menuju Bundaran HI.