
"Bagaimana pemandangan Gunung Matterhorn?" Alger berdiri di jalan beraspal yang ada pada sebuah kota kecil.
Kota ini lebih seperti desa atau perkampungan karena bangunan tinggi di sini sangat jarang, juga banyak sekali tumbuh dan pohon.
Paling menakjubkannya adalah dari kota kecil ini Agler bisa melihat dengan jelas sebuah gunung yang sangat indah.
Gunung di depannya adalah Gunung Matterhorn, Kota kecil ini bernama Kota Zermatt.
Agler dan Alyona pergi ke sini untuk melihat kecantikan kota kecil yang terkenal ini.
Banyak orang yang mengagumi keindahan kota dengan pemandangan gunung Matterhorn serta hutan hijau yang asri.
"Indah sekali, tidak kalah dengan pemandangan yang ada di negara asalku." Alyona berkata sambil melihat gunung di depannya.
"Memang indah pemandangan di sini, polusi udara tidak begitu banyak, masih sangat natural." Agler menjawab sambil bergandengan tangan dengan Alyona.
Tangan Alyona pun memegang erat tangan Agler, dan dia bahkan bersandar mesra sambil melihat keindahan kota.
"Ayo kita ke kafe yang ada di sini, kita makan terlebih dahulu setelah tidak makan beberapa jam dalam perjalanan," ajak Agler pada Alyona yang memeluk tangan kirinya.
"Ayo, sayang." Alyona menjawab dengan senyuman manisnya.
Keduanya berjalan menelusuri jalan, banyak rumah kayu dan beberapa bangunan yang tidak begitu tinggi, hanya satu sampai tujuh lantai tingkat bangunannya, dikit yang melebihi sepuluh lantai.
Ternyata semakin lama bangunan di sini semakin ramai, sebutan kota sesuai dengan apa yang ada di sini, ini pantas disebut kota, kota kecil lebih tepatnya.
Mencari kafe di daerah sini ternyata banyak, Agler dan Alyona berjalan ke tempat Kafe yang banyak didatangi pengunjung.
Tepat di depan kafe terdapat banyak bangku untuk pelanggan duduk, menikmati di luar ruangan.
Keduanya memesan kopi pilihannya dan beberapa makanan penutup.
Duduk di luar ruangan sambil melihat puncak gunung Matterhorn yang ditutupi salju.
Hanya bagian puncak yang diselimuti oleh salju, sekitarnya masihlah pepohonan yang hijau dan batuan berwarna sedikit gelap.
"Sayang, apakah kita akan pergi lagi setelah pulang dari sini?" Alyona berkata kepada Agler di depannya.
Mereka berdua duduk saling berhadapan, meja ini tidak terlalu besar, Agler masih bisa menjangkau wajah Alyona.
"Iya, sehabis dari sini kita akan pergi ke tempat lain, memangnya kenapa?" Agler menjawab sambil menatap wajah cantik Alyona.
"Aku tidak sabar untuk bertemu anak-anak dan juga mereka." Alyona berkata dengan wajah yang tidak sabar.
"Nanti kita akan kembali ke Indonesia, untuk saat ini kita nikmati perjalanan ke berbagai negara, meski tidak semuanya." Agler tersenyum sambil mengelus pipi lembut Alyona.
Alyona mengangguk sekali, lalu menggigit pelan jari tangan Agler yang membelai pipinya. Terlihat sangat lucu layaknya seekor hamster yang menggigit biji bunga matahari.
Tindakan ini dilihat oleh beberapa orang, banyak yang iri dan dengki, namun sebagian lainnya hanya bisa tersenyum.
"Sudah-sudah," ucap Agler menghentikan Alyona yang menggigit jarinya.
Alyona tersenyum malu, lalu dia mengeluarkan tisu basah dan hand sanitizer semprot dari tasnya,
Menyeka jari-jari Agler dengan hati-hati, setelah itu menyemprotkan hand sanitizer pada tangan Agler.
"Maaf, ini pesanannya." Seorang pelayan kafe datang sambil membawa nampan yang di atasnya adalah kopi dan beberapa kue atau makanan penutup yang mereka berdua pesan.
Perlahan pelayan kafe ini meletakkan pesanan mereka ke atas meja, setelah semua beres, pelayan itu pergi ke dalam kafe.
Keduanya segera menyesap minumannya masing-masing dan menyantap beberapa makanan manis khas kota Zermatt.
Sama seperti apa yang dikatakan Alyona, hari ini adalah hari terakhir mereka berpergian di negara Switzerland, atau Swiss.
Kurang lebih lima hari mereka berlibur di negara ini, bisa dikatakan cukup singkat perjalanan mereka di negara ini, tapi bukan masalah, paling tidak dia telah melihat keindahan pegunungan Alpen dan beberapa tempat yang memiliki pemandangan yang luar biasa dan menawan.
Gunung Matterhorn juga termasuk pemandangan yang indah, banyak orang yang membagikan cerita serta gambar mereka saat berlibur ke kota ini, tentu Agler penasaran dan ingin ke sini.
Tetapi cara dia pergi tidak ingin menggunakan kekuatannya, dia ingin bepergian sama halnya dengan orang biasa.
Cukup puas berjalan ke negara eropa, suasananya sangat berbeda dengan Indonesia, Korea Selatan, dan yang lainnya, setiap negara memiliki ciri dan lingkungannya masing-masing.
Nampaknya, setelah pergi dari sini Agler akan berangkat menuju negara India.
Agler cukup penasaran dengan bangunan yang terkenal, yakni Taj Mahal.
Sehingga bangunan ini termasuk ke dalam tujuh keajaiban dunia.
Pastinya sudah disetujui oleh Alyona untuk pergi ke sana, Alyona juga penasaran dengan negara India, dia ingin berkunjung ke sana.
Beberapa hari bersama Agler, apalagi setelah mereka berdua berhubungan semakin dalam, sikap dan sifat Alyona sedikit berubah, ia semakin manja, tidak seperti pertama kali Agler bertemu dengannya yang terlihat seperti wanita yang kuat.
Ternyata, Alyona sama persis dengan wanita-wanitanya, mereka semua manja dengan Agler, tapi tidak setiap saat, ada waktu dan momen ketika mereka akan bersikap manja.
Selain itu Alyona begitu menempel pada Agler, mungkin karena dia pertama kali berhubungan seperti ini bersama Pria, terlebih prianya begitu istimewa.
Tidak lupa juga Agler memberitahukan mengenai anak-anak dan wanitanya. Pada awalnya Alyona kaget dan terdiam, bahkan beberapa menit dia mendiamkan Agler.
Namun tidak lama setelah dia marah pada Agler, sikap Alyona kembali lagi. Wanita ini bilang dia tidak begitu mempermasalahkan tentang perihal wanita-wanita itu, asalkan ada ada dirinya di bagian hati Agler.
Hampir semua jawaban wanitanya seperti ini, tidak Adena, Ayu, Rem, dan yang lain, semua penyataan mereka mirip.
Mendengar hal ini Agler cukup lega, Alyona tidak marah dengan Agler, melainkan setelah kejadian tersebut, Alyona semakin manja dan sayang padanya.
Tidak hanya Alyona saja yang berubah, sistem pun sama, Agler belum pernah lagi mendapatkan tugas dari sistem selama perjalanan dunia ini. Entah kenapa Sistem berubah seperti orang yang dingin, mungkin ada alasan yang tidak diketahuinya.
Tiket hanya dapat satu buah saja, itu pun dia dapatkan bukan pada saat perjalanan ke beberapa negara ini.
Meski demikian, Agler tetap menolong orang yang kesulitan, dia diam-diam menyebarkan bayangannya sendiri ke beberapa daerah dalam bentuk tubuh yang lain.
Ia tidak semata-mata menolong hanya karena tugas sistem dan hadiahnya, tapi memang tanggung jawabnya yang secara tidak langsung untuk menjaga manusia di dunia ini.
Sejauh ini, Agler belum menemukan Wormdes yang lain, cuma terdapat dua Wormdes itu juga telah dia hilangkan dari muka Aquater.
Belum ada ancaman dari monster aneh yang tidak diketahui asalnya yang datang ke sini. Sementara waktu ini dunia aman.
"Enak?" tanya Agler pada Alyona yang masih memakan kue berwarna pink seperti cupcake.
"Huum, enak!" Alyona mengangguk, dari ekspresinya menampilkan perasaan bahagia.
Rasa manis memang menimbulkan efek senang pada orang yang memakannya.
Tidak sampai setengah jam berlalu, Agler dan Alyona akhirnya pergi dari kafe setelah membayar semua pesanan makanan dan minumannya.
Keduanya berjalan mengitari kota dan melihat berbagai pemandangan yang ada.
Juga, mencoba berbagai makanan di sini serta tempat hiburan seperti kereta gantung.
Setelah puas menikmati pemandangan alam di kota Zermatt, mereka pergi ke hotel terdekat di sini sebelum sore tiba.
Seperti biasa, Agler akan terbang kembali ke rumah untuk makan malam dan tidur bersama wanitanya. Namun kali ini berbeda
Sebelum pergi, Agler mengajak Alyona yang tidak sabar bertemu dengan para anggota harem.
Malam ini akan berbeda dengan sebelumnya, karena Agler membawa Alyona ke rumahnya.
Di udara, Alyona menahan teriakan saat terbang. Perasaan yang luar biasa ini baru pertama kali dia rasakan dalam seumur hidup.
Akhirnya ia merasakan bagaimana Saviorman atau prianya ini terbang.
Tapi, Agler menyarankan dia untuk menutup mata saat berada di kecepatan penuh. Agler takut Alyona sakit dan tidak tahan saat melihat pemandangan di depannya terdistorsi.
Sampai di depan pintu rumah, Alyona dan Agler baru saja mendarat dengan selamat dari Swiss.
"Ayo kita masuk!" Alyona menarik Agler yang berdiri diam di depan pintu.
Nampak jelas Agler yang sedang menyiapkan mental untuk menghadapi kemarahan wanitanya.
"Oke, ayo kita masuk."
Mendorong pintu dan mereka berdua masuk ke dalam rumah.
"Aku pulang!" Kebiasaan Agler saat kembali pula ke rumah, dia akan berkata seperti itu.
"Abang!" Nayla dan yang lainnya berlarian menuju mereka berdua.
Tetapi, saat Nayla dan anak-anak melihat Alyona, wajah berseri mereka menghilang, diganti dengan ekspresi ingin tahu.
"Ini siapa, abang?" Nayla berdiri di depan Agler lalu dia bertanya sambil menatap Alyona.
"Kakak baru, seperti abang janjikan. Katanya kalian ingin Kakak perempuan yang banyak," jawab Agler sambil tersenyum pada Nayla.
"Kakak baru?!"
Tiba-tiba saja suara lain terdengar dari dalam rumah.
Suara wanita yang sedikit tinggi berkata dengan jelas.
"Mana kakak baru?"
Segera Bibi Cass, Adena, Rem dan Ram, Ayu, Taylor, dan yang lain keluar dari ruang keluarga.
Mereka semua berjalan ke arah Agler.
Wanita ini menghampiri Alyona lalu menariknya ke dalam ruang keluarga, Agler ditinggal bersama anak-anak di dekat pintu.
"Kalian ikut kakak yang lain, Abang mau jemput kakak yang masih kerja," ucap Agler pada anak-anak di depannya.
"Oke, abang!"
"Hati-hati di jalan, abang Agler!"
"Iya, abang, aku pasti nunggu abang pulang!"
"Siap laksanakan, Komandan Abang Agler!"
Anak-anak merespon ucapan Agler dengan perkataan versi mereka sendiri.
"Ya sudah, kalian kembali ke ruang makan. Abang tunggu di sini sampai kalian ke sana." Agler berkata pada anak-anak dengan nada yang ramah.
Seketika mereka semua berlarian dan pergi ke ruang makan keluarga.
"Jangan lari-larian, nanti jatuh." Agler memperingati anak-anak.
Melihat mereka semua pergi, Agler keluar rumah dan terbang menuju tempat Mirage dan Ada Wong berada.