Savior System

Savior System
Bab 31 : Rahasia Terungkap


Mind Barrier dipenuhi dengan ledakan api yang dahsyat, Agler menguatkan Mind Barrier agar tidak rusak.


Setelah 1 menit berjalan, ledakan api memudar yang hanya menyisakan tumpukan tubuh Draith yang gosong dan menghitam.


Asap yang samar-samar masih berkumpul di dalam Mind Barrier, Wind Ball tiba-tiba muncul di dalam Barrier dan membubarkan asap yang ada.


Agler masih mempertahankan Mind Barrier agar warga Jepang yang nakal seperti pemuda yang mencoba menyentuh Draith, tidak masuk kembali ke tempat ini.


Mengendalikan kekuatan pikirannya untuk memasuki Mind Barrier, terbang melayang di atas Draith yang mati terpanggang.


Untuk sementara waktu, bau hangus tercium di dalam Mind Barrier. Melihat dengan teliti tubuh para Draith yang menumpuk, apakah ada yang masih hidup, karena tugas sistem belum menunjukkan sudah selesai.


"Kenapa tugas belum selesai sistem?"


[Kill Draith : 2.499.999/2.500.000]


"Dimana satu lagi yang belum mati?"


Agler tidak melihat Draith yang masih hidup di bawahnya. Fokus melihat ke bawah mencari Draith yang tersisa.


Retakan ruang tiba-tiba muncul di atas kepala Agler, Satu Draith bertangan empat muncul dari retakan dengan cepat loncat di udara menyerang Agler dengan empat kapaknya.


Kapak yang dibungkus energi merah diayunkan ke kepala Agler, Draith itu yakin kapaknya mengenai sasaran dan membuatnya hancur berkeping-keping.


Dentang!


Kapak itu memukul armor kepala Garuda cloth Agler dengan keras.


Empat kapak bergetar kencang ketika berbenturan dengan kokohnya armor Agler, menghasilkan efek seperti hembusan angin di sekelilingnya.


Tidak lama kemudian bilah dari empat kapak yang dipegang Draith hancur terbagi-bagi seperti kaca yang pecah.


"???"


Tercengang melihat ini.


Draith empat tangan kemudian jatuh di tumpukan mayat Rasnya sendiri.


Melihat empat gagang kapak yang tersisa di tangannya lalu membuangnya. Draith itu marah karena senjatanya hancur, niat membunuh muncul darinya.


Agler yang dipukul tiba-tiba, melirik memandang Draith dibawahnya.


"Gua yang diserang, lu yang marah?" kata Agler.


Draith tidak mengerti bahasa apa yang diucapkan oleh Agler, menurutnya Agler sedang menantang dirinya.


Draith itu semakin marah, energi yang semula hitam berubah menjadi merah mengelilingi tubuhnya.


Gruoaahh...!


Mengaum dengan kencang, menunjukkan bahwa dia sedang marah besar dan siap untuk menyerang.


"Sini-sini maju, gua kaga takut."


Agler mengaitkan jari telunjuknya ke arahnya, memprovokasi Draith itu untuk segera menyerangnya.


Draith itu menekukkan kakinya lalu meloncat dengan cepat menuju Agler yang berdiri di udara.


Seperti bayangan hitam yang melesat ke atas.


Membuka empat tangannya di udara, energi merah membungkus keempat kepalan tangannya dan ancang-ancang untuk memukul Agler.


"Adu kekuatan fisik bos?"


Empat pukulan tangan di balut energi merah penghancur sudah berada di depan wajahnya.


Swoosh..!


Dengan cepat menghindari pukulan empat kepalan Draith dengan menundukkan badannya ke bawah. Agler mengepalkan tangannya lalu mengulurkan tangannya ke depan dan meninju perut Draith setengah dari kekuatan penuhnya.


Dibawah pukulan ini, tubuh Draith menekuk kebelakang lalu dengan cepat terbang berbalik.


Menabrak Mind Barrier dan berubah menjadi kabut darah.


"Sorry mukulnya kekencangan."


[Ding! Selamat Kepada Tuan Rumah Anda Telah Menyelesaikan Tugas Sistem!]


[3x Tiket Lotere sudah diberikan]


Melihat kabut darah yang memudar, Agler menatap tubuh hangus para Draith yang menumpuk di tanah.


Mengangkat kedua tangannya di kepala, menyalurkan sihir dari tangannya, dan membentuk Bola Api Raksasa 500 meter dengan suhu 1 juta celsius.


Menjatuhkan Bola Api Raksasa ke tumpukan mayat Draith yang telah hangus.


Boom...!!!


Mayat Draith meleleh seperti keju yang dipanaskan, 3 menit kemudian akhirnya menghilang menjadi uap di udara.


Bau hangus yang pekat kembali tercium dari hidungnya, beberapa menit kemudian bau menghilang.


Mengangguk puas dengan kekuatannya, Agler melepaskan Mind Barrier dan terbang cepat menuju rumah.


......................


"Tadaima!"


Agler masuk ke dalam rumah dan disambut oleh Adena yang terlihat khawatir dan penasaran di ruang tamu.


"Sayang, coba jelasin kamu kenapa keluar tiba-tiba?" tanya Adena dengan wajah serius.


"Emm itu ...."


Memutar pikiran mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Adena, dan Agler berkata, "Itu a-aku keluar rumah karena ada urusan bisnis."


"Bisnis? kenapa kamu ga bawa mobil kamu sendiri kalau pergi urusan bisnis? biasanya kamu kalau keluar selalu bawa mobil dan kamu tadi pagi keluar rumah tanpa ngabarin aku. Aku tau kamu jarang keluar dari rumah dan biasanya main game di rumah, tiba-tiba kamu keluar tanpa alasan, kalau ada urusan penting biasanya kamu ngajak aku juga."


"Eee ... itu ...."


"Satu lagi, Jarvis adalah rahasia yang kamu sembunyiin selama ini dari aku, pasti kamu punya rahasia lebih dari satu. Tolong jangan sembunyiin rahasia lagi, tolong terbuka kepada kita semua khususnya aku sayang."


"Anjirlah fakta semua, terserang peluru fakta dan fakta."


Agler berkata didalam hati.


Sudah diputuskan untuk memberitahu dirinya sebenarnya kepada Adena.


"Ikut aku ke kamar." Agler menarik tangan Adena menuju kamar mereka berdua.


Setelah memasuki kamar Agler meminta Jarvis untuk mengamankan kamar ini agar tidak terekspos kegiatan mereka dari orang lain dan orang yang di luar kamar.


Menyuruh Adena untuk duduk di kasur dan Agler berdiri di depannya.


"Kamu udah liat berita dari jepang itu?" tanya Agler.


"Berita live tentang Saviorman yang ngelawan monster luar angkasa, Kan?" jawab Adena.


"Iya betul, dan Saviorman yang kamu bilang itu adalah aku sendiri," ucap Agler dengan serius.


"Kamu ga bohong kan?"


"Engga bohong."


"Coba kamu buktiin kalo bener kamu itu Saviorman," kata Adena meminta pembuktian.


"Oke."


Mundur beberapa langkah dari Adena, kemudian mengulurkan kedua tangannya ke samping, lalu memunculkan tornado kecil, bola api dan air yang kecil di kedua telapak tangannya. Pijakan kaki perlahan meninggalkan lantai keramik, melayang 30 cm dari permukaan lantai. 20 Bunga mawar yang terbuat sepenuhnya dari es mengitari Agler.


Rambut Agler bergoyang seperti diterpa angin memberi kesan yang menakjubkan.


Adena menutup mulutnya dan tidak percaya apa yang dia lihat di depannya.


"Ja-jadi kamu selama ini Saviorman yang selalu aku liat beritanya dan suka menyelamatkan orang itu?" tanya Adena yang masih belum percaya.


Mendarat di lantai dan menghilangkan semua kekuatan super yang ditunjukkan kepada Adena. Kemudian duduk di samping Adena.


"Iya sayang, kamu percaya sekarang?"


"Aku udah percaya sebelum kamu buktiin ini semua."


"Oke."


"Tapi kamu gapapa kan lawan monster yang banyak itu?" tanya Adena khawatir.


"Gapapa sayang, itu mah gampang karena musuhnya ga begitu kuat," kata Agler jujur.


"Heh ga boleh sombong dan ngeremehin lawan, kamu tetep harus hati-hati, jangan sampai kamu terluka." Adena memberi nasehat.


"Siap sayang!"


"Gitu dong jagoannya aku hihi."


"Sayang ...." Adena tiba-tiba bertingkah manja sambil memeluk Agler.


Melihat Adena ke mode manjanya Dia memeluk kembali Adena sambil mengusap rambutnya. "Iya sayang, ada apa?"


Menatap mata Agler dan berkata, "Aku mau ngerasain terbang, emm boleh ga?"


"Mau sekarang?"


"Mauuu!"


"Oke, kamu peluk aku."


"Siap!"


Agler menggendongnya perlahan berjalan mendekati jendela, dengan cepat terbang keluar menuju atas langit kota Jakarta.