
"Kamu habis ke mana, Agler?"
Berjalan menghampiri Agler, dan dengan wajah penuh khawatir bertanya kepada Agler.
"Kenapa? Aku abis ke toilet."
Akting Agler telah aktif saat ini. Tanpa ekspresi yang dibuat-buat, Agler menjawab alami seolah tidak tahu apa yang baru saja terjadi di laut.
Sekarang Agler telah berganti pakaian dan tubuh sama seperti sebelumnya uang menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada.
Setelah menyelesaikan tugas dia kembali ke Pantai Sadranan.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" Ayu memeriksa tubuh Agler dengan mengitari Agler beberapa kali.
"Aku baik-baik saja, kenapa?" jawab Agler pandangannya yang mengikuti Ayu yang masih memeriksa tubuhnya.
Mendengar Agler bertanya kepadanya, Ayu segera berhenti dan menatap serius pada Agler. "Kamu tahu? Baru sesaat telah terjadi sesuatu peristiwa yang besar ...."
"Kamu pasti tahu Saviorman, 'kan? Dia datang ke sini tepat ketika kamu pergi ke toilet umum ...."
Ekspresi Ayu saat menceritakan peristiwa hebat yang telah terjadi beberapa menit yang lalu terlihat sangat serius.
"Tapi kamu tidak apa-apa, kan? Mengingat kamu masih di sini saat peristiwa hebat itu terjadi."
Mendengar cerita panjang dari Ayu, membuat Agler mengetahui apa yang terjadi di pantai ini saat dia melakukan tugas sistem.
"Aku baik-baik saja, kalau tidak aku tak mungkin ada di sini," balas Ayu dengan senyum manisnya seraya menatap Agler.
Cukup khawatir dengan keselamatan Ayu, namun untungnya Ayu tidak mengalami luka dan cedera.
Sebab ketika bertarung melawan Wormdes Cean, Agler menyempatkan diri untuk sedikit menenangkan air laut yang bergelombang hebat. Hal itu dilakukan supaya efek gelombang air laut tidak menyebabkan ombak besar yang datang ke pantai sekitar.
"Baguslah."
Tanpa disadari oleh Agler sendiri, ia menepuk kepala Ayu dengan lembut sambil tersenyum cerah.
Gerakan ini membuat Ayu memerah secara langsung. Baru pertama kali kepala dia ditepuk lembut seperti itu oleh seorang pria, terlebih orang yang melakukan ini padanya adalah seorang yang dia suka.
"I-iya."
Ayu tergagap menjawab ucapan Agler. Kini dia benar-benar malu.
"Kamu tidak apa-apa, kan? Kenapa wajahmu merah seperti itu?"
Agler menatap wajah Ayu dengan sedikit kekhawatiran yang terpancar dari matanya.
"Tidak-tidak, aku hanya kepanasan. Ayo kita pergi ke saung kita!"
Terlalu malu diperhatikan oleh Agler seperti itu hingga membuat Ayu salah tingkah.
Bahkan dia tak sengaja menarik Agler berlari keluar pantai menuju saung tempat mereka meletakkan barang.
"Hah~"
Membungkuk tubuhnya dan memegang kedua lutut, Ayu terengah-engah karena menarik Agler sampai ke saung mereka.
Melihat Ayu yang lelah akibat lari terlalu jauh, Agler hanya bisa menggelengkan kepala meremehkan.
Tubuh Ayu begitu lemah hanya karena menariknya sampai ke sini dia sudah lelah seperti itu.
Agler mendekati Ayu dan menyentuh pundaknya.
Lampu biru menyala samar-samar, dan mengalir ke seluruh tubuh Ayu.
"Eh?!"
Pada awalnya Ayu malu karena mendadak disentuh oleh Agler tanpa persiapan.
Namun lama-kelamaan dia merasa rasa hangat dan nyaman pada tubuhnya. Hingga dia memiliki keinginan untuk tidur di pelukan Agler.
Lebih dari satu menit perasaan nyaman mengalir pada tubuhnya dan akhirnya menghilang begitu saja.
Kelelahan dan lemas hilang pada tubuh Ayu, dan sekarang dia kembali segar dan sehat.
Selain untuk menyembuhkan luka, ternyata sihir penyembuhan Agler dapat memulihkan kondisi tubuh yang lelah dan lemas.
Melihat tubuh Ayu yang sudah bersemangat lagi, Agler mengangkat tangannya dari pundak Ayu.
"Baju kita masih basah, ingin melanjutkan berenang atau beristirahat di sini?" Agler mengalihkan perhatian Ayu, dan memulai topik pembicaraan.
"Emm, benar juga .... Tapi aku masih belum puas berenang, tertunda karena ada peristiwa yang muncul mendadak tadi." Ayu menatap wajah Agler dengan ekspresi mengeluh.
"Ayo kita kembali dan berenang lagi!"
Tanpa persetujuan Agler, dia menarik tangan Agler sekali lagi, menyeretnya kembali ke pantai.
Agler hanya diam tak berdaya membiarkan Ayu menarik dirinya.
'Kenapa seorang wanita cepat sekali berubah?'
Sebuah pertanyaan muncul di pikiran Agler setelah melihat Ayu yang bertingkah labil ini.
Sesampainya di lantai, Ayu mengajak Agler untuk snorkeling, namun ketika Ayu berbicara pada orang yang berjualan jasa snorkeling mereka berkata bahwa untuk hari ini tidak bisa.
Alasannya karena takut akan ada peristiwa susulan yang sama seperti sebelumnya.
Bahkan orang ini memberitahukan kepadanya bahwa Pantai Sadranan akan ditutup sementara dengan alasan keamanan pengunjung.
"Lebih baik kita pergi sebelum ditutup," ujar Agler yang sedang berdiri melihat pantai yang tenang.
Tangan yang sedang bermain pasir itu berhenti, dan Ayu mendongak melihat Agler.
"Kamu mau pergi dari sini? Ya sudah ... ayo kita pergi."
Karena Agler ingin pergi, Ayu tidak bisa memaksa untuk menahan Agler untuk tetap berenang di sini.
Semua keputusan perjalanan ini dipegang oleh Agler, bukan dirinya.
Dari awal, tujuannya adalah untuk menemani Agler, dan dia tidak berhak mengatur ke mana dan ke mana setelahnya, kecuali memang Agler meminta saran dan pendapat kepadanya untuk pergi ke mana.
Keduanya pergi dari pantai dan segera membersihkan diri. Baju basahnya mereka letakkan di kantung khusus yang telah disiapkan Ayu untuk pakaian kotor mereka.
Setelah rapih dan bersih, Ayu dan Agler juga telah berpakaian sesuai keinginan masing-masing, mereka berdua menyempatkan waktu untuk makan siang yang telah dibawa Ayu saat ke sini.
"Ini kamu beli tadi yang sebelum berangkat, kan?" tanya Agler melihat makanan yang ada di kotak makan.
"Iya, makanya buruan makan, takut basi kalau kelamaan didiamkan." Ayu mendesak Agler untuk segera makan.
Ia membuka kotak makanan, isinya adalah lauk ayam goreng dan nasi kuning, beserta mie goreng.
"Kamu buruan makan, takutnya makanan itu basi. Cicip dulu baru kamu makan kalau tidak basi," saran Ayu pada Agler dengan nada cerewetnya.
Melihat makanan di tangannya, Agler segera mengikuti apa kata Ayu, dia mengambil suapan pertama dan mencicipinya.
Beruntungnya makanan ini belum basi dan masih bisa dimakan.
"Belum basi, masih enak." Agler berkata sebelum memakan makanannya dengan lahap.
Mie goreng pada kotak makan ini mengingatkannya dengan masa kecil di kehidupan sebelumnya.
Ibunya pasti akan membawa bekal saat mereka sekeluarga berenang di suatu tempat kolam renang atau pantai, isinya selalu saja mie goreng dengan nasi putih.
Walau begitu, rasanya tetap enak terlepas dari kesederhanaan makanannya. Terpenting makanan ini dibuat oleh ibu, pasti akan enak.
Ekspresi Agler berubah saat memakan mie goreng, tanpa disengaja dia mengingat kembali mendiang ibunya yang meninggal di dunia ini dan ibu yang tidak tahu kabarnya di kehidupan sebelumnya.
Kesedihan nampak jelas dari wajahnya, ini membuat Ayu yang sedang makan langsung khawatir ketika melihat wajah Agler.
"Kamu kenapa, Agler?" Ayu berpindah tempat dan menjadi lebih dekat pada Agler.
Tatapan mata mengandung kekhawatiran diperlihatkan oleh Ayu saat melihat wajah Agler.
"Agler ... kamu tidak apa-apa, kan?" Ayu terus menanyakan Agler.
Segera Agler pulih dari membayangkan sosok ibunya, dan tersenyum pada Ayu.
"Tidak apa-apa, aku hanya mengingat plot cerita yang aku tonton minggu lalu, dan itu cukup sedih."
Mode aktingnya diaktifkan lagi untuk momen ini. Ia tidak mungkin berkata sejujurnya bahwa dia mengingat ibunya pada Ayu.
Itu akan menularkan kesedihan pandangan juga, takut mereka akan canggung karena ini.
"Oh syukurlah .... Aku kira kamu kenapa tadi, wajahmu terlihat sedih." Ayu menghembuskan nafas lega, rasa khawatirnya pun menurun.
"Kamu kalau ada apa-apa, seperti masalah atau apapun itu, bilang saja padaku. Aku siap untuk menjadi tempat curhatanmu," ucap Ayu tersenyum sambil menatap mata Agler dengan sedikit rasa khawatir dan lembut.
Melihat tingkah Ayu seperti ini membuat Agler merasa hangat di hatinya.
"Haha, oke aku akan curhat padamu jika ada sesuatu masalah." Agler tertawa kecil sambil menatap wajah Ayu yang manis ini.
Tanpa sadar dia mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Ayu.
"Terima kasih, Ayu."
Senyuman Agler terlihat sangat manis dan cerah kali ini.
Pipi Ayu memerah dan dia kembali malu melihat senyuman paling manis dan tampan ini.
"I-iya, sama-sama, Agler."
Seperti biasa Ayu menjawab dengan tergagap ketika malu pada Agler.
Hatinya luluh oleh gerakan kecil Agler ini, tidak bukan gerakan kecil ini, melainkan saat pertama kali bertemu dia telah menyukai pria ini.
Dia bukan tipe perempuan yang menyembah fisik atau ketampanan dan kecantikan seseorang, dia hanya kagum melihat orang yang memiliki kelebihan fisik indah seperti itu.
Tapi, setelah melihat kelembutan Agler, Ayu mulai menyukai Agler karena sikapnya, terlebih dia suka dengan sikap dingin Agler.
Entah, dia telah kalah setelah menatap mata Agler.
"Kau sudah selesai, Ayu?" Agler meletakkan kotak makan di bawah, lalu menyesap botol air mineralnya.
"Aku juga selesai, baru beberapa detik yang lalu." Ayu menjawab dan tersenyum pada Agler.
Setelah meminum air mineral, Agler kembali memandangi wajah Ayu.
Dan dia melihat satu butir nasi yang menempel pada pipi Ayu.
Refleks Agler menyeka pipi Ayu menggunakan tangannya.
"Eh!" Ayu tersentak karena terkejut.
Seketika tubuhnya membeku diam tak bergerak.
Dia tidak menyangka Agler akan melakukan hal ini padanya.
Pipinya memerah lagi, untuk hari ini Ayu seringkali memerah.
Agler hanya tersenyum kecil melihat Ayu yang membeku seperti patung ini.
"Ayo, kita beres-beres, kita lanjutkan perjalanan lagi sebelum hari mulai gelap," kata Agler sambil mengangkat beberapa barang di tangannya.
"Oke, kapten!"
Ayu melakukan gerakan hormat seperti prajurit, tingkahnya mirip seperti anak kecil.
Mengambil beberapa barang yang tersisa di tangannya, Ayu segera mengikuti Agler menuju tempat mobil terparkir.
Beberapa menit kemudian...
Sebuah mobil mewah dan elegan keluar dari tempat parkir Pantai Sadranan ditonton oleh puluhan orang yang memotretnya.
Kini Agler mempercepat perjalanannya ke tempat wisata yang selanjutnya.
Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, Agler kembali ke Jepara untuk mengantarkan Ayu pulang.
"Anu ... kita telah berwisata bersama beberapa hari ini. Apakah kita akan berpisah sekarang?"
Ayu menatap Agler yang berdiri tegak di depannya.
"Iya, terima kasih sudah menemani perjalanan." Agler berkata sambil senyum pada Ayu.
"Emm baik, terima kasih juga sudah memperbolehkan aku menemani kamu. Aku senang bersamamu saat itu," ucap Ayu yang wajahnya terlihat enggan dan tersenyum tulus secara bersamaan.
"Iya, sama-sama. Aku juga merasakan hal yang sama. Baiklah aku akan pergi dahulu." Agler masuk ke dalam mobilnya dan hendak pergi.
"Tunggu!"
Ayu tiba-tiba berkata dengan nada tinggi pada Agler.
Melihat dari tingkah lakunya, sepertinya dia ingin berkata sesuatu.
"Ya?"
Agler menatap Ayu dengan wajah tanpa ekspresi.
Dengan tangan yang menyatu dan mengepal, dia terlihat berusaha untuk mengucapkan sesuatu kalimat, "Bisakah aku ...."